30 Hari Bercerita 2021
30 Hari bercerita 2020 ada di sini:
♡♡♡
Seperti tulisan tahun 2020, aku hanya akan membagikan hal-hal yang memang perlu dibagikan.
๐ผ 1 Januari
Waktu memang cepat berlalu. Tak terasa, hari ini kita semua kembali bertemu 1 Januari. Gimana tahun 2020? Berat, ya? Berat banget pasti.
Aku jadi ingat sesuatu. Di akhir tahun 2019, aku menulis beberapa resolusi yang aku harapkan bisa tercapai di tahun 2020. Banyak rencana-rencana besar disertai harapan yang tinggi. Tentunya, salah satu harapan yang selalu ada: Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.
Pada kenyataannya kita semua hanyalah manusia. Cuma bisa membuat rencana, Tuhan yang menentukan. Di awal tahun sudah dihadapkan dengan pandemi. Di bayangan awal, pandemi ini hanya berlangsung sementara, hanya beberapa bulan saja. Ternyata hingga tahun berganti pun belum pulih. Siapa yang menyangka dunia akan seperti ini? Aku benar-benar tersadar betapa dunia penuh dengan kejutan. Hal-hal yang sedikit pun tak pernah ada di benak, tiba-tiba saja terjadi.
Meski begitu, aku tak bisa mengatakan bahwa 2020 adalah tahun yang buruk. Setidaknya beberapa hal baik terjadi di tahun ini. Aku dan keluargaku yang masih sehat hingga kini, aku dan keluargaku yang masih diberi nikmat dan rezeki, aku dan keluargaku yang masih diizinkan melewati Idul Fitri dan Idul Adha bersama, adikku yang akhirnya lulus SMP dan kini memasuki dunia putih abu-abu, dan aku yang akhirnya menjadi sarjana. Aku bersyukur atas semua hal baik yang terjadi.
Hal yang tak kalah penting juga adalah orang pertama yang kulihat saat membuka mata pagi ini adalah Ibu. Aku tak bisa menjelaskan betapa aku bahagia masih bisa bersamanya. Kuharap ini akan terus berlanjut dalam waktu yang lama.
Untuk 2021, aku tak berharap banyak. Rasanya sudah cukup sakit dipatahkan oleh ekspektasi sendiri. Hanya saja aku tetap berharap: Aku dan keluargaku selalu sehat, dan bisa menjalani segala cobaan-cobaan yang menanti di masa depan.
Doa terbaikku juga ada untuk kalian dan tentunya untuk dunia yang belum pulih ini❤
♡♡♡
๐ผ 2 Januari
Kemarin aku bahagia baru saja bertemu salah satu sahabatku setelah sekian lama tak bersua. Terakhir kali kami bertemu yaitu tanggal 24 Mei 2019. Saat itu bulan Ramadhan, dan kami buka puasa bersama.
Sebenarnya berenam, sayang sekali kemarin aku hanya bertemu seorang saja. Sejak SMP, kami menamai diri kami dengan nama 'Six Friend'. Biasalah, zaman itu suka ada semacam geng-geng gitulah, wkwk.
Aku mengenal mereka sejak masih di Sekolah Dasar. Karena sekolah kami berada dalam satu kecamatan, kami sering bertemu saat kemah Pramuka. Sampai akhirnya kami berenam masuk ke SMP yang sama. Kupikir dulu kami akan terus bersama, tetapi lagi-lagi manusia hanya bisa merencanakan. Menginjak kelas sembilan, aku harus pindah sekolah. Sejak saat itu, kami berpisah. Pisah SMA, pisah kampus. Kesempatan bertemu semakin sulit.
Namun, hal yang aku banggakan adalah kenyataan bahwa kami masih tetap menjaga komunikasi. Lantas menyisihkan waktu bertemu meski hanya sesekali.
Sebesar apa rasa cintaku kepada mereka? Aku tak bisa menjelaskan.
Orang-orang konyol, receh, aneh, yang selalu membuatku tertawa. Mereka juga adalah orang-orang yang ada ketika aku sampai pada titik terberat dalam hidupku. Maret 2012. Aku tak akan pernah melupakan betapa hancurnya aku saat itu. Ketika pria dalam hidupku dijemput untuk menghadap Yang Maha Kuasa.
Aku ingat sekali, di hari pertama aku masuk sekolah setelah beberapa hari izin, mereka berlima sama sekali tak menyinggung apa pun soal kepergian Papa. Hal yang mereka lakukan hanyalah membuat lelucon dan bersikap konyol seperti biasa. Hari itu aku banyak tertawa, bahkan untuk sejenak aku lupa bahwa aku baru saja kehilangan orang berharga.
Tahun itu benar-benar tahun terburuk dalam hidupku. Namun, aku bersyukur memiliki mereka, juga keluarga dan teman-teman lain yang memberiku kekuatan.
Meski sekarang aku bertemu banyak orang, bahkan menjalin persahabatan dengan orang lain selain mereka, bagiku mereka tetap memiliki tempat tersendiri dalam hatiku. Tempat yang tak bisa digantikan oleh siapa pun.
Terima kasih sudah hadir di hidupku❤
๐ผ 3 Januari
Sebenarnya berenam, sayang sekali kemarin aku hanya bertemu seorang saja. Sejak SMP, kami menamai diri kami dengan nama 'Six Friend'. Biasalah, zaman itu suka ada semacam geng-geng gitulah, wkwk.
Aku mengenal mereka sejak masih di Sekolah Dasar. Karena sekolah kami berada dalam satu kecamatan, kami sering bertemu saat kemah Pramuka. Sampai akhirnya kami berenam masuk ke SMP yang sama. Kupikir dulu kami akan terus bersama, tetapi lagi-lagi manusia hanya bisa merencanakan. Menginjak kelas sembilan, aku harus pindah sekolah. Sejak saat itu, kami berpisah. Pisah SMA, pisah kampus. Kesempatan bertemu semakin sulit.
Namun, hal yang aku banggakan adalah kenyataan bahwa kami masih tetap menjaga komunikasi. Lantas menyisihkan waktu bertemu meski hanya sesekali.
Sebesar apa rasa cintaku kepada mereka? Aku tak bisa menjelaskan.
Orang-orang konyol, receh, aneh, yang selalu membuatku tertawa. Mereka juga adalah orang-orang yang ada ketika aku sampai pada titik terberat dalam hidupku. Maret 2012. Aku tak akan pernah melupakan betapa hancurnya aku saat itu. Ketika pria dalam hidupku dijemput untuk menghadap Yang Maha Kuasa.
