30 Hari Bercerita 2022

 


30 HBC 2021 ada di sini:

30 HBC 2021


♡♡♡


💐 1 Januari



Happy New Year🥳

Hari pertama 2022 dibuka dengan family time. Sebenarnya aku adalah tipe orang yang gak terlalu suka keluar, anak rumahan banget. Tapi family time kayak gini hanya sesekali, masa gak ikut? Jarang banget bisa jalan-jalan bareng orang tua, tante, om, sepupu, sampai para keponakan kecil yang rusuhnya minta ampun. Momen yang sangat baik sebagai pembuka awal tahun.

Ah, tahun ini untuk pertama kalinya aku tak menulis resolusiku dalam sebuah buku, atau dalam sebuah catatan dimana pun. Hanya tersimpan di kepala. Tahun ini aku mau ini, tahun ini aku mau itu. Daftar-daftar harapan yang kurasa tak perlu lagi kutuliskan. Dibanding sekadar menulis resolusi, aku lebih memikirkan bagaimana agar diriku lebih produktif di tahun ini agar satu dari beberapa mimpi besarku bisa tercapai. Iya, satu aja. Satu aja udah bahagia. Kalau Tuhan kasih lebih, itu karena Tuhan terlalu baik.

Tiap tahun baru, pasti ada harapan: semoga tahun ini lebih baik. Dan segala manusia yang masih bernapas pasti berlomba-lomba mengaminkan doa itu. Aku tak semata-mata berdoa agar tahun ini berjalan mulus, sebab kurasa sangat tak mungkin seseorang hidup bahagia tanpa badai dalam setahun. Jadi, hal yang aku doakan adalah aku bisa kuat menghadapi segala rintangan yang ada nantinya. Tapi tetap saja, ada harapan agar badai di tahun ini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. 

Selamat tahun baru, teman-teman. Untuk segala jatuh bangun, kesakitan, dan mimpi-mimpi yang belum tercapai, kita semua hebat bisa bertahan sejauh ini. Tetap jadi orang yang kuat, ya. Kalau tahun kemarin bisa, masa tahun ini gak bisa?

Tetap semangat meraih mimpi!

Siapa tau tahun ini giliran kita untuk dikabulkan harapannya. Semoga Allah selalu melindungi kita semua. 


💐 2 Januari



Kenapa ya orang cenderung mencari alasan ketika meminta maaf? 

Padahal menurutku, ketika seseorang salah, ya salah. Kenapa harus mencari pembenaran di balik kata maaf? Meminta maaf dengan sejuta alasan, seperti merasa bersalah tetapi tak ingin disalahkan.

Memang sih, ada beberapa hal yang membutuhkan alasan, tetapi tak sedikit pula yang hanya perlu permintaan maaf tanpa segudang pembenaran yang bertele-tele. Apalagi kalau kesalahan fatal.

"Maaf ya, aku selingkuh karena dia yang duluan godain aku. Dia chat-chat aku. Dia juga perhatian banget."

(Kamu yang salah gak bisa menghindar)

"Maaf ya, aku hilangin novelmu soalnya kemarin tuh di rumahku banyak orang, banyak anak kecil juga, mana aku sibuk banget jadi gak sadar anak-anak masuk ke kamarku."

(Kamu yang salah gak bisa jaga barang orang)

"Maaf ya, kamu udah editin aku cover untuk cerita wattpad, tapi covernya gak aku up, gak aku pake. Soalnya aku emang gini orangnya, suka plin-plan dan berubah pikiran."

(Kamu yang salah gak menghargai karya orang)

"Maaf ya, gak bermaksud body shaming, tapi emang badanmu gemuk/kurus banget."

(Gak bermaksud, tapi sudah termasuk)

"Maaf ya, tapi kamunya yang terlalu baper."

(Kamunya yang keterlaluan)

Contoh sebuah pembelaan diri yang berkedok permintaan maaf. Kasus di atas sebenarnya hanya butuh satu kalimat: Maaf ya, aku salah, ke depannya gak bakal aku ulangi lagi.

Hanya itu. Cukup.

Setidaknya satu kalimat itu terdengar lebih tulus dibanding beberapa kalimat panjang tetapi hanya mencari sejuta ba-bi-bu untuk membela diri. Alih-alih merasa lega, si korban malah akan semakin kesal.

Setelah mengalami sendiri, aku baru sadar bahwa ternyata mendengar permintaan maaf seperti itu justru menyakitkan.

Ah, sepertinya aku juga pernah meminta maaf dengan cara seperti ini, pikirku. Apakah aku pernah menyakiti orang lain dengan permintaan maafku?

Menjadi salah satu bagian dari 3 kata ajaib, ternyata tak serta-merta membuat kata 'maaf' bisa terdengar menyenangkan.

Ini menjadi peringatan untuk diri sendiri agar lebih mengontrol ucapan dan ketikan ke depannya. Semoga yang membaca ini juga bisa berpikir demikian.


💐 3 Januari



"Semua rasa sakit yang kita derita, tampaknya menuntun kita menuju kehidupan yang lebih besar."

Sebuah quotes keren dari salah satu drama Korea favoritku, Flowers of Evil. Quotes ini juga terhubung sama salah satu quotes dari drama It's Okay to Not be Okay: "Hukum kuantitas penderitaan. Tiap orang punya jumlah penderitaan dan kebahagiaan yang sudah ditentukan. Jika semua penderitaan dikeluarkan sekarang, hanya tersisa kebahagiaan."

Teruntuk kamu yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja; yang sedang sedih tapi tak ada yang menguatkan, sedang jatuh tapi belum mampu berdiri, sedang patah hati, sedang sakit, merasa hancur, lelah, dan segala penderitaan yang bahkan tak bisa diceritakan. Kalian hebat. Hebat banget bisa bertahan. Yuk, tetap kuat. Kalau sudah berdiri, tapi jatuh lagi, tak apa-apa. Anggap saja kamu sedang memulai lagi. Bukankah waktu kecil kamu juga tak bisa langsung berjalan? Kakimu tak langsung kuat. Butuh latihan, butuh waktu, butuh usaha. Sampai akhirnya kakimu bisa berdiri tanpa berpegangan pada orang lain.

Yuk, tetap kuat. Sedikit lagi. Bahagiamu sedang mengintip di balik pintu, tepat di ujung jalan yang sekarang sedang kau lalui. Lihatlah ke depan. Cahaya pun sudah ikut menyeruak masuk, mengabarkan bahwa kau hanya perlu bertahan dan melangkah sedikit saja untuk tiba.

Berjalan saja jika lelah berlari. Tertatih saja jika berjalan pun tak mampu. Asal tak menyerah, tak berhenti. 

Yuk, sama-sama membuka pintu bahagianya. Semangat❤


💐 4 Januari



👧"Zan, aku baru saja keluar. Di langit ada banyak bintang."

👦"Sedang apa kau malam-malam begini di luar?"

👧"Memandangi langit?"

👦"Han..."

👧"Kalau kau tidak percaya, lihat saja sendiri."

👦"Aku percaya. Tapi sebaiknya kau segera tidur."

