30 Hari Bercerita 2022
30 HBC 2021 ada di sini:
♡♡♡
💐 1 Januari
Happy New Year🥳
Hari pertama 2022 dibuka dengan family time. Sebenarnya aku adalah tipe orang yang gak terlalu suka keluar, anak rumahan banget. Tapi family time kayak gini hanya sesekali, masa gak ikut? Jarang banget bisa jalan-jalan bareng orang tua, tante, om, sepupu, sampai para keponakan kecil yang rusuhnya minta ampun. Momen yang sangat baik sebagai pembuka awal tahun.
Ah, tahun ini untuk pertama kalinya aku tak menulis resolusiku dalam sebuah buku, atau dalam sebuah catatan dimana pun. Hanya tersimpan di kepala. Tahun ini aku mau ini, tahun ini aku mau itu. Daftar-daftar harapan yang kurasa tak perlu lagi kutuliskan. Dibanding sekadar menulis resolusi, aku lebih memikirkan bagaimana agar diriku lebih produktif di tahun ini agar satu dari beberapa mimpi besarku bisa tercapai. Iya, satu aja. Satu aja udah bahagia. Kalau Tuhan kasih lebih, itu karena Tuhan terlalu baik.
Tiap tahun baru, pasti ada harapan: semoga tahun ini lebih baik. Dan segala manusia yang masih bernapas pasti berlomba-lomba mengaminkan doa itu. Aku tak semata-mata berdoa agar tahun ini berjalan mulus, sebab kurasa sangat tak mungkin seseorang hidup bahagia tanpa badai dalam setahun. Jadi, hal yang aku doakan adalah aku bisa kuat menghadapi segala rintangan yang ada nantinya. Tapi tetap saja, ada harapan agar badai di tahun ini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.
Selamat tahun baru, teman-teman. Untuk segala jatuh bangun, kesakitan, dan mimpi-mimpi yang belum tercapai, kita semua hebat bisa bertahan sejauh ini. Tetap jadi orang yang kuat, ya. Kalau tahun kemarin bisa, masa tahun ini gak bisa?
Tetap semangat meraih mimpi!
Siapa tau tahun ini giliran kita untuk dikabulkan harapannya. Semoga Allah selalu melindungi kita semua.
💐 2 Januari
Kenapa ya orang cenderung mencari alasan ketika meminta maaf?
Padahal menurutku, ketika seseorang salah, ya salah. Kenapa harus mencari pembenaran di balik kata maaf? Meminta maaf dengan sejuta alasan, seperti merasa bersalah tetapi tak ingin disalahkan.
Memang sih, ada beberapa hal yang membutuhkan alasan, tetapi tak sedikit pula yang hanya perlu permintaan maaf tanpa segudang pembenaran yang bertele-tele. Apalagi kalau kesalahan fatal.
"Maaf ya, aku selingkuh karena dia yang duluan godain aku. Dia chat-chat aku. Dia juga perhatian banget."
(Kamu yang salah gak bisa menghindar)
"Maaf ya, aku hilangin novelmu soalnya kemarin tuh di rumahku banyak orang, banyak anak kecil juga, mana aku sibuk banget jadi gak sadar anak-anak masuk ke kamarku."
(Kamu yang salah gak bisa jaga barang orang)
"Maaf ya, kamu udah editin aku cover untuk cerita wattpad, tapi covernya gak aku up, gak aku pake. Soalnya aku emang gini orangnya, suka plin-plan dan berubah pikiran."
(Kamu yang salah gak menghargai karya orang)
"Maaf ya, gak bermaksud body shaming, tapi emang badanmu gemuk/kurus banget."
(Gak bermaksud, tapi sudah termasuk)
"Maaf ya, tapi kamunya yang terlalu baper."
(Kamunya yang keterlaluan)
Contoh sebuah pembelaan diri yang berkedok permintaan maaf. Kasus di atas sebenarnya hanya butuh satu kalimat: Maaf ya, aku salah, ke depannya gak bakal aku ulangi lagi.