Aku ingat sekali, di hari pertama aku masuk sekolah setelah beberapa hari izin, mereka berlima sama sekali tak menyinggung apa pun soal kepergian Papa. Hal yang mereka lakukan hanyalah membuat lelucon dan bersikap konyol seperti biasa. Hari itu aku banyak tertawa, bahkan untuk sejenak aku lupa bahwa aku baru saja kehilangan orang berharga.
Tahun itu benar-benar tahun terburuk dalam hidupku. Namun, aku bersyukur memiliki mereka, juga keluarga dan teman-teman lain yang memberiku kekuatan.
Meski sekarang aku bertemu banyak orang, bahkan menjalin persahabatan dengan orang lain selain mereka, bagiku mereka tetap memiliki tempat tersendiri dalam hatiku. Tempat yang tak bisa digantikan oleh siapa pun.
Terima kasih sudah hadir di hidupku❤
๐ผ 3 Januari
Lagi scroll galeri, eh nemu capture drama Start Up. Nah, kebetulan tadi habis baca novel romance. Bercerita tentang seorang gadis yang sudah berteman selama hampir sepuluh tahun dengan seorang lelaki. Si lelaki sudah lama menyimpan perasaan suka, tetapi tak kunjung diungkapkan. Giliran si gadis dekat bahkan suka sama orang lain, baru deh lelaki itu cemburu dan mulai bergerak. Tapi ya gitu, udah terlambat.
Kisah ngenesnya mengingatkan sama drama Start Up. Han Ji Pyeong yang suka sama Dalmi, tapi telat karena Dosan lebih gercep. Ujung-ujungnya Pak Han ganteng jadi sadboy.
Begitu juga dengan drama Reply 1988, ini lebih greget lagi sih. Bayangin aja, si Jungpal udah lama banget suka sama Duksun, bahkan Duksun sempat suka sama dia juga. Kesempatannya besar banget banget banget. Eh dianya malah diam aja. Akhirnya sahabatnya si Choi Taek curhat ke Jungpal dkk kalo dia suka Duksun. Nah, loh, Jungpal telat kan. Posisinya jadi serba salah. Mau ngungkapin udah gak bisa, jaga perasaan sahabatnya. Gak diungkapin, tersiksa batin. Itu kisah SMA-nya.
Pas udah dewasa, udah pada kerja dan sukses, Duksun udah jadi pramugari, Jungpal jadi tentara. Duh, kurang apa lagi. Duksun pun belum ada yang memiliki. Eh si Jungpal masih ragu-ragu juga. Giliran dia udah yakin mau gerak, eh keduluan sama Taek. Dasar!
Maaf yang belum nonton, spoiler banget ini, wkwk. Kesel ya, padahal cuma drama. Greget banget lihatnya. Untung mereka jadian di real life, sedikit mengobati hati tim Jungpal yang sempat terombang ambing.
Tapi yaa... meskipun hanya drama, banyak juga lelaki model kayak gini di dunia nyata. Penasaran deh, itu kalian sebenarnya kenapa sih?
๐ผ 4 Januari
"Kak, browniesnya, Kak, dijamin enak seratus persen," tawar seorang anak kecil yang menjajakan dagangannya di salah satu sudut pasar.
Meski terlihat tak tertarik, Lily akhirnya singgah setelah ditawari. "Berapa, Dek?" tanyanya.
"Lima ribu per mika, Kak," jawab anak dua belas tahun itu.
Lily diam, terlihat ragu-ragu.
"Mau beli, Kak?"
"Adek namanya siapa?" Lily malah bertanya balik.
"Arif, Kak."
"Arif sendirian ya jualannya? Mamanya di mana?"
"Mama lagi kurang sehat, Kak, makanya aku di sini gantiin Mama jualan," jawab Arif dengan wajah muram. Namun, ia dengan cepat mengubah ekspresinya. Lantas berkata dengan penuh semangat, "Ini brownies buatan mama aku, Kak, paling enak di dunia."
Alih-alih tersenyum melihat semangat Arif, Lily malah terdiam.
"Kenapa, Kak?"
Lily akhirnya tersenyum setelah beberapa saat merenung. "Gak kenapa-kenapa, Dek. Kakak beli lima, ya."
"Wah, oke, Kak." Tangan mungil Arif mulai memasukkan lima kemasan kue itu ke dalam kantong plastik. Lalu ia serahkan kepada Lily.
Lily pun mengambilnya, lantas memberikan uang seratus ribu rupiah kepada Arif. "Ini kembaliannya ambil aja ya, Dek."
"Jangan, Kak. Terlalu banyak," tolak Arif halus.
"Anggap saja sebagai permintaan maaf Kakak."
"Permintaan maaf?"
Lily mengangguk. "Kakak minta maaf, Kakak gak bisa merasakan betapa enaknya brownies buatan mama kamu ini, Kakak alergi coklat."
"Lalu, kenapa Kakak beli?"
Lily menyerahkan kembali kantong plastik itu kepada Arif. "Kakak beli ini untukmu. Tadi katamu, brownies ini paling enak di dunia, kamu pasti ingin memakannya. Nah, sekarang kamu bisa makan browniesnya tanpa ragu."
Mata Arif berkaca-kaca. "Terima kasih, Kak."
♡♡♡
๐ผ 5 Januari
Zaman sekarang, orang yang gila urusan semakin banyak. Sepertinya prinsip "I don't care what people say" harus bisa dipegang kuat.
Ini cuma masalah postingan, tapi bisa jadi ribet dan bikin orang insecure.
Aku punya teman yang suka nulis, tapi dia gak berani mempublikasikan tulisannya. Padahal menurutku dia punya potensi yang besar. Hanya karena ada segelintir orang yang bilang dia 'alay' atau 'lebay' saat dia mencoba mengunggah puisi atau rangkaian kata-kata indahnya. Akhirnya sekarang dia bikin second account untuk publish tulisannya.
Sebenarnya cerita ini pernah aku alami. Kalau masalah dibilang alay mah udah biasa. Aku udah sampai pada tahap 'bodo amat' dan gak peduli orang ngomong apa. Ini kan sesuatu yang aku suka. Ya kalau kamu gak suka skip aja, gampang kan? Atau unfollow akunnya. Atau kalau di whatsapp nih, hide aja story-nya.
Di Instagram, aku suka bikin feed dan story tentang tulisan-tulisanku, dibilang alay mah sering. Di whatsapp, aku suka bikin story tentang drakor, dibilang alay juga. Tapi lagi-lagi aku gak peduli.
Aku sering bikin story tapi jarang banget lihat: 1. Berapa orang yang udah nonton storyku; 2. Siapa aja yang udah nonton storyku.
Ini salah satu bentuk ketidakpedulianku. Kecuali: Bikin story buat kirim kode ke seseorang, wkwk. *oke lupakan!
Ya, tapi itu aku. Orang lain belum tentu bisa gak peduli kayak gitu. Ada loh orang yang suka masukin omongan orang-orang ke hatinya. Duh, gak keren banget kalo kita secara gak sengaja menyakiti hati orang lain.
Ini cuma masalah postingan, tapi bisa jadi ribet dan bikin orang insecure.
Aku punya teman yang suka nulis, tapi dia gak berani mempublikasikan tulisannya. Padahal menurutku dia punya potensi yang besar. Hanya karena ada segelintir orang yang bilang dia 'alay' atau 'lebay' saat dia mencoba mengunggah puisi atau rangkaian kata-kata indahnya. Akhirnya sekarang dia bikin second account untuk publish tulisannya.
Sebenarnya cerita ini pernah aku alami. Kalau masalah dibilang alay mah udah biasa. Aku udah sampai pada tahap 'bodo amat' dan gak peduli orang ngomong apa. Ini kan sesuatu yang aku suka. Ya kalau kamu gak suka skip aja, gampang kan? Atau unfollow akunnya. Atau kalau di whatsapp nih, hide aja story-nya.
Di Instagram, aku suka bikin feed dan story tentang tulisan-tulisanku, dibilang alay mah sering. Di whatsapp, aku suka bikin story tentang drakor, dibilang alay juga. Tapi lagi-lagi aku gak peduli.
Aku sering bikin story tapi jarang banget lihat: 1. Berapa orang yang udah nonton storyku; 2. Siapa aja yang udah nonton storyku.
Ini salah satu bentuk ketidakpedulianku. Kecuali: Bikin story buat kirim kode ke seseorang, wkwk. *oke lupakan!
Ya, tapi itu aku. Orang lain belum tentu bisa gak peduli kayak gitu. Ada loh orang yang suka masukin omongan orang-orang ke hatinya. Duh, gak keren banget kalo kita secara gak sengaja menyakiti hati orang lain.
๐ผ 6 Januari
Setiap kali ditinggalkan oleh seseorang yang begitu berarti, aku selalu berpikir: "Ah, sudahlah, cukup. Jangan percaya siapa-siapa lagi."
Pada kenyataannya, aku kembali terjebak. Beberapa kali mengulang siklus yang sama. Aku sendiri baru tahu kalau hatiku ternyata begitu mudah goyah dan mudah percaya.
Ternyata bersikap baik ke orang lain tidak menjamin bahwa kita akan diperlakukan sama. Hidup ini memang keras.
♡♡♡
๐ผ 7 Januari
๐ฆ"Kalina, kamu suka bunga apa?"
๐ง"Mawar."
๐ฆ"Alasannya?"
๐ง"Memangnya suka sama sesuatu harus ada alasannya?"
๐ฆ"Menurutmu?"
๐ง"Kamu nanya mulu ya. Gantian aku yang nanya."
๐ฆ"Ya udah."
๐ง"Kalau memang suka sama sesuatu harus ada alasannya, lalu apa alasanmu menyukaiku?"
๐ฆ"Kalau aku jawab, apa kamu akan menerimaku?"
๐ง"Tergantung."
๐ฆ"Alasannya ... karena kamu Kalina."
๐ง"Hah?"
๐ฆ"Aku bilang, aku menyukaimu karena kamu Kalina. Aku menyukaimu karena dirimu."
๐ง"Aku tidak mengerti."
๐ฆ"Nanti kamu akan mengerti, Lin. Kamu cukup melakukan satu hal."
๐ง"Apa?"
๐ฆ"Tetaplah menjadi dirimu sendiri."
♡♡♡
๐ผ 8 Januari
Bicara tentang kebaikan, aku punya beberapa sahabat. Mereka adalah orang-orang baik yang selama ini mendampingi saya, terkhusus saat kuliah. Alhamdulillah pertemanannya bisa bertahan sampai sekarang. Kebaikan mereka udah gak bisa dihitung lagi. Saya bersyukur sekali Allah mempertemukan saya dengan orang-orang ini.
Mereka selalu ada di segala situasi; senang, sedih, sakit. Tempat berbagi cerita; entah itu curhat soal masalah keluarga, pasangan, keuangan, atau bahkan hal-hal receh yang sebenarnya gak penting.
Mereka adalah orang yang selalu saya repotkan semasa kuliah, dari maba sampai lulus pun saya masih sangat merepotkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu datang menjenguk di saat saya sakit, memberi surprise di saat saya ulang tahun, selalu datang di saat saya membutuhkan, selalu turut bahagia jika saya bahagia. Pendengar dan pemberi solusi yang baik ketika saya bercerita.
Mereka juga orang-orang receh yang punya jiwa humor tinggi. Kalau lagi badmood, terus ngumpul dan seru-seruan bareng mereka, pasti langsung bahagia lagi. Mereka punya energi positif yang membuat saya sejenak melupakan betapa kerasnya kehidupan. Kalau lagi bareng mereka, semua masalah terlupakan. Kalau pun kita lagi pusing bahas masalah nih, pasti dibawa bercanda biar gak tegang-tegang amat.
Ya, walaupun gak bisa dipungkiri, namanya pertemanan pasti ada aja masalahnya. Bukan cuma pasangan yang punya masalah. Pernah bertengkar dan berselih paham beberapa kali. Sampai pernah gak saling tegur. Penyebabnya macam-macam, mulai dari hal remeh sampai hal yang memang berpengaruh besar. Tapi gak apa-apa, itu wajar. Tentunya itu bisa diatasi hingga kita kembali bersama lagi.
Pada akhirnya kami menyadari bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain, saling sayang, dan juga saling rindu kalau lagi jauh.
Terima kasih untuk waktu yang sudah kita habiskan bersama❤
Pokoknya buat kalian, bahagia terus, ya. Semoga bisa jadi orang sukses, menemukan jodoh yang terbaik, yang udah nikah semoga langgeng, selalu diberikan kesehatan untuk kalian dan keluarga❤
Mereka selalu ada di segala situasi; senang, sedih, sakit. Tempat berbagi cerita; entah itu curhat soal masalah keluarga, pasangan, keuangan, atau bahkan hal-hal receh yang sebenarnya gak penting.
Mereka adalah orang yang selalu saya repotkan semasa kuliah, dari maba sampai lulus pun saya masih sangat merepotkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu datang menjenguk di saat saya sakit, memberi surprise di saat saya ulang tahun, selalu datang di saat saya membutuhkan, selalu turut bahagia jika saya bahagia. Pendengar dan pemberi solusi yang baik ketika saya bercerita.
Mereka juga orang-orang receh yang punya jiwa humor tinggi. Kalau lagi badmood, terus ngumpul dan seru-seruan bareng mereka, pasti langsung bahagia lagi. Mereka punya energi positif yang membuat saya sejenak melupakan betapa kerasnya kehidupan. Kalau lagi bareng mereka, semua masalah terlupakan. Kalau pun kita lagi pusing bahas masalah nih, pasti dibawa bercanda biar gak tegang-tegang amat.
Ya, walaupun gak bisa dipungkiri, namanya pertemanan pasti ada aja masalahnya. Bukan cuma pasangan yang punya masalah. Pernah bertengkar dan berselih paham beberapa kali. Sampai pernah gak saling tegur. Penyebabnya macam-macam, mulai dari hal remeh sampai hal yang memang berpengaruh besar. Tapi gak apa-apa, itu wajar. Tentunya itu bisa diatasi hingga kita kembali bersama lagi.
Pada akhirnya kami menyadari bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain, saling sayang, dan juga saling rindu kalau lagi jauh.
Terima kasih untuk waktu yang sudah kita habiskan bersama❤
Pokoknya buat kalian, bahagia terus, ya. Semoga bisa jadi orang sukses, menemukan jodoh yang terbaik, yang udah nikah semoga langgeng, selalu diberikan kesehatan untuk kalian dan keluarga❤
๐ผ 9 Januari
Kau adalah satu di antara jutaan kisah yang pasti akan kurindukan suatu hari nanti. Bukan semata-mata tentang kisah cinta yang mungkin akan terdengar aneh di telinga orang-orang yang hobi mengkritisi. Lebih dari itu, ini tentang rumitnya perjuangan kita sampai di titik yang orang lain tak akan mengerti. Entah jadi apa kita setelah ini. Sebab kebersamaan atau perpisahan adalah dua hal yang tak bisa kita pegang kendali.
Kau dan aku sama-sama tahu, bahwa tak ada yang tahu apa rencana Tuhan untuk dua manusia yang sekarang sedang bermain dengan pikirannya sendiri. Bermimpi tentang masa depan yang kadang goyah oleh suara-suara sumbang dari relung hati yang sebenarnya belum pasti. Hingga di satu titik, keyakinan itu datang Iagi. Namun, lagi-lagi kita harus menunggu untuk melihat seperti apa akhirnya.
♡♡♡
๐ผ 10 Januari
Salah satu hal yang aku syukuri dalam hidupku adalah lahir di tahun 90-an. Bisa melewati masa kecil yang bahagia tanpa ponsel. Lahir di tahun 1998, aku menghabiskan masa kecilku (masa Sekolah Dasar) di Kota Palu hingga akhirnya pindah ke kampung halaman Papa sekitar tahun 2008 atau 2009.
Dulu, aku dan keluargaku tinggal di sebuah wilayah yang penuh dengan anak-anak. Aku masih ingat tempatnya; Jalan Sungai Wera, Palu Timur. Ah, tapi aku tak tahu bagaimana wujud tempat itu sekarang. Aku tak pernah lagi melihatnya. Dulu, rumah-rumah di sana sangat berdekatan. Bahkan kontrakan tempat tinggalku hanya dipisahkan oleh tembok. Aku punya banyak tetangga yang seumuran denganku, juga seumuran kakakku yang dua tahun lebih tua dariku. Mungkin lebih dari 10 orang.
Bermain bersama menjadi rutinitas kami sepulang sekolah. Tak kenal lelah. Bahkan di tengah terik mentari pun tak menyurutkan semangat kami. Biasanya Papa sampai turun tangan menjemput dan menyuruh kami pulang untuk tidur siang. Kalau sudah begitu, kami akan kembali bermain di sore hari.
Nah, dulu, aku tak tahu di tempat lain, tapi di tempatku itu ada musim permainan. Kalau musim kelereng, ya tiap hari main kelereng, mau laki-laki atau perempuan. Kalau musim gambar, ya tiap hari main gambar. Pokoknya gitulah. Tapi ada juga permainan yang gak pake musim-musiman. Duh, bahagia banget kalo ingat masa-masa itu. Gak pake hp, gak janjian, tapi anehnya bisa on time kalau ngumpul, wkwk.
Ah, satu lagi. Bulan Ramadhan juga menyenangkan sekali. Aku ingat kenakalan masa kecil saat sholat tarawih. Biasanya hanya beberapa rakaat saja, setelah itu kami akan keluar dan bermain dekat sungai, wkwk. Itu loh, dekat jembatan I, soalnya masjidnya dekat situ. Ya, namanya juga masih kecil.
Duh, ngomongin masa kecil gak akan ada habisnya. Banyak banget yang pengen diceritain. Tapi gak bakal cukup kalau cerita di sini. Intinya, masa-masa itu sungguh masa yang penuh kebahagiaan. Hidup bersama keluarga lengkap, dengan tetangga dan teman-teman yang super baik. Rindu sekali rasanya.
Dulu, aku dan keluargaku tinggal di sebuah wilayah yang penuh dengan anak-anak. Aku masih ingat tempatnya; Jalan Sungai Wera, Palu Timur. Ah, tapi aku tak tahu bagaimana wujud tempat itu sekarang. Aku tak pernah lagi melihatnya. Dulu, rumah-rumah di sana sangat berdekatan. Bahkan kontrakan tempat tinggalku hanya dipisahkan oleh tembok. Aku punya banyak tetangga yang seumuran denganku, juga seumuran kakakku yang dua tahun lebih tua dariku. Mungkin lebih dari 10 orang.
Bermain bersama menjadi rutinitas kami sepulang sekolah. Tak kenal lelah. Bahkan di tengah terik mentari pun tak menyurutkan semangat kami. Biasanya Papa sampai turun tangan menjemput dan menyuruh kami pulang untuk tidur siang. Kalau sudah begitu, kami akan kembali bermain di sore hari.
Nah, dulu, aku tak tahu di tempat lain, tapi di tempatku itu ada musim permainan. Kalau musim kelereng, ya tiap hari main kelereng, mau laki-laki atau perempuan. Kalau musim gambar, ya tiap hari main gambar. Pokoknya gitulah. Tapi ada juga permainan yang gak pake musim-musiman. Duh, bahagia banget kalo ingat masa-masa itu. Gak pake hp, gak janjian, tapi anehnya bisa on time kalau ngumpul, wkwk.
Ah, satu lagi. Bulan Ramadhan juga menyenangkan sekali. Aku ingat kenakalan masa kecil saat sholat tarawih. Biasanya hanya beberapa rakaat saja, setelah itu kami akan keluar dan bermain dekat sungai, wkwk. Itu loh, dekat jembatan I, soalnya masjidnya dekat situ. Ya, namanya juga masih kecil.
Duh, ngomongin masa kecil gak akan ada habisnya. Banyak banget yang pengen diceritain. Tapi gak bakal cukup kalau cerita di sini. Intinya, masa-masa itu sungguh masa yang penuh kebahagiaan. Hidup bersama keluarga lengkap, dengan tetangga dan teman-teman yang super baik. Rindu sekali rasanya.
๐ผ 11 Januari
Pernah membaca kalimat di sebuah novel, tapi lupa novel apa. Katanya, kamu gak akan benar-benar bisa mengerti penderitaan seseorang kecuali kamu mengalaminya sendiri.
Setuju gak?
Pernah gak sih, kalian curhat, terus orang yang kalian jadiin tempat curhat malah cuma bilang:
"Ah, cuma begitu."
"Santai aja, masih banyak yang lain. Bukan cuma dia cowo/cewe di dunia."
"Santai aja, keluargamu pasti mengerti."
"Gak usah lebay, nanti pasti selesai kok itu."
D.L.L.
Paling aneh lagi kalau mereka malah cerita balik seakan-akan mereka lebih menderita dan cerita kita sama sekali gak ada apa-apanya.
"Bersyukur, kamu masih mending, nah aku lebih parah, bla bla bla..."
Niat hati berbagi cerita ingin mencari ketenangan. Alih-alih lega, yang ada malah semakin kesal.
Lagi pula, menurutku ringan atau beratnya sebuah masalah itu tergantung orang yang mengalaminya. Kita gak berhak menentukan, apalagi menganggap semuanya hanya masalah biasa. Ringan di kita kan belum tentu ringan di dia juga.
Saya termasuk orang yang sering dijadikan tempat curhat. Saya sendiri sampai sekarang masih gak mengerti kenapa mereka betah curhat sama saya. Padahal kalau ada orang curhat, apalagi yang sedih banget, jujur saya bingung mau ngomong apa, menanggapinya harus bagaimana supaya gak menyinggung perasaannya, saya harus bilang apa, bilang begini salah gak ya, dan pemikiran-pemikiran lain.
Nah, kepada orang-orang yang suka curhat sama saya. Maaf ya kalau tanggapanku tidak sesuai harapanmu, atau ada kata-kataku yang sempat menyakiti atau menyinggung. Atau mungkin bahkan saya secara tidak sadar pernah melakukan hal negatif seperti yang saya katakan di atas. Maaf.
♡♡♡
๐ผ 13 Januari
๐น"Kamu berdiri di sana, aku foto, ya."
๐"Gak ah, lagi gak mood buat foto."
๐น"Dasar cewek. Tadi nyuruh bawa kamera. Terus nyari pemandangan bagus buat apa?"
๐"Ya buat dipandang, dinikmati."
๐น"Hm, okay."
๐"Kamu mau foto? Sini aku fotoin."
๐น"Enggak. Kamu gak bakat pake kamera."
๐"Kok tau? Haha."
๐น"Tau dong."
๐"Ya udah, fotoin aku aja."
๐น"Lah, katanya tadi gak mood."
๐"Ya habisnya kamu juga ikutan gak mood karena kameranya gak kepake."
๐น"Gapapa, kepake kok. Aku mau foto pemandangan."
๐"Ya udah, kalo mau foto pemandangan kenapa kameranya ke arahku?"
๐น"Soalnya kamu lebih indah dari pemandangannya."
♡♡♡
๐ผ 16 Januari
Jatuh, patah, sakit, hancur. Mulutku bahkan tak mampu berkata-kata saat itu. Apalagi untuk melahap sesuap makanan. Sama sekali tak bisa.
Aku tak mampu tersenyum barang sedetik saja di saat senyum itu harusnya selalu melekat pada anak seusiaku. Satu-satunya hal yang mudah dilakukan adalah bersimpuh dengan air mata.
Hari-hari berikutnya tak beda jauh. Keluargaku tak bicara. Hanya melakukan hal-hal yang biasa dilakukan.
Malam itu, suara piring dan sendok bersahut-sahutan di meja makan. Diikuti suara jam dinding yang berdetik. Hanya itu. Tak ada suara seorang pun. Padahal ada empat orang duduk di sana. Semua bibir terkatup rapat. Hanya terbuka saat melahap makanan untuk bertahan hidup.
Ya, hidup tetap berjalan, bukan? Bahkan ketika salah satu orang yang menjadi separuh jiwaku sudah dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Hidup tetap berjalan, bukan? Walaupun kini aku tak lagi menemukan sosoknya ketika aku tiba di tempat yang biasa disebut rumah. Hidup tetap berjalan, bukan? Meskipun kini bangunan yang selalu menjadi tempat pulang itu terasa sangat hampa.
Waktu terus berlalu, tahun tetap berganti. Pada akhirnya aku tak bisa hidup hanya dengan bernapas tanpa melakukan apa-apa. Aku harus menemukan kembali diriku yang hilang. Lantas memulai hidup baru dengan baik. Sebab orang yang kukasihi pasti tak suka melihatku berlarut-larut dalam duka.
Seperti kata almarhum Chrisye: Badai pasti berlalu.
Meski sulit, bahkan sangat sangat sulit. Aku harus melaluinya. Tak ada yang bisa disalahkan. Karena memang tak ada yang salah.
Peristiwa apa pun itu, aku yakin bisa melewatinya dengan kuat. Selama aku tidak meninggalkan-Nya, semuanya pasti akan baik-baik saja.
Wajah pucat perlahan kembali bersinar, bibir yang sudah mengering perlahan mulai kembali menemukan senyumnya. Sedikit demi sedikit bahagia itu datang dan menghampiri setiap sudut rumah. Meski takkan pernah bisa sempurna. Setidaknya berhasil melewati itu semua merupakan suatu anugerah.
Pada akhirnya aku berhasil sampai pada fase di mana aku tak sesak lagi ketika berkata: "Ma, ke makam Papa, yuk."
♡♡♡
๐ผ 17 Januari
Kita hanyalah dua orang yang saling tahu perasaan masing-masing, tapi hanya tetap bergeming. Kita hanyalah dua orang yang saling mendoakan, tapi tak ada pergerakan. Kita hanyalah dua orang yang saling rindu, tapi tak pernah mengaku.
Kita hanyalah sekejap kedekatan yang perlahan menjauh. Hingga akhirnya kata 'kita' perlahan menguap dan benar-benar lenyap.
♡♡♡
๐ผ 18 Januari
Hari ini saya ingin menceritakan tentang salah satu buku dari seorang penulis sekaligus musisi yang saya kagumi; Fiersa Besari.
Buku berjudul 11:11 merupakan buku yang berisi sebelas cerita. Bisa saya bilang buku ini adalah kumpulan cerita pendek. Banyak cerita cinta di dalamnya, tapi cinta dalam arti yang lebih luas. Ada kisah cinta ayah pada anak, kisah cinta masa lalu yang tak lekang oleh zaman, sampai kisah cinta antara narapidana hukuman mati dengan pria yang dikenalnya lewat surat. Bukan hanya cinta, ada pula beberapa cerita fantasi yang membuat kita berkhayal tentang banyak hal.
Saya sudah jatuh cinta sejak cerita pertama berjudul 'Ainy'. Hingga sampai cerita ke sebelas, saya benar-benar dibuat kagum dengan isi buku ini. Cara Bung Fiersa manyampaikan ceritanya, juga pesan yang tersirat atau tersurat dari setiap kisah benar-benar membuat saya terhanyut.
Saya ingin membagikan beberapa quotes favorit saya dari buku ini.
Kutipan pertama saya ambil dari cerita 'Acak Corak', berkisah tentang percakapan malaikat dan iblis.
“Tugasku menjauhkan mereka dari mengingat-Nya. Jika itu mereka lakukan sendiri dengan sadar, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Kutipan yang menurut saya sangat menampar. Saya seketika menyadari bahwa banyak manusia yang secara sadar masih suka meninggalkan tuhannya. Termasuk saya sendiri. Sholat yang masih bolong-bolong mungkin?
"Ada hal yang lebih berharga dibandingkan uang, dan ia bernama 'waktu'. Uang yang hilang bisa diganti, namun waktu yang hilang takkan pernah bisa kembali.” - Home
“Bahkan saat hidupmu sedang gelap seperti ini, akan selalu ada cahaya yang membantu kamu menemukan jalan keluar. Yang perlu kamu lakukan adalah berdoa dan belajar ikhlas.” - Temaram.
“Kini aku yakin, bahwa harapan, sekecil apa pun, dapat menuntun seseorang yang dikungkung kegelapan untuk melihat secercah harapan.”
“Jangan pernah berkata bahwa kau terpenjara. Sesungguhnya terpenjara atau tidak tergantung dari pikiran kita sendiri. Syukurilah udara segar yang kau hirup di pagi hari dan cahaya kemuning di sore hari. Tuhan tidak pernah merenggut kebebasan kita. - Senja Bersayap
♡♡♡
๐ผ19 Januari
Sampaikan pada malammu
Aku menggigil dalam dekap rindu
Berpura-pura teguh
Nyatanya rapuh
- 12 Maret 2018
⚘
Tadi aku melihatmu
Di pantai tempat kita pernah menghabiskan waktu
Ternyata aku halu
Itu hanya bayanganmu
- 30 April 2018
⚘
Kau tau apa yang paling menyebalkan?
Kenyataan bahwa kita punya banyak kesukaan yang sama
Aku selalu melihatmu
Ketika aku sedang makan
Ketika aku membaca buku
Ketika aku mendengar lagu
Bahkan ketika aku hanya diam saja
- 17 Mei 2018
⚘
Ternyata berusaha melupakanmu hanya membuatku semakin ingat. Mulai hari ini sudah kuputuskan, aku tak akan mencoba melupakanmu, aku hanya akan berdamai dengan segala kenangan.
- 29 Juni 2018
⚘
Sampai hari ini, aku masih sering duduk di pantai tempat kita biasa menghabiskan waktu. Berbagi cerita, diskusi tentang buku-buku, atau bahkan membicarakan hal-hal receh dan aneh. Ah, kapan aku bisa pergi dari tempat ini?
- 10 September 2018
⚘⚘⚘
"Apa yang sedang kau baca?"
Vania tersentak saat suara berat tiba-tiba muncul dari belakangnya. Ia menengok, lantas tersenyum hangat melihat sosok lelaki yang kini duduk di sampingnya. Hari sudah sore, debur pantai masih setia menyapa.
"Diary lamaku," jawab Vania.
"Tentang laki-laki itu?"
"Hm."
"Apa kau merindukannya?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingat, betapa dulu aku membuang waktuku untuk menangisinya."
"Itu hal yang wajar, Vania. Putus cinta, ditinggalkan atau meninggalkan, kau tidak harus merasa bersalah pada dirimu sendiri."
"Aku bersyukur."
"Atas apa?"
"Putus dengan laki-laki itu."
"Karena dengan itu kau dipertemukan denganku?"
"Hm."
"Wah, aku tidak menyangka bahwa gadis cengeng yang sering menangis di pantai ini menjadi calon istriku."
"Hahaha."
"Tapi Vania, apa jangan-jangan kita pernah bertemu sebelumnya? Aku sering ke sini sejak tahun 2017."
"Mungkin."
"Waktu itu pasti kau masih dengannya. Apa kau tau kabarnya sekarang?"
"Dia juga akan menikah, dengan perempuan yang membuatnya meninggalkanku."
"Wah, kau tau sejauh itu?"
"Aku tau baru-baru ini. Ternyata aku mengenal perempuan itu."
"Siapa?"
"Sahabatku."
♡♡♡
๐ผ 20 Januari
Kemarin dikasih tema 'buku', saya menceritakan tentang buku Fiersa Besari. Sekarang dikasih tema lagu, saya ingin menceritakan lagu-lagu Fiersa Besari juga. Ya gimana, sejatuh cinta itu dengan karya-karyanya.
Lagu-lagu Fiersa Besari memiliki lirik yang penuh makna, dengan diksi yang indah, dan tentunya alunan nada yang menenangkan.
Lagu-lagunya juga menurutku sangat cocok dengan kehidupan orang pada umumnya; tentang cinta pada keluarga, cinta pada pasangan, tentang persahabatan, putus cinta, patah hati, dan kisah-kisah lainnya. Mendengar lagu-lagu ini, rasanya seperti bercermin pada kehidupan sendiri.
Coba tanya hatimu sekali lagi
Sebelum engkau benar-benar pergi
Masih kah ada aku di dalamnya?
Karena hatiku masih menyimpanmu
๐ต April
Bila kau butuh telinga tuk mendengar
Bahu tuk bersandar raga tuk berlindung
Pasti kau temukan aku di garis terdepan
Bertepuk dengan sebelah tangan
๐ต Garis Terdepan
Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku?
Aku tidak perlu punya segalanya
Selama kau ada di sini hidup 'kan baik-baik saja
๐ต Hidup Kan Baik-Baik Saja
Tetaplah di sini
Jangan pernah pergi
Meski hidup berat
Kau memilikiku
๐ต Hingga Napas Ini Habis
Padamu kubagi suka dan duka
Padaku kau bagi semangat
Dan ketika aku hampir menyerah
Kau menepuk bahuku
Kau bilang sesuatu yang takkan kulupa
๐ต Kawan yang Mengangumkan
Tidak apa-apa, menangislah
Itu tak menjadikanmu lemah
Semuanya memiliki hikmah
Tuhan Maha Baik, percayalah
๐ต Lekas Pulih
Bagaimanakah kabarmu?
Berhasilkah lupakanku?
Diriku yang bodoh ini masih mendamba hadirmu
๐ต Nadir
Kadang kala tak mengapa
Untuk tak baik baik saja
Kita hanyalah manusia
Wajar jika tak sempurna
๐ต Pelukku untuk Pelikmu
Tak taukah dirimu
Hidup takkan menunggu
Buka sedikit hati
Agar kau tau
Kau tidak sendiri
๐ต Samar
Rasa ini tak kenal kedaluwarsa
Tak perlu selamanya
Cukup sampai ujung usia
Lewati susah-senang pantang menyerah
Karena aku menyayangimu tanpa karena
๐ต Tanpa Karena
Ku yang terus berdosa
Kau yang terus berdoa
Terima kasih ibu
Maafkanlah aku
๐ต Terima Kasih dan Maaf
♡♡♡
๐ผ 21 Januari
Menurutmu... apa kunci dari sebuah hubungan?
Menurutku sih rasa percaya dan komunikasi.
Aku sedang membicarakan hubungan apa saja. Keluarga, sahabat, pasangan, rekan kerja, atau hubungan apa pun itu.
Betapa banyak kesalahpahaman yang pernah terjadi karena komunikasi yang buruk. Tak saling jujur dan saling memendam perasaan, dengan alasan 'mungkin lebih baik dia tidak tahu' atau 'aku akan menyakitinya jika aku jujur' atau karena memang merasa bahwa hal yang tak diungkapkan itu hanyalah hal kecil yang tak penting dan memang orang lain tak perlu tahu.
Padahal, hal kecil bagi kita kan belum tentu hal kecil juga bagi orang lain. Dan bukankah lebih menyakitkan jika orang itu tahu belakangan? Atau tahu dari orang lain?
Memang sih, ada saatnya kita tak bisa menerima suatu kenyataan. Kita bahkan berpikir: lebih baik aku tidak tahu, aku baik-baik saja sebelum aku tahu.
Tapi bukankah kita semua lebih suka kejujuran? Berharap orang yang kita sayangi atau orang terdekat kita mengatakan perasaannya. Jika tak suka, bilang saja tak suka. Jika marah, marahlah. Jika tak nyaman, katakan saja.
Bukankah itu lebih baik daripada menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari?
Aku tahu, banyak hal yang tak mudah untuk dilakukan. Namun, sudahkah kita mencoba?
♡♡♡
๐ผ 23 Januari
Rita duduk di ruang tengah bersama ayahnya. Menetap di depan televisi ditemani teh hangat yang cocok dengan cuaca dingin.
"Wah, enak banget hujan-hujan gini minum teh hangat!" seru Rita.
"Nih biar lebih mantap," ujar ibu Rita sembari meletakkan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap di atas meja.
"Wah!" seru Rita dan ayahnya bersamaan.
Keluarga kecil itu mulai bercengkerama penuh kehangatan.
Tring!!
Notifikasi ponsel Rita menghentikan tangannya yang hendak menyesap teh. Gadis dua puluh tahun itu segera membuka ponselnya.
๐ฑ Lagi apa, Ta?
Senyum Rita mengembang membaca pesan whatsapp dari Ardi, kawan yang baru ia kenal melalui aplikasi tiktok.
๐ฑ Lagi ngumpul bareng keluarga nih. Kenapa?
"Rita, kamu berangkat besok, kan?" tanya ayahnya. Rita mengangguk.
"Hati-hati ya, Sayang," imbuh sang Ibu.
"Ayah dan Ibu tenang aja. Niat Rita dan teman-teman ke Kalimantan itu kan untuk jadi relawan di sana, sekaligus menyerahkan bantuan dari teman-teman di sini. Rita percaya Allah pasti akan selalu melindungi."
"Aamiin..."
Tring!!
๐ฑ Gak kenapa-kenapa, lagi bosan aja, wkwk.
๐ฑ Akhir-akhir ini kamu kenapa jarang bikin konten?
๐ฑ Gak ada ide, haha.
"Chatting sama siapa, sih? Pacar, ya?" goda ayahnya.
"Bukan, Yah."
"Gak apa-apa, emang udah umurnya." Ibunya ikut nimbrung.
"Ih, bukan pacar kok, Bu. Ini temen Rita, baru kenal dari tiktok."
"Orang mana?"
"Oh iya, ya, Rita belum nanya."
๐ฑBtw, kamu orang mana, Di? Siapa tau kita bisa ketemu dan collab bikin konten. Aku punya banyak ide, wkwk.
Tak kunjung mendapat balasan, Rita melanjutkan aktivitasnya bersama keluarga.
Sementara itu di sudut bumi lain, seorang pemuda sedang diam terpaku membaca pesan di ponselnya. Ia lantas mendongak, mengingat kembali tanah kelahirannya yang kini terendam air.
Hujan masih mengguyur, tenda pengungsian menjadi semakin dingin.
"Aku harap kita bisa bertemu suatu hari nanti, Ta."
♡♡♡
๐ผ 24 Januari
Budi mendapat surat dari seseorang tanpa nama. Surat itu sudah ada di depan pintu rumahnya saat ia tiba dari kantor.
Budi berharap amplop itu adalah surat balasan dari Vira, gadis cantik yang tinggal di kos-kosan dekat rumahnya. Setelah ditolak oleh Dinda, si Mbak kasir Alfamart dekat rumahnya, kali ini Budi berharap Vira membalas cintanya. Ia tersenyum dengan penuh harapan.
"Ani, apa ini surat dari Vira? Aku menemukannya di depan pintu," tanya Budi kepada adiknya begitu ia masuk ke dalam rumah.
"Entahlah, aku baru selesai mandi."
"Aku yakin ini dari Vira."
"Kamu halu," kata Ani sambil mengoleskan body lotion di tangannya. "Kenapa kamu bisa menyukainya? Gadis itu bahkan tidak jelas asal-usulnya."
Tak peduli ucapan Ani, Budi langsung membuka surat itu. Ani pun ikut membaca.
20.15.12.15.14.7
1.12.6.1.13.1.18.20
"Ini kode? Tanggal? Bulan? Tahun? Jam?" Budi menerka-nerka.
Ani mendadak ikut penasaran. Ia mengambil kertas itu dari Budi dan memperhatikannya dengan saksama.
"Huruf ke dua puluh?" tanya Ani.
"Huruf T?" balas Budi.
"T.O.L.O.N.G." Ani mengeja angka-angka itu sesuai urutan abjad.
"Tolong?"
Ani mencoba membaca kata kedua. "Kata pertama 'tolong', kata kedua 'Alfamart'. Apa ini?"
Ani dan Budi saling tatap. Hanya dalam hitungan detik, Budi berlari keluar rumah dan menuju Alfamart. Namun, saat ia tiba, tak terjadi apa-apa, semuanya berjalan normal. Hanya satu yang aneh, tak ada Dinda di sana. Padahal Budi hafal sekali shift gadis itu. Ia pun berlari menuju rumah Dinda, melewati sebuah gang sempit dan sepi.
Di tengah jalan, kaki Budi tiba-tiba terhenti. Ia terdiam dengan napas yang masih ngos-ngosan. Matanya membelalak melihat apa yang ada di depannya, tubuhnya gemetar.
"Vi-vi ... ra," rapalnya terbata-bata.
Darah segar mengalir dari pisau yang ada di tangan Vira. Budi merasakan kedua tungkainya melemah. Pandangan matanya perlahan mulai gelap. Ia merasa pusing.
"Terima kasih, meski terlambat," lirih Dinda yang sudah terkapar.
Sebelum Budi jatuh pingsan, hal terakhir yang ia lihat adalah senyum manis si Mbak kasir Alfamart.
♡♡♡
๐ผ 25 Januari
Jingga senja tak terlihat sore tadi sebab awan hitam terlalu ingin menampakkan diri. Syukurlah aku sedang bersamamu. Rona merah wajahmu yang kulihat di tengah rintik hujan itu sungguh tak kalah indah dari langit kemerahan yang suka kupandang sembari mendengar lagu-lagu dari penyanyi indie favoritku.
Udara dingin tak henti menyerang tubuh kecilku meski jaket yang kupakai sudah cukup tebal. Tetapi bibir cantikmu yang menampilkan senyum itu memberikan kehangatan padaku. Dalam sekejap aku ingin mendekap.
Senja indah yang tak terlihat, ternyata tepat di depan mataku. Mata yang lain memang tak melihat, hanya mataku.
Sore yang penuh kelabu, tetapi tetap menawan karenamu, Bu.
♡♡♡
๐ผ 27 Januari
Jika bertemu denganmu lagi, aku ingin sekali mengatakan betapa selama ini aku sangat merindukanmu. Namun, mulutku tak pernah mau diajak mengaku. Dibanding ragu, aku lebih ke arah malu. Karena sepertinya hanya aku yang merindu.
♡♡♡
๐ผ 29 Januari
Ingin menumpahkan semuanya. Kerinduan tak berujung, kesakitan dari harapan yang tak terkabul, realita yang membunuh ekspektasi, kenangan yang tertinggal, rasa yang menyulitkan, dan segala kemungkinan-kemungkinan tak menyenangkan.
Kau terlalu banyak mengeluh, katanya. Meski begitu, dia tetap saja mau mendengar ceritaku. Terima kasih.
Dia; hanyalah diriku sendiri, yang suatu saat kuharap berubah menjadi kamu. Tempatku pulang dan membagi cerita.
♡♡♡
๐ผ 30 Januari
Aku sudah membuka 30 dari 365 lembar buku tahunanku. Aku tak menyangka bahwa kisah pilu mengawali isi buku tahun ini. Padahal biasanya cerita di dalam novel atau drama, bahkan film horor sekali pun, selalu diawali dengan momen bahagia. Ya, memang beda sih, buku ini tak akan bisa ditebak.
Sedih, senang, kecewa, marah, bahagia. Segala emosi ada di tiga puluh lembar pertama. Aku semakin penasaran kisah apa yang akan tersaji setelah ini. Kuharap cerita selanjutnya akan selalu bahagia hingga akhir, walaupun aku tahu, tak mungkin ada cerita sesempurna itu.
Sesekali harus diberi cobaan agar semakin kuat, dihadapkan dengan masalah supaya belajar mengatasi hal-hal tak terduga, diajak jatuh bangun berkali-kali, diperkenalkan dengan sedih dan senang yang silih berganti.
Tak apa-apa. Rintangan itu memang perlu. Sebab jalan yang terlalu mulus terkadang bisa menyesatkan.
Aku harap, aku bisa menyelesaikan buku tahunanku hingga lembar ke-365. Aku harap kau pun bisa. Kita bisa.
Halo, 2021. Sekali lagi aku ingin menyapa. Semoga selalu baik-baik saja, ya๐
❤❤❤❤❤
Komentar
Posting Komentar