30 Hari Bercerita 2023
30HBC 2022 di sini:
🍒 1 Januari
Dunia punya banyak sekali cerita; termasuk ceritaku, ceritamu, cerita kita. Beberapa perjalanan perlu diberi wadah untuk ditumpahkan menjadi aksara penuh makna.
Kalian setuju kan kalau saya bilang tidak ada tahun yang berjalan mulus? Susah, mudah, sedih, senang, tentunya silih berganti. Terlepas dari apa yang akan terjadi di 2023 ini, kita harus mempersiapkan diri. Namun, tetap saja saya berdoa agar tahun ini lebih banyak dikelilingi oleh hal-hal baik.
Tahun 2022 punya banyak sekali momen membahagiakan untuk saya. Pertama kali menjadi seorang guru, yang kemudian diikuti kata 'pertama' terkait profesi satu ini. Seperti... pertama kali punya rutinitas harian setelah sebelumnya jadi pengacara (pengangguran banyak acara), pertama kali menghadapi siswa hanya dengan modal pengalaman PLP saya yang ecek-ecek, pertama kali jadi wali kelas, pertama kali merasakan ribetnya mengurus nilai anak-anak menjelang semester akhir, pertama kali ikut PORSENI dengan posisi sebagai guru, pertama kali merayakan hari guru yang bahkan kemarin sempat dikasih surprise sama anak-anak. Banyak 'pertama kali' yang saya alami.
Tahun 2022 juga pertama kalinya saya mulai menulis lagi setelah sebelumnya hiatus lebih dari setahun. Saya bahkan berhasil memuat karya saya di buku antologi yang Alhamdulillah sudah ke-8 kalinya. Tahun 2022 juga saya berhasil menyelesaikan antologi bersama 15 orang Army yang insya Allah bukunya akan terbit bulan ini. Hihi, doain aja yaaa...
Hm, apa lagi ya? Rasanya 2022 terlalu banyak hal yang bisa dibagikan. Tapi untuk sekarang cukup itu saja. Masih ada 29 hari lagi untuk membagikan banyak kisah.
Terima kasih untuk orang-orang yang sudah menemani perjalanan saya di tahun 2022❤
Terima kasih juga untuk @30haribercerita yang selalu jadi tempat membagi kisah atau sekedar berkeluh kesah. Cerita-cerita yang mengagumkan dari 30HBC adalah salah satu alasan kenapa Januari begitu menyenangkan, penuh warna, dan penuh kebahagiaan.
Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana tersenyum saat melihat wajah manis Yoon Jeonghan💐
Happy new year, guys✨
🍒 2 Januari
Sulit berinteraksi dan beradaptasi, lebih suka chatan daripada telfonan, lebih milih di rumah aja daripada jalan-jalan, circle pertemanan kecil tapi dekat banget, lebih banyak mendengar daripada bercerita, gak enakan sama orang lain, tertutup kecuali ke orang-orang terdekat, sensitif terutama pada hal-hal menyedihkan atau mengharukan.
Pernah gak kalian dianggap aneh karena kepribadian kalian?
"Kok bisa sih kamu betah berhari-hari di rumah?"
"Gitu aja kok nangis?"
"Ngomong doang kok susah?"
Kok bisa sih kamu begini? Kok bisa sih begitu?"
Hm...
Memang sih yang bisa menilai diri kita adalah orang lain. Tapi ada beberapa hal yang bisa kita sadari. Saya adalah seorang introvert yang beberapa bulan lalu tes MBTI, hasilnya adalah ISFJ.
Saya pernah baca, tiap orang pasti punya sisi ekstrovert dan introvert. Hanya saja ada yang lebih dominan.
Seperti yang saya tulis di atas, saya adalah tipe orang yang sulit beradaptasi, juga sulit berinteraksi dengan orang baru ataupun dengan orang banyak. Kalau ketemu orang baru tuh canggung, gak bisa mulai percakapan, bahkan kadang sampai dibilang cuek atau sombong. Padahal gak bermaksud seperti itu. Ketemu orang banyak juga kadang melelahkan. Rasanya energi terkuras habis. Tapi, bukan berarti saya benci keramaian. Kadang, orang-orang seperti saya juga butuh suasana meriah.
Saya betah sendiri, jarang keluar rumah, siklus hidup cuma rumah-tempat kerja. Tapi nih ya... betah sendiri, bukan berarti mau terus-terusan sendiri dan kesepian. Tenang, saya bukan anti sosial kok. Tolong jangan menganggap introvert itu orang aneh hanya karena hidupnya berbeda denganmu.
Introvert itu punya dunia yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang satu frekuensi. Setenang dan semenyenangkan itu kalau udah me time. Introvert, setuju gak?
Btw, tadi saya search soal ISFJ. Kata alodokter, individu dengan kepribadian ISFJ umumnya adalah pribadi yang cenderung pendiam, tetapi sebenarnya baik hati, ramah, dan dapat dipercaya.
Oke, sekarang, lupakan tentang deskripsi diri yang saya buat, mari kita tanyakan pendapat teman-teman. Apakah ISFJ benar-benar sesuai kepribadian saya?
🍒 3 Januari
Kemarin aku melihat sebuah perdebatan di twitter. Ada seorang istri yang curhat terkait suaminya yang selingkuh setelah beberapa tahun pernikahan.
Isi komentar dipenuhi dengan wanita-wanita yang merasa simpati pada si istri dan memaki si suami. Di tengah-tengah itu semua, ada sebuah komentar berbeda. Intinya, si punya akun mengatakan bahwa tak seharusnya masalah keluarga diumbar ke media sosial dan jadi konsumsi publik. Aku pribadi memahami maksudnya. Cukup baik, hanya saja kalimatnya kurang tepat, kurang halus, sehingga tak dapat diterima oleh sebagian besar orang. Ia dihujat, dianggap tak mengerti perasaan si istri. Ada pula yang mengatakan ia pasti belum menikah, yang kemudian terjawab bahwa ia adalah ayah anak tiga. Makin meledaklah warga twitter sebab ia dianggap berada di pihak suami. Ada yang membela istri dengan alasan bahwa mungkin saja wanita itu tak punya tempat bercerita, sehingga hanya bisa berbagi di media sosial.
Aku hanya menyimak. Jika ditanya berada di pihak mana, aku netral. Aku setuju tentang tidak perlunya masalah keluarga diumbar. Tapi aku juga tak tahu keadaan si istri seperti apa.
Di dunia yang penuh kejutan ini, kita tak bisa hanya melihat sesuatu dari satu sisi saja. Apa yang terlihat, belum tentu yang sebenarnya. Sama seperti si ayah tiga anak tadi. Siapa yang tahu latar belakang di balik perkataannya? Apakah rumah tangganya pernah tak baik-baik saja karena masalah 'curhat di media sosial'? Begitu pula si istri yang diselingkuhi. Beberapa orang mungkin menganggap ia berlebihan. Lalu, bagaimana jika ia benar-benar tak punya siapa-siapa untuk berbagi? Bagaimana jika ia hidup di lingkungan yang juga tak harmonis? Bagaimana jika mentalnya terganggu karena kejadian itu sehingga ia hanya bisa menyalurkan emosinya dengan bercerita di media sosial, demi mendapatkan penguatan?
Terlalu banyak kemungkinan.
Dunia tak selalu baik-baik saja. Kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai kejutan yang tak bisa kita prediksi. Dibanding menghakimi padahal tak tahu apa-apa, lebih baik kita belajar untuk lebih mengontrol hati, pikiran, mulut, dan tentunya ketikan.
🍒 4 Januari
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘭𝘪𝘩-𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨𝘪𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴-𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘢 𝘬𝘪𝘯𝘪.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱𝘬𝘶.
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢.
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩𝘬𝘶? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶?
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶?
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶.
𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘮𝘶.
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪𝘬𝘶.
𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩𝘬𝘶, 𝘬𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘬𝘶.
🍒 5 Januari
Ada orang yang pernah bilang ke saya, "Nis, bahagiamu sederhana ya, tinggal kasih nonton video lucu aja udah ngakak banget."
Susah sih kalau punya humor anjlok kayak gini. Gak pernah bisa marah. Bahkan beberapa siswa saya sudah hafal karakter saya. Mau marah, gak jadi karena mereka ngelawak.
Ada kebahagiaan kecil lainnya yang saya rasakan, yaitu ketika seseorang memberikan sesuatu untuk saya. Sesuatu yang saya maksud di sini bukan hanya barang, tapi apa saja; kata semangat, penguatan, bahkan ucapan terima kasih. Semua itu terkesan sederhana, tapi sangat berharga untuk saya.
Oleh sebab itulah saya selalu melakukan hal-hal tersebut pada orang lain. Jadi, bukan sebab saya mengharapkan balasan yang sama. Saya tahu, hal baik yang kita lakukan pada orang lain, tak selalu mendapatkan balasan yang sama. Malah ada yang dapat balasan menyakitkan. Maka dari itu, tak perlu berharap saat memberi.
Saya bahagia mendapatkan hal-hal seperti itu, maka saya pun melakukan hal yang sama pada orang lain. Siapa yang tahu? Mungkin di antara mereka juga ada yang sama seperti saya.
Lagi down, dikasih kata 'semangat' bisa membangkitkan kekuatan lagi. Sedang sakit, dikasih ucapan 'gws atau sejenisnya' bisa bikin seseorang jadi merasa lebih berharga. Lagi gak percaya diri, dikasih ucapan 'kamu bisa' atau 'kamu hebat' atau 'kamu cantik' pun bisa bikin rasa percaya diri meningkat. Banyak hal yang bisa diucapkan.
Mungkin bagi beberapa orang, apalah arti sebuah kata. Tapi bagi saya, hal sederhana seperti ini pun sangat berarti. Terlebih lagi untuk teman atau sahabat yang sedang jauh. Kita tak bisa bertemu secara langsung untuk saling menguatkan ketika jatuh, atau saling menjenguk ketika sakit. Maka, sebuah kalimatlah yang menguatkan.
Untuk semuanya, terima kasih tak hingga❤
🍒 6 Januari
Cinta bisa diperoleh dari mana saja, dari siapa saja, bahkan dari orang yang belum pernah kau temui. Jika tak percaya, tak apa.
Aku percaya. Sebab aku memiliki mereka💜
Hari ini, aku tak akan bercerita panjang lebar, hanya ingin sekali lagi mengucapkan selamat ulang tahun pertama untuk @armywithluv06 💜
Grup yang telah menjadi rumah penuh kehangatan. Untuk setiap insan di dalamnya, terima kasih atas segala cinta dan kebahagiaan yang kalian berikan. I love you, guys💜
Hari ini aku bahagia. Mereka semakin penuh cinta saja setiap harinya.
Malam ini grup begitu ramai dengan pembahasan random yang sangat menghibur. Berhasil mengundang tawa berkali-kali. Terima kasih sudah melengkapi indahnya hari ini, guys.
Sekali lagi, happy 1st anniversary Army With Luv🥳
Mari tetap bersama sampai kita mengulang 6 Januari ke dua, tiga, dan seterusnya.
Borahae💜
Selamat malam, tanggal 6 Januari 2023 yang indah💖
🍒 7 Januari
"Trust issue merupakan situasi dimana seseorang mengalami rasa sulit percaya pada orang lain. Seseorang yang memiliki masalah ini akan terus mencurigai setiap orang yang terlibat pada suatu hubungan dengannya. Hubungan tersebut dapat berupa pasangan, pertemanan atau sekedar orang asing." (google)
Saya sudah beberapa kali membaca tentang trust issue, dari artikel, paling sering dari sebuah buku. Biasanya dialami oleh karakter utama sebuah cerita. Namun, beberapa hari lalu, saya mendengar langsung kisah dari seorang kawan yang mengalami masalah ini. Lebih tepatnya, dua orang. Mereka membagikan kisahnya padaku hampir di waktu bersamaan.
Mereka bercerita tentang betapa sulitnya membuka diri pada orang lain. Ini bukan lagi perkara introvert atau ekstrovert, tapi rasa trauma mendalam. Dibandingkan malu, rasa takut lebih mendominasi ketika hendak mengenal atau mengakrabkan diri dengan orang baru. Takut akan ditinggalkan, takut akan dikhianati, takut jika mereka tak akan disukai, takut jika mereka tak menyenangkan bagi orang lain, takut jika mereka tak seru. Mereka takut segala hal yang akhirnya membuat mereka enggan membuka diri.
Mereka adalah orang-orang penuh luka yang berkali-kali ditinggalkan, bahkan dikhianati. Mereka kerap kali kesepian, tapi tak mampu melawan ketakutan yang menguasai diri.
Sakit rasanya mendengar cerita mereka. Dua kawan baik yang aku kenal ini... bagaimana bisa ada orang yang menyakiti mereka sampai meninggalkan luka yang begitu membekas? Padahal mereka adalah orang yang sangat baik.
Aku hanya ingin mengatakan padamu yang gemar membuat luka: Kamu mungkin bisa melupakan perbuatanmu dengan cepat, tapi tidakkah kamu sadar bahwa kamu meninggalkan rasa trauma mendalam? Jika tak bisa membahagiakan, bisakah mencoba untuk tak menyakiti?
Teruntuk kawanku, dan mungkin orang-orang yang punya masalah trust issue. Yuk, pelan-pelan raih bahagiamu. Aku harap orang-orang di sekitarmu sekarang adalah mereka yang benar-benar mencintaimu dengan tulus. Siapa pun itu; keluarga, teman, sahabat, dan siapa saja yang kamu cintai.
Salam sayang dariku, salah satu orang yang bersyukur bisa mengenalmu❤️
🍒 8 Januari
Hujan selalu spesial. Sering kali dijadikan sebuah judul buku, tema atau judul cerita, bahkan judul film. Selalu menggugah ide hingga tercipta narasi indah; tentang dia yang dicinta, kenangan, harapan, masa depan, masa lalu.
Hujan selalu spesial. Jika mentari bisa berbicara, mungkin dia sudah jujur betapa irinya dia. Padahal dia menghangatkan, tapi sering diabaikan. Malah kadang dicaci hadirnya, dikeluhkan sinarnya, tetapi dicari ketika dibutuhkan.
Hujan selalu spesial. Setidaknya bagi mereka yang punya kenangan. Indah atau menyedihkan, hujan selalu punya banyak cerita.
Sekarang sedang hujan. Deras sekali sampai penglihatanku buram. Pipiku sudah basah.
"Udah?"
Suara ibuku menyadarkanku.
"Hm. Udah."
"Kita pulang sekarang?"
"Boleh, Bu."
Aku menghentikan hujan dari kedua bola mataku. Lantas, memegang nisan yang selalu kuajak bicara.
"Pa, pulang dulu ya."
🍒 9 Januari
Akhirnya saya menemukan drama yang bisa bikin saya bilang: GILA INI KEREN BANGET!
Alchemy of Souls, dengan total 30 episode dari 2 season. Season 1 diperankan oleh Lee Jae Wook sebagai Jang Uk dan Jung So Min sebagai Mudeok. Sementara di season 2, pemeran utama wanita diperankan oleh Go Yoonjung sebagai Naksu. Alasan pergantian pemeran pun bukan tanpa alasan. Justru inilah teori-teori menariknya. Saya gak akan spoiler di sini.
Alchemy of Souls ditulis oleh Hong Sisters. Bagi Kdrama Lovers, tentunya nama ini udah gak asing dan gak perlu diragukan lagi drama hasil ide kakak beradik ini.
Alchemy of Souls merupakan drama bergenre fantasi, bercerita tentang takdir dari orang-orang yang dipengaruhi oleh jiwa orang mati yang ingin hidup kembali. Adanya 'pemindahan jiwa' di mana jiwa seseorang bisa pindah ke tubuh yang lebih muda atau lebih sehat. Inilah awal dari semuanya. Kalian bisa membaca sinopsisnya di google.
Banyak hal yang bikin kagum dari drama ini. Selain pemerannya yang punya visual indah, mata penonton juga dimanjakan dengan sinematografi yang begitu cantik. Drama ini juga benar-benar roller coaster. Dalam satu episode, kita bisa merasakan berbagai macam perasaan; bahagia, sedih, marah, bahkan bisa bikin ngakak.
Hal mengagumkan yang utama adalah alur ceritanya. Amazing!
Di season 1, banyak teori-teori bertebaran. Drama ini lumayan bikin mikir, tapi justru disitulah letak keseruannya. Berteori tentang episode selanjutnya, tentang misteri yang butuh dipecahkan, tentang kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Sementara di season 2, tentu saja tetap ada teori, tetapi lumayan ringan karena di season ini lebih menjawab apa yang masih jadi misteri di season 1.
Tapi semua teori seakan gak berguna karena ada plot twist yang cukup mencengangkan. Semua teori dan tebakan dipatahkan. Drama ini sama sekali gak bisa ditebak.
Selain itu, kisah cinta di drama ini juga lumayan bikin gagal move on. Walaupun sempat ada war perkara jiwa pemeran utama wanita, tapi segalanya terjawab dengan jelas.
Pada akhirnya, entah hidup di tubuh siapa pun dan hidup dengan nama siapa pun, yang dicintai Jang Uk tetaplah jiwa Cho Yeong❤️
🍒 10 Januari
Ternyata... sesekali kita memang butuh jeda. Ini tentang apa pun; hubungan, hobi, kerjaan, bahkan siklus hidup yang terasa seperti sebuah jebakan. Sama seperti kalimat yang tak bermakna jika tanpa spasi, begitu pula sebuah situasi.
Aku sedang berada di tahap ini. Bahkan hal yang aku sukai pun tak selamanya bisa kugenggam dengan erat. Sesekali harus direnggangkan, bukan untuk melepaskan, tetapi agar bisa bernapas lebih leluasa.
Mengambil jeda kadang dipandang sebagai suatu alasan untuk meninggalkan titik yang tengah kita tempati. Nyatanya, tidak demikian. Jeda diambil untuk memberi ruang pada diri, pada apa-apa yang kita lalui, untuk menghindari kejenuhan atas hal-hal yang sebelumnya tak membuat jenuh.
Lantas, jika sekarang segalanya mulai terasa jemu, bukankah jarak yang kita butuhkan?
Tenanglah, akan ada saat di mana semuanya kembali seperti sedia kala.
Namun, ada yang tak boleh terjeda. Tentu saja ibadah dan postingan 30 hari bercerita💖
Selamat malam, hari ke sepuluh. Besok, mari kita membagikan kenangan sepuluh tahun lalu🍂
🍒 11 Januari
TEMA: 10 TAHUN LALU
Apa saja yang terjadi 10 tahun lalu?
Tahun 2013 sepertinya punya banyak kisah.
10 tahun lalu, saya masih dalam proses pemulihan hati setelah kepergian Papa setahun sebelumnya. Kesedihan masih sering menghantui hari-hari yang saya jalani. Masih belajar mengikhlaskan dan membiasakan diri atas perubahan yang terjadi.
10 tahun lalu, saya tamat SMP dan pertama kali memasuki dunia putih abu-abu. Lingkungan baru yang sangat sulit dihadapi bagi orang seperti saya.
10 tahun lalu, pertama kalinya saya menyukai seseorang, tapi hanya sepihak.
10 tahun lalu, saya mendapatkan pengakuan suka dari dua orang. Aneh memang, orang yang saya suka justru abai, orang yang tidak saya sangka, malah diam-diam menyimpan rasa.
10 tahun lalu, tepat di akhir tahun, saya akhirnya menerima salah satu dari mereka yang confess. Kelas X pertama kali pacaran, awal masa pubertas yang kalau diingat sekarang, sungguh tak punya pendirian. Kok saya bisa ya melupakan si first love dan langsung pindah ke lain hati? Ya, namanya juga masih ABG labil.
10 tahun lalu, masih di kelas X, saya kembali ke dunia kepramukaan setelah absen 3 tahun. Sejak SD sudah jadi anak pramuka aktif. Waktu SMP malah lebih banyak ikut olimpiade, FLS2N, dan lain sebagainya sehingga tak aktif di kepramukaan.
10 tahun lalu, masih di kelas yang sama, saya pertama kalinya ikut PORSENI. Banyak pengalaman luar biasa yang saya dapatkan di sini.
10 tahun lalu, drama The Heirs pertama kali tayang. Sampai sekarang tetap menjadi salah satu drama favorit saya.
10 tahun lalu, BTS debut, dan saya tak tau. Saya baru tau mereka hidup di dunia ini pada tahun 2019. Sangat terlambat, tapi tak apa.
10 tahun lalu, mungkin banyak hal yang terjadi. Namun, sebagian pasti sudah terlupakan. Atau bisa jadi saya ingat, tapi tertinggal untuk dituliskan di sini.
Apa pun yang terjadi di 2013, saya anggap sebagai kenangan dan pelajaran. Saya juga tidak menyesali apa pun.
Untuk semua kisah yang telah berlalu, terima kasih, Nisa. Selamat, kamu udah sampai di waktu 10 tahun kemudian.
🍒 12 Januari
Lagi-lagi kamu menciptakan kebingungan pada pikiranku yang masih penuh tanya. Segala hal tentangmu tak pernah menemukan jawaban pasti sampai detik ini. Bukankah sudah terlalu lama untuk kita bermain teka-teki?
Kamu memilih untuk melepaskan genggamanku yang mulai nyaman dengan hangatnya sosokmu. Namun, mengapa kamu masih muncul di sela-sela kesukaranku? Mengapa kamu masih menitipkan kekhawatiran pada orang yang seharusnya tak lagi kamu pedulikan? Bukankah itu cukup membingungkan untuk diterima oleh nalar?
Jika sudah memutuskan untuk menghentikan kisah yang bahkan belum dimulai ini, sebaiknya kamu tak perlu kembali untuk sekedar basa-basi mempertanyakan perihal keadaan. Aku sampai ragu antara rasa peduli dan rasa penasaran semata.
Jika kamu lupa, akan aku ingatkan. Pandanganku tentangmu tak lagi sama ketika kamu masih menjadi salah satu sumber bahagiaku yang nyata. Segalanya sudah berbeda.
Memang benar, aku masih ingin menemukan jawaban atas teka-teki itu. Aku pun masih lemah menghadapi hangatmu yang tak hilang meski asing mulai menguasai atmosfer kita.
Memang benar, mungkin masih ada sisa-sisa tentang kita di sini.
Namun, sejak lelah mengalahkan rasa, aku tak lagi menunggu kedatanganmu, bahkan hanya untuk berbasa-basi seperti yang sesekali kamu lakukan.
Jadi, berhentilah kembali.
🍒 13 Januari
Selama ini, sudah berapa banyak hal-hal yang tertunda hanya karena terpengaruh oleh omongan orang lain?
Sudah berapa kali urung melakukan sesuatu sebab takut akan pendapat orang lain?
Sudah berapa penyesalan yang dirasakan karena menjalani hidup atas nahkoda orang lain?
Apakah kamu pernah bertanya, mengapa aku tak kunjung maju? Mengapa aku hanya jalan di tempat?
Pernahkah kamu berpikir, mungkin diri ini tak bisa maju karena terlalu sering mengikuti kemauan orang lain.
Seseorang yang berbakat menulis tak kunjung mempublikasikan tulisannya sebab enggan dikatai alay dan lebay. Padahal, sebenarnya semua penulis akan tetap melewati hal ini. Selain itu, bukankah mereka yang berkomentar itu tak ada kontribusi apa-apa dalam hidupmu? Lalu, untuk apa didengarkan?
Seseorang yang ingin membuka usaha, tak kunjung memulai sebab orang-orang mengatakan kalau usahanya kecil, keuntungannya sedikit, susah dijalani, tak akan ada harapan sukses, dan segala komentar lainnya. Padahal, bukankah setiap usaha pasti akan mengalami jatuh bangun? Jika kamu jatuh pun, yang menolong adalah Tuhan dan dirimu sendiri, bukan mereka yang hanya tahu berkomentar. Lalu, untuk apa didengarkan?
Seseorang yang sebenarnya belum siap menikah, buru-buru mencari pasangan karena sudah didesak sekitar. Akhirnya, salah pilih. Siapa yang menderita? Kamu. Bukan mereka yang hanya tahu berkomentar. Lalu, untuk apa didengarkan?
Seseorang yang sehat, bahagia, dan mencintai dirinya, mendadak insecure karena pendapat orang. Kamu terlalu gemuk, katanya. Lalu berusaha diet. Kemudian berujung sakit, padahal sebelumnya sehat-sehat saja, padahal tubuh sebelumnya cantik-cantik saja. Siapa yang repot? Tentu saja kamu dan orang tuamu. Bukan mereka yang hanya tahu berkomentar. Lalu, untuk apa didengarkan?
Ah, aku menulis ini berdasarkan pengalaman kawan-kawan. Mungkin masih banyak hal yang bisa terjadi. Apa pun itu, berhentilah menjadi pemeran pembantu di ceritamu sendiri. Kamu adalah pemeran utamanya. Harus bisa memilih protagonis dan antagonis, memilih mana yang benar-benar peduli dan mana yang hanya berkomentar kosong tanpa arti.
Kamu indah dengan apa adanya dirimu💖
🍒 14 Januari
TEMA: JARAK
Pagi ini ponselku berdering. Nama kontak "Hanie" tertera di layar, membuatku tersenyum cerah secerah kota Seoul hari ini.
"Halo."
"Yurinku... udah bangun?"
"Kalau belum, mana mungkin aku bisa angkat telfonmu."
"Makasih."
"Haha, apa sih. Kamu dimana?"
"Masih di dorm. Baru selesai sarapan. Kamu?"
"Tadi udah sarapan juga kok."
"Hari ini kegiatan kamu apa?"
"Hari ini aku diundang ke rumah Kak Yuna, putrinya ulang tahun."
"Apa mau aku antar?"
"Haha bercandanya gak lucu. Mau ketemu aja susah, sok-sokan mau ngantar."
"Gak lucu, tapi kamu ketawa."
"Iyaa deh, kamu gemesin soalnya."
"Hehe... Aku nitip hadiah aja ya nanti, salam buat Kak Yuna."
"Okay. Kamu fokus aja sama penampilanmu malam ini. Apa semuanya lancar?"
"Hm, semua baik-baik aja."
"Syukur deh, aku tunggu penampilan kamu. Btw, aku ada janji sama Dino, mau ngirim makanan kesukaannya. Bilangin ke dia, aku kirim besok ya."
"Ah, dia ngerepotin ya."
"Enggak kok. Malah lucu."
Pembicaraan berjalan kurang lebih setengah jam saja. Dia menutup telepon setelah pamit untuk rehearsal. Dia sedang berada di Thailand. Jarak kembali memisahkan kami.
Aku duduk di depan meja riasku, menatap foto selfie-nya yang kuletakkan di depan kaca. Foto yang hanya dia berikan untukku. Dia mengambilnya saat konser di Tokyo, sebagai hiburan untukku yang terlalu sering ditinggalkan.
Aku sudah tahu seperti apa resiko menjalin hubungan dengan orang sepertinya. Bahkan sekalipun dia berada di Korea, pertemuanku dengannya tak bisa leluasa. Namun, itu hal yang harus kita hadapi. Lagi pula, kita hanya berjarak, bukan berpisah. Aku juga selalu percaya padanya. Jarak bukan penghalang.
Sebuah pesan mendarat di ponselku ketika aku sibuk memandang foto kekasihku itu.
Yurin, lihat berita sekarang!
Pesan Kak Yuna membuatku segera menjelajah berita terhangat yang ada.
> Jeonghan SEVENTEEN dikabarkan berkencan dengan non selebritis!
Aku ternganga. Terdiam beberapa detik untuk mencerna apa yang sedang terjadi.
"Udah berjarak sejauh ini, masih ketahuan juga?"
🍒 15 Januari
Wow, tak terasa kita sudah tiba di pertengahan Januari.
Bagaimana 15 hari pertamanya? Apakah baik-baik saja? Apakah sudah banyak cobaan? Atau justru penuh kebahagiaan? Apa pun itu, kuharap kita semua selalu sehat untuk bisa tetap menghadapi hari-hari ke depannya.
Apakah di antara kalian ada yang menulis resolusi untuk 2023? Atau sekedar membayangkannya? Atau bahkan berjanji pada diri sendiri atas resolusi-resolusi tersebut?
Lantas, sudah adakah perubahan yang dilakukan selama 15 hari ini?
Yang punya resolusi lulus kuliah tahun ini, apa udah setor judul? Apa udah bikin proposal? Apa udah penelitian? Skripsinya dikerjakan atau cuma dibiarkan? Atau jangan-jangan masih rajin rebahan?
Yang punya resolusi lebih sehat tahun ini, apa masih sering begadang? Rajin olahraga gak? Makan makanan sehat atau mie setiap saat? Atau hanya rebahan juga?
Yang punya resolusi meningkatkan ibadah tahun ini, sholat lima waktunya gimana? Aman? Subuhnya sering kelewatan gak? Al-Qur'an dibuka berapa kali sehari?
Yang punya resolusi diterima kerja tahun ini, udah sebar lamaran ke mana aja? Ditolak langsung nyerah gak? Apa jangan-jangan masih mageran?
Yang punya resolusi jadi orang lebih baik, sudahkah menghargai hal-hal kecil di sekitar?
Ya, apa pun resolusi kalian, kuharap bisa terlaksana. Jangan lupa untuk selalu mengiringi usaha dengan doa. Jangan cuma diam dan berharap segalanya akan berubah.
Ah, iya. Sebenarnya tulisan ini juga untukku. Untuk mengingatkan diriku atas hal-hal yang juga sering kali kulupakan.