Hanya itu. Cukup.
Setidaknya satu kalimat itu terdengar lebih tulus dibanding beberapa kalimat panjang tetapi hanya mencari sejuta ba-bi-bu untuk membela diri. Alih-alih merasa lega, si korban malah akan semakin kesal.
Setelah mengalami sendiri, aku baru sadar bahwa ternyata mendengar permintaan maaf seperti itu justru menyakitkan.
Ah, sepertinya aku juga pernah meminta maaf dengan cara seperti ini, pikirku. Apakah aku pernah menyakiti orang lain dengan permintaan maafku?
Menjadi salah satu bagian dari 3 kata ajaib, ternyata tak serta-merta membuat kata 'maaf' bisa terdengar menyenangkan.
Ini menjadi peringatan untuk diri sendiri agar lebih mengontrol ucapan dan ketikan ke depannya. Semoga yang membaca ini juga bisa berpikir demikian.
💐 3 Januari
"Semua rasa sakit yang kita derita, tampaknya menuntun kita menuju kehidupan yang lebih besar."
Sebuah quotes keren dari salah satu drama Korea favoritku, Flowers of Evil. Quotes ini juga terhubung sama salah satu quotes dari drama It's Okay to Not be Okay: "Hukum kuantitas penderitaan. Tiap orang punya jumlah penderitaan dan kebahagiaan yang sudah ditentukan. Jika semua penderitaan dikeluarkan sekarang, hanya tersisa kebahagiaan."
Teruntuk kamu yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja; yang sedang sedih tapi tak ada yang menguatkan, sedang jatuh tapi belum mampu berdiri, sedang patah hati, sedang sakit, merasa hancur, lelah, dan segala penderitaan yang bahkan tak bisa diceritakan. Kalian hebat. Hebat banget bisa bertahan. Yuk, tetap kuat. Kalau sudah berdiri, tapi jatuh lagi, tak apa-apa. Anggap saja kamu sedang memulai lagi. Bukankah waktu kecil kamu juga tak bisa langsung berjalan? Kakimu tak langsung kuat. Butuh latihan, butuh waktu, butuh usaha. Sampai akhirnya kakimu bisa berdiri tanpa berpegangan pada orang lain.
Yuk, tetap kuat. Sedikit lagi. Bahagiamu sedang mengintip di balik pintu, tepat di ujung jalan yang sekarang sedang kau lalui. Lihatlah ke depan. Cahaya pun sudah ikut menyeruak masuk, mengabarkan bahwa kau hanya perlu bertahan dan melangkah sedikit saja untuk tiba.
Berjalan saja jika lelah berlari. Tertatih saja jika berjalan pun tak mampu. Asal tak menyerah, tak berhenti.
Yuk, sama-sama membuka pintu bahagianya. Semangat❤
💐 4 Januari
👧"Zan, aku baru saja keluar. Di langit ada banyak bintang."
👦"Sedang apa kau malam-malam begini di luar?"
👧"Memandangi langit?"
👦"Han..."
👧"Kalau kau tidak percaya, lihat saja sendiri."
👦"Aku percaya. Tapi sebaiknya kau segera tidur."
👧"Nanti saja. Ini benar-benar indah, Zan. Saking indahnya, aku ingin memotretnya, tapi tidak bisa."
👦"Kenapa?"
👧"Terlalu gelap."
👦"Ya sudah, kau tidak perlu memotretnya, cukup nikmati saja keindahnya."
👧"Aku hanya ingin membagikannya, Zan. Kau bilang kita harus membagikan hal-hal baik."
👦"Han, kau bisa membagikannya tanpa perlu memperlihatkannya."
👧"Maksudnya?"
👦"Cukup katakan ke orang-orang bahwa langit malam sedang penuh bintang. Mereka bisa melihat sendiri tanpa perlu kau kirimi foto."
👧"Tapi akan ada yang tak percaya."
👦"Tentu saja. Bukan hanya tak percaya, Han. Akan ada juga orang yang percaya, tapi memilih mengabaikan. Ada juga yang menganggap langit penuh bintang bukanlah hal spesial."
👧"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
👦"Tak semua hal baik harus dibagikan, Han. Ada hal-hal yang hanya perlu kau nikmati sendiri tanpa memusingkan penilaian orang lain."
💐 5 Januari
Aku mulai lupa suaramu. Atau mungkin sudah benar-benar lupa? Sepertinya ingatan tentang itu mulai terkikis habis dimakan usia. Sudah terlalu lama rupanya. Namun, tatapan mata dan wajah teduhmu tetap melekat kuat dalam memoriku, tak peduli sejauh apa pun aku pergi.
Aku merindukanku. Setiap hari.
Namun, percayalah, kini rasa sakitku hanya datang sesekali. Aku sudah bisa mengontrol diri. Rasa bangga dan rasa syukur yang kini lebih sering menghampiri.
Ayah... aku bangga sekaligus bersyukur telah lahir sebagai putrimu. Kapan-kapan ayo main ke mimpiku.
💐 6 Januari
👧"Izinkan aku bertanya satu hal."
👦"Apa?"
👧"Selama ini, apakah kau pernah merindukanku? Apakah kau pernah memikirkanku meski hanya sebentar saja?"
👦"Katanya mau bertanya satu hal. Pertanyaanmu adalah dua hal yang berbeda."
👧"Kenapa berbeda? Kalau kau merindukanku, sudah pasti kau memikirkanku juga."
👦"Tapi kalau memikirkan, bukan berarti merindukan."
👧"Kata siapa?"
👦"Kataku. Kau tau? Terkadang, bayangan seseorang muncul bukan karena kau merindukannya."
👧"Lalu?"
👦"Kau tiba-tiba memikirkannya karena punya kenangan dengannya."
👧"Kenangan itulah yang bikin rindu."
👦"Ah, sudahlah."
👧"Jawab dulu pertanyaanku."
👦"Yang mana?"
👧"Apa kau pernah merindukanku?"
👦"Ya, pernah. Bahkan sekarang. Kau ada di depan mataku, tapi aku masih merindukanmu."
💐 8 Januari
TEMA: Tempat yang akhirnya kukunjungi lagi.
Rumah.
Ya. Rumah.
Ini adalah halaman depan rumahku di kampung halaman alm Papa. Di depan rumah, tepat di seberang jalan, ada sebuah pantai indah dengan pohon kelapa berjejeran rapi. Kadang kala ombak terdengar dari dalam rumah, disertai angin laut yang bertiup lembut. Tiap duduk di beranda rumah, rasanya begitu damai dan penuh ketenangan. Betapa indahnya hidupku tinggal di tempat seperti ini dengan keluarga lengkap. Dulu.
Beberapa hari lalu, aku baru saja mengunjungi rumahku lagi. Sebenarnya bukan hanya setelah PPKM, bukan hanya setelah pandemi, tapi setelah sembilan tahun lamanya.
Nisa masih berusia 14 tahun ketika meninggalkan rumah ini, dan Nisa 23 tahun memberanikan diri untuk kembali ke sini. Rumah yang tiap sudutnya dipenuhi oleh kenangan bersama Papa.
Begitu banyak kenangan, begitu berkesan, begitu spesial, lantas mengapa rumah ini ditinggalkan? Ah, mungkin akan ada pertanyaan seperti itu. Tetapi tak semua tanya harus ada jawabnya. Terlebih lagi jika berbicara mengenai keluarga. Ada hal-hal yang orang lain tak perlu tahu, bahkan orang terdekat sekalipun.
Selama ini aku selalu takut kembali, meski hanya sekadar mengunjungi. Takut jika semua memori membuatku lemah untuk kesekian kalinya. Baru membayangkan saja sudah sesak rasanya, apalagi harus melihat rumah itu lagi. Begitu pikirku. Namun, akhirnya aku bisa.
Ternyata aku sudah tidak apa-apa. Memang, bohong kalau aku bilang aku tak sedih, tak merasa sesak, tak menahan tangis. Tetapi itu semua sudah mampu kukendalikan. Sebisa mungkin tersenyum, memandang setiap titik yang dulu pernah menjadi saksi kebahagiaan kita.
Ah, ternyata dulu kita sebahagia itu.
Tidak apa-apa. Mari buat kenangan indah lagi. Meski di tempat berbeda. Rumah ini akan selalu punya tempat tersendiri di hatiku.
💐 9 Januari
Ia tak bersembunyi, hanya saja sinarnya sedikit terjebak. Tetapi itu tak meruntuhkan niatnya untuk tetap terlihat.
Ia bahkan tetap menyilaukan, meski hanya setitik yang tampak oleh indra penglihatan.
Ia tetap ada, walau segelintir orang mengeluhkan keberadaannya.
Mengapa? Sebab di luar sana banyak yang mensyukuri hadirnya. Kalau lebih banyak orang yang bahagia, kenapa mesti memikirkan mereka yang tak suka?
Hidup ini juga akan baik-baik saja tanpa mereka; orang-orang yang tak menyukai, pun membenci.
Oh ya, sebenarnya ini bukan tentang mentari. Tapi ini tentangku, tentangmu, dan tentang siapa saja yang memahami.
💐 10 Januari
Kalimat "Umur bukanlah tolak ukur kedewasaan" sepertinya memang benar. Lihatlah, berapa banyak manusia yang sudah tergolong dewasa tapi masih berpikir dan bertingkah layaknya bocah. Sebaliknya, ada pula yang masih umur belia, tetapi mampu menempatkan diri layaknya orang dewasa.
Kurasa kedewasaan seseorang bisa dilihat dari caranya menghadapi masalah. Isi pikirannya, solusi-solusi yang diambil, atau sekadar pilihan bertahan dibanding melarikan diri dari problematika yang menyerang.
Menurutku semua orang dewasa mempunyai jiwa "childish" yang kadang kala bisa muncul. Termasuk diriku sendiri. Ketika sedang kesal, marah, sedih, dan menghadapi masalah, lantas melampiaskan semuanya dengan sifat kekanak-kanakan yang terkesan menyebalkan.
Namun, hal itu tak lantas membuat sifat ini bisa dimaklumi begitu saja, terlebih saat menghadapi masalah yang terbilang serius. Justru karena sudah dewasa, seseorang harusnya sebisa mungkin mengendalikan dirinya. Minimal bisa sadar, dengan sekadar berpikir: "Ah, apa aku keterlaluan? Apa aku terlalu kekanak-kanakan?"
Jika sudah seperti itu, menghadapi hal selanjutnya pasti bisa jadi lebih tenang. Beda cerita kalau isi pikirannya: "Dia yang salah, wajar aku kayak gini."
Alih-alih ingin meminta maaf, orang yang dia anggap salah mungkin akan semakin ogah-ogahan berdamai.
Susah memang kalau sudah berbicara tentang sifat manusia. Anak kembar saja banyak yang punya sifat beda, apalagi orang-orang yang bahkan tak berhubungan darah?
Ada anak remaja yang dipaksa dewasa oleh keadaan, mungkin karena jalan hidup yang tak mengizinkannya untuk bersifat kekanak-kanakan. Di sisi lain, ada si dewasa yang tetap menjadi anak-anak, tapi tak kutahu sebabnya, meski hanya sekadar "mungkin". Sepertinya aku masih perlu membaca lebih banyak buku tentang ini, atau mengenal lebih banyak manusia. Asalkan harus siap menghadapi kepala yang berbeda-beda.
💐 11 Januari
Hidup kita akan selalu dikomentari oleh orang lain, tak peduli apa pun yang kita lakukan. Semuanya serba salah. Maka dari itu, berhentilah hidup atas dasar omongan orang lain, berhentilah hidup di atas ekspektasi orang lain. Kita yang menjalani hidup, kenapa orang lain yang mengatur? Mereka bahkan tak punya kontribusi apa pun dalam hidup kita.
Telat lulus kuliah, ditanyain mulu: Kapan lulus? Kapan wisuda?
(Kenapa? Mau bayarin uang wisuda?)
Udah lulus, ditanyain mulu: Kapan kerja?
(Cariin kerja dong!)
Giliran udah kerja, dikomentarin: Kok kerja ini? Kok kerja itu? Kok gak sesuai jurusan?
(Yang penting halal bro sis)
Jomblo ditanyain mulu: Pasangannya mana?
(Belum ketemu)
Punya pacar ditanyain mulu: Kapan nikah?
(Kenapa? Mau bayarin resepsi?)
Giliran udah nikah, tetap aja ada omongan. Pertanyaannya: Kapan punya anak?
(Dikira anak tuh jadwalnya bisa diatur manusia apa ya? Mending doain diam-diam, daripada komen sana-sini)
Jika ditegur, semuanya berdalih dengan alasan 'bercanda'. Alih-alih merasa bersalah, eh malah bilang baperan. Kawan, bercanda itu jika kedua belah pihak sama-sama merasa bahwa itu memang lelucon. Mungkin satu kali bercanda, tapi jika sudah berkali-kali, terlebih lagi dengan kalimat tak enak, kurasa itu sudah keterlaluan. Jika salah satu pihak tersinggung atau kesal, masa iya disebut bercanda?
Lagi pula siapa yang tahu isi hati orang lain? Bisa saja seseorang tertawa atau tersenyum dengan pertanyaan yang dilontarkan, tapi siapa yang tahu isi hatinya?
Ya, tapi sepertinya yang kubilang sebelumnya. Kita tak akan bisa menghindari omongan orang. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah menutup telinga, sebab kita tak akan mampu menutup semua mulut yang berkicau.
Hiduplah apa adanya. Cintai dirimu dan berhentilah hidup dengan pikiran: kalau aku kayak gini, orang lain akan bilang apa ya?
💐 12 Januari
TEMA: Keputusan Terbaik
Menjadi Army adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupku. Ada yang berubah? Tentu. Aku jadi lebih mencintai diriku sendiri, menghargai apa yang kumiliki, I love myself. Aku juga lebih percaya diri, atas mimpi-mimpiku dan segala hal yang selama ini tak berani kuraih bahkan sekadar kuimpikan. Aku menemukan keluarga kedua, yang bahkan tak pernah kutemui, tapi luar biasa pengaruhnya. Sudah jatuh cinta dengan Bangtan sejak 2019, tapi baru berani berinteraksi dengan fandom ungu ini setahun belakangan.
Jujur, dulu Army adalah fandom toxic di mataku. Dulu. Padahal hanya segelintir orang yang berulah, tapi yang kena cap jelek malah satu fandom. Waktu itu aku benar-benar tak sadar akan hal ini. Namun, saat aku sudah menjadi seorang Army, aku sadar, banyak sekali oknum yang membawa nama Army, lantas menyebarkan kebencian. Belakangan juga aku sadar, bahwa setiap fandom pasti punya orang-orang toxic. Makanya aku tak setuju jika ada julukan "fandom toxic" yang diarahkan ke salah satu fandom.
Memang benar ya, orang tak tau apa-apa kalau dia tak ada di dalamnya. Orang luar tak akan mengerti. Ternyata Army adalah orang-orang luar biasa. Mereka memiliki jiwa positif dan kreativitas yang sering membuatku kagum. Nilai plusnya, mereka adalah orang-orang receh yang bisa membuatku tertawa hanya karena hal kecil. Rasa kepeduliannya juga bikin makin sayang. Padahal kita hanya berteman secara virtual. Aku dulu tak tahu akan hal ini, ya karena aku tak ada di dalamnya. Bagaimana bisa aku merasakan hal yang mereka rasakan jika aku saja tak mengenal mereka?
Aku kena karma kali ya? Pernah benci sampai akhirnya terjebak di dalamnya. Tapi... aku tak merasa bahwa ini adalah karma. Aku menganggap ini proses. Bahkan mengenal Army pun butuh proses ya, wkwk.
Army, maaf. Sudah sudah salah mengira bahwa kalian adalah orang-orang menyebalkan. Sekarang justru kalian jadi alasanku lupa akan kesedihan.
Teruntuk orang-orang yang tak bisa kusebutkan satu persatu namanya. Aku sayang sama kalian. Sehat dan bahagia terus ya, jadi orang sukses. Kalau Allah kasih izin, insya Allah kita bisa bertemu.
💐 13 Januari
Seorang kawan pernah membagikan ceritanya padaku. Tentang si lelaki yang selalu ia banggakan. Belakangan ia dipatahkan oleh fakta bahwa ternyata lelaki itu masih berhubungan dengan sang mantan.
Kawanku memaafkannya. Katanya, setiap orang punya kesempatan kedua. Meski aku sudah memberi saran, tetap saja dia teguh pada keputusannya. Baiklah, aku iyakan. Hal terpenting adalah aku sudah memperingatinya, bahwa jika sekali seseorang berbohong, bukan tidak mungkin ia akan mengulanginya suatu hari nanti.
Benar saja. Hanya berselang sebulan, kawanku kembali datang padaku, lengkap dengan air matanya. Lelaki itu ternyata masih juga berhubungan dengan sang mantan. Kurasa lelaki itu sudah tak normal, sudah masuk kategori pria brengsek di mataku. Mantannya pun sama saja.
"Putus saja," kataku.
Dia tak menjawab. Hanya menangis.
Sungguh mencengangkan. Beberapa hari kemudian, aku melihatnya membuat story whatsapp bersama pacar sialannya itu.
"Baikan lagi? Setelah ini gak usah curhat ke aku kalo ada apa-apa, jujur aku sudah malas mendengar ceritamu." Aku blak-blakan mengutarakan isi hatiku.
"Aku nunggu dia berubah, Nis."
Aku hanya bisa terdiam mendengar jawabannya.
Berubah? Bagaimana mungkin lelaki yang telah hidup 25 tahun dengan sifat seperti itu bisa tiba-tiba berubah hanya karena seorang wanita? Maaf jika kalian adalah tipe yang percaya hal seperti ini, tapi aku tidak. Sama sekali tidak percaya.
Menurutku hubungannya sudah termasuk toxic. Kawanku ini terus-terusan merasa curiga dan overthinking sepanjang waktu. Dia harus memeriksa media sosial kekasihnya, harus terus dikabari, harus mengirim foto dan lain sebagainya. Untuk apa hubungan seperti ini dilanjutkan? Bukankah salah satu dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan?
Namun, lagi-lagi aku hanya memberi saran. Jika tak didengar, aku bisa apa? Memaksanya? Haha ayolah, sudah dewasa, masa iya harus dipaksa? Seharusnya sudah bisa berpikir jernih. Lagi pula ini adalah masalah pribadi yang bahkan orang terdekat pun tak berhak masuk terlalu dalam.
Intinya, jangan siksa dirimu, dirimu terlalu berharga untuk lelaki seperti itu❤
💐 14 Januari
👦"Kamu belum bisa buka hati?"
⚘"Bisa, mungkin."
👦"Lelaki yang sekarang dekat denganmu belum tentu seperti dia, Han."
⚘"Aku tahu."
👦"Lalu?"
⚘"Aku hanya takut."
👦"Takut apa?"
⚘"Takut ditinggalkan lagi. Dulu pernah begitu percaya sama seseorang, tapi aku malah dapat pengkhianatan. Sekarang rasanya... sulit menempatkan hati ke orang lain."
👦"Aku tahu maksudmu."
⚘"Menurutmu ini salah siapa?"
👦"Apanya?"
⚘"Dia yang jahat, atau aku yang kurang baik untuknya?"
👦"Tidak perlu mencari siapa yang salah. Kalau dia pergi, artinya dia bukan orang yang tepat untukmu. Seharusnya kamu bersyukur."
⚘"Atas apa?"
👦"Ya, atas semuanya. Tuhan menunjukkan kalau sekarang saja dia tidak mampu bertahan denganmu, bagaimana dia akan menjagamu nanti? Cintanya tidak sebesar kamu mencintainya. Kamu gak kehilangan dia, dia yang kehilangan kamu."
⚘"Itu hanya kata-kata penguatan, aku sudah sering membacanya di novel."
👦"Kamu terlalu fokus pada rasa sakitmu. Sampai kamu gak sadar kalau ada orang yang begitu mencintaimu."
⚘"Memangnya siapa yang mencintaiku?"
👦"Ada. Dan sekarang orang itu sedang berbicara denganmu.
⚘"....."
💐 15 Januari
TEMA: Film yang Paling Berkesan
Tema hari ini menceritakan tentang film, series, atau drama yang paling berkesan. Sebenarnya banyak, tapi kali ini pilihanku jatuh pada drama Korea Reply 1988.
Drama ini tamat pada Januari 2016 dengan 20 episode, tapi aku baru menontonnya sekitar tahun 2019. Sedikit fakta, aku tak bisa menonton drama lain dalam beberapa minggu setelah aku menamatkan drama ini. Coba nonton drama lain, tapi ingatnya drama ini terus. Gagal move on. Benar-benar membekas. Sebagus itu. Meski ada orang yang beranggapan kalau drama ini membosankan karena durasinya yang panjang per episode.
Bercerita tentang lima sahabat yang tumbuh remaja di tahun 1988. Mereka tinggal di lingkungan yang sama, dengan jarak rumah sangat berdekatan. Belum punya ponsel, jadi bisa dibayangkan bagaimana kekeluargaannya. Masing-masing keluarga mereka memiliki cerita berbeda-beda.
Apa sih yang menarik dari drama ini?
Semua hubungan diceritakan di sini. Hubungan keluarga (suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik), persahabatan, percintaan, dan tentunya yang tak kalah menyentuh hati di sini adalah hubungan antartetangga.
Tentang Deok Sun, si anak kedua yang selalu mengalah. Sun Woo, anak yang telah ditinggal mati ayahnya. Dong Ryong, anak yang orang tuanya selalu sibuk bekerja. Choi Taek, anak yang telah ditinggal mati ibunya. Serta Jung Hwan yang tumbuh di keluarga kaya tapi tak serta merta merasa bahagia. Mereka berlima memiliki ceritanya masing-masing.
Bukan hanya itu, drama ini juga bercerita tentang rasa cinta pada sahabat sendiri, tentang mengalah dan merelakan, tentang pentingnya mengambil keputusan tanpa ragu. Ada pula tentang pentingnya keterbukaan dalam keluarga, tentang kasih sayang sesama, saling menghargai, saling berbagi, bekerja sama, dan saling tolong menolong.
Ah, rasanya tak habis-habis kata untuk mendeskripsikan drama ini.
Satu hal yang juga sangat menarik. Sejak episode 1, penonton akan disuruh menebak, siapa yang akan menjadi suami pemeran utama wanita (Deok Sun) di antara empat sahabatnya. Kalau nonton, sebaiknya jangan baca atau nonton spoiler dimana pun yaa, biar seru, wkwk.
