Kesehatan Mental dalam Buku "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" - Brian Khrisna (Review)
🍜 Identitas Buku
Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2025
Tebal: 216
Batas Usia: 17+
Blurb:
Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Orang-orang di kantor yang sudah menikah, mereka akan pulang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang, bersama sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue ulang tahunku sendiri yang kubeli dari toko manisan dekat kantor.
Aku takut kalau ternyata selama ini aku tidak pernah berhasil menjalani hidup seperti sebagaimana seharusnya. Di kepalaku sekarang, pertanyaan ini semakin lama semakin membesar. Pantaskah hidup ini kulanjutkan?
Aku berdiri menatap ke langit malam. Kini tekadku sudah bulat. Aku akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.
🍜🍜🍜
🍜 Sinopsis
Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bercerita tentang seorang pemuda bernama Ale. Usianya 37 tahun, pekerja kantoran biasa yang tinggal seorang diri di apartemennya. Ia didiagnosis depresi akut oleh psikiater yang ia datangi.
Hidupnya tak mudah, lingkungannya tak bersahabat. Tubuh Ale yang besar dan tinggi, kulitnya yang gelap, serta wajahnya yang mirip preman itu sering jadi bahan hinaan berkedok bercanda oleh orang-orang di sekitar, termasuk teman sekantornya. Meskipun punya pekerjaan bagus, yaitu sebagai pegawai tetap di sebuah kantor, ia tak memiliki teman. Sama sekali tak ada yang peduli padanya.
Ale juga tak pernah mendapatkan kasih sayang dan apresiasi dari keluarganya, bahkan ibunya sendiri. Bisa dibilang, bibit depresinya tumbuh dari lingkungan keluarga.
Makin lama, Ale makin membenci dirinya sendiri. Pikiran-pikiran buruk sering menghantui. Ia merasa tak berharga, tak berguna, dan mempertanyakan fungsi dirinya di dunia. Ale mulai berpikir bahwa ia tak pantas melanjutkan hidup. Apa pun yang ia lakukan, tak pernah berarti bagi orang lain. Kehadirannya tak berpengaruh pada si(apa) pun. Konsultasi dengan psikiater serta obat-obatan depresi yang ia terima, tak memberikan efek yang berarti.
Keputusannya sudah bulat. Ia memutuskan untuk bunuh diri tepat di hari ulang tahunnya. Ia pun mulai mempersiapkan kematiannya dalam 24 jam.
Segala persiapan ia lakukan selama 24 jam itu. Namun, sebelum mengakhiri hidupnya, Ale ingin makan mie ayam favoritnya untuk terakhir kali.
Dan di sinilah segalanya dimulai. Bahkan untuk ingin mati pun, semesta tak berpihak padanya. Berawal dari keinginan makan mie ayam inilah kehidupan Ale berubah.
🍜🍜🍜
🍜 Pengalaman Membaca
Sebenarnya saya tidak pernah benar-benar membaca review Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Hanya saja, buku ini terlalu terkenal hingga sering muncul di semua media sosial, terutama Instagram dan TikTok, tempat saya berselancar mencari buku-buku rekomendasi dari para pembaca lain.
Apa penyebab buku yang baru berumur setahun ini bisa menyandang sebutan Mega Best Seller? Apakah isinya sebagus itu? Buku ini bahkan sudah mencapai cetakan ke-100.
Kurang lebih itulah yang membuat saya memutuskan untuk membeli dan akhirnya membaca buku ini.
Di bab-bab awal, saya merasa cukup lelah. Sebab energi negatif memenuhi isi kepala saya. Mungkin ini bisa menjadi hal yang biasa bagi sebagian orang. Namun, untuk saya yang masih dalam tahap "belajar mencintai diri sendiri", membaca bagian awal buku ini lumayan menguras energi. Depresi Ale digambarkan begitu nyata dan membawa saya masuk ke dalam kisahnya.
Memasuki pertengahan, saya mulai merasa lebih tenang. Buku ini dibawakan dengan cara yang lebih ringan dari yang saya duga. Saya mulai terpesona dengan kisah-kisah yang disajikan. Kehidupan yang kadang tak terlihat oleh radar kita, cerita-cerita perjuangan dari orang yang sering dianggap kaum rendahan, serta dialog-dialog penuh pesan yang satu per satu bersuara.
Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh orang-orang di sekitar Ale, berhasil menyentuh hati saya. Jika buku-buku lain biasanya membuat saya merasa relate, di buku ini saya merasa bahwa saya sedang belajar dan sedang dinasihati. Lebih dari itu, saya seperti dirangkul, agar tetap berjalan, agar tetap tenang menghadapi tantangan hidup.
Hingga di akhir buku, saya merasa lega. Seperti baru saja menemukan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah tidak saya harapkan jawabannya. Saya mendapatkan banyak insight yang cukup mempengaruhi pikiran saya.
Saya berhasil menamatkan buku ini dalam empat hari. Dan saya bisa mengatakan bahwa saya tak menyesal telah menyelesaikannya.
🍜🍜🍜
🍜 Penilaian Buku
Buku ini berhasil membuat saya tenggelam dalam kisah Ale sejak awal bab. Saya bisa merasakan energi negatifnya. Penulis menggambarkannya dengan cukup baik. Buku ini juga mudah dicerna karena menggunakan bahasa yang sangat ringan dengan kata-kata yang umum.
Menariknya, buku ini disertai ilustrasi pada tiap babnya. Saya termasuk orang yang sangat suka membaca novel dengan ilustrasi. Daftar isinya juga cantik, tidak seperti daftar isi buku pada umumnya yang hanya berupa list biasa. Daftar isi buku ini juga disertai ilustrasi kecil yang terlihat sangat unik.
Saya juga menyukai tampilan cover-nya. Gambar yang menarik dengan tulisan timbul. Bahkan bookmark-nya pun lucu (walaupun isi bukunya tidak lucu).
Selama membaca, saya beberapa kali dibuat terkejut. Penggunaan bahasa di buku ini sangat frontal, bahkan untuk kata-kata negatif, semua diucapkan secara gamblang melalui dialog para tokoh. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa buku ini khusus usia 17+, selain karena pembahasan depresi dan adegan bunuh diri tentunya.
Untuk hal-hal yang kurang, saya menemukan beberapa kesalahan kecil, seperti salah ketik dan penggunaan kata yang tidak baku. Meskipun kesalahan kecil, cukup mengganggu jika terjadi berulang kali.
"Setiap karya akan menemukan pembacanya" adalah salah satu kalimat yang saya yakini. Begitu pun dengan buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, pasti menemukan pembacanya.
Saya pernah membaca beberapa komentar tentang buku ini, ada yang mengatakan bahwa "buku ini overrated, padahal isinya biasa saja."
Akhirnya saya paham setelah membaca. Buku ini memang tidak bisa "menjangkau" semua kalangan. Saya yakin tidak semua emosi pembaca bisa tersentuh. Sebab menurut saya, buku ini diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang berada di titik terendahnya, sedang insecure, sedang tidak percaya diri, atau bahkan sedang berpikir seperti Ale. Buku ini akan merangkul manusia-manusia yang sedang jatuh, butuh pelukan, dan butuh dicintai.
Untuk kamu yang sedang di posisi ini, mari berkenalan dengan Ale✨️
🍜🍜🍜
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati akan menjadi buku yang bisa saya buka berulang kali jika ingin menegur atau menasihati diri sendiri.
Beberapa quotes yang memberikan saya insight:
"Coba deh sekali-sekali ubah sudut pandang lo. Siapa tahu hidup bakal ngebawa lo ke arah yang ternyata lebih baik dari semua jalan hidup yang pernah lo lalui kemarin-kemarin." - hlm. 108
Saya selalu belajar bahwa hidup ini penuh dengan beragam sudut padang, ada berbagai sisi yang kadang memang tak terlihat secara gamblang. Maka dari itu, sebagai manusia, kita jangan hanya melihat segala sesuatu dari satu sisi saja. Apa yang kita lihat, kadang bukanlah hal sebenarnya.
"Hidup itu paradoks. Untuk bisa sembuh, kamu harus merasakan sakit dulu. Untuk bisa mengenal kedamaian, kamu harus berperang dulu. Untuk bisa mengenal apa itu bahagia, kamu harus pernah sedih dulu. Untuk bisa bangkit melawan, kamu harus jatuh kalah dulu." - hlm. 154
Kalimat-kalimat ini kembali menyadarkan saya bahwa tak ada hidup yang selalu mulus. Bagaimanapun usaha kita untuk selalu bahagia, kesedihan akan tetap menemani setiap perjalanan. Rasa sakit, jatuh, kalah, dan kecewa adalah hal-hal yang akan selalu kita temui. Tugas kita adalah menghadapinya. Harus menghadapinya.
"Hidup ternyata bukanlah perlombaan. Tidak masalah jika langkahmu melambat dan tak secepat orang yang lain. Sekali-sekali, kita memang perlu menikmati apa yang sedang terjadi dan terus percaya bahwa pada akhirnya semua akan membaik." - hlm. 152
Sepakat!
"Demi menyelamatkan kita dari jalan yang salah, terkadang Tuhan akan mematahkan kita sepatah-patahnya." - hlm. 129
Saya teringat Q.S. Al-Baqarah ayat 216 yang berbunyi "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
"Ternyata selama ini banyak yang melihatku. Aku pikir aku sendirian. Tapi ternyata tidak. Aku saja yang tak mampu melihat mereka." - hlm. 127
Ini salah satu bagian favorit saya. Cerita pada bab ini menyadarkan saya bahwa saya tidak sendirian menghadapi dunia ini. Ada orang-orang yang mencintai dan menyayangi saya. Ada orang yang menganggap saya sangat berharga. Ada orang yang selalu menghargai kehadiran saya.
Untuk kamu yang selalu berpikir bahwa kamu tak layak dicintai, atau merasa tak ada yang mencintaimu, mungkin kamu sama seperti Ale. Mungkin ada orang yang diam-diam mendoakan kebahagiaanmu karena pernah kamu bantu, mungkin ada orang yang berharap bertemu langsung denganmu karena mengagumi sifat baikmu. Kamu hanya perlu melihat lebih jauh dan percaya bahwa kamu adalah manusia yang layak dicintai.
"Jangan lupa untuk memberikan apresiasi kepada dirimu sendiri. Hidupmu itu sudah sulit. Jangan paksa kakimu untuk terus melangkah. Cobalah sesekali beristirahat. Sekali-sekali, pergilah keluar. Hargailah pencapaian di hidupmu meski itu hanya pencapaian kecil. Sebab, kamu memang pantas untuk itu. Jika sedang lelah, kamu boleh marah dan meluapkannya. Jangan ditahan terus." - hlm. 172
Lagi-lagi saya belajar untuk terus mencintai diri sendiri❤️
Sebenarnya masih banyak quotes sih, tapi kalau saya bahas semua, nanti review ini malah jadi spoiler sepanjang novel (˶ˆᗜˆ˵)
🍜🍜🍜
Dari kelebihan dan kekurangan yang ada, saya beri 4,7/5⭐️ untuk novel ini.

Komentar
Posting Komentar