Semangat untuk kita semua❤
🍒 16 Januari
HAPPY SEUNGKWAN DAY🍊
Hai, aku adalah pendengar lagu-lagumu sejak dulu. Aku telah jatuh cinta pada suaramu bahkan sebelum aku mengetahui rupamu. Lagumu membawa candu, aku mengenal nada-nada indahmu melalui beberapa drama Korea yang kutonton. OST-mu selalu menjadi favoritku.
Seungkwan SEVENTEEN. Hanya itu yang kutahu. Aku suka lagumu, cukup. Tak ada niat untukku mencari tahu lebih dalam.
Hari itu, jika saja aku tak menonton Game Caterers episode HYBE Family, mungkin aku tak akan ada di dunia Caratland sekarang.
Ah, tidak. Jika saja kamu tak seasyik itu, mungkin aku tak akan tertarik untuk mengenalmu lebih jauh, dan berujung jatuh hati pada dunia diamond ini. Andai saja kamu tak selucu itu, barangkali Seventeen masih hanya sekadar nama untukku.
Hari ini belum berakhir untuk mengucapkan selamat mengulang 16 Januari ke-25.
Kamu membuat tahun 1998 semakin menarik saja. Karena kita seumuran, aku seperti mendapatkan seorang teman baru yang berarti. Semakin mengenal pribadimu, aku selalu berpikir bahwa sepertinya menyenangkan memiliki seorang teman sepertimu.
Kepedulianmu pada sekitar, membuatku makin percaya bahwa kamu memang lahir dengan kehangatan. Kadang, semuanya hanya tertutup dengan tingkah randommu yang tak pernah gagal mengundang bahagia.
Tawaku sederhana jika tentangmu. Bahkan aku bisa tertawa hanya dengan melihat foto Game Caterers-mu, masih terbayang insiden lompat tali yang legendaris itu. Atau kejadian memalukan soal sapaan pada girlgroup yang tak pernah berakhir indah. Bisa juga wajah julid yang sepertinya seru untuk diajak 'peduli' pada orang lain.
Kamu menyimpan terlalu banyak kisah. Dan kisah Caratland-ku juga mulai ditulis karenamu.
Panjang umur, My Boo🍊
🍒 17 Januari
Aku tak pernah berniat menanam bunga untukmu, bahkan tak ada pikiran sedikit pun untuk melakukannya. Mungkin akan terdengar aneh, tapi bunga itu akhirnya tumbuh dengan sendirinya. Aku seperti orang hilang akal berusaha mencari tahu asal muasal bunga itu. Hingga kemudian aku disadarkan oleh fakta bahwa aku sendirilah yang menanamnya. Namun, tetap saja sebenarnya kamu adalah penyebab di antara semua rangkaian kejadian ini.
Aku tak berniat menyiraminya. Alangkah lebih baik jika mati perlahan tanpa meninggalkan jejak, pikirku. Namun, kamu datang sendiri untuk merawat bunga itu agar tetap hidup, dan aku tanpa penolakan mengizinkanmu masuk untuk menyiraminya. Sungguh naif.
Entah sejak kapan bunga itu mekar. Aku tak sadar sebelum salah satu kelopak bunga terjatuh tak jauh dari tangkainya. Apakah kemudian ia akan mati?
Satu, dua, tiga, hingga beberapa kelopak jatuh bertebaran.
Apakah kamu tahu akan jadi apa bungaku setelah ini?
Sepertinya aku sudah jatuh, sama seperti kelopak bunga tanpa nama itu. Namun, entah ini jatuh yang benar-benar jatuh, atau hanya sekadar akibat dari beberapa hal baik yang menyapa duniaku.
Kamu tak banyak kata perihal kita. Namun, beberapa lakumu mengisyaratkan hal berbeda. Apakah aku terlalu peka? Atau sebenarnya salah paham semata?
Aku tak akan berekspektasi pada manusia. Pertemuan kita pun merupakan suatu hal acak tak terduga dari semesta. Enggan rasanya aku berpikir tentang penyatuan dua insan yang tak mungkin terjadi begitu saja. Sama seperti ketidakmungkinan tumbuhnya bunga itu untuk kedua kalinya.
Belum habis aku berselisih dengan isi pikiran, kulihat kamu mengumpulkan kelopak bunga yang berjatuhan. Lantas kamu sirami kembali tangkainya yang belum terlihat layu.
Bunga itu perlahan tumbuh kembali. Ternyata ketidakmungkinan versiku terbantahkan.
Harus aku apakan selanjutnya? Haruskah kubuang dan kuhancurkan, agar tak ada ruang untukmu menyiraminya? Atau harus kujaga?
Ah, mungkin kubiarkan saja? Biarlah mati dengan sendirinya ketika kelak kamu tak lagi datang untuk mengunjungi lokasi bunga ini; hatiku yang masih penuh tanya.
🍒 18 Januari
SCREENSHOT
Melihat isi folder screenshot teman-teman yang mencapai ribuan, saya tidak heran, karena saya pun seperti itu. Hanya saja, saya adalah tipe orang yang tidak tahan melihat galeri berantakan. Foto-foto selalu saya pisahkan per folder. Saya atur sedemikian rupa agar lebih mudah mencari ketika dibutuhkan. Alhasil, saya punya puluhan folder di galeri.
Untuk folder screenshoot, saya selalu membersihkannya tiap satu, dua, atau bahkan tiga bulan. Hal-hal yang rasanya sudah tidak dibutuhkan lagi, akan saya hapus. Sedangkan yang masih saya butuhkan, saya pertahankan. Beberapa saya pindahkan ke folder khusus jika hasil screenshot-an berhubungan dengan salah satu folder yang saya punya. Seperti screenshoot-an wajah Yoon Jeonghan yang terlampau sering melakukan live weverse, sehingga folder screenshoot saya akan penuh dengan wajahnya. Hasil screenshoot-an itu kemudian akan saya pindahkan ke folder khusus Yoon Jeonghan. Begitu pula dengan hal lain, seperti quotes, informasi atau berita penting, judul drakor atau film, bahkan sekedar percakapan whatsapp yang kiranya masih layak disimpan.
Saat ini, folder screenshot saya mencapai 700 lebih. Saya lupa, sudah berapa lama tidak saya bersihkan. Sekarang masih mager, mungkin akan saya bersihkan jika sudah ada peringatan memori yang berteriak karena sudah sesak. Ya, salah satu alasan kenapa saya enggan menyimpan banyak hal tidak penting di galeri: memori yang minim.
Hari ini, screenshot saya tidak banyak, tapi sangat berkesan. Pertama, bias saya yang sedang wamil—Kim Seokjin—secara mengejutkan update weverse. Hal yang tak terduga, mengagetkan, sekaligus menyenangkan. Saya sangat bangga. Ia menjadi komandan yang sangat gagah dalam upacara hari ini. Ia pun mengirim pesan untuk ARMY dalam update-annya.
Screenshot selanjutnya adalah sebuah berita Ferdi Sambo yang malam ini menjadi topik utama di grup @armywithluv06. Seketika kami membahas non-Kpop karena ketidakterimaan atas putusan sidang hari ini. Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut, semua keluh kesah telah saya bagikan ke grup malam ini.
Ah, hidup memang penuh kejutan.
🍒 19 Januari
Gengsi: kehormatan dan pengaruh, harga diri, martabat (KBBI).
Menurut saya, tiap orang punya 'gengsi'. Kita kadang tak bisa mengontrolnya hingga gengsi itu menjadi berlebihan, bahkan menjadi penyebab terhalangnya hal-hal baik.