💐 17 Januari
Ternyata benar kata orang, dunia ini sempit. Kenapa aku harus bertemu denganmu di saat aku bahkan tak ingin mengingat namamu lagi? Padahal ada tujuh hari dalam seminggu, ada dua puluh empat jam dalam sehari, kenapa kita harus datang di waktu yang sama? Kenapa juga kita harus bertemu di tempat itu, ruang yang penuh jejak-jejak kita, tempat kita dulu sering berjajalkan kaki. Aku pikir aku sudah melupakan semuanya. Ternyata tidak, atau bisa kubilang belum. Belum sepenuhnya.
Ternyata melupakan memang tak semudah itu. Aku menyukai apa yang kamu suka, kamu menyukai apa yang aku suka. Kita punya banyak sekali kesamaan; makanan, hobi, bahkan sekadar lagu-lagu yang sering kita dengarkan. Mau tak mau, selalu ada tempat-tempat tertentu yang tak bisa kutinggalkan, tapi sayangnya semua itu sudah penuh dengan kenangan yang kita ciptakan sendiri.
Sudah tak ada lagi rasa, tapi kata 'lupa' memang selalu butuh waktu. Aku tak akan memaksa diriku untuk melupakan hal-hal yang kuanggap perlu dilupakan. Segala hal yang dipaksakan pasti tak akan berakhir baik, kurang lebih seperti itu yang kupercaya. Akan lebih baik jika aku berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hati sendiri, berdamai dengan kenangan. Lantas, setelah itu apa?
Siapa yang tahu, mungkin saja suatu saat aku bisa mengingatmu, tanpa ada lagi rasa sakit sedikit pun, melainkan hanya senyum. Sembari aku mengingat bahwa kamu adalah salah satu orang yang memberiku pelajaran tentang kehidupan.
💐 18 Januari

_Happy%20New%20Year--%20__Hari%20pertama%202022%20dibuka%20dengan%20family%20time.%20Sebenarnya%20aku%20adalah%20tipe%20orang%20yang%20gak%20terlalu%20suka%20keluar_%20anak%20rumahan%20banget.%20Tapi%20family%20time%20kayak%20gini%20hanya%20sesekali_%20masa%20gak%20ikut_%20Jarang%20banget%20bisa%20jala(JPG).jpg)


_--_Zan_%20aku%20baru%20saja%20keluar.%20Di%20langit%20ada%20banyak%20bintang.___--_Sedang%20apa%20kau%20malam-malam%20begini%20di%20luar____--_Memandangi%20langit____--_Han...___--_Kalau%20kau%20tidak%20percaya_%20lihat%20saja%20sendiri.___--_Aku%20percaya.%20Tapi%20sebaiknya%20kau(JPG).jpg)


_TEMA_%20Tempat%20yang%20akhirnya%20kukunjungi%20lagi.%20__%E2%9A%98%E2%9A%98%E2%9A%98__Rumah.%20__Ya.%20Rumah.%20__Ini%20adalah%20halaman%20depan%20rumahku%20di%20kampung%20halaman%20alm%20Papa.%20Di%20depan%20rumah_%20tepat%20di%20seberang%20jalan_%20ada%20sebuah%20pantai%20indah%20dengan%20pohon%20kelapa%20berj(JPG).jpg)











_Layangannya%20tersangkut%20di%20awan_%20Budi%20lari%20ke%20arah%20depan%20untuk%20mengejar.___Bagaimana%20bisa%20layangan%20tersangkut%20di%20awan_%20Bukannya%20biasanya%20tersangkut%20di%20pohon_%20Dan%20kenapa%20pula%20cerita%20ini%20pakai%20namaku__%20celoteh%20Budi%20ketika%20membaca%20(WEBP).webp)







Komentar
Posting Komentar