REVIEW: Islammu adalah Maharku
Identitas Buku:
Judul Buku : Islammu adalah Maharku
Penulis : Ario Muhammad, PhD
Penerbit : NEA Publishing
Tahun terbit : 2015
Tebal : 326 halaman
Blurb:
Apa jadinya jika cinta harus dibenturkan dengan iman di dada? Saat pesona sang lelaki pujaan menderu hebat di dada seorang wanita, sedangkan dia tak pernah meyakini bahwa Tuhan benar-benar ada.
Bagaimana perjuangan menemukan Tuhan atas nama cinta? Saat syarat untuk bersama dengan wanita yang dicintainya adalah lewat meyakini Tuhannya.
Novel ini mengursai kisah perjuangan seorang pemuda Taiwan bernama Prof. Chen. Lelaki yang belum genap 30 tahun ini adalah seorang profesor muda di National Taiwan University of Science and Technology. Dikenal jenius, terbukti dengan gelar Doktor-nya di usia yang sangat muda dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika. Ketampanannya menjadi buah bibir para mahasiswi. Namun, ia yakin: tanpa Tuhan pun hidupnya baik-baik saja.
Lalu hadirlah Syakila, seorang muslimah asal Indonesia. Perempuan cerdas keturunan ningrat yang menjadi mahasiswa S2 bimbingannya di National Taiwan University of Science and Technology. Perangainya yang santun, akhlaknya yang indah dan kecantikannya yang memikat membuat Prof. Chen bertekuk lutut.
Pertemuan mereka yang dimulai dari proses pembimbingan ini ternyata melahirkan perasaan yang tak biasa. Prof. Chen tertawan dengan kebaikan Syakila. Mencintai kopi Indonesia buatannya setiap pagi, juga merindukan senyum Syakila saat kesepian melanda.
Tak jauh beda dengan Prof. Chen, Syakila pun merasakan hal yang sama. Pesona seorang Prof. Chen merontokkan imannya. Ia terpedaya dengan kecerdasan dan ketampanannya.
Namun, masalah utama sedang menghadang penyatuan cinta kedua insan ini, yaitu IMAN. Bagi Syakila, mempercayai Allah sebagai Tuhan Semesta Alam adalah syarat mutlak untuk memilikinya. Sayang, bagi Prof. Chen: Tuhan bukanlah zat terpenting dalam hidupnya.
Bagaimana perjalanan cinta kedua insan ini? Apakah Syakila rela mempertaruhkan imannya untuk seorang lelaki yang tak percaya dengan Tuhannya?
Atau, mungkinkah Prof. Chen mengubur egonya dan mencari keberadaan Tuhan yang tak pernah hadir dalam hidupnya?
Dengan latar belakang negeri Formosa (Taiwan) yang indah, kisah ini terangkum dalam NOVEL ISLAMMU ADALAH MAHARKU.
***
Sesuai blurb di atas, novel ini berkisah tentang dua insan yang sangat berbeda. Syakila dan Prof. Chen. Syakila, seorang muslimah cantik dan cerdas yang lahir dari keluarga muslim yang cukup taat. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, lahir dari seorang ibu yang merupakan keturunan ningrat Yogyakarta. Ibunya meraih gelar Master first class jurusan Psikologi dari Groningen University, Belanda. Namun, ibunya memilih meninggalkan karirnya dan menjadi ibu rumah tangga ketika Syakila berusia enam tahun. Sementara ayah Syakila pun bukan orang sembarangan. Sang ayah telah menyelesaikan post-doctoral-nya di Belanda.
Syakila bermimpi melanjutkan S2 di luar negeri, tepatnya di Delft University of Technology, Belanda. Selain ingin mengikuti jejak orang tuanya yang menyelesaikan studi di negeri kincir angin tersebut, Syakila juga sangat menyukai negara-negara Eropa, khususnya Belanda. Namun, takdir justru membawanya untuk kuliah S2 di Taiwan, negara yang sama sekali tak masuk dalam daftar negara impiannya.
Di Taiwan, Syakila bertemu seorang profesor yang akhirnya menjadi pembimbingnya, yaitu Prof. Chen. Prof. Chen merupakan seorang dosen muda yang masih berusia dua puluh tujuh tahun. Kecerdasan dan kerja kerasnya yang luar biasa berhasil membawanya pada kesuksesan. Ia menyelesaikan S2 dan S3-nya di Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat hanya dalam waktu lima tahun. Namun, ia hidup tanpa keyakinan. Prof. Chen merupakan seorang agnostik yang tidak mempercayai agama mana pun.
Pertemuan Syakila dan Prof. Chen sebagai mahasiswi dan dosen pembimbing inilah yang memulai kisah mereka. Pertama kalinya Prof. Chen mengenal dekat seorang muslimah. Banyak hal-hal yang membuatnya penasaran melihat Syakila, mulai dari penampilannya yang berhijab, hingga sholat lima waktu yang tak pernah ketinggalan Syakila lakukan meski mereka dalam rapat penting sekali pun. Pertemuan rutin dan kedekatan yang mulai terjalin berhasil menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya.
Permasalahannya adalah ... bagaimana dengan keyakinan mereka masing-masing?
***
- Kelebihan
Terdiri dari dua puluh chapter, novel ini fokus membahas tentang cinta dan keyakinan, tentang pencarian jati diri, serta tentang keberanian dalam mengambil keputusan besar dalam hidup. Gaya kepenulisan dalam buku ini cukup mudah untuk dipahami, tidak menggunakan kalimat berbelit-belit atau diksi yang sulit. Ada beberapa percakapan-percakapan bahasa Inggris, tetapi bisa dipahami dengan mudah karena dilengkapi catatan kaki. Selain kalimat bahasa Inggris, catatan kaki juga memberikan keterangan tentang istilah-istilah asing atau kepanjangan dari sebuah singkatan. Hal ini tentunya sangat mempermudah pembaca.
Novel ini sangat cocok untuk orang yang menyukai bacaan ringan. Cocok juga untuk pencinta genre romantis dan islami. Ceritanya yang ringan membuat pembaca tidak perlu berpikir keras tentang alurnya, sehingga bisa dijadikan hiburan atau sekadar mengisi waktu luang. Novel ini menggunakan alur maju dengan point of view (POV) satu, atau yang biasa disebut sudut pandang orang pertama. Sudut pandang orang pertama adalah penceritaan menggunakan kata "aku" atau "saya". Artinya, pembaca dibawa masuk ke dalam perspektif tokoh utamanya. Namun, uniknya, novel ini menggunakan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang dari kedua pemeran utamanya, Syakila dan Prof. Chen. Meski begitu, hal ini tidak akan membingungkan pembaca karena POV Syakila dan POV Prof. Chen ditandai pada tiap awal chapter. Jadi, pembaca bisa mengetahui perasaan dan sudut pandang masing-masing tokoh.
Selain itu, sesuai judulnya yang menyebut Islam, novel ini juga dihiasi dengan ajaran agama di dalamnya. Ada beberapa kutipan ayat Al-Qur'an, pembahasan tentang kewajiban sholat dan kewajiban berhijab bagi wanita, serta penggambaran Syakila sebagai wanita muslimah yang bisa dijadikan contoh. Syakila digambarkan berhijab, tidak pernah meninggalkan sholatnya, menjaga pandangannya, selalu mengutamakan berzikir dan beristighfar. Ia juga bisa menghadapi segala sesuatu dengan tenang, termasuk saat Prof. Chen berdebat masalah agama dengannya.
- Kekurangan
Tidak ada hal sempurna di dunia ini, begitu pula dengan suatu karya sastra. Hal pertama yang akan aku kritisi di sini adalah typo atau salah ketik. Sepanjang membaca dua puluh chapter, aku menemukan hampir sepuluh typo. Mungkin bagi beberapa orang, ini tidak mengganggu, tetapi untukku ini cukup menyebalkan. Selain typo, penggambaran karakter juga masih kurang, entah dari fisik maupun sifat. Aku sebagai pembaca sama sekali tak bisa membayangkan visual Syakila seperti apa. Pada halaman empat puluh dua, dikatakan ia berkulit putih. Namun, di halaman tujuh puluh, tiba-tiba ia berkulit kuning langsat. Begitu pula dengan visual Prof. Chen tidak digambarkan secara detail. Hanya saja, ada di satu halaman POV Syakila menyatakan bahwa wajah Prof. Chen mirip aktor Korea yaitu Rain. Di sinilah aku bisa membayangkan visualnya.
Hal yang sama juga terjadi dengan penggambaran karakternya. Penggambaran POV Syakila dan POV Prof. Chen terlihat mirip sehingga karakter mereka pun tidak terlalu kuat digambarkan di sini.
Ada pula kesalahan penggunaan huruf kapital, ada dua kali kutemukan. Kata "dia" di tengah kalimat ditulis "Dia" seperti penulisan untuk Tuhan, padahal yang dimaksud adalah manusia. Ada pula satu kali kesalahan penulisan latar waktu, yang seharusnya latar waktu 2014, tetapi ditulis 2013.
Novel yang kumiliki adalah cetakan pertama, yaitu 2015. Mudah-mudahan di cetakan-cetakan lain, kesalahan-kesalahan ini dikurangi.
***
Ada beberapa quotes menarik dari novel ini, tapi yang paling membekas yaitu:
"Dunia ini memang penuh kejutan. Dan pemberi kejutan paling indah tentu saja hanya Allah, Tuhan semesta Alam." (Hlm. 1)
"Islam mengajarkanku tentang kesejatian cinta, bukan hasrat palsu dan nafsu belaka." (Hlm. 185)
***
Overall, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel ini aku kasih nilai tujuh dari sepuluh.

Komentar
Posting Komentar