Di zaman sekarang, apakah mencium tangan orang tua ketika akan pergi dari rumah adalah sebuah hal tak biasa? Saya bertanya sebab pernah mendapatkan sebuah komentar "Wah, Nisa keren, masih cium tangan orang tua. Saya udah gak gitu" atau komentar-komentar sejenis.
Apakah ini memang bukan hal biasa? Saya melakukan ini sejak kecil sampai sekarang usia saya sebentar lagi 25 tahun. Ketika saya akan pergi ke sekolah untuk mengajar, pergi jalan-jalan, apalagi jika akan pergi jauh.
Kata seorang kawan, dulu dia melakukan hal yang sama, sekarang sudah dewasa, gengsi katanya. Padahal itu hal baik. Kenapa harus gengsi ya?
Ada juga yang gengsi mengucapkan kata 'sayang' atau 'cinta' secara langsung pada orang tua. Untuk hal ini, saya pun tak pernah melakukannya. Entah sebab gengsi atau apa, tapi hubungan saya dan orang tua saya bukanlah tipe orang tua-anak yang saling mengucapkan hal-hal demikian. Padahal sebenarnya mau juga, tapi tetap tak bisa. Saya hanya sering menunjukkan kasih sayang dari tindakan.
Bukan ke orang tua saja, malah biasanya gengsi bilang 'sayang' ke sahabat atau pasangan. Begitu orangnya sudah jauh, bahkan sudah meninggalkan dunia, yang tersisa hanya penyesalan.
Gengsi dalam meminta maaf juga berbahaya, pada siapa pun itu. Sering kali sebuah hubungan berakhir buruk karena gengsi. Gengsi minta maaf lebih dulu, gengsi chat lebih dulu, masing-masing tak mau kalah. Padahal pada dasarnya orang-orang seperti ini memang sudah kalah, sebab yang menang adalah ego.
Ada pula gengsi mengakui kekurangan diri; sebab tak ingin dianggap lemah, minim pengetahuan, atau segala kekurangan lainnya. Kemudian berujung pada kebohongan untuk menutupi itu semua. Padahal apa yang salah, bukankah manusia memang penuh kelemahan?
Sepertinya kita terlalu sering diperbudak gengsi, yang berujung memberi makan ego. Hingga kemudian kita dipermainkan oleh diri sendiri yang sebenarnya bisa lebih baik.
Jadi, masih mau gengsi?
🍒 20 Januari
Saat memutuskan untuk mengambil atau menjalani sebuah pekerjaan, apa hal utama yang kalian pertimbangkan? Apakah jenis pekerjaannya? Besar gajinya? Kenyamanannya? Waktu kerjanya? Jarak lokasi tempat tinggal dan tempat kerja? Atasannya?
Hm, sepertinya banyak hal yang dipertimbangkan.
Saya tak bisa menampik bahwa gaji memang sangat penting dan menjadi tujuan utama dalam bekerja. Namun, di atas gaji, saya mengutamakan kenyamanan. Sebab prinsip saya, untuk apa gaji tinggi, jika saya merasa tak nyaman? Apalagi jika tertekan, bahkan stres berkepanjangan. Ini adalah saya, jika kamu atau mereka berbeda, tak apa. Bukankah kita memang tak bisa menyamakan pandangan tiap orang?
Bicara tentang kenyamanan, saya sangat bersyukur sekarang berada di lingkungan kerja yang menyenangkan. Saya adalah seorang guru honorer di sebuah sekolah kecil di pedesaan. Saya memiliki rekan-rekan kerja yang sangat baik, yang bisa diajak 'saling' dalam segala hal. Saling peduli satu sama lain, saling mendukung, saling membantu, saling berbagi, bahkan saling memahami. Atasan yang tak neko-neko serta selalu berbaur bersama kami tanpa membatasi tembok interaksi dengan kata 'jabatan'.
Ya, meskipun siswa-siswi sering menguji kesabaran dengan kenakalannya, tapi itu adalah hal biasa yang harus dihadapi setiap guru. Walaupun gaji guru honorer juga jauh berbeda dengan gaji para petinggi negara yang bekerja di gedung kura-kura, tapi saya merasa nyaman dengan keadaan sekarang.
Saya berada di lingkungan sederhana yang damai. Dikelilingi orang-orang baik dan positif, yang saya harap bisa membawa dampak positif pula untuk diri saya sendiri.
Di mana pun kalian bekerja, jangan lupa untuk jaga kesehatan, jangan menyiksa diri, jangan stres. Semoga saya, kamu, dan kita semua bisa menghadapi segalanya dengan baik.
Untuk yang lagi cari kerja, semangat juga ya. Semoga rezeki segera menghampirimu.
Salam sayang,
guru honorer yang masih butuh banyak pengalaman❤
🍒 21 Januari
TEMA: DEAR ...
Dear @eriscafebriani ♡
Hai, aku mau sok akrab dulu walaupun kamu sama sekali gak tau aku. Berhubung kita seumuran, sama-sama lahir tanggal 25, tahun 1998, cuma beda sebulan, aku sering manggil kamu Eris.
Kamu tau gak, aku bisa jadi seperti sekarang, itu karena kamu. Aku berbicara tentang membaca dan menulis. Sebenarnya aku sudah menyukai dua hal ini sejak SD, tapi gak pernah aku seriusin. Dan kecintaanku terhadap dunia literasi ini bisa berkembang karena salah satu karyamu. Lebih tepatnya, karya debutmu, Dear Nathan.
Aku membeli novel Dear Nathan dan membacanya pada tahun 2017, satu tahun setelah novel itu terbit, tepat setelah aku menonton filmnya. Ya, aku justru lebih dulu mengenal Nathan dan Salma dari film. Ternyata novelnya lebih bagus dari filmnya (bukan berarti filmnya gak bagus).
Eris, aku gak bisa menggambarkan gimana jatuh cintanya aku sama novel itu. Sejak baca Dear Nathan, aku semakin suka membaca. Aku kemudian membaca karyamu yang lain, Serendipity. Kisah Rani membuatku semakin menyukai yang namanya novel.
Aku kemudian mulai mengikutimu, sembari memperbanyak bacaan. Bahkan aku mulai mengasah bakat menulisku. Aku punya mimpi baru, menjadi sepertimu, tetapi tetap dalam versiku sendiri. Aku ingin menjadi seorang penulis.
Tahun 2018, aku masuk ke sebuah grup kepenulisan. Di sini bakatku semakin berkembang. Aku belajar membuat outline, menentukan karakter, membuat alur, dan perjalanan panjang lainnya hingga berhasil menamatkan satu novel di Wattpad. Judulnya Setapak Semara Ayra, karya pertamaku yang kalau aku baca sekarang, agak memalukan karena tulisan itu masih kacau. Di tahun yang sama, kamu menerbitkan sekuel Dear Nathan, tentunya aku dengan antusias membeli dan membacanya. Tulisanmu tetap mengagumkan.
Awal tahun 2020, kamu respost story-ku untuk pertama kali. Sesederhana itu tapi bikin bahagia.
Eris, karena kamu aku jadi mengenal dunia kepenulisan dan penulis-penulis hebat lain. Faktanya, kamu adalah titik di mana aku memulai ini semua. Kamu menginspirasi dan memotivasiku dengan perjalanan menulismu yang tak mudah, tapi bisa kamu lalui.
Terima kasih banyak❤️
Note: postingan ini dikomen Erisca di ig, dan direpost di story juga😭
🍒 22 Januari
"Sesekali kita harus merasakan pahit," katamu kala itu, ketika aku mengaku bahwa aku tak menyukai kopi.
Katamu kopi itu seperti kehidupan; pahit, tetapi semakin lama akan semakin terasa manisnya, sebab sudah terbiasa.
Aku tak begitu setuju. Kita berdebat saat itu. Obrolan-obrolan santai yang kemudian membuat kita tertawa di akhir perbincangan.
Sekarang aku tahu maksud perkataanmu. Meski aku tetap tak setuju. Pahit. Kau memberiku kopi yang terlampau pahit untuk kunikmati. Namun, semakin lama rasa kopi itu menjadi biasa saja. Tak pahit, pun tak manis. Lenyap rasa tak bersisa.
Di mana letak manis yang kamu maksud?
Aku terus bertanya, sampai suatu saat, lagi-lagi aku menemukan jawaban dari rasa penasaranku sendiri. Tentang rasa yang menjanjikan manis, ternyata berproses dari waktu ke waktu.
"Hidup itu pahit. Kamu harus tetap berjalan untuk bertemu manisnya."
Mungkin seperti itu maksudmu?
Namun, perlukah kamu yang memberiku kopi itu?
Dari semua orang, kenapa harus kamu yang menjebakku di antara kopi dan teh yang tak berperasaan ini?
Ternyata... memang selalu ada risiko atas jawab yang dipaksakan.
🍒 23 Januari
Ini random banget. Tapi tiba-tiba pengen aja bahas perempuan cantik ini.
Namanya Dara Musfira. Gadis kelahiran Lhokseumawe, 6 November 1999. Iri banget, ulang tahunnya beda sehari sama @xuminghao_o. Tapi gak apa-apa. Saya ikhlas.
Kok tiba-tiba bahas Dara?
Tadi saya lagi baca draft cerita lama untuk mencari ide tulisan hari ini. Terus ketemu cerita yang karakternya lagi jalan-jalan ke Aceh. Jadinya ingat Dara deh, ya udah nulis tentang dia aja.
Saya kenal Dara di bulan Agustus 2021, udah satu setengah tahun. Kenal dari salah satu grup Army yang sekarang udah sama-sama kami tinggalkan. Sekarang saya dan dia sama-sama jadi admin di @armywithluv06.
Mau nulis apa sih sebenarnya?
Cuma mau bilang, dia adalah salah satu manusia yang saya cintai. Sekali seumur hidup aja, saya ingin ketemu dia. Semoga nanti, Allah bisa mengizinkan.
Dia pernah bilang ke saya, katanya perkenalannya dengan saya adalah salah satu anugrah terindah buat dia. Duh, meleleh. Dia juga bilang, kalau saya ini cowok, pasti udah dia perjuangin mati-matian. Ini antara terharu sama ngakak sih wkwk.
Dara ini salah satu perempuan kuat yang saya kenal. Hidupnya gak mudah, tapi dia hebat. Dia keren. Dia mengagumkan. Tapi di sisi lain dia juga menyebalkan.
Menyebalkan karena dia terlalu sering menyalahkan dirinya sendiri atas hal-hal yang sebenarnya bukan jadi tanggung jawabnya. Dia terlalu sering menyakiti dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran negatif yang sangat membuang-buang waktu untuk dipikirkan. Padahal dia cantik. Dia pintar. Dia berbakat. Seharusnya dia gak menyakiti dirinya.
Dia gak percaya diri. Bahkan untuk hal kecil seperti mengirim voice note. Dia terlalu tertutup, tapi dia membuka diri ke saya. Itu artinya saya memang berarti untuk dia. Dia percaya menitipkan cerita-ceritanya ke saya.
Meski begitu, saya masih sering gak paham sama dirinya. Tapi apa pun itu, saya tetap sayang sama dia.
Hai, jodohnya Dara yang sekarang entah di mana. Sebelum nikahin adik saya nanti, janji dulu sama saya, jangan nyakitin dia. Dia orang yang berarti untuk saya. Kalau nyakitin, kamu berhadapan sama suami saya. Nih saya tag @joshu_acoustic 🙂
🍒 24 Januari
Handphone.
Barang yang benar-benar melekat pada manusia di zaman sekarang. Bangun tidur, langsung nyari HP. Lagi makan, main HP. Lagi kerja, harus pake HP. Kemana-mana wajib bawa HP. Bahkan ada yang membawa HP ke toilet untuk menemani waktu panggilan alam. Pokoknya mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, HP gak pernah ketinggalan untuk dibuka. Benda ini bahkan sudah menjadi kebutuhan primer. Kalau lagi gak pegang HP, benar-benar bingung harus ngapain. Saya jadi penasaran, dulu saya ngapain aja ya waktu belum punya HP? Mendadak amnesia. Ingatan tentang zaman itu seakan terkubur dalam-dalam.
Bicara tentang kubur, mengingatkan tentang fakta bahwa tiap manusia akan mati. Waktu itu, seorang rekan guru di sekolah saya pernah berkata "Kalau aja HP ini Al-Qur'an, pasti kita bisa khatam berkali-kali dalam sebulan". Sebuah pernyataan yang sangat menampar. Tapi malah gak sadar-sadar, tetap aja... HP terosss...
Meskipun begitu, kalimat tersebut saya jadikan self reminder sejak saat itu. Gak bisa dipungkiri bahwa zaman sekarang handphone memang gak bisa jauh-jauh dari manusia, termasuk saya sendiri. Perkembangan zaman membuat segalanya berpusat pada teknologi. Namun, harus tetap diingat bahwa Al-Qur'an juga butuh dicintai dengan sebegitu besarnya. Lebih tepatnya, kita yang butuh untuk bekal di kemudian hari.
Sama seperti bagaimana kita menjaga handphone agar tetap dalam kondisi bagus, tidak lecet, dan selalu bersih; Al-Qur'an pun jangan sampai berdebu karena tak pernah dibuka, apalagi dibaca.
Faktanya, kita memang harus mempersiapkan kehidupan akhirat. Sebab dunia adalah fana, sama seperti handphone yang sekarang saya pakai untuk mengunggah tulisan ini, dan yang kalian pakai untuk membaca tulisan ini.
Kalimat di atas tadi... benar-benar sebagai pengingat bagi saya, dan bisa jadi bagi kita semua.
🍒 26 Januari
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana makan indomie goreng pakai telur.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana melihat langit biru yang cerah.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana menatap pelangi atau menghirup aroma petrikor setelah hujan.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana melihat bulan dan bintang di langit.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana duduk sembari menatap keindahan semesta.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana menatap senyum orang terkasih.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana nonton Run BTS atau Going SEVENTEEN.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana melihat drakor favoritku happy ending.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana lelucon receh yang orang-orang bagikan.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana makan eskrim, coklat, atau donat.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana melihat notifikasi pesanmu di whatsapp-ku.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana kehadiranmu.
Bahagiaku sederhana.
Sesederhana menatap diriku dalam keadaan sehat dan ceria.
Bahagiaku sederhana.
Meski sedih kerap kali menyesakkan dada.
Bahagiaku sederhana.
Walau duka sering datang mendera.
Bahagiaku sederhana.
Aku saja yang sering tutup mata.
Bahagiaku sederhana.
Aku saja yang terlalu banyak mengeluh tanpa malu.
Bahagiaku sederhana.
Aku saja yang kurang mensyukuri nikmat-Nya.
Bahagiaku sederhana.
Meski bagi orang lain, mungkin saja versi sederhanaku adalah mewah.
Bahagiaku sederhana...
🍒 28 Januari
TEMA: MENGARANG (Budi dan Ani)
Itu bapak Budi. Dia seorang pedagang kaki lima. Gajinya yang pas-pasan harus dipakai menghidupi Budi, putra satu-satunya yang baru masuk SMA. Istrinya telah jadi TKW sejak Budi masih SD. Namun, wanita itu tak kunjung memberi kabar bertahun-tahun lamanya.
Belakangan ini, bapak Budi melihat gelagat putranya yang berbeda. Ia yakin Budi sedang menyukai seseorang. Ia pun bertanya langsung pada Budi.
Budi kemudian bercerita tentang Ani, gadis yang disukainya. Budi ingin menyatakan perasaannya pada Ani. Namun, ia merasa minder karena Ani terlalu kaya dan cantik untuknya.
Mendengar cerita putranya, bapak Budi menasihati. Ia menjelaskan bahwa seorang lelaki memang harus berjuang. Jangan merasa minder, justru jadikan motivasi agar bisa layak mendampingi wanita.
Budi menyimpan baik-baik pesan itu. Ia menahan perasaannya. Budi belajar keras. Ia bahkan beberapa kali mengikuti Olimpiade dan mengharumkan nama sekolah. Uang hasil lomba-lombanya ia tabung.
Tiga tahun menahan diri, Budi pun mengutarakan perasaannya pada Ani di hari kelulusan, tapi Ani menolaknya. Besoknya, Budi menceritakan pada bapaknya tentang penolakan Ani. Alasan Ani tak jelas, padahal Budi tau Ani tak punya pacar.
Berhari-hari Budi galau. Ia tak fokus mengurus pendaftaran kuliahnya. Karena tak tega melihat putranya, bapak Budi menghubungi kawan dekat Budi dan menanyakan alamat Ani. Pria paruh baya itu rela mendatangi Ani agar menyelesaikan segala sesuatunya dengan Budi.
Bapak Budi mengetuk pintu rumah mewah Ani, seorang wanita membukakan pintu. Betapa terkejutnya bapak Budi melihat wanita di hadapannya. Itu adalah ibu Budi yang selama ini hilang kabar.
"Mama, lihat HP Ani gak?" Seorang gadis seusia Budi keluar dan langsung terdiam.
Mata bapak Budi tak sengaja melihat pigura besar di ruang tamu. Foto ibu Budi, Ani, dan seorang pria yang sepertinya adalah bapak Ani.
Bapak Budi terdiam. Sekarang ia paham mengapa istrinya tak kunjung pulang. Ia pun mengerti mengapa Ani menolak Budi. Ani tau segalanya.
Pada akhirnya, Budi dan Ani memang tak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih. Mereka hanya akan menjadi dua nama yang terjebak di buku pelajaran.
🍒 29 Januari
Wow, sungguh sudah hari ke-29? Rasanya terlalu cepat. Ternyata Januari sebentar lagi akan meninggalkan kita semua dengan segala kenangannya. Ia akan segera tergantikan dengan Februari yang katanya bulan penuh cinta.
Padahal Januari juga selalu meninggalkan kesan yang begitu dalam tiap pertemuannya. Bisa pula menjadi bulan penuh cinta bagi sebagian orang. Atau bulan penuh kebahagiaan, bulan penuh rezeki, dan segala hal baik lainnya. Namun, kadang Januari terlalu cepat terlupakan karena sebelas kawannya akan segera mengambil ingatan para insan yang telah ia temani.
Kedatangannya selalu disambut dengan gegap gempita. Namun, ketika ternyata perjalanan di dalamnya tak menyenangkan, Januari disalahkan. Katanya, Januari terlalu jahat untuk menjadi awal dari perjalanan.
Kedatangannya disambut dengan penuh petasan dan kembang api, lengkap dengan senyum cerah ceria. Namun, ketika kisah di dalamnya ternyata mencekam, Januari dikambinghitamkan. Katanya, Januari adalah awal tahun yang tak bisa membahagiakan.
Kasihan sekali Januari, serba salah. Padahal manusia juga banyak salahnya. Mungkin terlalu berekspektasi tinggi pada kehidupan. Atau mungkin tak menyenangkannya Januari adalah sebab ulah mereka sendiri. Atau mungkin mereka sudah lelah dengan segala masalah. Atau mereka lupa bahwa Januari menuliskan kisah atas izin-Nya.
Januari sudah sangat hebat. Dia melakukan tugas sebagaimana mestinya. Dia akan selalu mengagumkan.
Tidakkah Januari akan menjadi kawan yang dirindukan?
Hai, Januari!
Terima kasih atas kisahmu. Entah baik atau buruk, entah sedih atau senang, entah sakit atau sehat. Apa pun yang terjadi, kamu adalah awal yang menyenangkan dan cukup menguatkan.
Sampai jumpa, sebelas bulan lagi.
Aku harap, saat itu aku masih bernapas dan hidup sehat agar bisa menyapamu dengan baik. Aku harap, orang-orang yang kucintai juga demikian.
🍒 30 Januari
TEMA: YANG INGIN KUMULAI
Tak terasa sudah di penghujung Januari. Ini hari terakhir 30HBC23. Namun, kisah kita masih akan terus berlanjut. Masih banyak lembar yang harus diisi dengan tinta kenangan. Masih banyak cerita yang menunggu untuk dituliskan.
Ke depannya, aku ingin memulai sesuatu yang positif.
Aku ingin konsisten atas hal-hal yang sudah kumulai. Belajar untuk lebih bertanggung jawab pada diri sendiri, juga pada apa saja yang kumiliki.
Aku ingin mengatasi rasa takutku atas hal-hal baru; entah itu sebuah situasi, lingkungan, hubungan atau apa pun itu.
Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dari itu, aku menulis. Untuk menyampaikan hal-hal yang kuanggap baik, tapi tak bisa kusampaikan secara langsung. Atau tulisan untuk memberikan kekuatan pada mereka yang butuh pelukan, tapi tak bisa bertemu. Atau sekadar tulisan tanpa makna, tapi menghibur.
Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dari itu, aku mendengar. Aku masih dan akan tetap menjadi pendengar untuk mereka yang butuh tempat berbagi kisah. Butuh diberi solusi atau tidak, ingin diberi kekuatan atau tidak, mereka butuh didengarkan.
Aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maka dari itu, aku berbicara. Sekedar mengatakan bahwa mereka berharga. Bahwa aku mencintai mereka.
Aku ingin mencintai diriku sendiri. Aku ingin menerima segala yang ada pada diriku; entah kelebihan atau kekurangan.
Aku akan menjadi diri sendiri; untuk keluarga, sahabat, bahkan untuk masa depan yang belum kuketahui sosoknya.
Jika aku tak mencintai diriku sendiri, bagaimana orang lain akan mencintaiku?
Pada akhirnya, segala hal yang ingin kumulai adalah tentang aku❤️
Hai @30haribercerita terima kasih atas segala kisah indah di bulan Januari ini.
Untuk kamu, siapa pun kamu, yang membaca ceritaku selama 30 hari, terima kasih. Kuharap kamu mengambil hal positif dan membuang negatifnya.
Untuk kamu, siapa pun kamu, tempatku membuka diri dan berbagi banyak kisah, terima kasih. Kuharap kamu tidak akan bosan menghadapiku.
Untuk kamu, siapa pun kamu, yang mau menerimaku dengan baik,
사랑해💖

Komentar
Posting Komentar