CERPEN: Ara-Della

pinterest


Terbit di Wattpad Penerbit Haru 2018


Aku merebahkan tubuh di atas kasur tipis tepat di sudut kamar kontrakanku. Kubuka kerudung biru muda yang sudah melingkar di kepalaku seharian ini. Lelah sekali rasanya. Sudah beberapa hari ini aku sibuk sebagai panitia pemilihan umum ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus, tepatnya di fakultasku sendiri. Kulirik arloji merah jambu yang masih melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul 20:15 WITA. Ah, aku benar-benar menghabiskan sebagian besar waktuku di kampus.

"Ara, udah makan?" tanya Kak Ari yang kini berdiri dekat pintu kamarku.

"Belum, Kak," jawabku singkat.

"Ya udah, mandi sana, terus makan,” titah cowok jangkung itu. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.

Rasanya aku ingin segera tidur, tapi bau badanku yang seharian berkeringat memang perlu disterilkan. Aku bukan tipe gadis yang malas mandi, kecuali dalam keadaan lelah seperti ini. Tambahan pengecualian juga; saat libur. Entah kenapa saat hari libur hasrat untuk mandi itu berkurang dua kali lipat. Oke, itu tidak penting. Sebaiknya tidak perlu membahas tentang mandi. Tanpa mengulur waktu lagi, aku segera beringsut keluar dari zona nyaman kasur. Lalu bergegas mandi, salat, dan makan malam.

Setelah semua aktivitas selesai, aku kembali merebahkan tubuhku ke tempat ternyaman, kasur kesayangan. Kuambil ponsel dan kunyalakan data seluler untuk sekadar mengecek chat yang mungkin masuk.

"Aduh!" seruku tiba-tiba. Aku lupa bahwa paket internetku telah habis sejak kemarin.

Aku segera bangkit, lalu menuju kamar Kak Ari yang berada tepat di sebelah kamarku. Aku membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Kulihat dia sedang duduk sambil memainkan ponsel.

"Kenapa?" tanyanya menatap ke arahku yang tengah bersandar di pintu kamar.

"Tethering dong, Kak," pintaku sambil nyengir.

"Ah, nggak modal kamu," ledeknya dengan tawa kecil.

"Ayolah, Kak Ari. Lihat chat doang. Nanti aku beli paket deh. Tapi nanti awal bulan, pas dapat kiriman uang," ujarku dengan wajah memelas. Wajar saja, tinggal merantau jauh dari orang tua membuatku harus bisa berhemat. Keluargaku bukan orang kaya seperti keluarga para mahasiswa kedokteran di kampusku. Aku hanyalah mahasiswa keguruan dari keluarga sederhana.

"Ya udah, iya. Nih udah aku nyalain,” ujar Kak Ari akhirnya. Senyum di wajahku merekah seketika.

"Oke. Makasih, Kak," ucapku girang seraya menutup pintu kamarnya dan langsung kembali ke kamarku.

Semua akun kubuka, mulai dari Facebook, Whatsapp, sampai Instagram. Sehari tidak dibuka, notifikasi di semua akunku membeludak. Tetapi, ada yang menarik perhatianku saat aku membuka Instagram. Mataku terbelalak saat melihat salah satu postingan sahabat dekatku saat SMA. Bahkan dia sudah seperti saudaraku sendiri. Gadis hitam manis bernama Della itu memposting foto dirinya dan teman-teman kampusnya dengan caption Thank you so much. Aku terharu sama surprise-nya. Love you guys.”

Dengan pikiran yang masih terkejut, aku mengembalikan tampilan ponselku ke layar awal. Kemudian melihat tanggal yang tertera di layar ponsel. "Astaga! Kemarin!" pekikku, spontan menepuk jidat.

Ya. Kemarin adalah hari ulang tahun Della yang ke-19 dan hal terburuknya adalah ... aku lupa. Saking sibuknya dengan kegiatan kampus, ditambah lagi tidak ada paket internet membuatku benar-benar lupa. Aku jadi merasa bersalah. Bulan kemarin aku ulang tahun dan Della memberikan kejutan yang sangat manis untukku. Ah, aku benar-benar bodoh!

