Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy
💛 Identitas Buku
Judul: Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Alvi Ardhi Publishing
Tahun terbit: 2024
Jumlah halaman: 320 hlm
Blurb:
Ini bukan sekadar buku. Ini adalah lorong waktu.
Lorong waktu menuju: masa kecil, masa remaja, masa dewasa, masa tua.
Bayangkan kamu bisa bertemu mereka: diri kecilmu yang ceria, diri remajamu yang muram, dirimu di masa depan yang tahu semua jawabannya.
Apa yang akan kamu sampaikan kepada mereka?
Apa yang akan kamu tanyakan?
Tapi, apakah kamu siap mendengarnya?
Bukalah buku ini, mereka ada di dalam sini.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹
💛 Sinopsis Buku
Buku Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy karya Alvi Syahrin adalah buku self improvement atau pengembangan diri yang mengajak pembaca berdialog dengan dirinya sendiri, baik dirinya di masa lalu maupun di masa depan. Buku ini menggunakan konsep "Lorong Waktu" yang mengajak pembaca menjelajahi kehidupannya sendiri. Dengan pendekatan emosional, buku ini menuntun pembaca melewati fase anak-anak, remaja, dewasa, hingga tua untuk merangkul rasa penyesalan, kelelahan, dan berdamai dengan kenyataan masa kini.
Buku ini dimulai dengan bab berjudul "Bocoran dari Masa Depan" dan diakhiri dengan bab berjudul sama dengan judul bukunya. Pada bab-bab pertengahan, pembaca diajak menemui dirinya dalam versi usia yang berbeda-beda.
Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy memberikan refleksi mendalam atas kesalahan dan pilihan di masa lampau, menekankan pentingnya memaafkan diri sendiri atas ketidakmampuan membahagiakan diri di masa lalu, serta mengajak pembaca untuk menjadi orang yang lebih baik di masa depan.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹
💛 Kesan Setelah Membaca Buku
Jika diminta memberikan satu kata untuk menggambarkan buku ini, maka aku akan memilih kata "peluk". Ya, aku merasa buku ini berhasil memeluk jiwaku, memeluk hatiku, memeluk diriku.
Konsep "Lorong Waktu" yang digunakan membawaku seakan masuk ke dunia lain, dunia di mana aku bisa berjumpa dengan versi diriku yang lain; versi diriku yang sudah kulalui, dan versi diriku yang akan datang.
Alvi Syahrin sukses membuatku meneteskan air mata bahkan sejak awal buku, tepatnya di bab kedua berjudul "Lorong Waktu Menuju Masa Kecil". Di bab ini, pembaca diajak menemui diri sendiri versi bayi.
Tapi, kamu terlalu tenggelam dalam momen ini sampai tak mampu bersuara, hanya terisak memandangi bayi kecil ini.
Karena kamu tahu...
Bayi kecil ini akan menumpahkan banyak air mata di masa dewasanya, melebihi tangisan di masa kecil.
Aku langsung terisak. Membaca kalimat itu di usia sedewasa ini sungguh menyayat hati. Adalah benar, jika aku sungguh bisa menemui diriku versi bayi yang masih sangat mungil, aku pasti akan menangis sebab tidak tega membayangkan masa dewasanya yang ternyata tidak selalu baik-baik saja.
Aku sudah merasa dipeluk sejak awal buku. Dan hal menarik lainnya adalah pembaca mengitari lorong waktu bukan ditemani penulis langsung, tetapi ditemani oleh diri sendiri dari masa depan.
Kalimat pertama di buku ini berbunyi:
Hai, ini aku—dirimu di masa depan.Dan aku punya beberapa bocoran buat kamu. Bocoran dari masa depan.
Jadi, di sini pembaca seperti berbicara dengan dirinya sendiri dari masa depan. Hal ini membuat kehangatan buku semakin terasa.
Di bab selanjutnya, "diriku di masa depan" mulai mengajakku memasuki pintu yang berbeda. Aku diajak bernostalgia tentang masa kecil yang menyenangkan, yang tak punya banyak pikiran selain bermain dan bersenang-senang. Bagian ini sukses membuatku merindukan masa itu.
Tapi kalau udah dewasa, kita nangisnya udah nggak di depan teman atau orang tua. Kita seringnya nangis sendiri di kamar. - halaman 57
Dari semua manusia yang akan kamu temui di muka bumi ini, kamu akan paling banyak menghabiskan waktu bersama dirimu sendiri. - halaman 85
Selanjutnya, lorong waktu mengajakku melihat diriku versi remaja sampai dewasa. Mulai umur 15, 16, 17, 18, dan seterusnya berurutan sampai 30 tahun. Bagian ini adalah favoritku. Di bab-bab ini, aku juga beberapa kali meneteskan air mata. Banyak sekali kalimat, luapan perasaan, dan kenangan yang relate dengan diri sendiri. Tidak semua, tapi sebagian besar.