👧"Nanti saja. Ini benar-benar indah, Zan. Saking indahnya, aku ingin memotretnya, tapi tidak bisa."

👦"Kenapa?"

👧"Terlalu gelap."

👦"Ya sudah, kau tidak perlu memotretnya, cukup nikmati saja keindahnya."

👧"Aku hanya ingin membagikannya, Zan. Kau bilang kita harus membagikan hal-hal baik."

👦"Han, kau bisa membagikannya tanpa perlu memperlihatkannya."

👧"Maksudnya?"

👦"Cukup katakan ke orang-orang bahwa langit malam sedang penuh bintang. Mereka bisa melihat sendiri tanpa perlu kau kirimi foto."

👧"Tapi akan ada yang tak percaya."

👦"Tentu saja. Bukan hanya tak percaya, Han. Akan ada juga orang yang percaya, tapi memilih mengabaikan. Ada juga yang menganggap langit penuh bintang bukanlah hal spesial."

👧"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"

👦"Tak semua hal baik harus dibagikan, Han. Ada hal-hal yang hanya perlu kau nikmati sendiri tanpa memusingkan penilaian orang lain."


💐 5 Januari 



Aku mulai lupa suaramu. Atau mungkin sudah benar-benar lupa? Sepertinya ingatan tentang itu mulai terkikis habis dimakan usia. Sudah terlalu lama rupanya. Namun, tatapan mata dan wajah teduhmu tetap melekat kuat dalam memoriku, tak peduli sejauh apa pun aku pergi.

Aku merindukanku. Setiap hari.

Namun, percayalah, kini rasa sakitku hanya datang sesekali. Aku sudah bisa mengontrol diri. Rasa bangga dan rasa syukur yang kini lebih sering menghampiri.

Ayah... aku bangga sekaligus bersyukur telah lahir sebagai putrimu. Kapan-kapan ayo main ke mimpiku.


💐 6 Januari 



👧"Izinkan aku bertanya satu hal." 

👦"Apa?" 

👧"Selama ini, apakah kau pernah merindukanku? Apakah kau pernah memikirkanku meski hanya sebentar saja?" 

👦"Katanya mau bertanya satu hal. Pertanyaanmu adalah dua hal yang berbeda." 

👧"Kenapa berbeda? Kalau kau merindukanku, sudah pasti kau memikirkanku juga." 

👦"Tapi kalau memikirkan, bukan berarti merindukan." 

👧"Kata siapa?" 

👦"Kataku. Kau tau? Terkadang, bayangan seseorang muncul bukan karena kau merindukannya." 

👧"Lalu?" 

👦"Kau tiba-tiba memikirkannya karena punya kenangan dengannya." 

👧"Kenangan itulah yang bikin rindu." 

👦"Ah, sudahlah." 

👧"Jawab dulu pertanyaanku." 

👦"Yang mana?" 

👧"Apa kau pernah merindukanku?" 

👦"Ya, pernah. Bahkan sekarang. Kau ada di depan mataku, tapi aku masih merindukanmu."


💐 8 Januari 



TEMA: Tempat yang akhirnya kukunjungi lagi. 


Rumah. 

Ya. Rumah. 

Ini adalah halaman depan rumahku di kampung halaman alm Papa. Di depan rumah, tepat di seberang jalan, ada sebuah pantai indah dengan pohon kelapa berjejeran rapi. Kadang kala ombak terdengar dari dalam rumah, disertai angin laut yang bertiup lembut. Tiap duduk di beranda rumah, rasanya begitu damai dan penuh ketenangan. Betapa indahnya hidupku tinggal di tempat seperti ini dengan keluarga lengkap. Dulu. 

Beberapa hari lalu, aku baru saja mengunjungi rumahku lagi. Sebenarnya bukan hanya setelah PPKM, bukan hanya setelah pandemi, tapi setelah sembilan tahun lamanya. 

Nisa masih berusia 14 tahun ketika meninggalkan rumah ini, dan Nisa 23 tahun memberanikan diri untuk kembali ke sini. Rumah yang tiap sudutnya dipenuhi oleh kenangan bersama Papa. 

Begitu banyak kenangan, begitu berkesan, begitu spesial, lantas mengapa rumah ini ditinggalkan? Ah, mungkin akan ada pertanyaan seperti itu. Tetapi tak semua tanya harus ada jawabnya. Terlebih lagi jika berbicara mengenai keluarga. Ada hal-hal yang orang lain tak perlu tahu, bahkan orang terdekat sekalipun.

Selama ini aku selalu takut kembali, meski hanya sekadar mengunjungi. Takut jika semua memori membuatku lemah untuk kesekian kalinya. Baru membayangkan saja sudah sesak rasanya, apalagi harus melihat rumah itu lagi. Begitu pikirku. Namun, akhirnya aku bisa. 

Ternyata aku sudah tidak apa-apa. Memang, bohong kalau aku bilang aku tak sedih, tak merasa sesak, tak menahan tangis. Tetapi itu semua sudah mampu kukendalikan. Sebisa mungkin tersenyum, memandang setiap titik yang dulu pernah menjadi saksi kebahagiaan kita. 

Ah, ternyata dulu kita sebahagia itu. 

Tidak apa-apa. Mari buat kenangan indah lagi. Meski di tempat berbeda. Rumah ini akan selalu punya tempat tersendiri di hatiku.


💐 9 Januari



Ia tak bersembunyi, hanya saja sinarnya sedikit terjebak. Tetapi itu tak meruntuhkan niatnya untuk tetap terlihat.

Ia bahkan tetap menyilaukan, meski hanya setitik yang tampak oleh indra penglihatan.

Ia tetap ada, walau segelintir orang mengeluhkan keberadaannya.

Mengapa? Sebab di luar sana banyak yang mensyukuri hadirnya. Kalau lebih banyak orang yang bahagia, kenapa mesti memikirkan mereka yang tak suka?

Hidup ini juga akan baik-baik saja tanpa mereka; orang-orang yang tak menyukai, pun membenci.

Oh ya, sebenarnya ini bukan tentang mentari. Tapi ini tentangku, tentangmu, dan tentang siapa saja yang memahami.


💐 10 Januari 



Kalimat "Umur bukanlah tolak ukur kedewasaan" sepertinya memang benar. Lihatlah, berapa banyak manusia yang sudah tergolong dewasa tapi masih berpikir dan bertingkah layaknya bocah. Sebaliknya, ada pula yang masih umur belia, tetapi mampu menempatkan diri layaknya orang dewasa.

Kurasa kedewasaan seseorang bisa dilihat dari caranya menghadapi masalah. Isi pikirannya, solusi-solusi yang diambil, atau sekadar pilihan bertahan dibanding melarikan diri dari problematika yang menyerang. 

Menurutku semua orang dewasa mempunyai jiwa "childish" yang kadang kala bisa muncul. Termasuk diriku sendiri. Ketika sedang kesal, marah, sedih, dan menghadapi masalah, lantas melampiaskan semuanya dengan sifat kekanak-kanakan yang terkesan menyebalkan.

Namun, hal itu tak lantas membuat sifat ini bisa dimaklumi begitu saja, terlebih saat menghadapi masalah yang terbilang serius. Justru karena sudah dewasa, seseorang harusnya sebisa mungkin mengendalikan dirinya. Minimal bisa sadar, dengan sekadar berpikir: "Ah, apa aku keterlaluan? Apa aku terlalu kekanak-kanakan?" 

Jika sudah seperti itu, menghadapi hal selanjutnya pasti bisa jadi lebih tenang. Beda cerita kalau isi pikirannya: "Dia yang salah, wajar aku kayak gini." 

Alih-alih ingin meminta maaf, orang yang dia anggap salah mungkin akan semakin ogah-ogahan berdamai. 

Susah memang kalau sudah berbicara tentang sifat manusia. Anak kembar saja banyak yang punya sifat beda, apalagi orang-orang yang bahkan tak berhubungan darah? 

Ada anak remaja yang dipaksa dewasa oleh keadaan, mungkin karena jalan hidup yang tak mengizinkannya untuk bersifat kekanak-kanakan. Di sisi lain, ada si dewasa yang tetap menjadi anak-anak, tapi tak kutahu sebabnya, meski hanya sekadar "mungkin". Sepertinya aku masih perlu membaca lebih banyak buku tentang ini, atau mengenal lebih banyak manusia. Asalkan harus siap menghadapi kepala yang berbeda-beda.


💐 11 Januari 



Hidup kita akan selalu dikomentari oleh orang lain, tak peduli apa pun yang kita lakukan. Semuanya serba salah. Maka dari itu, berhentilah hidup atas dasar omongan orang lain, berhentilah hidup di atas ekspektasi orang lain. Kita yang menjalani hidup, kenapa orang lain yang mengatur? Mereka bahkan tak punya kontribusi apa pun dalam hidup kita.

Telat lulus kuliah, ditanyain mulu: Kapan lulus? Kapan wisuda?

(Kenapa? Mau bayarin uang wisuda?)

Udah lulus, ditanyain mulu: Kapan kerja? 

(Cariin kerja dong!)

Giliran udah kerja, dikomentarin: Kok kerja ini? Kok kerja itu? Kok gak sesuai jurusan?

(Yang penting halal bro sis)

Jomblo ditanyain mulu: Pasangannya mana?

(Belum ketemu)

Punya pacar ditanyain mulu: Kapan nikah?

(Kenapa? Mau bayarin resepsi?)

Giliran udah nikah, tetap aja ada omongan. Pertanyaannya: Kapan punya anak?

(Dikira anak tuh jadwalnya bisa diatur manusia apa ya? Mending doain diam-diam, daripada komen sana-sini)

Jika ditegur, semuanya berdalih dengan alasan 'bercanda'. Alih-alih merasa bersalah, eh malah bilang baperan. Kawan, bercanda itu jika kedua belah pihak sama-sama merasa bahwa itu memang lelucon. Mungkin satu kali bercanda, tapi jika sudah berkali-kali, terlebih lagi dengan kalimat tak enak, kurasa itu sudah keterlaluan. Jika salah satu pihak tersinggung atau kesal, masa iya disebut bercanda? 

Lagi pula siapa yang tahu isi hati orang lain? Bisa saja seseorang tertawa atau tersenyum dengan pertanyaan yang dilontarkan, tapi siapa yang tahu isi hatinya?

Ya, tapi sepertinya yang kubilang sebelumnya. Kita tak akan bisa menghindari omongan orang. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah menutup telinga, sebab kita tak akan mampu menutup semua mulut yang berkicau.

Hiduplah apa adanya. Cintai dirimu dan berhentilah hidup dengan pikiran: kalau aku kayak gini, orang lain akan bilang apa ya?


💐 12 Januari 



TEMA: Keputusan Terbaik

Menjadi Army adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupku. Ada yang berubah? Tentu. Aku jadi lebih mencintai diriku sendiri, menghargai apa yang kumiliki, I love myself. Aku juga lebih percaya diri, atas mimpi-mimpiku dan segala hal yang selama ini tak berani kuraih bahkan sekadar kuimpikan. Aku menemukan keluarga kedua, yang bahkan tak pernah kutemui, tapi luar biasa pengaruhnya. Sudah jatuh cinta dengan Bangtan sejak 2019, tapi baru berani berinteraksi dengan fandom ungu ini setahun belakangan.

Jujur, dulu Army adalah fandom toxic di mataku. Dulu. Padahal hanya segelintir orang yang berulah, tapi yang kena cap jelek malah satu fandom. Waktu itu aku benar-benar tak sadar akan hal ini. Namun, saat aku sudah menjadi seorang Army, aku sadar, banyak sekali oknum yang membawa nama Army, lantas menyebarkan kebencian. Belakangan juga aku sadar, bahwa setiap fandom pasti punya orang-orang toxic. Makanya aku tak setuju jika ada julukan "fandom toxic" yang diarahkan ke salah satu fandom. 

Memang benar ya, orang tak tau apa-apa kalau dia tak ada di dalamnya. Orang luar tak akan mengerti. Ternyata Army adalah orang-orang luar biasa. Mereka memiliki jiwa positif dan kreativitas yang sering membuatku kagum. Nilai plusnya, mereka adalah orang-orang receh yang bisa membuatku tertawa hanya karena hal kecil. Rasa kepeduliannya juga bikin makin sayang. Padahal kita hanya berteman secara virtual. Aku dulu tak tahu akan hal ini, ya karena aku tak ada di dalamnya. Bagaimana bisa aku merasakan hal yang mereka rasakan jika aku saja tak mengenal mereka? 

Aku kena karma kali ya? Pernah benci sampai akhirnya terjebak di dalamnya. Tapi... aku tak merasa bahwa ini adalah karma. Aku menganggap ini proses. Bahkan mengenal Army pun butuh proses ya, wkwk. 

Army, maaf. Sudah sudah salah mengira bahwa kalian adalah orang-orang menyebalkan. Sekarang justru kalian jadi alasanku lupa akan kesedihan. 

Teruntuk orang-orang yang tak bisa kusebutkan satu persatu namanya. Aku sayang sama kalian. Sehat dan bahagia terus ya, jadi orang sukses. Kalau Allah kasih izin, insya Allah kita bisa bertemu.


💐 13 Januari 



Seorang kawan pernah membagikan ceritanya padaku. Tentang si lelaki yang selalu ia banggakan. Belakangan ia dipatahkan oleh fakta bahwa ternyata lelaki itu masih berhubungan dengan sang mantan. 

Kawanku memaafkannya. Katanya, setiap orang punya kesempatan kedua. Meski aku sudah memberi saran, tetap saja dia teguh pada keputusannya. Baiklah, aku iyakan. Hal terpenting adalah aku sudah memperingatinya, bahwa jika sekali seseorang berbohong, bukan tidak mungkin ia akan mengulanginya suatu hari nanti. 

Benar saja. Hanya berselang sebulan, kawanku kembali datang padaku, lengkap dengan air matanya. Lelaki itu ternyata masih juga berhubungan dengan sang mantan. Kurasa lelaki itu sudah tak normal, sudah masuk kategori pria brengsek di mataku. Mantannya pun sama saja.

"Putus saja," kataku. 

Dia tak menjawab. Hanya menangis. 

Sungguh mencengangkan. Beberapa hari kemudian, aku melihatnya membuat story whatsapp bersama pacar sialannya itu. 

"Baikan lagi? Setelah ini gak usah curhat ke aku kalo ada apa-apa, jujur aku sudah malas mendengar ceritamu." Aku blak-blakan mengutarakan isi hatiku. 

"Aku nunggu dia berubah, Nis." 

Aku hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. 

Berubah? Bagaimana mungkin lelaki yang telah hidup 25 tahun dengan sifat seperti itu bisa tiba-tiba berubah hanya karena seorang wanita? Maaf jika kalian adalah tipe yang percaya hal seperti ini, tapi aku tidak. Sama sekali tidak percaya. 

Menurutku hubungannya sudah termasuk toxic. Kawanku ini terus-terusan merasa curiga dan overthinking sepanjang waktu. Dia harus memeriksa media sosial kekasihnya, harus terus dikabari, harus mengirim foto dan lain sebagainya. Untuk apa hubungan seperti ini dilanjutkan? Bukankah salah satu dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan?

Namun, lagi-lagi aku hanya memberi saran. Jika tak didengar, aku bisa apa? Memaksanya? Haha ayolah, sudah dewasa, masa iya harus dipaksa? Seharusnya sudah bisa berpikir jernih. Lagi pula ini adalah masalah pribadi yang bahkan orang terdekat pun tak berhak masuk terlalu dalam.

Intinya, jangan siksa dirimu, dirimu terlalu berharga untuk lelaki seperti itu❤


💐 14 Januari



👦"Kamu belum bisa buka hati?"

⚘"Bisa, mungkin."

👦"Lelaki yang sekarang dekat denganmu belum tentu seperti dia, Han."

⚘"Aku tahu."

👦"Lalu?"

⚘"Aku hanya takut."

👦"Takut apa?"

⚘"Takut ditinggalkan lagi. Dulu pernah begitu percaya sama seseorang, tapi aku malah dapat pengkhianatan. Sekarang rasanya... sulit menempatkan hati ke orang lain."

👦"Aku tahu maksudmu."

⚘"Menurutmu ini salah siapa?"

👦"Apanya?"

⚘"Dia yang jahat, atau aku yang kurang baik untuknya?"

👦"Tidak perlu mencari siapa yang salah. Kalau dia pergi, artinya dia bukan orang yang tepat untukmu. Seharusnya kamu bersyukur."

⚘"Atas apa?"

👦"Ya, atas semuanya. Tuhan menunjukkan kalau sekarang saja dia tidak mampu bertahan denganmu, bagaimana dia akan menjagamu nanti? Cintanya tidak sebesar kamu mencintainya. Kamu gak kehilangan dia, dia yang kehilangan kamu."

⚘"Itu hanya kata-kata penguatan, aku sudah sering membacanya di novel."

👦"Kamu terlalu fokus pada rasa sakitmu. Sampai kamu gak sadar kalau ada orang yang begitu mencintaimu."

⚘"Memangnya siapa yang mencintaiku?"

👦"Ada. Dan sekarang orang itu sedang berbicara denganmu.

⚘"....."


💐 15 Januari 



TEMA: Film yang Paling Berkesan

Tema hari ini menceritakan tentang film, series, atau drama yang paling berkesan. Sebenarnya banyak, tapi kali ini pilihanku jatuh pada drama Korea Reply 1988.

Drama ini tamat pada Januari 2016 dengan 20 episode, tapi aku baru menontonnya sekitar tahun 2019. Sedikit fakta, aku tak bisa menonton drama lain dalam beberapa minggu setelah aku menamatkan drama ini. Coba nonton drama lain, tapi ingatnya drama ini terus. Gagal move on. Benar-benar membekas. Sebagus itu. Meski ada orang yang beranggapan kalau drama ini membosankan karena durasinya yang panjang per episode. 

Bercerita tentang lima sahabat yang tumbuh remaja di tahun 1988. Mereka tinggal di lingkungan yang sama, dengan jarak rumah sangat berdekatan. Belum punya ponsel, jadi bisa dibayangkan bagaimana kekeluargaannya. Masing-masing keluarga mereka memiliki cerita berbeda-beda. 

Apa sih yang menarik dari drama ini?

Semua hubungan diceritakan di sini. Hubungan keluarga (suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik), persahabatan, percintaan, dan tentunya yang tak kalah menyentuh hati di sini adalah hubungan antartetangga. 

Tentang Deok Sun, si anak kedua yang selalu mengalah. Sun Woo, anak yang telah ditinggal mati ayahnya. Dong Ryong, anak yang orang tuanya selalu sibuk bekerja. Choi Taek, anak yang telah ditinggal mati ibunya. Serta Jung Hwan yang tumbuh di keluarga kaya tapi tak serta merta merasa bahagia. Mereka berlima memiliki ceritanya masing-masing. 

Bukan hanya itu, drama ini juga bercerita tentang rasa cinta pada sahabat sendiri, tentang mengalah dan merelakan, tentang pentingnya mengambil keputusan tanpa ragu. Ada pula tentang pentingnya keterbukaan dalam keluarga, tentang kasih sayang sesama, saling menghargai, saling berbagi, bekerja sama, dan saling tolong menolong. 

Ah, rasanya tak habis-habis kata untuk mendeskripsikan drama ini. 

Satu hal yang juga sangat menarik. Sejak episode 1, penonton akan disuruh menebak, siapa yang akan menjadi suami pemeran utama wanita (Deok Sun) di antara empat sahabatnya. Kalau nonton, sebaiknya jangan baca atau nonton spoiler dimana pun yaa, biar seru, wkwk.


💐 17 Januari 



Ternyata benar kata orang, dunia ini sempit. Kenapa aku harus bertemu denganmu di saat aku bahkan tak ingin mengingat namamu lagi? Padahal ada tujuh hari dalam seminggu, ada dua puluh empat jam dalam sehari, kenapa kita harus datang di waktu yang sama? Kenapa juga kita harus bertemu di tempat itu, ruang yang penuh jejak-jejak kita, tempat kita dulu sering berjajalkan kaki. Aku pikir aku sudah melupakan semuanya. Ternyata tidak, atau bisa kubilang belum. Belum sepenuhnya.

Ternyata melupakan memang tak semudah itu. Aku menyukai apa yang kamu suka, kamu menyukai apa yang aku suka. Kita punya banyak sekali kesamaan; makanan, hobi, bahkan sekadar lagu-lagu yang sering kita dengarkan. Mau tak mau, selalu ada tempat-tempat tertentu yang tak bisa kutinggalkan, tapi sayangnya semua itu sudah penuh dengan kenangan yang kita ciptakan sendiri.

Sudah tak ada lagi rasa, tapi kata 'lupa' memang selalu butuh waktu. Aku tak akan memaksa diriku untuk melupakan hal-hal yang kuanggap perlu dilupakan. Segala hal yang dipaksakan pasti tak akan berakhir baik, kurang lebih seperti itu yang kupercaya. Akan lebih baik jika aku berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hati sendiri, berdamai dengan kenangan. Lantas, setelah itu apa?

Siapa yang tahu, mungkin saja suatu saat aku bisa mengingatmu, tanpa ada lagi rasa sakit sedikit pun, melainkan hanya senyum. Sembari aku mengingat bahwa kamu adalah salah satu orang yang memberiku pelajaran tentang kehidupan.


💐 18 Januari 




"Bu, apa yang Ibu pikirkan ketika aku lahir ke dunia? Ibu pasti memikirkan banyak hal," tanya Naila suatu hari.

"Hm... kata siapa? Waktu kamu lahir, Ibu hanya memikirkan satu hal saja," jawab sang Ibu dengan yakin.

"Satu hal? Apa, Bu?"

"Kebahagiaan."

"Kebahagiaan?"

"Iya, Nak. Ketika kamu lahir, Ibu tidak bisa memikirkan apa-apa. Ibu hanya berpikir bahwa setelah ini hidup Ibu akan sangat bahagia."

"Aku sudah dua puluh tahun, Bu. Apa selama dua puluh tahun Ibu benar-benar bahagia?"

"Tentu saja."

"Tapi aku kan belum bisa kasih apa-apa ke Ibu. Aku masih merepotkan Ibu. Aku juga kadang bikin Ibu kesal dan marah."

"Lalu?"

"Apa Ibu tidak pernah kesal padaku?"

"Ibu pernah kesal, tapi tidak benar-benar kesal."

"Maksudnya?"

"Marah dan kesal adalah hal lumrah bagi manusia. Tapi apa pun yang terjadi, hal itu tidak akan mengurangi sedikit pun kadar kebahagiaan Ibu. Karena Ibu sangat mencintai Naila. Kita pernah berdebat, pernah marahan, tapi itu bukan masalah bagi Ibu. Bahkan hal itu tetap menjadi kebahagiaan Ibu, karena Ibu melewatinya bersamamu."

Naila terdiam.

"Dinikmati saja, Nak. Hidup ini memang penuh dengan persoalan. Ibu ingin kamu jadi gadis yang tetap kuat dalam segala situasi. Sekali-sekali sedih tidak apa-apa, hal biasa. Tapi jangan berlarut-larut. Tangan Ibu akan selalu ada untuk menggenggam tangan kamu, Sayang."

Naila manggut-manggut tersenyum.

"Naila, suatu saat kamu akan bertemu seseorang. Seseorang yang akan membuat kamu bahagia bahkan hanya dengan memikirkannya. Kamu tidak akan peduli kekurangannya. Kamu akan mencintainya. Jika sudah ketemu, beri tahu Ibu. Ibu harus kasih tahu dia bahwa kamu adalah sumber kebahagiaan Ibu. Maka dia juga harus membuatmu menjadi sumber kebahagiaannya."

Naila tersenyum mengingat obrolan dengan ibunya tiga tahun lalu. Gadis itu lantas mengusap pusara sang Ibu. "Ibu akan selalu menjadi sumber kebahagiaanku," ucapnya dengan linangan air mata. "Dan aku... aku sudah bertemu seseorang itu, Bu. Dia benar-benar menjadikan aku sumber kebahagiaannya. Ibu tidak perlu khawatir. Naila sayang Ibu."


💐 19 Januari 




Mobil yang dikemudikan oleh Andre mulai memasuki perkampungan terpencil, tempat kami akan melakukan penelitian. Ada-ada saja dosen kami. Memberi tugas di daerah yang bahkan jam delapan malam saja sepinya luar biasa. Aku melihat sekeliling, hanya ada seorang gadis berkaos biru sedang berdiri tak jauh dari mobil kami. 

Aku turun dari mobil, mewakili keempat temanku untuk bertanya. "Malam, numpang nanya, rumah Tri Andini dimana ya?" 

Gadis berambut panjang itu diam. Lantas berjalan ke depan sembari menunjuk arah. Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali masuk ke mobil. 

"Ikutin aja dia, kayaknya dia mau nunjukin jalan, dia gak ngomong apa-apa." 

Benar saja, gadis itu mengantarkan kami ke sebuah rumah. Aku dan Andre turun untuk memastikan, tiga teman lain menunggu di mobil.

Kami hendak berterima kasih, tetapi gadis itu sudah tak terlihat. 

👦Ke mana dia? 

🧕Gak tau. 

👦Udahlah. 

Kami pun menyapa rumah itu. Seseorang membuka pintu. 

Deg!! 

Bulu kudukku seketika berdiri melihat gadis yang membuka pintu. Bagaimana bisa gadis berpakaian lusuh tadi tiba-tiba muncul dari dalam rumah ini dengan penampilan berbeda? 

👦Maaf, apa benar ini rumah Tri Andini? 

Andre terlihat santai. 

👱‍♀️Iya, saya sendiri. 

Aku masih berdiri membatu. 

👦Saya mahasiswa Pak Rian, Kak. Kata Pak Rian, beliau sudah menghubungi Kakak. 

👱‍♀️Oh iya. Tadi Pak Rian telfon. 

🧕Kak, Kakak punya kembaran? 

Aku langsung menyela. 

👱‍♀️Enggak kok. 

👦Kenapa? 

🧕Kamu gak lihat muka orang yang nunjukin rumah ini tadi? 

👦Enggak. Ketutupan rambut, mana gelap pula. 

🧕Orangnya mirip banget sama Kakak ini. 

Aku menunjuk Kak Andini, tetapi ia sudah tak ada di depan pintu. 

👦🧕Loh? 

Kami saling tatap. Di tengah kebingungan, seorang pria paruh baya keluar. 

👨‍🦳Cari siapa, Nak? 

👦Kak Andini, Pak."

👨‍🦳Waduh, Andini belum pulang. Dia masih di kecamatan sebelah. 

👦Terus cewek yang tadi bukain pintu siapa, Pak? 

Suara Andre terdengar mulai bergetar. Aku lagi-lagi membatu. 

👨‍🦳Loh siapa? Pintunya dari tadi kebuka kok, Nak. Bapak di rumah juga cuma sama anak Bapak yang cowok. 

👦Terus, yang tadi kita lihat apa?


💐 20 Januari 




Tak terasa, bulan depan sudah memasuki usia 24 tahun. Semakin dewasa, tapi pribadi masih begini-begini saja. Masih merasa bahwa segala apa yang ada pada diri ini belum sampai pada tahap dewasa. 

Kadang kala masih dikira anak SMA. Entah apa alasannya. Kupikir karena badan kecilku yang berbeda dari perempuan lain seusiaku. Pandangan ini membuatku terus merasa seperti 'anak kecil' di mata orang lain. Tak dipandang sebagai perempuan umur 20-an yang sebenarnya sudah layak mengayomi. Apalagi aku adalah seorang guru. Rasanya masih banyak kurangnya. Kurang ini kurang itu. Sebenarnya, sekarang aku sedang berusaha keluar dari lingkaran 'anak kecil' ini. 

'Semoga dapat jodoh yang baik' adalah salah satu doa yang sudah sering kudengar sejak ulang tahun ke-20. Doa yang selalu aku aminkan walaupun hingga detik ini tak pernah ada kata 'siap' dalam hati meski ada lelaki yang mungkin datang menghampiri. 

Alasannya ya karena perkara 'anak kecil' itu. Mengurus diri sendiri saja belum bisa, bagaimana mau mengurus anak lelaki kesayangan orang tuanya, mengurus rumah tangga? Rasanya masih menakutkan.

Tapi... aku sering dijadikan tempat curhat oleh teman, katanya pemikiranku cukup dewasa. Memang sih, dewasa ketika memberi solusi pada orang lain, tapi kebingungan mencari solusi untuk diri sendiri.

Si anak perempuan satu-satunya di keluarga, aku masih belum mandiri sepenuhnya di usia yang sekarang. Apa-apa masih diurusin Mama, Kakak, bahkan Adik. Aku pun sangat jarang membuat pilihan sendiri, tentang harus ke mana, mau beli apa, mau bagaimana ke depannya, bahkan hal-hal kecil pun aku sulit menentukan pilihan. Bukannya tak mau, tapi lebih ke arah terbiasa. Lebih familiar dengan kata 'terserah'. 

Hal ini terbawa sampai ke luar rumah. Bestie-ku pasti sudah hafal sama sifatku, apalagi kalau jalan berdua. 

Mau makan apa, Nis?
Mau ke mana?
Mau beli yang mana? 

Jawabannya: terserah.

Tapi jujur saja, belakangan ini kebiasaan itu perlahan kuubah. Mulai berusaha keluar dari lingkaran yang ada selama ini, belajar menentukan pilihan. 

Aku sedang berusaha berpikir dan bertindak sesuai umurku. Tapi tetap jadi diri sendiri yang utama🙆‍♀️


💐 22 Januari 



Layangannya tersangkut di awan, Budi lari ke arah depan untuk mengejar.

"Bagaimana bisa layangan tersangkut di awan? Bukannya biasanya tersangkut di pohon? Dan kenapa pula cerita ini pakai namaku?" celoteh Budi ketika membaca paragraf pertama salah satu cerpen dalam buku berjudul: Budi dan Dunianya.

"Baca saja, tak usah banyak komentar," sahut Ani yang sibuk nonton konser online BTS. "Memangnya cuma kau nama Budi di dunia ini?"

"Ah iya, kenapa juga Ayah dan Ibu memberi kita nama Budi dan Ani? Padahal banyak nama anak kembar lain yang lebih estetik, Adelio Adelia misalnya," racau Budi. Ani bergeming, fokus pada layar laptop yang tengah menampilkan tujuh lelaki kesayangan Ani. Tujuh lelaki yang semua wajahnya sama saja di mata Budi.

Budi mencoba melanjutkan bacaan cerpennya, tetapi kernyitan lagi-lagi terlihat di dahinya.

"Ani, serius ini buku favoritmu?" Budi tak berhenti mengacau.

"Diam ah! Bisakah kau diam saat aku sedang fangirling?!"

Budi terdiam. Mungkin akan berbicara lagi dalam hitungan menit. Atau detik? Ia sedang sibuk mencari inspirasi cerpen untuk menambah ide atas karyanya. Ia berniat mengikuti salah satu lomba cerpen yang hadiahnya lumayan besar. Jadilah ia meminjam beberapa buku Ani, sebab buku-buku koleksinya sudah selesai ia baca. Sejak orang tua mereka meninggal, Budi rela melakukan apa saja alasalkan halal, termasuk hidup dari karya demi Ani.

Nanti malam, ia juga akan mulai menjajakan martabak telur yang biasa ia jual di persimpangan jalan menuju gang rumahnya. Tak hanya bisa menulis, Budi juga piawai membuat martabak. Jualannya menjadi salah satu favorit di kompleksnya. Di gerobaknya tertulis: 'Martabak Budi, Bukan Yang Lain'. Ia satu-satunya yang bernama Budi di kompleks.

"Ani, apa tidak ada buku lain?"

Ani diam.

"Aku tak suka isi cerpennya, coba--"

Bruk!! 

Sebuah bantal dilempar Ani dan mendarat tepat di wajah Budi. Ani mendegus. Gadis itu mulai kesal, sangat kesal. Sesayang apapun ia pada kakaknya, tetap saja ia geram. Celotehan Budi disaat ia sedang nonton konser online jauh lebih menyebalkan daripada terbangun suara tetangga pasang keramik.


💐 23 Januari 



Aku ingin menulis tentang mereka. Lagi. Ikut 30HBC sejak 2019, rasanya aku selalu menyisipkan satu hariku untuk membahas mereka. Si manusia-manusia absurd yang sekarang hanya bisa kutatap wajahnya dari layar ponsel, komunikasi pun hanya melalui grup chat yang tak selalu bisa ramai. Tanpa kita sadari, kita semakin dewasa. Semakin banyak mengalami hal-hal yang dulu kita tertawakan.

Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu memasang foto terbaru kami berenam. Tahun ini, hanya bisa menampilkan foto-foto lama. Tapi tak apa, rasa sayangnya tetap sama.

Tak perlu seperti dulu-dulu; aku bahas mereka siapa, sifatnya bagaimana, dan apa-apa saja yang mereka lakukan untukku selama ini. Kurasa sudah cukup perkenalannya. Banyak orang di sekitarku yang sudah tahu bahwa mereka adalah bagian dari hal luar biasa dalam hidup seorang Hairunnisa Zulkifli. 

Aku tak akan gengsi lagi bilang rindu. Ini kutulis pukul 1 malam. Dan air mataku mengalir ketika menulis paragraf sebelumnya. Berbagai memori indah seketika menyelinap dari dasar pikiran yang sudah tertutup oleh hal-hal mengerikan tentang masa depan. Tentang segala tawa dan canda kita, tentang saling debat hal tak berguna, atau menertawakan orang-orang aneh yang berlalu lalang di belakang FKIP 20. 

Rindu mendegar kecerewetan Desi ketika mencari kunci motor yang sering dia tinggalkan di kantin, atau dia lepas begitu saja di teras kelas. Rindu mendengar nyanyian duo biduan kelas bawah, Fera dan Gleri, yang bahkan update segala jenis lagu, mulai dari dangdut, pop, maupun jedag jedug. Rindu dengar curhat-curhat Tika tentang mantannya dari segala sisi. Rindu lihat kelemotan Hadra yang suka hah heh hoh, tapi sinyalnya lancar kalau soal gosip. Rindu kumpul di kos Vina, si penyabar yang rela tempat tinggalnya dipakai sebagai tempat uji coba kekacauan, tempat eksperimen hal-hal di luar nalar, atau tempat berkeluh kesah dan menggibah.

Rindu semuanya. Hal-hal yang tak bisa dituliskan satu per satu.

Untuk kesekian kalinya, terima kasih sudah menjadi orang-orang baik. Tetap jadi Desi, Fera, Gleri, Tika, Vina, dan Hadra yang kukenal. Doa terbaik untuk kalian. Semoga kelak mimpi kita jadi kenyataan.