Aku berpikir untuk pergi ke indekosnya sekarang juga, tapi aku mengurungkan niat setelah kutatap lagi waktu di ponselku. Sudah pukul 22:23 WITA. Mungkin ini belum tengah malam bagi sebagian orang, tapi bagiku, keluar jam segini merupakan hal terlarang. Selain karena takut dengan begal yang merajalela, tentu saja Kak Ari tidak akan mengizinkanku.

Aku pun memutuskan untuk menghubunginya lewat Whatsapp. Namun, percuma, dia tidak aktif. Di media sosial lain juga sama. Aku pun menelepon langsung ke nomornya dengan sisa pulsa yang kumiliki.

Tiga kali. Tidak dijawab sama sekali. Pilihan terakhir adalah mengirimkan pesan melalui SMS. Mungkin saja Della sedang kehabisan paket internet sepertiku sehingga tak bisa aktif di media sosial.

Happy Birthday, Del. Wish you all the best. Maaf ya aku telat ngucapin, angkat telepon aku dong.

Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit. Tidak ada balasan pesan darinya sampai aku terlelap dalam bayang-bayang kemarahan Della.

***

Aku seperti bermimpi saat kurasakan seberkas cahaya menerpa netraku. Aku menutup kedua mata dengan telapak tangan untuk menghindari sinar itu.

"Udah pagi, woy! Bangun! Cewek kok tidurnya sampai siang.”

Seketika aku tersadar bahwa ini bukan mimpi. Kucoba membuka mata, tapi cahaya mentari pagi ini benar-benar menyilaukan. "Jam berapa, Kak?" tanyaku seraya mengucek mata.

"Setengah sembilan," jawab Kak Ari singkat diikuti langkah kakinya yang berderap keluar dari kamar. Ah, lagi-lagi dia bangun duluan. Seharusnya aku yang bangun duluan. Aku benar-benar terlihat seperti seorang pemalas.

Della! Aku langsung bisa duduk ketika teringat gadis pencinta warna ungu itu. Dengan cepat aku mengecek ponsel.

Thanks ucapannya, Ra.

"Fix, dia pasti marah sama aku. Jawabnya singkat banget," gumamku. Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur ke kamar mandi. Aku berencana datang ke indekosnya untuk memberikan kejutan. Untung saja hari ini aku masuk kelas sore.

Hari ini aku sengaja mengenakan kerudung berwarna merah jambu pemberian Della pada hari ulang tahunku bulan kemarin. Aku ingin dia senang karena aku sangat menyukai pemberiannya.

Aku menuju sebuah toko kue favoritku yang berada di tengah kota. Tidak butuh waktu lama untukku memilih. Della sangat menyukai black forest. Baiklah, kali ini aku merelakan tabunganku untuk membelikan kue untuknya.

Aku pun segera menuju indekosnya yang lumayan jauh dari kontrakanku. Aku sampai di sebuah indekos dengan cat biru yang sudah mulai pudar dan pohon mangga ranum di depan gerbangnya. Kuketuk pintu dengan nomor kamar 05, tapi tidak ada jawaban.

"Cari Della, Dek?"

Aku menoleh ke kanan dan melihat seorang cowok berkulit putih yang wajahnya sudah familier sedang bersandar di pintu kamar nomor 04. Dia adalah Angga, tetangga Della yang sudah kukenal karena dulu aku lumayan sering main ke tempat ini dan bertemu dengannya.

"Iya, Kak,” jawabku. “Della ke mana?"

"Nggak tahu, Dek. Tadi pagi sekitar jam tujuh, aku ketuk pintunya mau pinjam flashdisk, tapi dianya udah nggak ada."

"Ke mana?"

"Nggak tahu, Dek."

Aku menatap black forest di kedua tanganku dengan sedih. Sepertinya aku tidak bisa bertemu Della hari ini. Selesai kelas sore, aku harus melanjutkan lagi pekerjaanku sebagai panitia kegiatan di kampus. Ah, tapi bagaimana dengan kuenya? Aku tidak punya kulkas di sini. Jika kuenya rusak, maka pengeluaranku akan sia-sia. Jangan bilang aku perhitungan. Anak rantau pasti mengerti hal ini.

"Kak Angga punya kulkas, kan? Boleh aku titip kue ini?" tanyaku setelah mengingat bahwa aku dan Della pernah membuat es buah dan menitipnya di kulkas Kak Angga.

"Oh, iya. Boleh," jawabnya dengan ramah.

"Kak Angga simpan nomor aku, ya? Nanti kalau Della udah pulang, langsung kabarin aku."

"Oke, siap."

***

Aku kembali ke kontrakan dengan sia-sia. Aku pikir bisa bertemu Della hari ini. Tapi tidak apa-apa, mungkin dia sedang ada kegiatan.

Langkahku terhenti ketika sampai di depan pintu kontrakan. Mataku langsung terarah ke sebuah benda di depan pintu.

"Surat?" gumamku pelan. Aku mengambil amplop putih yang terletak tepat di depan pintu kontrakanku itu. Kubuka amplop itu dan menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang tidak kukenali.

Tolong aku. Tolong aku. Tolong aku! Aku ada di suatu tempat. Tapi gak bisa kusebutkan. Aku butuh bantuanmu. Tolong temukan aku. Kamu harus datang.

16.1.14.20.1.9

       Aku mengernyit setelah membaca surat itu. Alisku saling tertaut kebingungan. Aku tidak mengerti sama sekali. Siapa yang harus ditolong? Siapa yang mengirim surat ini? Kenapa tidak ada namanya? Bahkan tidak ada tempatnya? Aku harus datang ke mana? Ah, sial! keluhku.

***

Aku duduk di teras kontrakan memandangi surat itu, sembari menunggu Kak Ari yang masih berada di kampus. Aku ingin segera menunjukkan surat itu kepadanya. Sekarang pikiranku benar-benar kacau, bahkan tidak bisa jernih walaupun hanya sedetik. Fix, aku tidak akan ke kampus. Aku tidak bisa belajar dalam kondisi seperti ini.

Kak Ari baru pulang pukul setengah tiga sore. Sejak tadi aku tidak bergerak dari tempatku, duduk di teras memegang surat dengan wajah penasaran, khawatir, takut, dan semua perasaan campur aduk.

“Kok belum siap-siap? Bukannya jam tiga kamu ada kelas?” tanyanya setelah selesai memarkir motor.

Alih-alih menjawab, aku justru menariknya duduk di sampingku. “Tolong aku, Kak.”

Kak Ari mengernyit memandangku. “Tolong apa?”

Tanpa basa-basi, kuperlihatkan surat itu pada Kak Ari. Tak lama, cowok berkulit putih itu manggut-manggut. "Ah, gampang ini mah!" seru Kak Ari kemudian.

"Gimana gimana?" tanyaku antusias. Kak Ari malah menoyor kepalaku dan berkata bahwa aku sangat payah. Aku tidak peduli, aku sangat penasaran dengan surat tidak jelas itu.

"Kalau angka-angka ini adalah petunjuk, pasti ada kata tersirat dibalik angka-angka ini. Kalau aku urutkan angka-angka ini sesuai urutan abjad, maka 16 adalah P, 1 adalah A, 14 adalah N, 20 adalah T, dan 9 adalah I. Itu artinya 16.1.14.20.1.9 adalah PANTAI." Kak Ari menjelaskan.

Penjelasannya itu berhasil membuatku melongo. Kenapa aku tidak bisa menebak kode semudah ini? Oh Tuhan ... aku benar-benar merasa bodoh kali ini.

"Lagian ini surat apa? Nggak jelas banget."

"Pantai? Kira-kira pantai mana ya, Kak?" tanyaku seakan tak peduli ucapan Kak Ari barusan.

"Ya mana aku tau. Itu kamu cari tahu aja sendiri," ujar Kak Ari dengan sewot.

Belum sempat aku berkata apa-apa lagi, ponselku bergetar. Ada pesan dari nomor tidak dikenal.

Della belum balik sampai sekarang. Aku nggak tau kapan baliknya, DekNomor Della juga nggak aktif.

- Angga

Ah, Kak Angga baru kasih kabar. Della pun belum kembali. Astaga, ke mana anak itu?

Aku membalas pesan Kak Angga dengan pasrah.

Terima kasih, Kak. Aku juga udah coba telepon tapi emang nggak aktif. Kuenya Kakak makan aja, bagi-bagi ke tetangga juga boleh. Sekali lagi terima kasih.

"Ada apa, sih?" tanya Kak Ari yang sepertinya mulai menyadari wajah risauku. Ya, aku berpikir bahwa surat ini ada hubungannya dengan Della yang tiba-tiba menghilang.

"Bantu aku, Kak. Aku takut. Perasaan aku nggak enak."

"Tenang dulu, Ra. Kamu ceritain kejadiannya." Kak Ari yang tadinya terlihat tak peduli, kini mencoba menenangkan diriku.

Aku menarik dan mengembuskan napas secara berulang sampai perasaanku agak tenang. Aku pun mulai menceritakan semuanya pada Kak Ari.

***

Setelah menceritakan semuanya, aku dan Kak Ari bersiap-siap untuk menuju pantai. Entah pantai mana yang dimaksud dalam surat itu. Tapi, aku dan Kak Ari memutuskan untuk pergi ke pantai yang tidak begitu jauh dari kontrakanku, tempat biasa aku dan Della menghabiskan waktu untuk sekadar jalan-jalan dan makan jagung bakar kesukaanku.

Sembari menunggu Kak Ari mengambil motornya, aku mencoba lagi menghubungi Della. Tetapi, ponselnya masih tidak aktif. Media sosialnya pun juga tidak ada yang aktif. Belum hilang rasa khawatirku, pesan dari Kak Angga yang tiba-tiba masuk semakin menambah rasa takutku.

Dek, tolong ke sini sekarang. Aku barusan nemuin surat depan pintu kos Della. Suratnya pakai amplop putih, tapi ada bercak darahnya. Isinya suratnya aku nggak ngerti, semacam kode-kode gitu.

Jantungku berdegup kencang. Kaget sekaligus bingung, di sisi lain ada rasa khawatir. Ya ampun, ini ada apa, sih? Della, kamu di mana? Semoga kamu baik-baik aja.

"Kenapa, Ra?" tanya Kak Ari dari atas motor.

Aku pun memperlihatkan pesan Kak Angga kepada Kak Ari dan wajah Kak Ari ikut panik.

"Ayo, kita ke tempat Della aja sekarang. Siapa tahu Kakak bisa pecahin lagi isi suratnya," kataku dengan panik.

"Iya, iya. Tapi, kamu tenang, ya. Ayo kita pergi sekarang."

***

Aku dan Kak Ari ingin langsung ke indekos Della, tapi berhubung kami akan melewati pantai itu, kami pun singgah sebentar. Sungguh tidak ada sesuatu yang aneh di sana. Suasana pantai sore hari benar-benar ramai, terutama di sekitar penjual jagung bakar dan jajanan lainnya. Benar-benar tidak ada yang mencurigakan.

 “Gimana? Langsung aja ke tempat Della?” tanya Kak Ari setelah kami berkeliling sebentar. Tanpa berpikir lagi, aku langsung mengangguk. Baru saja aku naik ke atas motor, sebuah pesan masuk lagi di ponselku. Kak Angga.

Kamu di mana? Cepat ke sini!

“Kak, cepetan kita ke tempat Della. Kak Angga kirim pesan lagi!” Kak Ari mengangguk paham dan motor pun melaju. Dalam perjalanan, jantungku lagi-lagi berdegup sangat kencang. Pikiranku melayang ke mana-mana. Entah kenapa aku begitu takut. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Della. Dan yang paling membuatku takut dan penasaran, kenapa semuanya penuh misteri?

Akhirnya aku dan Kak Ari tiba di indekos Della, tapi kami tidak menemukan Kak Angga di sana. Aku mengetuk pintu kamar Kak Angga dan memanggil-manggil namanya, tapi tidak ada jawaban.

"Coba telepon," ucap Kak Ari dengan tenang. Aku mengangguk paham. Baru saja aku ingin menelepon Kak Angga, pesan darinya masuk.

Jangan pecahin isi surat itu. Itu jebakan. Berhenti dari sekarang! Della aman. Kalian dijebak. Jangan ke pantai itu!

Aku mengernyit membaca pesan itu. Pantai? Aku kan tadi sudah ke pantai. Apa jangan-jangan bukan pantai itu, ya?

"Kak, ini maksudnya apa, sih?" tanyaku seraya memperlihatkan isi pesan Kak Angga kepada Kak Ari. Tetapi, Kak Ari hanya bergeming. Tubuhnya terdiam, membatu.

"Kak Ari?" ucapku sekali lagi. Tetapi, Kak Ari masih diam.

Tatapan mata Kak Ari tidak mengarah ke ponselku. Tatapan matanya mengarah ke tempat lain. Tepatnya sesuatu di balik punggungku. Apa yang Kak Ari lihat?

"Kak Ari? Kak Ari lihat apa?" tanyaku sekali lagi. Mata Kak Ari tidak berkedip. Ada keterkejutan yang luar biasa di matanya.

Aku mengembuskan napas. Perlahan tapi pasti, aku berbalik badan untuk melihat apa yang dilihat Kak Ari.

Aku terdiam. Kaku. Bisu. Mendadak tubuhku bergetar hebat melihat apa yang sekarang ada di hadapanku. Sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Aku terkesiap.

Apakah yang kulihat ini ... nyata?

***

"Araaaa!" teriak Della tiba-tiba.

"Apaan, sih? Berisik!" keluhku yang tengah sibuk mencari makalahku. Makalah itu harus dikumpulkan nanti sore dan aku belum menemukannya.

"Cerita ini belum selesai, Ra," ujar Della seperti anak kecil yang merengek.

"Cerita yang mana?" tanyaku tak mengerti. Aku masih sibuk mencari makalahku.

"Ini yang di laptop kamu, yang judulnya Surat Misterius," jawabnya kesal.

Aku berpikir sejenak. Surat Misterius?

"Oh itu ... iya, memang belum selesai. Aku kehabisan ide di tengah cerita. Soalnya aku nggak buat outline. Tapi, nanti aku lanjutin, kok," jawabku santai.

"Dih! Kalau aku tahu ceritanya belum selesai, nggak akan aku baca! Nyebelin! Bikin penasaran aja, sih!" Della bersungut dan kini menatapku dengan kesal.

"Memang yang suruh kamu baca itu siapa? Aku kan cuma minta kamu buat baca yang judulnya Diary Diyana, terus kamu komentari, menurut kamu gimana? Eh, kamu malah baca cerita lain." Aku mengomel sebal.

"Tahu ah! Males!"

"Aku dapat! Ah, akhirnya ketemu juga makalahnya!" seruku tiba-tiba. Aku menemukan makalahku di bawah tumpukan koleksi novel-novel. Ah, senangnya. Aku tidak jadi dimarahi dosen hari ini.

Aku pun segera memasukkan makalah itu ke dalam tas. Kemudian, kudekati Della yang tengah duduk cemberut di atas kasurku. "Jangan ngambek, dong. Nanti aku buatin cerita spesial deh buat kamu."

Della masih diam, dia masih seperti anak kecil walaupun umurnya sudah dua puluh tahun sama sepertiku.

"Kali ini, ceritanya nyata. Nggak ngarang kayak cerita Surat Misterius itu. Aku bakal buat cerita tentang persahabatan kita dari SMA sampai sekarang. SMA sekelas, sekarang kuliah sejurusan, sekelas pula. Pokoknya semuanya aku ceritain. Gimana?"

Setelah mendengar tawaranku, Della akhirnya melirikku dan tersenyum dengan manis, "Oke. Aku tunggu ceritanya."

"Siap!" seruku.

Aku pun memeluknya. Dia ikut memelukku seperti seorang adik yang sedang merengek pada kakaknya. Ah, pelukan Della memang selalu membuatku tenang. Della Arnita. Sahabat masa lalu, masa kini, dan masa depanku.


- TAMAT -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy