REVIEW: Matahari - Tere Liye [Bumi Series 3]

 


Identitas Buku:

Judul buku: Matahari

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2016

Tebal: 400 halaman

Blurb:

Namanya Ali, 15 tahun, kelas sepuluh. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.

Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.

Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.

Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.

☀️☀️☀️

Buku ini merupakan buku ketiga dari serial Bumi. Masih bercerita tentang petualangan tiga sekawan; Raib, Seli, dan Ali. Di buku ini, mereka sudah berusia 16 tahun, siswa kelas XI. Buku Matahari berkisah tentang Raib, Seli, dan Ali yang mengunjungi Klan Bintang. Cerita di buku ini agak berbeda dengan buku sebelumnya—Bumi dan Bulan. Jika di buku sebelumnya Raib dkk mendatangi dunia paralel karena memiliki misi, tidak dengan kisah di buku Matahari, mereka hanya ingin bertualang. Namun, tanpa disangka, petualangan ini justru membuka fakta mengejutkan.

Setelah mereka kembali dari Klan Matahari (kisah di buku Bulan), tiga sekawan ini kembali ke Klan Bumi dan melanjutkan kehidupan seperti biasa. Meskipun ada kesedihan terkait hal yang mereka alami di Klan Matahari, mereka harus tetap melanjutkan sekolah dan pura-pura tidak terjadi apa pun.

Petualangan tiga sekawan ini berawal dari rasa penasaran Ali terhadap Klan Bintang—satu-satunya dunia paralel yang belum pernah mereka datangi—yang membuat Ali mulai melakukan penelitian tentang klan tersebut. Ia meneliti melalui buku-buku dari Av (baca di buku Bulan). Av memberikan sesuatu kepada Ali, seperti hardisk yang ternyata berisi soft copy dari seluruh buku Perpustakaan Sentral Klan Bulan. Dari buku-buku itulah Ali dengan kejeniusannya bisa menyimpulkan keberadaan Klan Bintang yang tidak diketahui oleh orang lain. Ali pun membujuk Raib dan Seli untuk mengunjungi Klan Bintang menggunakan Buku Kehidupan milik Raib. Namun, karena Raib terus menolak, Ali akhirnya menciptakan sebuah kapsul terbang. Ia menggabungkan teknologi Klan Bulan dan Klan Matahari. Ilmu-ilmu itu tentunya juga berasal dari buku-buku yang ia dapat dari Av. Ia pun kembali membujuk Raib dan Seli agar mau pergi ke Klan Bintang menggunakan kapsulnya sebagai transportasi, bahkan sedikit 'mengancam', jika Raib dan Seli tidak mau pergi, ia akan tetap pergi.

Terlalu sering mendengar ocehan Ali tentang keberadaan Klan Bintang, Raib dan Seli mulai penasaran, hingga akhirnya bersedia ikut. Petualangan mereka di Klan Bintang pun dimulai. Namun, niat hati hanya ingin bertualang, tiga sekawan itu mendapati diri mereka terjebak dalam suatu masalah besar, bahkan mengetahui sebuah fakta mengejutkan yang berpengaruh terhadap seluruh klan.

☀️☀️☀️

Kelebihan:

Unik. Ya, Tere Liye dan keunikannya selalu menakjubkan. Aku baru menyadari ada yang unik dari tiga buku pertama serial Bumi, yaitu latar tempat. Buku Bumi berlatar di Klan Bulan, buku Bulan berlatar di Klan Matahari, dan buku Matahari berlatar di Klan Bintang. Judul dan latarnya berbeda. Lebih tepatnya, latar yang diambil pada satu buku, sama dengan judul buku selanjutnya. Alih-alih menganggap ini keanehan, aku justru menganggapnya unik. Seperti biasa, Tere Liye selalu menyajikan hal-hal yang tidak biasa pada karya-karyanya.

Pada buku Matahari juga muncul karakter-karakter baru, masih dengan nama yang unik. Masing-masing klan memiliki ciri khas dalam hal nama. Nama-nama penghuni Klan Bintang antara lain Faar, Laar, Kaar, dan Meer.

Dari segi alur, Tere Liye mempertahankan konsistensi alur yang membuat pembaca penasaran sehingga ingin terus-terusan membaca. Pengembangan karakter pada tokoh-tokoh utamanya juga bisa terlihat, mulai dari sikap sampai kekuatan yang mereka miliki, tetapi tetap mempertahankan ciri khas dari masing-masing karakter. Hal ini tentunya memudahkan pembaca dalam memahami para karakter utama.

Deskripsi tempat pun tetap bisa dibayangkan, walaupun tidak seluas imajinasi saat membaca buku Bumi dan Bulan.

Kekurangan:

Deskripsi karakter tidak sedetail buku-buku sebelumnya, padahal banyak tokoh-tokoh baru pada buku ini, yaitu para penghuni Klan Bintang. Mungkin karena ini masih awal mula tentang Klan Bintang? Entahlah. Aku harap aku akan menemukan detail karakter penghuni Klan Bintang di buku selanjutnya.

☀️☀️☀️

Di balik kelebihan dan kekurangannya, ada beberapa kalimat yang aku suka di buku ini, antara lain:

"Jika kehidupan menjadi sangat mudah dengan pengetahuan, lantas di mana seninya?" - Raib, hlm 256.

Raib mengatakan kalimat ini ketika menyaksikan kehidupan di Klan Bintang yang sudah sangat maju. Manusia tidak perlu melakukan banyak hal karena semuanya sudah diatur oleh teknologi. Raib dkk bahkan lebih menyukai Klan Bumi karena merasa Klan Bintang sudah berada pada tingkat yang berbeda.

"Akan selalu ada jalan keluar sepanjang kita terus berpikir positif." - Ali, hlm 338.

Walaupun kadang tengil, tapi Ali bisa serius juga loh. Sekalinya serius, kalimat yang dia ucapkan banyak benarnya.

"Kenapa bentukku seperti buku? Karena itu simbol pengetahuan dan keabadian. Sesuatu akan bertahan lebih lama saat diwariskan lewat buku, dituliskan." - Buku Kehidupan, hlm 357.

Buku Kehidupan milik Raib yang bisa bicara ini mengatakan hal yang sangat benar! Buku adalah simbol pengetahuan dan keabadian.

"Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi. Kita selalu bisa mengubah jalan cerita dengan ketulusan.” - Faar, halaman 389.

Aku juga suka sekali bagaimana Faar menenangkan tiga sekawan saat terjadi masalah. Benar sekali yang ia katakan. Kita tidak boleh terlalu mencemaskan sesuatu yang belum terjadi.

Bonus:

"Aku tidak bisa membayangkan jika kamu kenapa-napa. Aku terus berpikir positif, bilang berkali-kali, Raib akan siuman, Raib akan baik-baik saja. Tidak terbayangkan betapa senangnya aku saat tahu kamu siuman beberapa menit lalu." - Ali, hlm 338.

Bisa aja sih Ali🤭

☀️☀️☀️

Overall, buku ini kuberi rating 8/10⭐️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy