REVIEW: Kim Jiyeong Lahir Tahun 1982

 


✨️ Identitas Buku:

Judul buku: Kim Jiyeong Lahir Tahun 1982 (Judul Korea: 82년생 김지영 / 82-nyeonsaeng Kim Ji-yeong)

Penulis: Cho Nam Joo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Penerbit Korea: Minumsa Publishing, Seoul)

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 192 halaman

Blurb:
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.

***

Novel Kim Jiyeong Lahir Tahun 1982 berisi tentang sistem patriarki, misoginis, ketidaksetaraan gender, serta diskriminasi dalam masyarakat. Berkisah tentang Kim Jiyeong, seorang wanita yang hidup dalam lingkungan patriarki yang kental. Mulai dari keluarganya sendiri, keluarga suaminya, orang-orang di sekolahnya, rekan-rekan kerjanya, bahkan orang asing yang ditemuinya. Ia tumbuh dengan didikan bahwa laki-laki harus diutamakan daripada perempuan, laki-laki harus diberi kesempatan yang lebih besar dan lebih banyak, laki-laki yang harus menjadi pemimpin segala hal. Pekerjaan rumah adalah tugas perempuan saja. Laki-laki tak boleh mengerjakan pekerjaan rumah.

Kim Jiyeong hidup dalam keluarga yang menganggap laki-laki adalah manusia paling berharga, paling spesial, dan menjadi anak atau cucu kesayangan. Sementara perempuan hanyalah pelengkap dalam keluarga.

Kim Jiyeong merupakan anak kedua. Kakaknya juga seorang perempuan. Bahkan sebelum Kim Jiyeong lahir, keluarganya sudah mengharapkan anak laki-laki. Kehadirannya terasa seperti sebuah kesalahan. Begitu adik laki-lakinya lahir, si bungsu itu seakan menjadi raja di rumah.

Saat Kim Jiyeong sekolah, ia sering kali menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolahnya. Ia juga kerap diabaikan guru ketika ia diganggu teman laki-lakinya. Aturan di sekolahnya sering menyudutkan perempuan, sementara laki-laki dibiarkan melanggar.

Kim Jiyeong juga sering disalahkan ayahnya saat ia diganggu seorang laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Ketika masih menjadi mahasiswi, Kim Jiyeong tidak pernah direkomendasikan dosen untuk bekerja magang di perusahaan ternama, hanya laki-laki yang direkomendasikan. Begitu juga saat Kim Jiyeong sudah bekerja, meskipun ia adalah karyawan teladan, ia tidak pernah mendapatkan promosi. Dan sebagai seorang istri dan ibu, ia harus melepaskan karier dan kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Jiyeong hidup dalam lingkungan yang benar-benar tidak mengizinkannya menjadi diri sendiri, justru ia kehilangan jati diri.

***

Sebagai orang yang menolak keras sistem patriarki, membaca buku ini membuat saya sakit hati berkali-kali. Masuk ke dalam dunia Kim Jiyeong sejak ia lahir sampai menikah dan punya anak, membuat saya semakin sadar bahwa lingkungan patriarki begitu mengerikan.

Meskipun novel ini berlatar Korea, kisahnya juga relevan dengan keadaan Indonesia. Di Indonesia, masih banyak pemikiran patriarki yang sulit dihilangkan. Sesederhana pekerjaan rumah tangga yang masih saja dianggap "hanya" tugas istri saja.

Saya ikut merasa sakit hati, sedih, dan tidak terima atas perlakuan yang didapatkan Kim Jiyeong selama hidupnya. Padahal perempuan juga bisa berkembang, perempuan juga punya cita-cita dan impian, perempuan berhak menentukan pilihannya, dan perempuan juga mampu menjadi pemimpin. Namun, ini semua tak berlaku dalam hidup Kim Jiyeong.

Banyak adegan yang membuat saya tidak habis pikir, di antaranya:

1. Adegan saat Kim Jiyeong lahir, ibunya menangis bukan karena terharu, tapi karena gagal lagi melahirkan anak laki-laki. Ibu Kim Jiyeong dituntut mertuanya untuk melahirkan anak laki-laki. 

Memangnya harus banget ya anak laki-laki? Dikira manusia ini bisa milih gender anaknya apa ya?

2. Adegan saat Kim Eunyeong (Kakak Kim Jiyeong) dan Kim Jiyeong disuruh mengerjakan ini itu di rumah, sementara adik laki-lakinya hanya bersantai ria. Eunyeong mengeluh dan sang ibu tetap membela si bungsu.

Padahal laki-laki juga kan harus dibiasakan melakukan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah bukan cuma tugas perempuan, tapi tugas bersama!

3. Adegan yang paling bikin saya tidak habis pikir adalah adegan saat Kim Jiyeong hampir jadi korban pelecehan seksual. Ayahnya bukannya khawatir, atau bukannya bersyukur anaknya selamat, dia malah menyalahkan Kim Jiyeong.

Ini sama kayak kasus kebanyakan. Bahkan belakangan ini masih sering terjadi. Perempuan jadi korban pelecehan seksual, tapi yang disalahkan justru korbannya. Perempuan selalu disuruh jaga diri, tapi sedikit sekali yang minta laki-laki jaga sikapnya ke perempuan. Sedih gak sih?

Dan masih banyak adegan dalam buku ini yang membuat saya ingin memaki orang-orang di sekitar Kim Jiyeong. Namun, sayangnya Kim Jiyeong tidak bisa bersuara. Ia menjalani hidupnya di jalan mengerikan ini. Dan inilah bagian yang paling bikin sedih.

Kim Jiyeong adalah perempuan hebat. Sangat hebat. Meskipun karakter ini adalah karakter fiksi, tapi Kim Jiyeong adalah interpretasi diri perempuan. Kim Jiyeong ada pada diri kita, para perempuan.

***

Beberapa hal yang saya sukai dari buku ini:

>> Premis ceritanya sangat menarik. Novel ini menyajikan kisah tentang perempuan yang mengalami tekanan akibat sebuah sistem atau stigma yang ada dalam masyarakat. Novel ini cukup singkat, tidak sampai 200 halaman, tetapi berhasil memberi kesan dan makna yang mendalam.

Novel ini dapat menyadarkan para pembaca, mungkin para wanita yang membaca novel ini dapat tersadar bahwa sistem yang berjalan di masyarakat, yang selama ini dianggap normal, ternyata hal yang salah. Begitu juga untuk para pria, novel ini dapat membuka pengetahuan bahwa banyak perempuan merasa keberatan dengan sistem tersebut. Melalui novel ini, pembaca bisa sama-sama belajar tentang sistem patriarki yang masih diterapkan.

>> Gaya penulisan yang sederhana mampu membawa pembaca masuk dengan sempurna ke dalam ceritanya. Saya seperti bisa merasakan apa yang dialami Kim Jiyeong; rasa marahnya, kesalnya, kecewa, sedih, dan segala perasaan negatif yang ia terima. 

>> Ending yang memberikan kesimpulan. Novel ini ditutup dengan ending yang unik. Saya tidak akan menceritakannya di sini karena akan menjadi spoiler. Hanya saja, secara tersirat, akhir dari novel ini menekankan bahwa dunia patriarki yang sudah tertanam sejak lama memang tak semudah itu dihilangkan.

Adapun hal yang kurang saya suka, penulisannya terlalu kaku. Novel ini dilengkapi dengan banyak footnote. Dalam beberapa hal memang bagus, tapi terlalu banyak jatuhnya malah kaku. Rasanya jadi seperti membaca buku biografi yang banyak jurnalnya. Ada juga beberapa dialog yang cenderung membosankan, padahal latarnya di kehidupan sehari-hari.

Apa mungkin karena novel terjemahan?
Entahlah.

Overall, novel ini saya kasih rating ⭐️8/10.
Bukan hanya perempuan, laki-laki juga harus baca sih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy