REVIEW: Janji - Tere Liye
✨️ Identitas Buku
Judul: Janji
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 488 halaman
Batasan usia: 15+
Blurb:
Kita semua adalah pengembara di dunia ini.
Ada yang kaya, pun ada yang miskin. Ada yang terkenal, ternama, berkuasa, juga ada yang bukan siapa-siapa. Ada yang seolah bisa membeli apa pun, melakukan apa pun yang dia mau, hebat sekali. Ada yang bahkan bingung besok harus makan apa.
Tapi sesungguhnya di manakah kebahagiaan itu hinggap?
Di manakah hakikat kehidupan itu tersembunyi?
Apakah seperti yang kita lihat dari luar saja?
Inilah kisah tentang janji.
Kita semua adalah pengembara di dunia ini.
Dari hari ke hari. Dari satu tempat ke tempat lain.
Dari satu kejadian ke kejadian lain. Terus mengembara.
Dan kita pasti akan menggenapkan janji yang satu ini: mati.
๐ป๐ป๐ป
✨️ Sinopsis
Buku Janji berkisah tentang tiga sekawan; Baso, Hasan, dan Kaharuddin yang menjelajah beberapa daerah untuk mencari seseorang bernama Bahar Safar. Tiga remaja berusia delapan belas tahun ini merupakan santri paling nakal di pesantrennya, sering membuat ulah sampai guru-gurunya mulai menyerah menghadapi mereka. Latar belakang keluarga mereka berbeda, tetapi mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama "dipaksa" masuk pondok. Mereka ingin sekali keluar dari pesantren sehingga sering berulah agar bisa dikeluarkan.
Suatu hari, mereka kembali berbuat kenakalan hingga membuat Buya (kyai mereka) marah dan memberikan hukuman. Namun, bukannya dikeluarkan, tiga sekawan justru diberikan misi untuk mencari Bahar, seorang mantan murid pesantren itu empat puluh tahun lalu.
Bahar—yang empat puluh tahun lalu seusia tiga sekawan—merupakan yatim piatu dan tinggal bersama dengan neneknya. Karena tidak tahan dengan kenakalannya, neneknya membawa Bahar ke sekolah agama yang cukup terkenal saat itu. Buya saat itu (ayah dari Buya tiga sekawan) adalah kyai masyhur. Bahar lebih nakal dari tiga sekawan. Berkelahi dengan penduduk, menyabung ayam, berjudi, bahkan mabuk-mabukan. Setahun Bahar di pesantren, guru-gurunya benar-benar menyerah dan tidak sanggup mendidiknya, meminta agar Bahar dikeluarkan. Namun, Buya saat itu pantang menyerah.
Hingga suatu hari, Bahar menyalakan meriam bambu dan memicu kebakaran pesantren hingga menimbulkan korban jiwa, yaitu seorang santri bernama Gumilang. Buya saat itu pun memilih membiarkan Bahar pergi. Ia juga sudah merasa gagal mendidik Bahar.
Setelah kejadian itu, Buya bermimpi aneh. Ia bermimpi berada di gurun pasir yang luas. Orang-orang berjalan dengan pakaian compang-camping, menginjak pasir yang luar biasa panas tanpa alas kaki. Ada pula yang terlihat membawa beban berat di pundak. Di tengah semua itu, sebuah kendaraan indah berlapis emas melintasinya. Betapa terkejutnya Buya melihat orang di atas kendaraan itu; Bahar.
Sejak itu, Buya terus mencari Bahar. Namun, tak pernah ia temukan. Sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, ia berpesan kepada anak laki-lakinya (Buya tiga sekawan) untuk mencari Bahar dan menanyakan tentang amalan apa yang ia lakukan hingga ia bisa menaiki kendaraan emas itu.
Itulah alasan mengapa tiga sekawan diberikan misi mencari Bahar. Sebab Buya mereka pun tak kunjung menemukan Bahar. Perjalanan tiga sekawan pun dimulai. Dan misteri tentang Bahar, terbuka satu per satu.
๐๐๐
✨️ Perasaan Saat dan Setelah Membaca
Sejak awal membaca, saya sudah dibuat penasaran oleh kisah Bahar. Saya jadi ikut bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Bahar setelah keluar dari pesantren? Mengapa Buya bisa bermimpi seperti itu? Mengapa Bahar bisa menaiki kendaraan emas? Bukankah dia adalah manusia yang penuh dengan dosa? Suka menyabung ayam, berjudi, dan mabuk-mabukan? Apa yang terjadi dengan hidupnya?
Membaca tiap bab, membuat saya ingin melanjutkan bacaan terus-menerus. Misteri tentang Bahar mulai terbuka satu per satu selama masa pencarian yang dilakukan oleh tiga sekawan. Awalnya hanya cerita biasa, tentang Bahar yang ternyata tetap mabuk-mabukan. Namun, ada hal yang berbeda darinya. Detail-detail kecil tentang perbuatan dan sikap Bahar yang diceritakan sedikit demi sedikit oleh Penulis melalui para tokohnya, membuat saya beberapa kali heran, bertanya-tanya, dan terkejut.
Semakin lama, semakin membingungkan. Bukan jalan ceritanya, melainkan hal-hal tentang Bahar. Menuju ke pertengahan buku, saya sebagai pembaca mulai menebak alasan di balik sikap Bahar yang tidak biasa. Bahkan sampai menjelang akhir, saya masih berpegang dengan alasan yang sama. Namun, di akhir cerita, saya cukup terkejut. Ternyata jawaban dari semua pertanyaan ada di akhir buku ini. Hal yang tidak pernah saya duga, tidak sedikit pun saya tebak. Plot twist yang sangat epic untuk mengakhiri kisah ini.
Tidak terhitung berapa kali saya menangis selama membaca novel ini. Berkali-kali. Kadang hanya sekadar tetesan air mata, kadang pula saya menangis sesenggukan sampai harus menjeda bacaan saya. Haru, sedih, sesak. Dari mana datangnya tangisan itu? Tentu saja dari kisah hidup Bahar yang menakjubkan.
Menurut saya, semua orang harus mengenal sosok Bahar Safar.
Meski cukup menguras emosi, pembaca tetap diberi 'jeda' untuk menenangkan hati, yaitu melalui tingkah laku tiga sekawan. Itulah yang saya rasakan melalui tokoh Hasan yang cerdas dan tenang, Kahar yang netral, dan Baso yang ... unik. Karakter Baso yang lucu apa adanya cukup menghidupkan suasana cerita. Mulutnya yang ceplas-ceplos dan sikapnya yang tidak tahu malu (lebih sering membuat Hasan dan Kahar malu), memberikan ruang santai sejenak. Beberapa kali saya refleks tertawa membaca ucapannya yang asal bunyi, atau sikapnya yang blak-blakan di mana pun berada.
Karakter-karakter lain pun tak kalah menarik. Orang-orang yang hidup di sekitar Bahar misalnya, banyak yang memberikan kesan cukup kuat untuk saya. Seperti Pak Asep, Muhib, dan Haryo.
Setelah membaca buku ini, saya banyak diam, banyak merenung, banyak berpikir; tentang kehidupan, tentang apa saja yang sudah saya lakukan di dunia, seberapa bermanfaat saya untuk orang lain, seberapa banyak amal yang akan saya bawa jika berpulang nanti. Buku ini juga menyadarkan saya, bahwa kita selalu bisa berubah, bisa bertobat, dan bisa memperbaiki hal-hal yang salah dalam hidup. Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Orang yang hari ini kita pandang rendah, penuh dosa, bisa saja adalah orang yang mulia di hadapan Allah. Buku ini benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap banyak hal dalam hidup. Bahkan bisa dibilang berhasil mengubah hidup saya.
๐๐๐
✨️ Penilaian Tentang Buku
Gaya penulisan novel ini menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Sesuai dengan rating usianya, buku ini sudah sangat cocok dibaca mulai usia remaja. Ada beberapa kata baru yang saya temukan selama membaca. Kadang saya jeda sejenak untuk mencari artinya di KBBI atau langsung mencari di Google. Ini tidak mengganggu, justru menambah perbendaharaan kata.
Buku ini ditulis dalam rangkaian bab dengan sub judul berbeda-beda. Latar waktu dari setiap kisah Bahar cukup jelas bagi saya, meskipun butuh fokus untuk memahaminya. Saya bisa menyimpulkan ada lima rentang waktu kehidupan Bahar, yaitu Bahar berusia 18 tahun saat keluar dari sekolah, Bahar 23 tahun saat bertemu Pak Asep dan Mas Puji, Bahar 28 tahun saat memulai kehidupan di Pertigaan Jalan Besar, Bahar 36 tahun ketika memulai kehidupannya di pertambangan, dan Bahar 44 tahun ketika ia menetap di sebuah kota megapolitan.
Hampir semua menjadi favorit saya karena masing-masing usia Bahar mewakili berbagai pembelajaran kehidupan. Namun, bagian yang membuat saya menangis begitu banyak untuk pertama kalinya adalah saat membaca kisah Bahar di Pertigaan Jalan Besar. Itu merupakan part yang sangat menyakitkan untuk diingat.
Menurut saya, Tere Liye berhasil—bahkan sangat berhasil menyampaikan pesan dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam buku ini, baik secara tersurat maupun tersirat, tanpa terkesan menggurui. Penulis juga berhasil membawa pembaca masuk ke dalam cerita, merasakan segala sesuatunya dengan hati dan perasaan yang mendalam. Buku ini sangat menyentuh. Masterpiece. Karakter Bahar benar-benar menginspirasi, saya belajar banyak hal melalui kisah hidupnya.
Keunikan dari buku ini yaitu cara Penulis menyampaikan kisah tokoh utama. Meski tokoh utamanya adalah Bahar, tetapi kisah hidup Bahar tidak diceritakan secara langsung, melainkan melalui perjalanan tiga sekawan dan diceritakan oleh para tokoh yang terlibat dalam hidup Bahar. Ini merupakan pendekatan yang berbeda dari biasanya. Tere Liye selalu memiliki keunikan dalam setiap karyanya.
Tidak ada gangguan selama membaca novel ini, gaya bahasa yang mudah dipahami, penulisan yang rapi, tanda baca yang sesuai, serta EYD yang tepat. Sepanjang 488 halaman, saya hanya menemukan satu kesalahan ketik, yaitu kata "pegi" yang harusnya "pergi" pada halaman 78. Human error yang wajar, dan tentu saja bukan hal yang mengganggu.
๐๐๐
Beberapa dialog atau quotes dari buku Janji yang berkesan bagi saya:
"Tidak semua di dunia ini dinilai menurut versimu." - Bahar, halaman 117.
"Ilmu itu gratis, Muhib. Pernah kau diminta bayaran oleh Tuhan saat kau belajar banyak hal dari memperhatikan sekitar? Pernah kau ditagih malaikat?" - Bahar, halaman 289.
"Lagi pula, Tuhan saja Maha Pemaaf, Bahar. Kenapa kau melangkahi Tuhan? Menghukum diri sendiri." - Etek, halaman 337.
"Kata orang bijak dulu, kau akan lebih menyesal bukan karena kau melakukan sesuatu dan ternyata itu gagal atau keliru. Kau akan lebih menyesal saat kau tidak pernah melakukan sesuatu." - Etek, halaman 337.
"Dan dunia ini memang hanya kampung dunia, sebelum kembali ke kampung akhirat." - Baso, halaman 360.
"Maksudku, lihatlah, bukankah dari sekian banyak masa lalu yang menyakitkan itu, Mas Bahar juga punya kenangan baik." - Haryo, halaman 417.
Kita selalu bisa memilih, bersabar atau marah. Bersyukur atau ingkar. Bahkan saat situasi itu memang menyakitkan, boleh jadi tetap ada kebaikan di sana. Dan orang-orang yang sabar dan bersyukur akan memilih mengingat hal-hal yang baik dibandingkan yang menyakitkan. - halaman 428-429.
Masih banyak sebenarnya, apalagi part akhirnya. Tapi biarlah itu jadi poin yang saya harap bisa menarik rasa penasaran agar orang mau membaca buku ini. Bagi yang belum baca buku ini, kalian harus baca. HARUS!
๐๐๐
Rating dari saya untuk buku ini adalah 5/5⭐️ alias sangat sangat recommended!
.jpg)
Komentar
Posting Komentar