Love❤


💐 24 Januari 




Namjoon on weverse💭

Army: Akhir-akhir ini aku merasa tidak bisa memenuhi harapan orang-orang di sekitarku, jadi rasanya aku gagal dalam hidup. Bagaimana aku bisa mengatasi ini?

RM: Tidak ada akhir untuk hal yang disebut harapan. Hidup bukanlah kecepatan, tapi arah.

💜
Army: Namjoon Oppa, ketika aku bertekad bahwa aku akan menyerah, tetapi aku terus menunggu/berharap, apa yang harus aku lakukan?

RM: Kalau begitu, kamu harus bertindak/bergerak/mengambil tindakan dengan benar.

💜
Army: Aku tidak punya apa-apa yang aku kuasai, tetapi masalahnya adalah aku tidak rajin dan aku tidak memiliki ketekunan jadi aku menyerah pada apa pun yang aku lakukan. Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar lelah. Itu sangat sulit bagiku.

RM: Aku juga begitu. Sungguh aku seperti itu. Aku harus bekerja/membuat musik, tapi aku bangun setiap hari dan memikirkannya sebelum aku tidur, ketika aku makan dan saat mengendarai sepedaku. Eksekusi hanya satu dari sepuluh kali.

💜
Army: Joon ah, bagaimana caranya agar aku bisa merasakan dan melanjutkan hidupku lagi disaat ada orang yang benci denganku?

RM: Bagaimanapun aku memikirkan ini terus-terusan, pada akhirnya di luar sana pasti akan ada yang selalu membenciku. Aku hanya perlu melanjutkan hidupku sebaik mungkin.

💜
Army: Namjoonie-oppa! Di saat kamu memiliki masa sulit, bagaimana kamu mengatasinya? Dan disaat kamu merasa ingin menyerah, bagaimana kamu mengatasinya?

RM: Dalam segala hal, dilahirkan dan hidup itu adalah penderitaan itu sendiri. Itu tergantung pada bagaimana seseorang dapat mengatasi penderitaan itu dan mengubahnya menjadi kebahagiaan. Mengetahui dan menerima bahwa sesuatu bernama "rasa sakit" dan menunjukkannya melalui cara-cara kita sendiri, bukankah seperti itu? Musik juga, seni juga, semuanya.

💜
Army: RM, jika kamu memiliki kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apa yang akan kamu ubah?

RM: Aku tidak akan (kembali ke masa lalu)

🐨

Malam tanggal 22 Januari gabut, Joon? Wkwk..
Gabut, atau memang meluangkan waktu untuk menyapa Army. Apa pun itu, terima kasih atas kata-kata indahnya💞

Yakin deh, siapa pun biasnya, Namjoon akan tetap jadi orang yang dikagumi oleh Army mana pun💜


💐 25 Januari 



"Aku sedang tidak baik-baik saja." 

A: Sabar, nanti juga baik lagi. 

"Aku sedang tidak baik-baik saja." 

B: Jangan lemah, harus kuat. 

"Aku sedang tidak baik-baik saja." 

C: Jangan ngeluh, masih banyak yang lebih menderita. 

"Aku sedang tidak baik-baik saja." 

D: Semangat dong. 

"Aku sedang tidak baik-baik saja." 

E: Lagi-lagi? 

"Aku sedang tidak baik-baik saja." 

F: Ya sudah, menangis saja. Atau mau berkeluh kesah, sini aku dengarkan. 

"Kenapa jawabanmu berbeda dari yang lain?" 

F: Beda bagaimana? 

"Kau justru menyuruhku menangis, bukan menyuruhku untuk kuat, sabar, semangat, menyuruhku untuk jangan lemah." 

F: Untuk apa? Dengan kau mampu bertahan sampai titik ini, kau sudah cukup kuat dan sabar, kau sama sekali tidak lemah. Jadi untuk apa aku mengatakan itu lagi? 

"Bagaimana dengan menangis? Bukankah itu terlihat menyedihkan?"

F: Aku sangat tidak setuju dengan anggapan bahwa menangis adalah tanda kelemahan. Itu adalah bagian dari emosi manusia yang sangat wajar untuk dikeluarkan, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Menangis saja, itu tidak membuatmu terlihat lemah. Kau justru semakin luar biasa. Biarlah mereka menganggapmu lemah, yang penting masih ada orang yang memahamimu, bahwa kau adalah salah satu orang yang kuat dan hebat.


💐 26 Januari



TEMA: Life Hack

Tips menghindari orang-orang yang tak suka dengan kita, pun sebaliknya: memutuskan segala komunikasi.

Hidup ini sudah ribet, jangan dibuat makin ribet. Memang benar, sangat disayangkan jika harus memutuskan komunikasi. Tapi setidaknya itu lebih baik dibandingkan bertahan hanya untuk saling sindir, saling nyinyir, saling hujat, dan segala hal-hal negatif lainnya. Dibanding mempertahankan hubungan toxic, lebih baik diakhiri saja bukan?

Mungkin ada yang suka mengomentari hidupmu karena belum lulus kuliah, atau sebab belum bekerja setelah wisuda, atau bahkan mengomentari pekerjaanmu yang sekarang. Mungkin ada juga yang mengomentari kehidupan pernikahanmu, sebab belum punya rumah sendiri, atau belum dikaruniai anak. Bisa juga tentang hobimu yang dinyinyiri. Atau bahkan sekedar story whatsapp atau igmu yang menurut mereka alay. Bisa juga menghindari sang mantan yang tak henti-henti mengganggu.

Jika tak nyaman, blokir saja. Jika tak ingin memutus silaturahmi, bisa dengan hide orang itu dari storymu. Begitu pula sebaliknya. Jika kau tak nyaman dengan seseorang, boleh dibisukan saja storynya. Ayolah, whatsapp menciptakan segala fitur untuk bisa digunakan dalam hal-hal seperti ini. Bukan hanya whatsapp, instagram pun sama. Ada tombol unfollow disediakan. Blokir pun ada.

Tak selamanya memblokir jadi tindakan childish. Terkadang hal itu memang perlu, sangat perlu malah. Kenapa harus memaksakan diri bertahan jika memang sudah tak suka? Beberapa hal memang harus saling menjauh agar bisa kembali baik-baik saja.

Terima kasih kepada orang-orang yang unfollow saya sejak saya aktif sebagai Army. Alhamdulillah kalian langsung unfollow tanpa meninggalkan jejak komentar negatif. Saya sangat mengapresiasi itu. Mending seperti itu, daripada nyinyir dan mengundang permusuhan. Kita masih bisa berteman di tempat lain, beda cerita kalau kalian nyinyir, mungkin akan sulit membangun pertemanan lagi.

Sekali lagi, hidup ini sudah ribet, jangan dibuat makin ribet.

Jangan lupa bahagia💜


💐 27 Januari 



Aku membuka pintu masa lalu. Masuk dan menyelisik rasa-rasa yang tercipta saat aku berada dalam masa jatuh.

"Aku yang paling menderita," kataku saat itu.

Bisa apa anak perempuan 14 tahun tanpa ayah? Bagaimana bisa ia tumbuh dewasa?

Aku memasuki SMA. Kulihat beberapa anak diantar oleh ayahnya pada hari pertama. Apakah mereka anak manja? Kenapa harus ayahnya yang mengantar? Apa mereka tak bisa pergi sendiri?

Aku berkumpul bersama teman-teman. Mereka bergantian menceritakan ayahnya yang konyol, yang tegas, yang posesif, dan segala sifat lainnya. Apa mereka mau pamer bahwa mereka punya ayah?

Aku masuk kuliah. Cerita-cerita tentang kekhawatiran ayah melepas putrinya merantau menggelitik hatiku. Apakah dikhawatirkan semenyenangkan itu?

Aku aktif bersosial media. Para putri-putri ayah juga aktif membuat story. Foto dengan ayahnya, screenshoot chatingan dengan ayahnya, screenshoot vc-an, dll. Haruskah mereka menggunggah itu semua?

Aku menghentikan langkah. Tak sanggup melihat diri sendiri di masa lalu.

Aku sudah berjalan jauh dari pintu awal. Ah, inikah yang kupikirkan dulu? Kenapa pikiranku begitu mengerikan?

Betapa dulu aku menganggap semuanya tak adil. Berpikir bahwa bahagia hanyalah sekejap mimpi yang bahkan tak pernah mendekati nyata.

Bagaimana bisa aku berpikir hanya aku yang menderita? Sementara ibuku kehilangan separuh jiwanya. Kakak laki-lakiku dilempari beban sebagai pengganti ayah di usia yang masih layak untuk leha-leha. Dan adikku, bagaimana bisa aku lupa bahwa ia akan tumbuh tanpa sosok panutan? Saat itu ia tak mengerti apapun. Dunianya hanya tentang berlarian-larian, petak umpet, atau lempar sandal, tanpa sadar bahwa superheronya sedang mengucap selamat tinggal.

Bagaimana bisa kebahagiaan orang lain menggangguku? Wajarkah dulu aku berpikir seperti ini?

Aku berbalik arah. Lari sekuat tenaga untuk keluar dari ruang masa lalu ini.

Berhasil!!

Segala pikiranku sekarang telah berubah, apakah artinya aku sudah dewasa? Aku sekarang tersenyum melihat segala momen seorang anak perempuan dengan ayahnya. Ikut merasakan bahagianya walau tak akan pernah penuh.

Apakah artinya aku sudah baik-baik saja?


💐 29 Januari 




"Bu, kenapa orang tuaku bercerai? Kenapa keluargaku berantakan sementara keluarga lain damai?" tanya seorang siswa di pagi buta. Sekolah masih sangat sepi.

Aku bingung. Awalnya dia bilang "Bu, boleh cerita" dengan gaya seperti bercanda. Lalu aku iyakan karena kupikir hanya perkara kecil sebab dia adalah salah satu siswa ternakal yang tak pernah serius dalam hal apa pun.

"Apa orang tua Ibu baik-baik saja?" Dia mengajukan pertanyaan baru sebelum aku sempat menjawab.

"Yan, ada beberapa hal di dunia ini yang gak perlu kita cari jawabannya."

"Termasuk alasan aku mengalami ini?"

Aku mengangguk.

"Apa orang tua Ibu baik-baik saja?" Dia mengulang pertanyaannya.

"Ibu di sini mendengarkan ceritamu, bukan menceritakan kehidupan Ibu."

"Aku merasa Ibu akan lebih mengerti jika Ibu mengalami. Kurasa orang lain gak akan benar-benar mengerti kalau dia gak mengalami sendiri, Bu."

"Kamu cerdas ya ternyata, kenapa nilainya jelek?"

Dia diam. Beberapa detik kemudian berkata, "Aku harap Ibu tidak sepertiku. Tapi sebelum aku bercerita lebih dalam, aku ingin tau, apa orang tua Ibu baik-baik saja?"

Gantian aku yang terdiam. Melihat satu per satu siswa mulai berdatangan, aku segera menjawab pertanyaannya, "Ibu mengalami. Tapi sepertinya cerita kita berbeda. Terlalu rumit untuk dijelaskan. Kau hanya perlu tahu bahwa Ibu akan berusaha mengerti apa pun yang akan kau ceritakan."

Dia tersenyum tipis. Lantas menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

"Ibu benar-benar orang baik, bagaimana bisa Tuhan mengirim pria brengsek itu untuk menjadi ayah tiri Ibu?"

Aku terkesiap, menatap siswaku itu dengan jantung yang berdegup kencang.

"Bagaimana aku tahu? Ibu pasti ingin menanyakan itu."

Aku diam, menunggu dia melanjutkan.

"Aku tahu ayah kandung Ibu telah berpulang. Aku tahu Ibu punya ayah tiri dan dia berselingkuh. Akhirnya orang tua Ibu bercerai."

"Bagaimana—"

"Pria itu ... berselingkuh dengan ibuku. Ayahku tahu dan langsung menceraikannya."

Duniaku gelap seketika. Rasanya seperti ada gerhana yang menutup mentari pagi.

"Benar kata Ibu, ada beberapa hal di dunia ini yang gak perlu kita cari jawabannya. Tapi sayangnya aku terlalu penasaran."


💐 30 Januari 




Gara-gara menulis...

Aku bisa mengungkapkan isi hati dan pikiran yang terpendam. Tipe orang yang lebih cenderung introvert sepertiku pasti kesulitan membuka diri pada orang lain. Jangankan pada teman-teman biasa, pada sahabat dekat pun ada beberapa hal yang tak bisa kubagikan.

Menulis jadi tempat pelarian di saat duniaku sedang tidak baik-baik saja. Sekedar mencurahkan isi hati, berbagi beban dan kesedihan, pun rasa bahagia. Terkadang juga mengeluarkan keresahan, kekesalan, atau rasa tak nyaman pada suatu hal.

Menulis adalah salah healing terbaik versiku. Tempat pulang dikala lelah mendera.

Terima kasih @30haribercerita sudah memberikan ruang untuk berbagi perasaan setiap bulan Januari. Aku harap kita akan berjumpa lagi di tahun 2023.

Terima kasih yang sudah membaca 30 hariku yang terkadang diisi oleh tulisan tak penting, aneh, atau apa pun yang kalian pikirkan. Tolong biarkan saja tulisan positif yang membekas, dan biarkan saja tulisan lain berlalu.

Aku tahu, tulisanku masih penuh kemunafikan. Beberapa cerita berisi nasihat, padahal sebenarnya aku sedang menasihat diriku sendiri.

Tetapi tak masalah. Pada dasarnya aku memang menulis untuk diriku. Jika orang lain ikut terpengaruh dan mengambil hal positif dari tulisanku, itu adalah bonus bagiku.

Untuk teman-teman @30haribercerita, terima kasih atas cerita-cerita menakjubkan yang kalian bagikan. Semoga kita bertemu di tahun depan🙆‍♀️

Salam sayang💜

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy