30 Hari Bercerita 2024
30HBC 2023 di sini:
π©· 1 Januari
Belakangan ini, lagi ada tren menyampaikan pesan untuk anak di masa depan. Tren ini lagi menjamur banget, terutama di aplikasi Tiktok.
Diawali dengan kata "Hai Kids", banyak orang yang ikut keramaian ini. Mulai dari yang benar-benar memberikan pesan serius, sampai yang bercanda untuk memberikan hiburan.
Tapi saya bukan termasuk orang yang ikut tren itu. Soalnya kayak belum ada gambaran tentang anak. Nanti saja dipikirkan kalau sudah menikah.
Alih-alih anak, saya mau mencoba menulis sesuatu untuk diri sendiri di masa depan. Mungkin akan saya baca satu tahun lagi, dua tahun lagi, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Mudah-mudahan saya diizinkan hidup hingga saat itu.
π
Hai, Nissa masa depan!
Ini Nissa 25 tahun, yang bulan depan bakal memasuki chapter 26 dalam kehidupan. Saya masih hidup seperti biasa. Guru honorer yang selalu menghadapi siswa-siswi yang kenakalannya makin hari makin brutal. Sekarang saya juga lagi nunggu pendaftaran P3K lagi. Mudah-mudahan bisa daftar dan diberikan kesempatan untuk lulus. Ketika nanti kamu baca ini, sudah seperti apa ya hidupmu?
Saya masih anak rumahan yang tidak begitu suka dengan keramaian. Punya teman dekat yang jumlahnya bisa dihitung jari. Walaupun sedikit, saya tetap nyaman. Dan saya baik-baik saja dengan lingkar pertemanan seperti ini.
Sekarang saya sedang menjalani hubungan dengan seseorang. Dia lelaki yang baik, keluarganya pun sama. Saya dan dia punya banyak mimpi yang ingin diwujudkan bersama. Ketika nanti kamu baca ini, sudah ada belum ya mimpi yang tercapai?
Minuman kesukaanku masih sama, cappuccino. Sesekali saya juga masih suka makan junk food. Udah tau gak sehat, tapi masih suka dimakan. Gak apa-apa kan sesekali? Hehe.
Kamu gimana? Sehat? Mudah-mudahan sehat. Saya lagi berusaha mengubah kebiasaan buruk saya yang suka telat makan. Sekarang kamu gak telat-telat makan lagi kan?
Ah, sepertinya banyak sekali yang ingin saya sampaikan, tapi nanti akan saya tulis surat yang lebih panjang.
Saya akan selalu penasaran, bagaimana hidup Nissa di masa depan. Apa pun itu, saya selalu berharap hal-hal baik untuk kita.
Sampai nanti.
Salam sayang, dirimu♡
π©΅ 2 Januari
Hal-hal kecil yang kau lakukan terkadang bisa mengubah banyak hal pada seseorang. Minimal mengubah hari yang tadinya suram, jadi lebih baik.
Aku pernah merasa bahagia karena hal-hal yang terkesan biasa saja. Waktu itu aku pernah ke ATM sekitar jam 10 pagi. Di ATM yang kudatangi, ada 4 mesin di dalamnya. Saat itu kebetulan semuanya full. Aku pun menunggu di depan pintu. Tak lama kemudian, seorang lelaki akhirnya keluar. Ia kemudian menahan pintu dan mempersilakan aku masuk.
Saat aku selesai, kejadian itu terulang. Transaksiku selesai bersamaan dengan seorang pria paruh baya. Pria itu lebih dulu membuka pintu dan menahannya agar aku bisa langsung keluar.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku tersenyum. Perlakuan sederhana dua orang itu cukup membuat perasaanku bahagia sepanjang hari.
Pernah juga aku membeli kebab dan minuman di salah satu kedai. Saat itu cukup ramai sehingga aku menunggu lumayan lama. Sampai akhirnya pesananku selesai. Aku pun memberikan uang pas. Dengan senyum ramah, Mbak penjaga kedai itu kemudian berkata, "Terima kasih, Kak. Maaf ya menunggu lama."
Dua kata ajaib itu berhasil menghilangkan rasa jenuhku setelah menunggu. Aku pun pulang dengan perasaan bahagia.
Dan yang terbaru, cerita tentang seorang penjual es krim. Kemarin di hari pertama 2024, aku jalan-jalan ke pantai yang memang jadi tempat wisata. Di sana, aku ingin membeli es krim dan harus rela mengantri karena banyaknya orang yang membeli. Aku berdiri cukup lama. Setelah tiba giliranku, seorang gadis yang dilayani sebelum aku tiba-tiba kembali datang dan meminta tambahan satu es krim. Mas penjualnya kembali melayani gadis itu. Sedikit kesal, tapi aku tetap mengantri.
Setelah gadis itu pergi, Mas penjual itu berkata, "Maaf ya, Mbak. Nunggu lama."
"Gapapa, Mas," jawabku.
Kemudian ia membuatkan eskrimku sembari bercerita tentang dirinya; tiap hari jualan dimana, suka duka jualan, dll. Ia juga bertanya tentangku; dari mana dan ke sini sama siapa. Perbincangan kami seketika membuat rasa kesalku menghilang.
Teruslah berbuat baik meski hanya hal kecil. Perbuatan baik kita bisa saja bermanfaat bagi orang lainπ
π©· 3 Januari
Perempuan yang hanya sering bercerita lewat tulisan ini, sekarang menemukan telinga yang selalu bersedia mendengar lisannya.
Aku tak menyangka ternyata diriku bisa seterbuka ini pada seseorang. Bahkan sejak saat kami masih berteman, acap kali aku menceritakan hal yang—setelah kupikir lagi—sebenarnya tak perlu diceritakan. Istilahnya oversharing. Aku sampai heran sendiri pada diriku. Kenapa bisa ya?
Padahal bibirku sering kesulitan untuk berucap, mulutku kerap kali tak mampu bersuara untuk membagikan kisah pada orang lain. Namun, sejak mengenalnya, segalanya terasa sangat mudah.
Mungkin kenyamanan memang kunci dari semuanya. Sampai saat ini pun dia tak pernah kelihatan jenuh mendengar ceritaku. Caranya melepas ponsel untuk menatap mataku ketika aku bercerita, senyum dan anggukan yang sesekali ia berikan di tengah-tengah kisahku, juga ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang selalu terlihat excited terhadap apa pun yang aku ceritakan.
Bukankah kau akan merasa sangat dihargai ketika dihadapkan dengan manusia seperti dirinya? Lantas, bagaimana aku tak jatuh cinta?
Selama ini, aku memang lebih sering diam, tetapi tidak dengan isi kepalaku. Ia sangat berisik dan mengganggu ketenangan. Maka dari itu aku menulis, agar ia lebih tenang. Sebab keluhannya telah kubagikan bersama deretan aksara yang kurangkai. Namun, ia kadang tak puas. Sebab aksara tak menjawabnya.
Lalu, lelaki ini datang, bersama dengan ketenangan yang ia bawa, agar menemani segala isi kepalaku. Membuka pintu-pintu yang telah lama kututup rapat, menjemput cerita-cerita yang sudah lama terpendam, sekaligus mencuri hati untuk diobati.
Seluruh keributan di kepalaku menemukan tempat berbagi, hingga kemudian ia tak berisik lagi. Hingga kemudian ia mulai berdamai lagi.
π©΅ 4 Januari
Seorang gadis tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Air matanya langsung mengalir begitu saja. Ia menangis cukup lama. Setelah merasa agak lega, ia pun mengecek waktu di ponselnya. Pukul 01.30 WITA.
Asa menghela napas. Mimpinya sangat indah. Saking indahnya, ia tak ingin terbangun dari mimpi itu. Ia pun menjadi sulit untuk tidur lagi. Gadis dua puluh empat tahun itu lalu membuka aplikasi tiktok dan mencari video-video yang berhubungan dengan Ayah. Alih-alih menenangkan, itu justru semakin membuat dirinya bersedih.
Waktu menunjukkan pukul 2 pagi ketika ia mengunggah story whatsapp yang menunjukkan gambar seorang ayah dan anak, diiringi lagu 'Yang Terbaik Bagimu' dari Ada Band. Lengkap dengan caption 'Rindu'.
Ia menangis lagi, terus menangis hingga kembali tertidur.
Tring!!!
Notifikasi ponsel yang cukup nyaring berhasil membangunkan tidur Asa. Gadis itu menggeliat dengan selimut yang masih membungkus tubuh kecilnya. Ia lalu membuka ponsel, ada sebuah pesan whatsapp.
> Big hug Asaπ« Jangan sedih-sedih lagi.
Asa tersenyum membaca pesan itu. Arka, salah satu teman dekatnya membalas story-nya semalam.
> Thankyou Kaπ€
Tak lama kemudian, Arka kembali membalas dan percakapan mereka berlanjut.
> Sa, jalan yuk!
> Kemana?
> Kemana aja, yang penting jalan. Daripada murung di rumah.
Sempat berpikir sejenak, Asa akhirnya mengiakan. Hitung-hitung bisa menghibur diri.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Arka pun menjemputnya.
"Kemana nih?" tanya Asa ketika motor Arka yang ditumpanginya sudah menjauh dari rumah.
"Ke makam papa kamu aja yuk."
"Hah?"
"Ke makam papa kamu, katanya rindu."
Asa terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Arka. Lantas berkata, "Tapi kesananya jauh."
"Gak apa-apa. Kan aku temenin."
Asa pun mengiakan lagi. Sepanjang perjalanan, ia terus bermain dengan isi pikirannya yang mulai kacau. Sudah sepuluh tahun, jika ia mengeluh tentang ayahnya, orang-orang hanya mengatakan 'sabar' atau 'doain aja', dan kata-kata sejenisnya. Ini pertama kalinya ada orang yang ingin menemaninya ke makam.
Hatinya seketika merasa hangat. Lelaki itu berhasil membuatnya tersenyum tanpa paksaan.
π©· 5 Januari
Tak ada yang baik-baik saja dengan kehilangan orang terkasih. Apalagi ketika semesta kita telah berbeda. Kata orang, itu akan terlupakan seiring berjalannya waktu. Awalnya aku percaya. Tetapi ternyata itu hanyalah omong kosong belaka. Itu sekadar penghiburan saja.
Seiring berjalannya waktu, aku menjadi biasa saja, tetapi tetap tak bisa lupa. Aku pun memilih untuk tak melupakan. Aku malah ingin mengingat setiap detiknya, untuk kusimpan dalam ingatan, untuk kujaga dalam kenangan.
Bukankah itu terdengar lebih indah dibanding memaksakan diri melupakan?
π©΅ 6 Januari
Tiap tahun, tanggal 6 Januariku sepertinya akan tetap kutuliskan untuk mereka. Rangkaian ceritaku hari ini khusus untuk para manusia baik yang kujumpai secara virtual selama dua tahun terakhir @armywithluv06 π
Terharu sekali rasanya. Kita benar-benar berhasil tiba sampai pada anniversary ke-2. Tahun ke-3 akan berjalan mulai dari sekarang. Mari tetap bersama untuk seterusnyaπ
Untuk kalian semua, aku bersyukur kalian menganggap AWL sebagai rumah, sekaligus membuat AWL seperti rumah. Kita semua membuktikan bahwa rumah memang tak selalu berbentuk bangunan.
Mari tanamkan lebih banyak cinta dan membuat lebih banyak kisahπ
♡
Tentang AWL, aku tak akan bisa membuatmu paham betapa berartinya mereka untukku. Jika ingin mengenal, mungkin kau bisa mampir ke alamat blogku. Hari ini, aku menulis tentang mereka. Lagi.
π©· 7 Januari
Hari ini saya melihat postingan di akun @30haribercerita tentang buku Things Left Behind. Saya jadi teringat bahwa buku ini adalah salah satu buku yang ingin saya beli sejak saya menamatkan drama korea Move to Heaven pada akhir 2021, salah satu drakor terbaik yang pernah saya tonton. Tapi capek juga nontonnya soalnya nangis terus. Saya ingat sekali, saat itu saya maraton langsung 10 episode. Setelah nonton, mata saya merah dan bengkak karena kebanyakan nangis. Seluruh isi drama itu sangat mengharukan.
Saya pun kemudian tau bahwa ternyata Move to Heaven diadaptasi dari buku Things Left Behind. Buku ini menceritakan kisah dari penulisnya sendiri, Kim Sae Byoul, yang pekerjaannya adalah membersihkan barang-barang milik orang yang telah meninggal dunia.
Ternyata sudah setahun saya menyimpan buku itu di keranjang Shopee. Sampai sekarang belum di-checkout juga. Awalnya, karena saya lagi di tahap "malas baca". Iya, setahun terakhir saya malas banget baca buku. Saya benar-benar merasa kehilangan diri sendiri. Padahal dulu bisa menamatkan satu buku dalam waktu singkat. Sekarang, satu buku bisa sampai berminggu-minggu.
Sekarang saya lagi berusaha mengembalikan mood baca buku. Sejujurnya masih ada beberapa buku yang sudah saya beli, tapi belum dibaca sampai sekarang. Inilah salah satu alasan saya ikut 30 HBC, yaitu ingin belajar untuk mencintai kegiatan membaca lagi. Jadi selain menulis, membaca postingan-postingan 30 HBC tiap harinya lumayan menumbuhkan minat baca saya yang entah sudah bermuara kemana. Sekarang saya bahkan sedang membaca ulang novel Dear Nathan yang pertama kali saya baca enam tahun lalu. Karena dulu awal saya suka baca adalah dari novel ini, jadi saya ingin mencoba mengembalikan perasaan itu.
Oh ya, kembali ke buku Things Left Behind, hari ini saya mau checkout, tapi batal lagi. Soalnya belum gajian. Tapi kalaupun sudah gajian, kayaknya saya tetap menunda checkout, takut malah menumpuk di rumah. Jadi rencananya, bakal saya beli kalau buku-buku terbengkalai di rumah sudah saya baca. Doakan saja saya bisa kembali seperti semula.
Btw, adakah cara lain untuk mengembalikan minat baca?
π©΅ 8 Januari
πππ‘πππ’ πππππβ π‘πππππ‘ππ’ π‘πππ ππ ππ‘, π‘ππ ππ’π‘πππ’πππ πππππ ππ’ππππ.
πππππππππ’ πππππβ π‘πππππ‘ππ’ ππππππππ‘π, π‘ππ ππ’π‘πππ’πππ ππππβππππππ.
ππ’πππππ’ πππππβ π‘πππππ‘ππ’ ππππππππ, π‘ππ ππ’π‘πππ’πππ πππππ πππππ.
π»ππ‘πππ’ πππππβ π‘πππππ‘ππ’ ππππ‘πππ’β, ππππ’β ππβπππππ‘ππ.
π·πππππ’ πππππβ π‘πππππ‘ππ’ ππ’ππππ, ππππ’β ππππ¦ππππππ.
πππππ πππ’ ππππ π πππππ’ πππππ’πππ ππ ππππ’. π΄ππ πππππ’ ππππ π πππππ’ πππππππ’β ππππ ππππππ’.
π ππππ’ππ’ π‘ππ π‘ππππππ, πππ πβππ’ π‘ππ βπππππ. π΅π’πππ π ππππππ πππ π π πππππ‘πππ ππ‘ππ’ ππ’ππππ π ππππ‘π.
π΄ππ’ πππππππ‘ππππ’, π πππππ ππππ π‘ππ‘ππ π¦πππ π‘ππ ππππ ππ’π‘π’β π£ππππππ π.
π΄ππ’ πππππππ‘ππππ’, π πππππ ππππ π€πππ‘π’ π¦πππ π‘ππ ππππ ππ’π‘π’β ππππππππππ‘πππ.
π΄ππ’ πππππππ‘ππππ’, π πππππ ππππ πππππ π¦πππ π‘ππ πππ π ππππ ππππβππππππ.
π΄ππ’ πππππππ‘ππππ’, π πππππ ππππ π‘ππ‘ππ π‘ππππ π‘πππ, π‘ππππ ππππππ.
π©· 9 Januari
Halo. Malam ini akan kuceritakan kisah seorang gadis. Ia telah berkelana cukup lama dalam pikirannya sendiri. Berjalan-jalan bersama kesepian dan kebingungan. Banyak hal yang ia cari, termasuk jawaban atas tanya yang tak kunjung selesai. Lalu, ketika ia merasa mendapatkan apa yang ia cari, kembalilah ia ke tempatnya.
Ia hanyalah orang biasa. Seorang gadis yang merasa bahwa ia sudah bisa menerima ayah sambungnya, tapi masih tak bisa memanggil sang ayah sambung dengan sebutan Papa, Ayah, atau panggilan sejenisnya. Apakah sebenarnya ia belum menerima keadaannya secara penuh?
Ia hanyalah orang biasa. Seorang gadis yang punya niat mengunggah foto keluarga lengkap bersama ayah sambungnya, tapi niat itu hilang saat mengingat sang ayah kandung yang telah berpulang. Apakah sejak awal niatnya memang tak ada? Mengapa perkara foto saja bisa sesulit itu?
Gadis itu bingung. Padahal sebelumnya ia sempat yakin bahwa ia sudah baik-baik saja setelah waktu panjang yang ia lalui. Sekarang ia kembali dengan sejuta tanya.
Apakah ia benar-benar sudah menerima segala kehilangan dalam hidupnya? Apakah ia benar-benar sudah mengikhlaskan kepergian yang sempat menghilangkan senyumnya?
Gadis itu hanya bertanya, tetapi tak kunjung menemukan jawaban.
Ke mana ia harus mencari?
Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan sederhana yang menyulitkan ini?
Sungguh, pikiran manusia memang suka sekali mengundang kegelisahan yang sebenarnya tak perlu untuk dilestarikan.
π©΅ 10 Januari
Zaman kuliah, aku pernah bertemu orang asing yang bercerita tentang dirinya di sebuah warung makan.
Sekitar jam satu siang, seusai mata kuliah, aku dan temanku—Wina—makan di sebuah warung depan kampus. Kami memesan nasi goreng spesial dan es jeruk. Warung itu tak begitu ramai, tetapi memang didominasi oleh mahasiswa.
Aku dan Wina duduk berhadapan, sembari membahas dosen killer yang hari ini memberi banyak tugas.
Tiba-tiba saja seorang pria paruh baya duduk di samping Wina. Awalnya ia duduk sendirian di meja sebelah kami.
"Boleh numpang duduk di sini, Dek?" tanyanya. Meskipun nadanya cukup sopan, tapi aku merasa risih. Terlebih lagi Wina, dia terlihat kurang nyaman.
Belum sempat kami bersuara, si Bapak bertanya lagi, "Mahasiswa ya?"
"Iya, Pak," jawabku.
"Anak saya juga lagi kuliah, udah hampir enam tahun belum selesai." Bapak itu tiba-tiba curhat. Kemudian ceritanya berlanjut.
Rasa tidak nyaman tadi berubah menjadi rasa iba. Bapak itu curhat bahwa keuangannya mulai menipis dan ia mulai kesulitan membiayai kuliah sang anak. Padahal ia ingin anaknya dapat beasiswa. Atau kalau tidak dapat beasiswa, ia harap anaknya bisa lulus cumlaude. Namun, harapannya tak tercapai.
Sampai pesanan kami semua datang, Bapak itu tetap bercerita, sambil sesekali melahap nasi tahu tempe yang ia pesan.
Hingga akhirnya Bapak itu selesai makan dan berakhir pula ceritanya. Ia segera pamit pulang. Aku dan Wina pun meneruskan makan sambil membicarakan si Bapak tadi. Kami benar-benar merasa iba.
Selesai makan, kami pun segera beranjak karena mata kuliah selanjutnya akan segera dimulai. Namun, saat akan membayar, kami terkejut.
"Sudah dibayar sama Bapak tadi, Kak."
"Serius, Mas?" tanyaku memastikan.
"Iya, Kak. Sudah dibayar semuanya."
Aku dan Wina terdiam beberapa detik sampai akhirnya bisa memproses semuanya.
Mungkin ini bentuk rasa terima kasihnya, sebab kami betah mendengar ceritanya. Atau mungkin ada harapan di balik kebaikan itu. Harapan tulus untuk beberapa hal yang ia semogakan.
Hari itu, aku dan mungkin juga Wina, mendoakan yang terbaik untuk beliau yang sekarang tak kami ketahui keberadaannya lagi.
π©· 11 Januari
Hari ini kami para guru baru menyelesaikan RDM (Rapor Digital Madrasah). Ini agak terlambat dibanding sekolah lain, soalnya ada beberapa kendala sebelumnya. Kebanyakan sih karena data beberapa murid pindahan.
Ngomong-ngomong soal rapor, dulu ketika masa sekolah, saya selalu gugup menjelang penerimaan rapor. Saya takut dengan ranking yang akan saya dapat, soalnya orang-orang punya ekspektasi ke saya. Sejak kelas 1 SD, saya selalu masuk 3 besar. Dan mulai kelas 4, selalu juara 1 sampai lulus.
Hal itu berlanjut ke tingkat SMP. Sampai akhirnya saya pertama kali turun peringkat di semester akhir kelas 8. Turunnya ke peringkat 2 sih, tapi rasanya kecewa ke diri sendiri. Orang-orang pasti menganggap saya sombong, tidak bersyukur, atau sifat negatif lainnya. Mereka gak tau kalau melakukan sesuatu sambil membawa ekspektasi orang lain itu gak enak banget.
Semasa putih abu-abu, peringkat makin turun. Saingan makin banyak dan saya sadar kalau saya tuh sebenarnya gak pintar-pintar amat wkwk. Paling tinggi ranking 2, itu cuma sekali doang masuk 3 besar. Paling rendah ranking 7 atau 8, lupa. Tapi saya ingat pas pertama kali saya keluar dari 3 besar. Waktu itu posisinya saya lagi pacaran, ya biasalah anak SMA yang baru pubertas.
Orang-orang bilang peringkatku turun karena pacaran. Padahal waktu belajarku tetap bagus, usahaku masih sama. Mungkin usaha teman lain yang lebih, bukan usahaku yang kurang.
Tapi anehnya, saya merasa lega sejak itu. Saya juga jadi gak terlalu mikirin peringkat. Tapi masih mikirin soal nilai wkwk. Prinsip saya, ranking gak masalah, yang penting nilai stabil, kalau naik ya Alhamdulillah, asal jangan turun. Karena kalau turun, ya artinya saya lebih buruk dari kemarin. Semua itu saya lakukan demi diri saya sendiri, demi potensi yang saya punya, bukan karena ekspektasi orang lain lagi.
Setelah jadi guru, saya juga menantikan saat-saat peringkat kelas akhirnya terungkap. Rasa penasarannya luar biasa, apalagi ke anak wali sendiri. Nebak-nebak siapa yang masuk 3 besar. Dan ikut heboh sendiri kalau tiba-tiba ada plot twist di susunan peringkatnya.
Euforia penerimaan rapor tuh emang seru banget.
π©΅ 12 Januari
Selama ini aku sudah menerima begitu banyak hadiah dalam bentuk apa pun. Entah dari keluarga, sahabat, maupun hadiah atas prestasi atau bakat yang kumiliki.
Salah satu hadiah yang pernah menciptakan kebahagiaan luar biasa adalah ponsel. Ya, ponsel pertamaku. Sebenarnya bukan benar-benar yang pertama. Aku sudah punya ponsel sebelumnya, tapi hanya ponsel tanpa kamera.
Aku mendapatkan ponsel berkemera saat naik kelas 2 SMP, tepatnya 2011, hadiah dari Papa karena aku meraih juara umum di sekolah. Awalnya itu ponsel Papa, masih baru. Sesekali aku pinjam untuk bermain game. Aku suka sekali bermain Diamond Rush. Entah game ini masih ada atau tidak. Kalaupun masih ada, pasti berbeda dengan versi 2011. Aku suka game itu karena Papa tiap hari memainkannya, dan aku sebagai penonton di sampingnya.
Ponsel baru itu pun akhirnya diberikan padaku. Sungguh bahagianya tak bisa dijelaskan. Papa juga mengajariku memakai fitur selain game, seperti mendengarkan musik atau memakai kamera. Jika aku kesulitan, aku akan langsung bertanya pada Papa.
Sejak saat itu, hari-hariku sangat bahagia. Aku mulai mengoleksi lagu. Tapi sekarang aku lupa lagu-lagu apa saja yang aku dengarkan kala itu. Btw, ponselku merek Mito, itu loh yang volumenya cuma sebatang aja tapi nyaringnya subhanallah. Bisa bangunin satu rumah kalo volumenya full.
Aku juga mulai suka mengambil foto diri. Ah, satu lagi. Aku mulai membuat akun facebook. Tapi aku lupa nama akun pertamaku, mungkin nama-nama alay yang kalau dibaca sekarang akan bikin geli.
Ya, pokoknya ponsel itu salah satu hadiah yang akan selalu aku ingat. Apalagi itu hadiah dalam bentuk barang terakhir dari Papa sebelum Papa pergi. Karena kalau dalam bentuk lain, hadiah Papa tak pernah selesai. Ada cinta, kasih sayang, dan nasihat yang tak henti-hentinya aku terima.
Meski hadiah ponsel itu sangat spesial, tapi kalau ditanya, apa hadiah dari Papa yang paling berharga? Jawabanku bukan ponsel tadi, tapi yang paling berharga adalah terlahir sebagai putrinya.
π©· 13 Januari
Aku adalah sebuah benda yang sering kali dihubungkan dengan kata 'mager'. Beberapa waktu belakangan, kata itu sangat menjamur dimana-mana. Selain aku, ada juga si bantal dan selimut yang menemaniku, juga tak ketinggalan seprai yang baru dua hari lalu diganti oleh sang pemilik kamar tempatku tinggal.
Hari ini, ia pergi sejak pagi sekali. Tak terlihat buru-buru, tapi cukup bersemangat meskipun flu sedang mampir di tubuhnya.
Biasanya ia kembali tengah hari, kemudian akan langsung mendatangiku. Tapi hari ini ia pulang agak sore. Wajahnya terlihat sangat lelah, apalagi ia sedang tidak begitu sehat.
Hanya dalam hitungan menit, ia langsung tertidur pulas dan terbangun sebelum maghrib. Ah, kasian sekali. Hari ini aku berharap ia bisa tidur dengan nyenyak dan kembali fit esok hari.
Meski terkadang aku dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, tapi tak sedikit pula aku digunakan sebagai tempat rehatnya setelah kegiatan panjang yang melelahkan.
Malam ini, istirahatlah. Semoga segalanya cepat membaik.
π©΅ 14 Januari
Spesial untuk laki-laki yang hari ini berusia 28 tahun. Mungkin ini pertama kalinya saya nulis tentang dia. Ya, kita bukan tipe saudara yang menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata, entah itu lisan maupun tulisan. Jadi, kadang rasanya agak aneh. Tapi saya pikir, tidak apa sesekali.
Dia kakak saya satu-satunya. Ada seorang teman yang pernah bertanya, "gimana sih rasanya punya kakak laki-laki?" yang hanya saya balas dengan pertanyaan pula, "gimana sih rasanya punya kakak perempuan?" Masing-masing dari kita memang penasaran satu sama lain. Soalnya bukan hanya kakak, saya bahkan tak punya saudara perempuan sama sekali.
Jika saya harus menjawab pertanyaan tadi, mungkin jawabannya... menyenangkan?
Ada orang yang bisa melindungi dan menjaga. Ketika saya kuliah, mungkin akan sedikit menakutkan jika tidak ada dia. Pertama kali jauh dari orang tua, tinggal di kota yang tidak saya ketahui isinya, juga dunia kampus yang baru saja saya kenal.
Ada orang yang bisa diandalkan. Jadi saya tidak harus melakukan segalanya sendirian. Banyak yang saya tidak tahu tentang hal-hal di dunia ini, terlebih lagi jika berurusan dengan orang lain. Dan dia yang melakukannya untuk saya, sambil mengajari saya beberapa hal. Berkat itu, saat saya kembali ke kampung halaman, saya mulai bisa melakukan semuanya sendirian. Seperti membuat lamaran pekerjaan dan mengantarkannya sendiri, berbicara dengan orang-orang di dunia pekerjaan yang ingin saya tekuni, atau berani datang ke bank sendirian untuk mengurus rekening. Hal-hal remeh, bukan? Tapi dulu saya tidak bisa sharing melakukannya sendirian.
Ada orang yang bisa diajak sharing. Karena kita cuma beda dua tahun, banyak juga hal-hal yang bisa kita bagikan satu sama lain karena kita berada dalam satu zaman.
Meskipun terkadang dia agak temperamen, tapi aslinya penyayang. Walaupun dia cukup menyebalkan pada saat-saat tertentu, tapi dia adalah kakak yang luar biasa.
Entah apa tanggapannya ketika membaca ini. Apa pun itu, tidak masalah. Saya tidak ingin menyesali apa pun lagi dalam hidup ini. Jadi, mari katakan apa yang ingin dikatakan.
Happy birthday @imamnz π
Semoga cepat kasih saya saudara perempuan wkwk
π©· 15 Januari
Istirahat.
Tak terasa, sudah pertengahan Januari. Dalam beberapa tahun terakhir, saya rasa ini pertama kalinya saya sakit di bulan Januari. Jika tahun-tahun sebelumnya saya punya kendala ide tulisan, saat ini malah kendala kesehatan.
Di hari saya mulai merasa gak enak badan, saya malah lembur di sekolah karena ada PKKM dan ngurus rapor. Sambil bantuin teman-teman juga karena memang udah deadline. Besoknya pun memaksakan diri ke sekolah karena tanggung jawab sebagai wali kelas. Selain karena harus tanda tangan sertifikat juara anak wali, ya saya rasa saya harus hadir sebagai bentuk tanggung jawab kepada siswa-siswi saya.
Hari ini, saya gak memaksakan diri. Hari ini, saya mengutamakan diri saya.
Saya izin dari sekolah. Hampir saja saya izin dari 30HBC juga. Tapi saat ini saya masih bisa sedikit menulis. Jadi, batal izin.
Gak tau kenapa ini pilek betah banget sama saya. Doakan saja saya sehat lagi. Biar bisa berbagi banyak cerita lagi.
Baiklah. Sekarang waktunya istirahatπ€
π©΅ 16 Januari
Kata orang, makin dewasa, teman yang kita miliki akan makin sedikit. Tiap kali aku membaca kalimat ini—entah itu di instagram, tiktok, atau twitter—pasti banyak yang setuju. Namun, tak sedikit pula yang kurang setuju. Sebab ada juga orang yang makin dewasa justru makin menambah relasi, memperluas lingkar pertemanan, bahkan menemukan sahabat baru. Jadi, tak bisa disamakan antara orang satu dan orang lain.
Pertemananku bisa dibilang tak ada yang bertahan lama. Sejak SD sampai SMP, aku terus-terusan pindah rumah dan sekolah. Karena itu aku tak pernah merasakan seperti orang-orang yang berteman dari kecil sampai dewasa.
Aku punya sahabat saat SMP, tapi akhirnya pisah karena aku pindah sekolah. Punya sahabat juga saat kuliah, tapi pisah karena kami kembali ke kampung halaman masing-masing. Hal yang aku syukuri adalah aku tak putus komunikasi dengan mereka. Kami masih sempat bertukar kabar dan bertemu walaupun cuma setahun sekali.
Di luar mereka, kebanyakan sudah menjadi asing. Tak pernah bertemu dan berkomunikasi. Jika tak sengaja berpapasan di jalan, mungkin hanya sekadar senyum.
Kalian pasti punya kan teman yang terbilang dekat, tapi sekarang jadi asing?
People come and go. Orang-orang memang datang dan pergi di kehidupan ini. Hal yang tidak bisa kita cegah, sebab waktu terus berjalan dan keadaan terus berubah.
Semakin dewasa, menurutku memilih teman yang benar-benar teman juga sangat sulit. Terkadang banyak hal mengecewakan. Makanya sekarang harus mengurangi ekspektasi pada orang lain.
Dewasa ini, aku hanya dekat dengan beberapa orang yang bahkan bisa dihitung dengan jari di satu tangan saja, alias tidak lebih dari lima orang. Satu orang baru kukenal di tahun 2022, yang lain sudah kukenal sejak masa putih abu-abu kurang lebih sepuluh tahun lalu.
Nanti jika mereka menikah, mungkin intensitas pertemuan kami akan makin berkurang. Sekarang, selagi mereka belum menikah, akan kunikmati waktu yang ada. Apa pun yang terjadi ke depannya, kuharap pertemanan kita akan berlangsung lama.
π©· 17 Januari
ARUNIKA ☀️
Sejak awal saya menekuni dunia menulis, kata pertama yang membuat saya jatuh cinta adalah kata 'Arunika', artinya seperti yang kalian baca di atas.
Saya pertama kali mengetahui kata ini dari sebuah cerita wattpad yang saya baca di tahun 2018. Namun, saya lupa judul dan akun tempat cerita itu berada.
Saking sukanya saya dengan kata ini, saya pernah membuat second account di tahun 2020 atau 2021—lupa tepatnya—dengan nama Arunika Kim. Kim diambil dari marga Kim Seokjin, bias pertama saya di dunia Kpop. Waktu itu saya sempat menulis di akun itu hingga beberapa postingan. Followers-nya hanya sekitar 500. Namun, pada akhirnya akun itu saya hapus karena saya lebih nyaman menulis di akun ini daripada harus menjadi sosok tersembunyi.
Karena tak bisa menjadi Arunika, saya akhirnya menciptakan Arunika lain dalam sebuah karakter. Saya menulis sebuah outline novel dengan nama karakter Arunika. Outline itu sudah jadi sekitar 50%. Sayangnya laptop saya rusak dan outline itu lenyap bersama kerusakan laptop itu. Sangat disayangkan.
Jika ditanya, mengapa saya menyukai kata ini, kalian jangan mengharapkan jawaban mengesankan. Sebab saya tak punya alasan khusus. Ya karena suka saja. Terlihat cantik untuk dibaca, terdengar indah untuk diucapkan.
Selain itu, karena Arunika bermakna cahaya matahari terbit, aku menganalogikan ini sebagai awal sebuah cerita. Awal dari segala sesuatu. Awal dari hari yang akan dilalui. Sebuah permulaan dengan seberkas cahaya yang penuh harapan. Hari akan terus berganti, hidup akan tetap berjalan, dan cerita kita akan dimulai.
Mungkin nanti, saya akan mengabulkan keinginan saya sendiri untuk menulis kisah Arunika. Entah menjadi sebuah puisi, cerpen, atau novel.
Bahkan jika pemikiran saya berjalan cukup jauh, saya bisa membayangkan Arunika akan menjadi nama untuk seseorang nantinya. Seseorang yang mungkin akan begitu saya cintai dengan sepenuh hati.
Mungkin suatu hari nanti.
π©΅ 18 Januari
πππππ πππ’ ππππππππππ’, πππ π πππππ πππ‘ππ πππ, πππ’ π‘ππ π‘πβπ’ π π’ππβ ππππππ ππππ πππ’ πππ‘π’β ππππ‘π. ππππ... ππ’πππππβ πππ’ π‘ππ πππππ’ ππππβππ‘π’ππππ¦π? πππππ ππππ‘π, πππππ-πππππ βππ ππ βππ‘π’ππππ ππ‘π’ ππππ ππππ’ππβ πππππππ π πππππ π‘ππ βπππππ π¦πππ ππ’πππβππ¦π π‘ππ πππ π πππππ¦ππππππ.
π΅π’πππππβ πππ‘π π πππ-π πππ π¦ππππ? πΎπ πππππππ¦π, πππ‘π π‘ππ‘ππππβ π ππππ πππ πππππ’ π¦πππ π πππππ ππππππ π. πΎππ’ ππππ π πππππ’ π πππππ‘π πππ, πππππ’ππ‘ππ’ πππ‘π’β ππππ‘π πππππππ-ππππ. π·ππ πππ’, ππππ π πππππ’ π πππππ‘π πππ, π‘ππ πππππππ π’ππ‘π’π πππ‘π’β ππππ‘π ππππππ’ ππππ πππ ππππ.
π΄ππ πππππ’ π‘ππ ππππ βππππ ππππ ππππ’πππ π‘πππ‘πππππ’. πΎππ’ πππππβ ππππ πππππ π’ππ‘π’π ππππ‘ππ ππ’π‘πβππ’.
π©· 19 Januari
Dia selalu mengirimkan surat cinta. Untuk sekadar mengatakan bahwa dia rindu. Kadang juga untuk bercerita tentang kegiatan, berbagai kesibukan, jadwal, bahkan segala hal yang sering dia pikirkan. Sesekali dia berbagi tentang perasaannya. Di suatu waktu, dia hanya ingin mengungkapkan cintanya.
Apa pun isi suratnya, aku selalu menyebutnya "surat cinta", sebab aku tau bahwa selalu ada cinta pada setiap rangkaian kalimat yang dia tuliskan.
Kemarin, bahkan ketika dia sedang menjalankan wajib militer, surat cinta itu ternyata tetap tiba. Kali ini jauh lebih romantis sebab suratnya ditulis tangan, bukan ketikan. Dia selalu punya kejutan. Dia begitu manis dengan caranya sendiri.
Aku selalu membalas surat-surat itu. Kadang hanya kusimpan sendiri, kadang kubagikan ke media sosialku. Hanya itu. Namun, sesekali kubagikan ke tempat di mana ada harapan surat-surat balasan itu akan terbaca; weverse. Walaupun kemungkinan terbacanya hanya 0,1% alias hampir tidak mungkin. Namun, aku terus menulis surat balasan.
Untuk apa?
Kurasa aku tak perlu menjawab. Sebab beberapa hal tetap tak bisa dipahami meskipun dengan sejuta penjelasan.
Aku pun tak punya kewajiban membuat orang lain paham. Aku menciptakan bahagiaku sendiri di sini, dan aku tak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya.
Jadi, mari bahagia di jalan masing-masing.
Untukmu lelaki yang penuh cinta, kutunggu surat selanjutnya. Sampai saat itu, kurasa aku akan tetap mencintaimu.
Untuk Park Jimin...
π©΅ 20 Januari
Sebagai orang yang menyukai banyak makanan, aku kadang bingung ketika ditanya tentang 'makanan favorit'. Tidak ada yang spesifik sebenarnya. Aku cuma suka banget fotoin makanan wkwk. Untuk sejenis kue, aku sangat menyukai donat. Tapi yang lain juga suka sih, kayak brownies, bolu, dan makanan-makanan manis yang lain. Untuk makanan berat, aku suka pedas tapi bukan yang pedas banget, tapi kalau gak ada pedas-pedasnya juga gak enak. Ya gitulah pokoknya.
Aku juga bisa dibilang gak terlalu pemilih, walaupun tetap aja ada makanan yang gak aku suka. Terong contohnya. Di saat orang-orang bilang ini enak banget, aku malah enek. Ah, selera tiap orang emang gak bisa disamakan.
Karena tema hari ini adalah makanan, aku ingin menceritakan tentang salah satu orang yang sangat pemilih dalam hal makanan. Dia sama sekali gak makan segala jenis hewan. Entah itu ikan, ayam, udang, cumi, kepiting, dan perdagingan yang lain. Ini pertama kalinya aku bertemu orang sepertinya. Benar-benar pertama kali.
Ini pun pilihannya sendiri. Katanya dulu makan, sekarang gak lagi. Dia memilih jadi vegetarian. Makannya ya sayur-sayuran, tempe, tahu, dan telur yang diolah dengan berbagai macam masakan. Ketika ditanya kenapa berhenti makan daging, jawabannya cuma "ya gak apa-apa".
Karena gak makan semua daging, jadinya dia juga gak makan bakso, sosis, dan semua makanan dengan campuran daging seperti burger atau kebab. Kalau pesan mie ayam, gak pake ayam wkwk.
Awalnya aku menganggapnya aneh, tapi lama-kelamaan jadi biasa aja. Dibanding aneh, aku lebih suka menyebutnya unik. Lagi pula, dia sangat sehat dengan pilihannya itu. Dia juga terlihat sangat bahagia ketika makan. Jadi, kurasa pilihan itu bukan masalah.
Aku pernah bilang kalau dia gak bisa diajak wisata kuliner karena pemilih. Terus dia bilang, "Bisa kok, bakal ditemani terus, gas aja."
"Tapi gak seru kalo cuma Ica yang makan."
"Nanti Mas makan juga yang edible. Dibuat gampang aja, Mas ngikut Ica bahagia."
Gak cuma omong doang. Dia selalu menemaniku ketika aku ingin makan sesuatu. Meskipun kadang dia gak ikut makan karena gak edible.
Hihi terima kasih luv @hd_monn ❤
π©· 21 Januari
"Maaf, tapi aku memang kayak gini orangnya."
Apakah kalian pernah menasihati seseorang, tapi responnya seperti itu? Menyebalkan sekali, bukan? Syukur-syukur kalau masih ada kata 'maaf'.
Menurutku, orang-orang seperti ini adalah pribadi yang bisa dibilang egois. Tipe orang yang ingin terus-terusan dimengerti tanpa mau introspeksi diri. Jika dinasihati, ia akan berlindung di balik kalimat-kalimat seperti:
"Aku emang gini orangnya."
"Aku udah gini dari dulu."
"Kalau orang yang gak biasa sama aku, emang gak bakal betah."
Aku pernah bertemu dengan manusia seperti ini. Dan jujur saja, menasihatinya hanya membuatku sakit hati. Aku memilih untuk menjauh saja.
Memang benar, lebih baik menjadi diri sendiri. Sebab harus berpura-pura menjadi orang lain itu cukup melelahkan. Namun, ada beberapa hal yang tak diperlu dimanjakan; ego misalnya. Tak memberi makan ego, bukan berarti kita menjadi orang lain. Kita juga tak akan kehilangan diri kita jika menerima sebuah nasihat.
Kita tak bisa menilai diri sendiri secara penuh. Orang lain yang bisa menilai. Jika sekiranya ada masukan yang diberikan pada diri kita, dan itu adalah masukan yang baik, mengapa tidak untuk mencoba menerimanya? Tak masalah jika tak bisa langsung dilakukan, minimal diterima dulu. Lagi pula, tak ada manusia yang bisa berubah secara instan. Segalanya butuh tahapan, perlu proses yang panjang.
Dengan mengatakan "Aku emang kayak gini orangnya", bukankah itu artinya orang tersebut menolak sebuah perubahan? Ia enggan memperbaiki dirinya dan berpikir bahwa orang lainlah yang harus memaklumi sifatnya. Dibanding introspeksi diri, ia berpikir bahwa orang lain yang harus mengerti perasaannya.
Hei, dunia ini tidak berputar hanya untuk kamu. Lingkunganmu pun bukan hanya berpusat padamu. Mengapa hanya kamu yang terus-terusan harus dimengerti? Tidak bisakah untuk mencoba belajar 'saling'? Saling mengerti, saling memahami, saling melengkapi.
Orang lain tidak bertanggung jawab atas bahagiamu, atas perasaan-perasaanmu, atas mood-mu yang berantakan, dan segala hal yang terjadi padamu. Namun, dengan orang lain menegur, bukankah artinya mereka masih peduli?
π©΅ 22 Januari
πΎπππππ ππππ π¦πππ ππππ’β πππ π πβππ€ππ‘ππ...
π πππππ’ ππππ‘ππππ π πππ. ππππ’π, ππ π ππππππππ’ ππππβ ππππ π ππππππ πππππ ππ. πππ βπππ‘π-βπππ‘πππ¦π πππππ ππππππππππ’ ππππππ ππ’π π. πΈππ‘πβ π πππππ πππππ, π ππππ π‘ππ‘ππ π‘πππ’ππ¦π ππβπππ ππππ’π ππ’πππ’π ππ πππππ’ππππ.
πΎππ’ π‘ππ π‘πβππ ππππ βπππ¦π ππππ, π‘ππ‘πππ ππππππ ππππ π’πππ. πΎππ’ ππππ’β ππππ‘ππππππππ, ππ’ππ ππβππ‘π-βππ‘πππ, π πππππ ππβππππ¦π πππ’ π‘ππβπππ‘π π‘ππππ π‘π’ππ’ππ.
π΅πππππππ πππππ βππ π πππππ ππππ‘πππππππ, ππππππππ-πππππ ππππ’ππ π’ππ‘π’π π ππππππ πππππππππ πππππππ-πππππππ π¦πππ π‘πππ’π πππππππππ’π.
ππππ’π, π π’πππππ’ π‘ππ‘ππ π‘ππ π‘ππππππππ. πππππ¦ππ‘π ππππ’ππ’ π‘ππππππ’ ππ’ππ‘ π’ππ‘π’π ππππππβπππ.
πΏπππ‘ππ , ππ ππππ πππ’ ππππ ππππππππβ?
ππππππ πππππ πππ’ ππππ ππππππ π’?
π©· 23 Januari
Saya baru saja menamatkan drama Korea Welcome to Samdalri. Drama ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Cho Samdal yang merantau ke Seoul untuk meraih mimpinya menjadi fotografer. Namun, di puncak kesuksesannya, ia terjerat skandal yang membuatnya harus pulang ke kampung halamannya, Samdalri, Jeju. Di sini, ia kembali bertemu empat sahabatnya, yang dimana salah satunya adalah sang mantan pacar yang belum ia lupakan, Cho Yong Pil. Di Samdalri, Samdal akhirnya belajar banyak hal yang selama ini tidak ia sadari; bahwa ia selalu punya tempat untuk pulang.
Saya beberapa kali berurai air mata saat menonton episode terakhir. Bukan karena endingnya menyedihkan, tapi justru drama ini ditutup dengan kisah yang sangat indah. Saya pribadi berpendapat bahwa masterpiece episode 16 ini adalah scene "Pameran Cho Samdal". Sepanjang scene ini cuma bisa nangis, terlalu indah dan mengharukan.
Kalau harus kasih satu kata untuk menggambarkan episode terakhir; hangat. Ya, rasanya hangat sekali melihat warga Samdalri yang begitu kompak dan saling peduli satu sama lain. Rasanya terharu melihat persahabatan Power Rangers yang begitu erat. Dibikin bahagia sama Cho sisters yang akhirnya menemukan kebahagiaan masing-masing bersama pasangan greenflag-nya. Semuanya sungguh menghangatkan hati.
Di akhir drama, ada sebuah kalimat "Punya tempat untuk pulang adalah kelegaan yang luar biasa". Lagi-lagi saya terharu. Pesannya benar-benar sampai ke penonton. Mereka berbicara tentang 'rumah' yang bukan hanya berbentuk bangunan; tetapi bisa juga sebuah tempat, atau seseorang, atau apa pun yang bisa membuat kita merasa lega setelah sebelumnya merasa sesak.
Welcome to Samdalri akan jadi salah satu judul drama yang akan saya rekomendasikan ke orang-orang. Sebelumnya, saya pernah menonton drama slice of life seperti ini; Reply 1988, When the Camellia Blooms, Hometown Chachacha, dan Our Blues.
Saya sangat jatuh cinta dengan drama heartwarming seperti ini. Kayaknya harus cari rekomendasi lagi yang sejenis.
Kalian udah nonton Welcome to Samdalri belum? Kalau belum, harus nonton!π€
π©΅ 24 Januari
Sepulang sekolah, Budi bermain di rumah sahabatnya, Ani. Ia diminta mencoba sebuah game petualangan. Game itu merupakan game yang dibuat sendiri oleh Ani. Ani memang telah menjadi pengembang game sejak lulus dari Amerika.
Budi terus bermain hingga akhirnya tiba di level 20. Namun, ia merasa ada yang aneh di level ini. Budi pun meminta Ani ikut melihat game-nya. Saat Ani ikut melihat di depan komputer, tiba-tiba cahaya bersinar terang dari komputer itu hingga mata mereka tak bisa melihat dengan jelas. Perlahan, cahaya itu mulai redup dan penglihatan mereka mulai kembali. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat sekeliling.
Budi dan Ani tak lagi berada rumah Ani, melainkan di tempat yang sangat mirip dengan game yang tadi Budi mainkan. Mereka seperti berada di dalam hutan.
Dua sahabat itu masih memproses apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba mereka mendengar suara. Suara itu mengatakan bahwa mereka harus mencari kunci untuk membuka pintu rahasia.
Ani menjadi panik. "Di level 20, karakternya bakal mati kalau gak menyelesaikan misi. Kita sekarang jadi karakter game."
Budi agak terkejut dengan fakta itu. Mau tidak mau, mereka pun mulai mencari kunci sesuai petunjuk. Budi dan Ani menemukan sebuah kotak kecil. Saat dibuka, isinya adalah kunci dan kertas bertuliskan 'KANAN, 100 METER'.
Budi dan Ani berjalan ke kanan mengikuti petunjuk. Dan benar saja, mereka menemukan sebuah sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di balik pohon. Mereka pun membuka pintu itu menggunakan kunci yang mereka temukan. Berhasil! Pintu terbuka.
Betapa terkejutnya Budi dan Ani melihat sesuatu di balik pintu itu.
***
"Sesuatu apa?!" teriak Ani heboh.
"Gak tau, belum kepikiran," jawab Budi santai. "Tadinya mau minta saran, tapi kayaknya gue gak bisa deh nulis fantasi."
Ani mau marah, tapi sepertinya percuma. Mau dia marah sampai suaranya habis pun, sahabatnya itu hanya akan bereaksi santai. Ani merasa kesal. Padahal ia sempat senang Budi mau mencoba menulis cerita genre favoritnya.
Andai saja ia bisa hidup di dunia fantasi, andai saja ia benar-benar bisa masuk ke dalam game dan menyelesaikan misi, pasti hari itu jadi hari paling bahagia.
π©· 25 Januari
Makin bertambah dewasa, ada perubahan pada diriku yang bisa kurasakan sendiri, sebab aku secara sadar memang berniat mengubahnya.
Perubahan apa itu?
Mencoba untuk lebih santai dalam menghadapi segala hal.
Dulu aku suka overthinking. Ketika bicara dengan orang lain, terlebih orang baru, aku suka mikir berlebihan.
"Aku barusan bicara apa sih?"
"Aku sok asik gak ya?"
"Dia tersinggung gak ya?"
"Ih pasti dia mikir aneh-aneh."
Dan lain-lain.
Padahal apa yang kupikirkan belum tentu terjadi. Sekarang aku sudah bisa mengurangi pikiran itu sedikit demi sedikit.
Dulu aku juga sangat kesulitan mengatakan "tidak" pada orang lain. Enggan menolak permintaan meskipun sebenarnya aku dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menolong. Aku sering mempersulit diriku karena jadi orang yang gak enakan. Sekarang, aku sudah belajar menolak permintaan orang lain jika aku benar-benar tidak bisa melakukan hal yang diminta. Aku berusaha mengutamakan diriku. Walaupun kadang rasa gak enakan itu tetap muncul.
Dulu aku suka berlebihan menanggapi omongan orang. Suka tersinggung dan sakit hati, tapi memilih untuk memendam. Berusaha baik-baik saja padahal suka nangis sendiri. Sejujurnya ini susah banget diubah. Tapi sekarang sudah mulai bisa mengontrol hati dan pikiran supaya gak termakan omongan-omongan yang kurang baik dari orang lain, tentang apa pun itu.
Dulu aku sama sekali gak PD depan kamera. Kalau foto gak bisa ekspresi lain kecuali senyum. Sekarang mulai coba ekspresi lain, walaupun kebanyakan hanya kusimpan pribadi, atau kukirimkan ke dua manusia yang tak bosan mengoleksi fotoku haha @hd_monn @bbymonie12
Selain foto, aku sekarang mulai PD take video. Mulai bisa bikin story sambil rekam diri sendiri, bahkan bikin challenge tiktok yang masih dalam tahap wajar.
Ternyata bahagia sekali rasanya mengabadikan diri sendiri dalam rekaman-rekaman pada tiap momen. Ternyata mencintai diri sendiri memang sangat menyenangkan.
Semua perubahan yang terjadi, tak lepas dari orang-orang yang kutemui, entah di real life ataupun virtual. Kepada semua yang tak bisa kusebutkan satu per satu, terima kasih banyakπ€
π©΅ 26 Januari
Sejak kecil, jika mengisi sebuah data, atau ditanya mengenai cita-cita, aku selalu menuliskan atau menyebut satu profesi: Guru. Sebenarnya itu hanya iseng belaka, atau lebih tepatnya hanya sebuah tulisan tanpa arti, sebab kala itu aku tak tahu mau jadi apa. Di pikiranku hanya ada guru, karena gurulah orang yang kulihat setiap harinya.
Cita-cita itu kemudian berubah seiring berjalannya waktu. Melihat Papa, aku ingin menjadi penyiar radio. Pernah juga ingin menjadi dokter, atau perawat seperti Mama. Semakin banyak profesi yang kulihat, semakin bingung aku menentukan.
Namun, ternyata semesta kembali mempertemukanku dengan cita-cita pertama yang tak pernah kuseriusi. Pada akhirnya takdir membawaku untuk menjadi seorang Sarjana Pendidikan.
Sekarang, sudah dua tahun aku berkecimpung dengan profesi ini. Guru dengan sedikit pengalaman, tapi banyak mengeluh. Ternyata jadi guru sesulit itu. Sabar, kata orang-orang. Ya benar. Seorang guru sabarnya memang harus luas, tapi ternyata tak semudah itu.
Bagi orang lain, mungkin aku terdengar payah, menyerah dengan begitu cepat. Kadang aku merasa tak cocok menjadi guru. Aku yang sering kesulitan berhadapan dengan kerumunan orang, tiba-tiba harus menghadapi ratusan siswa setiap harinya. Aku yang sangat sulit berbicara di depan orang banyak, tiba-tiba harus ceria membawakan pelajaran di depan puluhan siswa dalam satu kelas. Aku yang sering bingung menyampaikan pendapat, tak tahu cara menegur atau menasihati yang baik, tiba-tiba diharuskan bisa melakukan semuanya.
Untung saja ada kekuatan yang selalu membuatku bertahan, yaitu keluarga dan rekan-rekan kerja yang sangat baik. Kekuatan lain, tentu saja siswa-siswi yang mencintaiku. Aku sadar bahwa aku masih banyak kekurangan. Meski begitu, banyak dari mereka yang menyukaiku sebagai gurunya, dan itu adalah salah satu kekuatan untuk bertahan.
Dan selanjutnya, diriku.
Ya, diriku sendiri yang membuatku bertahan. Ada sesuatu yang aku inginkan, ada hal yang harus aku capai, ada bahagia yang ingin aku raih.
Terima kasih sudah menjadi guru yang hebatπ€
π©· 27 Januari
Bumi: Mars, menurutmu aku harus seperti apa? Manusia sungguh membingungkan.
Mars: Apa maksudmu?
Bumi: Ada manusia yang begitu menyayangiku, ada pula yang seakan-akan menyayangiku tapi tak pernah melakukan hal baik untukku, dan ada yang sama sekali tak peduli denganku. Aku bingung harus bereaksi seperti apa pada manusia.
Mars: Ah, maaf, Bumi. Sepertinya aku tidak akan mengerti bagaimana rasanya menjadi dirimu, bagaimana rasanya hidup bersama manusia. Tapi mendengar cerita-ceritamu selama ini, kupikir manusia memang makhluk yang beragam. Bukankah akan sulit menyatukan mereka semua dalam satu pikiran?
Bumi: Kau benar. Sulit sekali. Aku melihat di satu tempat, mereka membuat kegiatan dan berbagai program untuk menjaga kesehatanku. Lalu di tempat lain, mereka tak melakukan apa-apa untukku. Ada pula manusia yang dengan terang-terangan merusakku.
Mars: Apa kau sudah berbicara pada mereka?
Bumi: Sudah berkali-kali. Aku berbicara pada mereka melalui bencana yang terjadi atas hasil perbuatan mereka. Aku memberi peringatan melalui alam yang memberontak, tanah-tanah yang mengamuk, air yang marah, dan berbagai teguran yang lain. Namun, sepertinya mereka tak mengerti bahasaku.
Mars: Atau mereka mengerti tapi memilih mengabaikan?
Bumi: Entahlah. Bisa jadi seperti itu. Apakah aku tidak begitu penting bagi mereka?
Mars: Kau sangat penting, Bumi. Dan aku yakin mereka pun tau kalau kau begitu penting. Mereka hanya perlu kesadaran bahwa kau memang harus dijaga dengan baik. Aku harap akan lebih banyak manusia yang mencintaimu.
Bumi: Kuharap juga begitu.
Mars: Kau punya teman hidup, pasti akan sangat membahagiakan jika banyak yang menyayangimu. Kadang aku iri padamu. Aku ingin merasakan hidup bersama manusia.
Bumi: Ah, kau iri padaku, sementara aku banyak mengeluh. Aku akan berusaha lebih baik mulai sekarang. Aku akan berusaha memberi pengertian pada manusia tentang kesehatanku. Aku ingin menjadi kenyamanan bagi manusia. Kuharap, manusia pun sama.
π©΅ 28 Januari
Semakin dewasa, kita terlalu sering mendengar kata tanya 'Kapan?'.
Saat kuliah, ditanya "kapan lulus?"
Sudah lulus, ditanya "kapan wisuda?"
Sudah wisuda, ditanya "kapan kerja?
Padahal mereka tak tau, hal apa saja yang sudah kita lakukan untuk menyelesaikan segala tuntutan itu. Mereka tak tau, sudah berapa kali kita berdarah, berapa banyak keringat yang mengalir, seberapa sering air mata menyapa, sudah seberapa besar perjuangan yang dilalui.
Kata Kim Seowan dalam drama Korea Daily Dose of Sunshine, "Siapa peduli jika kita berjuang bertahun-tahun? Usaha kita baru akan diakui saat lulus. Jika tidak lulus, di mata orang kita hanyalah orang yang kurang berusaha."
Ya, kebanyakan orang memang lebih peduli pada hasil dibandingkan proses.
Lalu, ada pertanyaan 'kapan' untuk orang yang sudah berumur 20-an, terutama perempuan.
"Kapan nikah?"
Di usia yang sebentar lagi dua puluh enam ini, aku terbilang jarang menerima pertanyaan itu. Entah dari keluarga maupun teman-teman. Ada, tapi hanya sesekali dari teman yang dibilang dekat juga tidak. Bersama sahabat-sahabatku yang belum menikah, kami malah lebih sering membicarakan tentang rencana rekreasi atau foto studio yang biasanya hanya jadi wacana. Atau mengadu nasib tentang pekerjaan masing-masing.
Namun, aku melihat banyak sekali orang yang mengeluh tentang ditanya 'Kapan nikah' oleh orang-orang di sekitarnya. Sampai-sampai membuat mereka kepikiran, insecure, menghindari kumpul keluarga, menghindari tetangga karena muak dengan pertanyaan itu.
Setelah nikah, si 'kapan' ini tak kunjung berhenti juga.
"Kapan punya anak? Jangan ditunda-tunda."
Iya kalau beneran ditunda. Kalau ternyata mereka juga lagi berharap, bukankah pertanyaan itu cukup menyakitkan?
Sampai kapan pun, dan seperti apa pun hidup kita, kurasa akan selalu ada 'kapan' yang menghampiri. Kita tak bisa menutup mulut semua orang. Maka dari itu kita saja yang menutup telinga. Meski beberapa hal kadang tak semudah itu.
Akan ada banyak 'kapan' yang mengikuti kita, tapi ada banyak alasan pula yang membuat kita tak perlu menjawab pertanyaan itu.
Semangat untuk kamu yang sedang berjuang. Berjuang untuk apa pun ituπ€π
π©· 29 Januari
ππππβππ π πππππ’πππ¦π π ππ¦π ππππ-ππππ π πππ. ππππ πππππ’ π πππππ ππππ πππ‘πππ π‘ππ ππππππππ π€πππ‘π’. ππππ-π‘πππ ππππππππ ππππ ππππππ π‘πππ’. π΄π‘ππ’ π ππππππ πππππ π’ππ‘π’π ππππππ’ πππππππ πππππ’.
πΎπππππ ππππππ πππππππ ππππ‘πππ’, π’ππ‘π’π π ππ‘πππ π‘ππ‘ππ πππ πππ‘πππ’ πππππ πππ, ππ’βππππ ππππ’ π‘πππ’π ππ¦πππ¦ππ πππ ππππππππ ππππβ. πππ‘ππππβ π πβππ‘ πππ ππβππππ π
π©΅ 30 Januari
Tak terasa sudah di penghujung Januari. Selama sebulan ini ada begitu banyak cerita-cerita yang akhirnya keluar dari persembunyian; tentang sedih, senang, kecewa, bahagia, haru, keluh kesah, dan segala emosi lainnya. Namun, ini bukanlah akhir perjalanan. Kisah kita belum sampai pada titik akhir. Jika diibaratkan sebuah kalimat, cerita kita masih sampai pada tanda koma. Masih ada lanjutan kata yang harus ditulis.
Hari ini aku menutup 30 hari berceritaku bersama dia yang kucintai. Ah, rasanya sudah lama sekali kami tidak bercengkerama. Sepertinya sudah berminggu-minggu kami tak pernah lagi menghabiskan waktu di luar. Belakangan ini dia sangat sibuk dengan kegiatannya sebagai anggota PPS. Namun, di tengah segala kesibukan itu, aku tak pernah merasa kehilangan sebagai prioritasnya. Aku pun tak pernah kehilangan kabarnya. Meskipun sangat sibuk, dia masih menyempatkan waktunya untuk mengabariku. Bahkan sering sekali dia membalas pesanku hanya untuk mengatakan "Mas balas nanti ya" diikuti sedikit penjelasan tentang apa yang sedang dia lakukan. Padahal sebelumnya dia sudah mengabari, aku saja yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menceritakan segala hal padanya. Setelah membalas pesan seperti itu, dia akan menghilang selama berjam-jam, bisa sampai seharian, lalu kembali setelah semua urusannya selesai. Barulah dia menanggapi pesanku sebelumnya.
Wah, sepertinya tak akan habis jika aku membahas lelaki satu ini. Aku akan selalu punya banyak cerita tentangnya. Dia adalah salah satu kisah yang tak ingin aku akhiri. Pada beberapa waktu, mungkin kita memang butuh jeda; sama seperti spasi pada tiap kata, layaknya koma pada sebuah kalimat. Meski begitu, kita tetaplah utuh.
Januari akan segera selesai, tapi masih ada sebelas bulan yang menanti.
Mari terus membuat kisah bersama; untuk teman-teman 30HBC, untukmu, untukku, untuk kita.
✨️✨️✨️

Komentar
Posting Komentar