Usia remaja yang sibuk dengan sekolah dan percikan cinta monyet, usia mendekati dua puluh adalah usia mulai belajar mandiri, usia dua puluhan yang mulai mencari jati diri, dan usia yang makin dewasa makin bodo amat sama omongan orang.
Hal mengagumkan dari bab-bab umur ini adalah aku seperti diajak untuk berdamai dengan segala sesuatu yang terjadi. Tentang impian masa kecil yang mungkin saja tak terealisasi, permasalahan hidup yang silih berganti, dan kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan di masa lalu.
Aku seperti diajak untuk memaafkan diriku sendiri. Tentang masa sekarang yang biasa-biasa saja dan masa depan yang tak tahu akan berjalan seperti apa.
Aku diminta untuk percaya terhadap diriku sendiri. Diriku di masa depan meyakinkanku bahwa aku bisa dan aku mampu. Aku dilarang menyerah dan berputus asa. Aku disemangati agar terus berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan sisanya pada Allah swt.
Jadi, entah masa lalu atau masa depan, aku diminta untuk selalu memercayai diriku. Setelah membaca ini, rasanya segala penyesalan, kekesalan, serta ketidakmampuanku di masa lalu bisa meluruh terbawa oleh setiap kalimat yang kubaca. Di sisi lain, aku percaya bahwa masa depan akan baik-baik saja selama kita berjalan bersama-Nya.
Berhenti melihat hidup orang lain sebagai standar yang harus kamu lalui. Kamu bakal capek terus. Kamu bakal merasa nggak pernah sampai. - halaman 174
Allah selalu menjawab doa-doa kita dengan cara yang tidak selalu kita pahami--tapi, itu selalu jadi cara paling sempurna, paling bijaksana. - halaman 236
Air mataku selanjutnya menetes di bab-bab akhir. Selayaknya manusia yang tak akan hidup selamanya, begitu pula dalam buku ini. Bab-bab akhir mulai mengingatkanku tentang kematian. Menyadarkanku bahwa selama aku masih hidup, aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk meraih kematian yang indah, untuk mengejar surga. Bab-bab ini memberitahuku agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan untukku.
Satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ujian. Tapi, mungkin, itu supaya kamu selalu ingat kalau dunia harus terasa setidakmembetahkan itu agar kamu merindukan surga. Menginginkan surga. - halaman 265
❤️🩹❤️🩹❤️🩹
💛 Kelebihan Buku
○ Memberikan Perasaan Positif
Lega. Ya, setelah membaca buku ini, aku merasa cukup lega. Pelukan hangat yang kudapatkan, rasa penyesalan yang hilang, kata maaf yang tak ragu keluar, dan kesadaran akan cinta terhadap diri sendiri membuat beban yang selama ini menghantuiku, seakan hilang bersamaan dengan tamatnya buku ini. Rasanya lega dan penuh ketenangan.
Buku ini juga berhasil membuatku lebih mencintai diri sendiri. Setelah memaafkan dan berdamai dengan segala hal, perasaan cinta ke diri sendiri tentunya semakin meningkat. Dan seperti yang kukatakan di awal, buku ini adalah pelukan untuk pembacanya. Bahkan kini, tiap melihat sampulnya, aku masih merasakan kehangatan itu.
○ Buku Fisik yang Menarik
Sampul buku ini cukup menarik. Terlebih setelah sampai di bagian akhir, ternyata sampulnya bukan sekadar sampul biasa. Ada makna yang hanya bisa pembaca ketahui di akhir buku. Ketika membaca bagian itu, aku menutup buku dan kembali memperhatikan sampulnya dengan saksama.
Isi buku menggunakan bahasa yang sederhana, tapi sangat menyentuh. Di dalam buku juga dilengkapi beberapa ilustrasi yang mendukung tulisan-tulisan sesuai babnya.
Konsep "Lorong Waktu" yang unik dan disusun berurutan membuat buku ini semakin menarik.
○ Bonus yang Menarik
Buku ini mendapatkan banyak bonus menarik meskipun aku membelinya bukan di masa PO (Pre Order). Pembaca tetap mendapatkan sebuah surat dari Penulis, empat buah stiker, dan bonus dalam bentuk digital. Bonus digital ini tersedia di akhir buku. Ada barcode yang harus di-scan. Setelah di-scan, isinya adalah conversation, exclusive podcast, voice note, mysterious quote, wallpaper, voucher belanja, dan surat custom dari "dirimu di masa depan" yang bisa di-printout dan tulis sendiri.
💛 Kekurangan Buku
Di beberapa bagian, khususnya pada bab-bab umur, ada beberapa hal yang tidak relate dengan kehidupan pembaca. Karena hidup tiap orang berbeda, tentunya perasaan setelah membaca ini juga akan berbeda. Pasti akan ada beberapa bab yang tidak relate sehingga pembaca mungkin akan sedikit kecewa di bagian itu.
❤️🩹❤️🩹❤️🩹
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan, buku ini aku rate 9,5/10⭐️

Komentar
Posting Komentar