25 Februari Ke-28




Selamat mengulang 25 Februari ke-28, Nisa✨️

Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya menghirup udara sampai di usia ini. Entah sampai kapan saya bisa melewati 25 Februari, saya harap, tentunya bisa hidup lebih lama dan memperbaiki diri lebih sering.

Seperti biasa, tiap ulang tahun, saya suka sekali melihat setahun ke belakang. Apa saja yang saya alami, pembelajaran apa yang saya ambil, dan bagaimana cara saya bertahan dengan segala kejadian mengejutkan dalam hidup ini.

Bisa dibilang usia 27 adalah salah satu usia saya yang paling berkesan. Di usia ini, banyak momen baru yang saya alami, banyak sekali perubahan dalam hidup. Perubahan yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagi diri saya sendiri ini sangat luar biasa. Usia ini cukup memberikan saya pelajaran berharga.

🎀🎀🎀

Di usia 27, tepatnya 5 Juni 2025, saya menerima Surat Keputusan (SK) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Formasi Tahun 2024. Alhamdulillah, homebase. Meskipun saya harus pindah dari sekolah tempat saya mengabdi sebelumnya, SK itu menempatkan saya di sekolah baru yang dekat dari rumah, bahkan saya adalah alumni sekolah tersebut. Bersyukur sekali karena saya tidak perlu tinggal berpisah dengan Mama. Namun, tentunya saya sadar akan menghadapi tantangan lain ke depannya.



Saya orang yang cenderung enggan mengenal orang baru dan enggan pula beradaptasi dengan tempat baru. Sebisa mungkin saya menghindari hal ini. Namun, tuntutan hidup mengharuskan saya bergerak di luar zona nyaman. Memberi saya kesadaran akan fakta bahwa di usia dewasa, kita memang harus menghadapi hal-hal di luar prediksi, bahkan sekalipun itu adalah hal yang selama ini kita hindari.

Saya harus pindah tempat kerja sesuai SK, meninggalkan tempat kerja lama yang sudah membuat saya begitu aman dan nyaman. Mau tidak mau saya harus masuk ke lingkungan baru, berbaur dengan orang-orang baru. Bahkan harus beradaptasi dengan karakter siswa-siswi yang baru pula. Ini benar-benar tantangan besar untuk saya yang terbiasa terkurung dalam satu tempat.

Awalnya sulit, bahkan saya sempat merasa stres selama masa-masa adaptasi. Rasanya energi saya terkuras begitu banyak. Namun, seiring berjalannya waktu, saya perlahan mulai menemukan kenyamanan. Meski belum sepenuhnya. Sekarang pun saya belum genap setahun bekerja di sekolah baru. Masih banyak hal yang harus saya pelajari.

~~~

Di usia 27, masih di bulan Juni 2025, saya secara resmi menjadi crew di sebuah komunitas menulis. Namanya Snooze Projects. Komunitas ini didirikan oleh adik, teman, sahabat, ah pokoknya banyak sebutan untuknya. Namanya Ida Royani. Ini adalah komunitas nulis bareng (nubar) yang menghasilkan buku antologi di akhir project. Terbuka untuk siapa pun yang mau belajar menulis. Di komunitas ini, saya menjadi Kru Redaksi, alias yang mengurus naskah-naskah peserta. Untuk mengenal lebih jauh, kalian bisa mampir ke instagram @snooze.projects ✨️

~~~

Di usia 27, usia yang tentunya sudah matang untuk menikah—bahkan dianggap sudah terlambat untuk perempuan—saya malah harus berpisah dengan laki-laki yang saya pikir akan menjalani kehidupan ini bersama saya. Perpisahan tiba-tiba yang tidak pernah saya prediksi. Di saat yang sama, saya sedang menjalani masa Latsar CPNS. Kondisi ini memaksa saya untuk tetap waras di tengah kesedihan yang terus menghantui saya setiap harinya. Air mata—entah karena sakit hati atau karena lelah dengan Latsar—menghiasi hari-hari saya di paruh kedua 2025.

Sekarang saya sudah baik-baik saja tentunya. Alhamdulillah. Meski ada beberapa hal yang masih terasa janggal, saya mencoba melepaskan semuanya. Mengikhlaskan. Bukan demi si(apa), tapi demi diri saya sendiri dan demi hal-hal yang sedang saya perjuangkan.

~~~

Di usia 27, saya pertama kali mengunjungi Sulawesi Utara, tepatnya di Kota Manado. Meskipun tak sampai seminggu, tapi ini pengalaman pertama menginjakkan kaki di provinsi ini. Saya mengikuti Latsar CPNS tahap Klasikal di Manado. Setelah sebelumnya mengikuti beberapa tahap secara online selama kurang lebih tiga bulan, dengan jadwal zoom dan tugas yang begitu banyak. Tapi alhamdulillah bisa terlewati.





Di Manado, saya dan teman-teman seangkatan tinggal di Balai Diklat Keagamaan, tempatnya nyaman dan urusan perut sangat terjamin. Di sana kami mengikuti Seminar Aktualisasi, menguji laporan aktualisasi yang sudah kami buat sebelumnya. Saya mengambil judul aktualisasi "Peningkatan Literasi Digital Siswa Melalui Pemanfaatan Media Pembelajaran Quizizz di MAN 2 Parigi".

Lega sekali rasanya ketika selesai seminar, seakan beban yang selama ini tinggal di pundak, meluruh begitu saja. Selain itu, saya mendapatkan banyak teman baru di sini. Walaupun harus berpisah setelah kegiatan selesai. Ini benar-benar pengalaman yang tidak akan saya lupakan.

~~~

Di usia 27, saya didapuk sebagai Pembina Pramuka di sekolah. Sebuah amanah sekaligus pengalaman baru untuk saya. Sejak dulu, saya sudah akrab dengan dunia kepramukaan. Saya mengikuti pramuka sejak Siaga, sampai berhasil menjadi Penegak Laksana. Namun, sejak lulus dari masa putih abu-abu, saya tidak lagi menekuni dunia ini. Ketika tiba-tiba dijadikan pembina, rasanya campur aduk. Ada rasa rindu, tapi asing. Bingung mendeskripsikan. Dulu saya terbiasa dibina, sekarang harus membina. Saya sadar pengetahuan dan kemampuan saya juga masih jauh dari kata cukup. Saya akan terus belajar dan berusaha memberikan yang terbaik.


~~~

Di usia 27, di dunia kerja yang begitu baru, saya tentunya belajar banyak hal baru pula. Belajar menghadapi siswa yang berubah tingkatan. Dulu saya mengajar tingkat MTs, sekarang tingkat MA. Cara menghadapinya tentu berbeda. Saya belajar berinteraksi dengan rekan kerja yang berbeda; berbeda orangnya, karakternya, cara kerjanya, dll. Saya menemui berbagai macam manusia dengan isi kepala yang tentunya berbeda juga. Saya kembali mempelajari Mata Pelajaran Sejarah, mata pelajaran yang sudah saya lupakan karena sebelumnya saya mengajar IPS Terpadu di MTs.

Banyak sekali adaptasi yang saya hadapi. Namun, saya harus beradaptasi di tengah kegiatan latsar, patah hati yang menyiksa, dan tumpukan pekerjaan tanpa jeda. Saya seperti tidak diizinkan bernapas dengan tenang. Ya, tapi itulah hidup. Waktu tidak menunggu saya siap, tapi saya yakin Allah memberikan segala rezeki ini karena tahu saya bisa. Keadaan ini cukup memaksa saya menjadi diri saya yang lain, dan ini akan terus saya jalani.

Pindahnya saya ke sekolah baru sesuai SK, tentunya saya juga menghadapi perpisahan dengan rekan kerja lama. Rekan kerja yang sudah saya anggap seperti ayah, ibu, kakak, sahabat. Saya anggap keluarga. Selama tiga tahun bekerja bersama, saya cukup nyaman. Kenyamanan inilah yang lumayan memberatkan hati saya ketika itu. Lagi-lagi tetap harus dihadapi. Di luar sana, banyak teman-teman saya yang bahkan harus pindah jauh ke kampung orang. Apa yang saya dapatkan adalah salah satu keberuntungan. Di sela-sela kesibukan baru, saya akan tetap berusaha menjaga hubungan silaturahmi dengan rekan kerja lama.

~~~

Di usia 27, saya tetap menulis. Salah satu kegiatan life after breakup yang sangat positif untuk dilakukan adalah menghasilkan karya. Saya menulis tiga karya yang dimuat dalam tiga buku antologi. Tentu saja masih bersama Snooze Projects. Buku-buku tersebut berjudul Satu Langkah Sejuta Harapan, Jika Waktu Bisa Diputar Kembali, serta buku kolaborasi antara Snooze dan MAN 2 Parigi berjudul Aku dan Masa Depan. Sekarang pun sedang dalam proses karya antologi pertama saya di 2026, bergenre fiksi dengan judul Pulang

Menulis masih menjadi cara favorit saya untuk mendapatkan ketenangan, termasuk dalam masa-masa sulit. Menulis seperti obat yang ampuh meredakan berbagai macam perasaan yang berkecamuk. Menulis adalah sebuah kedamaian.

Selain menulis, saya juga mulai aktif lagi membaca buku. Terlebih lagi sekarang saya punya channel berbagi cerita tentang buku. Saluran Whatsapp bernama Booksplore ini juga dibuat oleh teman saya, Ida. Sekarang adminnya ada lima orang termasuk saya dan Ida. Seru sekali membaca sambil berbagi banyak hal tentang buku. Saya jadi makin rajin baca semenjak ada channel ini.

~~~

Di usia 27, saya masih menikmati berbagai macam tontonan. Sepanjang tahun 2025, saya menamatkan sekitar tiga puluh judul Drama Korea, tiga judul Film Korea, dan satu judul series Jepang dengan total tiga season. Saya juga menonton beberapa Film Indonesia. Selain itu, beberapa anime pun tak ketinggalan masuk dalam list tontonan. Saya masih menikmati hidup saya dengan hiburan menyenangkan ini. Menurut saya, kita bisa belajar dari mana saja. Termasuk dari sebuah karya seni dalam bentuk film atau serial drama. 

~~~

Di usia 27, saya akhirnya menyaksikan pernikahan sahabat saya. Salah satu dari February Girls akhirnya menikah. Yuni, sahabat saya sejak masa putih abu-abu, telah mengakhiri masa lajangnya. Kini ia resmi menjadi seorang istri. Rasanya terharu sekaligus ikut bahagia atas kebahagiaannya. Saya akan selalu mendoakan hal-hal baik untuk pernikahannya.


Ya, setidaknya, ada kisah percintaan yang happy ending di antara pertemanan ini.

🎀🎀🎀

Cukup banyak hal yang terjadi di usia 27 dan saya sangat bangga terhadap diri saya sendiri atas segala pencapaian positif maupun tetesan air mata yang berhasil saya lalui dalam perjalanan ini. Sungguh, saya bersyukur atas segala nikmat, Allah begitu baik.

Alhamdulillah di usia ke-28, saya masih bersama keluarga lengkap. Saya masih bersama Mama yang sehat dan bisa melewati Ramadhan bersama. Walaupun yang lain sedang jauh, mereka tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Hal pertama yang akan selalu saya syukuri adalah melewati setiap hari spesial bersama keluarga, orang-orang yang paling saya cintai nomor satu❤️

Alhamdulillah di usia ke-28, saya masih merayakan bersama sahabat saya, Kak Suad dan Yuni. February Girls. Tahun ini kami masih diizinkan untuk merayakan 7, 19, dan 25 Februari bersama. Semoga rutinitas tahunan ini terjaga sampai kami punya anak cucu nanti ya. Aamiin.

Terima kasih tetap bertahan dalam pertemanan menyenangkan ini. Terima kasih karena selalu jadi pendukung nomor satu untuk hal-hal yang saya lakukan. Kehadiran kalian adalah salah satu hal yang paling saya syukuri di dunia ini💕




Kuenya takjil, spesial Ramadhan katanya, haha. Kelakuannya memang selalu di luar nalar.

~~~

Alhamdulillah di usia ke-28, pertemanan saya dengan salah satu adik saya, Widya, masih terjaga dengan baik. Dipertemukan di satu tempat kerja yang sama, lalu berpisah, tidak membuat hubungan kami ikut terpisah. Belakangan ini kami memang jarang bertemu. Namun, sekalinya ketemu, tidak ada yang berubah. Hangatnya masih sama. Kami pun tetap punya sejuta topik obrolan yang tak akan habis dibahas.






Terima kasih karena tetap ada di hari-hari spesialku ya, Wid. Jaga pertemanan ini dalam waktu yang lama🫶🏻

~~~

Alhamdulillah saya masih bersama teman-teman Army With Luv yang tak bisa saya sebutkan satu per satu, teman-teman Shining Carat, teman-teman Kdramalovers, dan teman-teman real life yang masih menyempatkan mengirim doa untuk saya, baik yang diutarakan maupun tidak.

Special thanks untuk sahabat saya yang jauh di sana, Ida Royani. Salah satu alasan life after breakup yang saya jalani tidak terasa begitu berat adalah karena keberadaan Snooze Projects dan Booksplore. Saya jadi punya kegiatan positif yang bisa saya lakukan di sela-sela air mata yang jatuh. Saya jadi punya zona nyaman baru.

🎀🎀🎀

Terima kasih untuk orang-orang baik yang selalu mengirim maupun mengaminkan doa-doa dan harapan-harapan untuk saya. Semoga hal-hal baik kembali ke kalian.

Terima kasih pula jika ada yang membaca blog ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca hal-hal random yang saya tulis sebagai pengingat saya di tahun-tahun yang akan datang.

Semoga saya bisa menulis lagi tahun depan. Aamiin.

Sehat selalu ya, teman-teman. 
See you...



Salam cinta, 
Nisa🌷

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy