My February Girls

 


Hari aku berulang tahun ke-27. Alhamdulillah aku masih diberikan usia hingga sekarang. Di hari spesial ini, aku ingin mempersembahkan sebuah hadiah kecil untuk dua sahabatku. Bukan hal yang besar, bukan sesuatu yang mahal, hanya sebuah tulisan. Ya, tulisan yang kelak bisa kubaca lagi sebagai kenangan suatu hari nanti. Semoga mereka bisa merasakan ketulusan yang akan kusertakan dalam tiap rangkaian aksaraku.

Teruntuk Nurma Yunita dan Syarifah Suad Saleh Al Idrus, tulisan ini untuk kalian.

***

Aku bingung harus memulai tulisan ini dari mana. Ketika menulis untuk teman virtual, kalimatku mengalir dengan lancar. Namun, kali ini rasanya agak membingungkan. Mengirimkan kata-kata cinta untuk teman real life sepertinya cukup menggelikan. Mungkin karena pertemanan kami lebih ke physical attack dibanding melalukan hal-hal manis. Tetapi sepertinya tak apa jika dilakukan sesekali.

Kami bertiga saling mengenal sejak tahun 2013, tepatnya pada masa putih abu-abu. Aku dan Yuni seangkatan, sementara Kak Suad adalah kakak kelas. Kami sama-sama bergabung di ekskul pramuka. Pramuka inilah yang akhirnya mengakrabkan kami. Ah, sepertinya akan terlalu jauh jika kuceritakan secara lengkap mengenai awal mula pertemanan kami hingga bertahan sampai sekarang. Hal yang terpenting adalah mereka merupakan temanku yang berharga.

Di hari spesial ini, aku dengan tulus ingin mengucapkan selamat ulang tahun sekali lagi untuk dua manusia baik ini. Kami lahir di bulan yang sama. Menakjubkan, bukan? Bahkan Februari yang penuh cinta pun menyatukan kami. Lahir di tanggal 7, 19, dan 25 seperti takdir yang telah diatur sedemikian rupa. Ada satu fakta lagi. Aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga. Kemudian Allah hadirkan mereka yang sudah seperti saudara perempuan untukku. Kak Suad sendiri merupakan anak bungsu yang sebenarnya ingin punya adik. Kemudian Allah hadirkan aku dan Yuni yang sangat butuh perannya sebagai kakak. Dan Yuni yang merupakan anak tunggal juga seperti mendapatkan saudara dengan kehadiranku dan Kak Suad. Maka dari itu aku tak pernah menganggap pertemanan kami sebagai kebetulan. Aku lebih suka mempercayainya sebagai takdir.

Sekarang akan kuceritakan sedikit tentang dua gadis ini...

Pertama, si pemilik 7 Februari, Nurma Yunita. Perempuan yang telah menggenapkan usianya yang ke-26 tahun. Setahun lebih muda dariku. Tapi dalam pertemanan kami, aku tidak selalu berperan sebagai kakak. Selain karena kami seangkatan di sekolah, kadang justru aku yang merasa sangat butuh sosoknya. Manusia introvert yang canggung berinteraksi dengan orang lain ini, merasa beruntung dipertemukan dengan manusia ekstrovert yang sangat mudah berinteraksi. Dia punya banyak teman, atau sekedar kenalan. Koneksinya dimana-mana. Tiap jalan sama dia, pasti ada aja yang tegur dia, atau sebaliknya. Pokoknya temannya banyak. Karena sifatnya yang friendly itu, aku selalu butuh dia kalau ada apa-apa. Dia menemaniku melakukan hal-hal yang tak bisa kulakukan sendiri. Dia mengayomiku dari dunia yang sungguh berisik.

Kalau ada acara, misalnya pesta pernikahan teman, aku tidak pernah mau pergi jika dia tidak pergi juga. Pokoknya harus ada dia wkwk. Begitu pun jika ada sesuatu yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang lain, aku akan memintanya untuk mewakiliku. Aku benar-benar bersyukur Allah hadirkan dia di hidupku.

Terima kasih banyak sudah betah berteman denganku yang merepotkan ini, Yun.

Yuni juga salah satu sumber kebahagiaan, sebab tingkahnya yang menakjubkan dan di luar nalar, selalu saja bikin ketawa. Dia selalu punya ide-ide anti mainstream. Makanya tingkahnya sulit banget ditebak. Aku selalu terhibur dengan kelakuannya walaupun kadang tak habis pikir. Suka tiba-tiba muncul depan rumah ngajak main, suka tiba-tiba nelfon atau video call cuma karena dia gabut, pokoknya orangnya suka tiba-tiba.

Namun, manusia penghibur ini lumayan pandai menyembunyikan luka. Kayaknya sering banget ya, orang yang suka bikin orang lain ketawa, ternyata menyimpan banyak luka? Dia adalah orang yang suka berbagi cerita tentang apa pun, bahagia maupun sedihnya. Tetapi pada beberapa waktu, dia bersembunyi. Dan aku sebagai teman harus memancing dengan pertanyaan dulu biar dia mau cerita.

Aku tak tahu sedalam dan sebanyak apa lukanya. Aku masih memegang prinsip bahwa seseorang tak akan sepenuhnya bisa mengerti keadaan orang lain sebelum ia merasakan sendiri. Itulah yang kuyakini. Entah sebanyak apa lukanya, kuharap ia tak pernah ragu untuk membagi bebannya denganku, membagi sakitnya, membagi deritanya. Jangan menyimpan semuanya sendiri. Jika semuanya disimpan sendiri, lantas untuk apa keberadaanku sebagai teman?

Sungguh, aku ingin dia bahagia melebihi kata bahagia itu sendiri.

***

Hai, Yun...

Walaupun sudah lewat beberapa hari lalu, sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun.

Semoga panjang umur, sehat selalu, rezekinya lancar terus, selalu dikelilingi hal-hal baik, dan dikuatkan hatinya untuk menghadapi segala permasalahan. Semoga lelaki yang akan mendampingimu nanti adalah lelaki yang cintanya lebih besar, lelaki yang tidak ragu mengeluarkan semua effort-nya, lelaki yang lembut bicaranya, dan tentunya bisa membimbingmu ke arah yang lebih baik.

Yun, ingat ya kalau saya dan Kak Suad selalu ada di sini, jadi tolong jangan nangis sendirian ya kalau ada apa-apa. Cerita aja, jangan dipendam. Ingat kalau kau tidak pernah sendirian. Ada banyak cinta di sekitarmu.

Terima kasih sudah bertahan dari segala hantaman kehidupan, Yun. Kau sudah hebat sekali bisa sampai di titik ini. Kalau Allah lagi kasih kebahagiaan, nikmati kebahagiaan itu. Tidak perlu memikirkan cobaan apa lagi yang akan datang. Cukup nikmati bahagia yang ada. Nanti kalau dapat cobaan hidup lagi, baru deh dihadapi. Jalan hidup ini memang silih berganti, kan? Kadang bahagia, kadang sedih. Jadi, kalau lagi bahagia, ya nikmati. Kalau lagi sedih, ya hadapi. Semangat, Yun!

Terima kasih sudah bertahan berteman denganku dalam waktu yang lama, Yun. Tetap bareng terus ya sampai nanti. Maaf kalau saya kadang merepotkan.

Segala doa-doa baik untuk kau, Yun. Semoga kebahagiaan akan selalu mengikuti kehidupanmu.

***

Selanjutnya, si pemilik 19 Februari. Namanya Syarifah Suad Saleh Al Idrus. Iya, panjang banget namanya. Semoga umurnya juga panjang biar kita bisa bertemu Februari lagi dan lagi ke depannya. Aku masih membutuhkan sosok kakak perempuan dalam kehidupan ini. Walaupun kami cuma beda setahun, tapi perannya sebagai kakak benar-benar bisa kurasakan. Berkat kehadirannya, aku jadi punya tempat untuk meminta saran, meminta masukan atas perkara-perkara yang sulit kupikirkan sendiri, atau sekedar mengeluh dan bercerita tentang berbagai macam hal. Dia adalah pendengar yang baik. Sebaliknya, dia juga suka bercerita. Ada saja drama dalam kehidupannya yang menarik untuk dibahas, tapi sebenarnya bukan sesuatu yang menarik untuk dihadapi seorang diri.

Mungkin banyak hal tentangnya yang belum kuketahui, begitu pun sebaliknya. Namun, satu hal yang kutahu pasti, dia adalah manusia yang begitu tulus mencintai. Meski dia terlihat sebagai sosok yang lumayan keras, blak-blakan, dan punya ego yang cukup tinggi, tetapi itu semua tak mengurangi pandanganku tentang betapa hangatnya dia. Sama seperti biasnyajhopeyang punya julukan sunshine. Dia juga punya sisi hangat yang menurutku tak semua orang bisa merasakannya. Dan aku merasa beruntung bisa menjadi salah satu orang yang merasakan cintanya. Dia adalah pendengar yang baik, pemberi solusi yang baik, juga penuh perhatian. Dia juga tak ragu memberikan effort pada seseorang yang memang ia anggap pantas mendapatkannya, meski dalam beberapa kesempatan, ia malah mendapatkan balasan yang jauh dari kata 'baik'.

Aku menjadikan dia panutan dalam beberapa hal. Tentang bagaimana kuatnya dia dalam menghadapi drama kehidupan yang makin hari makin menyiksa, tentang bagaimana caranya menyelesaikan masalah, tentang pandangannya terhadap kehidupan, juga tentang hal-hal positif yang dia yakini.

Pernah aku berpikir, aku ingin memiliki kepribadian sepertinya, yang selalu berani menyuarakan pendapatnya, yang tak bisa ditindas oleh sembarangan orang, yang mampu bertahan meski berada di luar zona nyamannya, yang berani berbaur dengan banyak orang. Namun, pikiran itu hilang seiring berjalannya waktu. Aku adalah diriku. Mungkin Tuhan mempertemukanku dengan teman sepertinya untuk melengkapiku dan juga melengkapinya. Aku percaya dalam setiap hubungan, dua atau lebih manusia hadir untuk saling melengkapi.

Di mataku, Kak Suad adalah perempuan yang keren. Alpha girl. Perempuan pintar, mandiri, pekerja keras, bertanggung jawab, cantik pula. Aduh, beruntung banget jodohnya nanti. Bonus satu lagi, dia juga cukup humoris. Cuma suka cari gara-gara aja sih. Jadi, harap bersabar untuk jodohnya.

Di perjalanan menuju usia ke-28 ini, dia mengalami banyak hal yang lumayan bikin babak belur. Aku tak akan bisa sepenuhnya memahami rasa sakit yang ia rasakan. Dia pun hanya manusia biasa yang tak selalu bisa sabar dan kuat. Tetapi mau tidak mau harus dihadapi. Tak banyak yang bisa kulakukan selain mendoakannya. Semoga banyak hal-hal baik yang mendatanginya setelah ini. Aku pun mendoakan semoga dia mendapatkan jodoh yang mau membersamainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, lelaki yang mau saling melengkapi dan saling memahami, mau diajak bekerja sama, mau diajak belajar. Semoga dia ditakdirkan bersama lelaki yang mencintainya dengan tulus, tak membenci kekurangannya, menghargainya sebagai perempuan, dan bisa membimbingnya untuk lebih baik lagi. Siapa pun lelaki itu, kuharap dia adalah orang yang baik untuk kakakku yang baik juga.

***

Selamat ulang tahun, Kak Suad.

Semoga panjang umur, sehat selalu dan semoga segera disembuhkan segala sakitnya, dilancarkan rezekinya, dan selalu dikelilingi hal-hal baik. Semoga selalu diberikan kekuatan menjalani kehidupan pasca kepergian Aba ya, Kak. Walaupun rasa sedihnya masih selalu datang, semoga Kakak tetap kuat untuk menghadapinya.

Saya dan Yuni insya Allah akan selalu mendampingi Kakak. Walaupun kita gak bisa melakukan banyak hal, tapi kita bisa saling menemani, saling mendengar, saling berbagi perasaan. Kita akan di sini sampai Kakak sembuh, sampai nanti Kakak berhasil berdamai dengan keadaan.

Di tengah rintangan yang Kakak hadapi, Kakak tetap ada untuk saya dan Yuni sebagai Kakak. Tetap mendengar cerita-cerita kita, kasih solusi dan saran, atau kasih penghiburan. Terima kasih banyak, Kak.

Terima kasih juga Kakak tidak ragu membagikan kisah ke kita, tidak takut menunjukkan kelemahan dan segala kesedihan. Kakak memang tidak perlu kuat dan menjadi sempurna di depan adik-adiknya Kakak ini. Kita paham kesedihan apa yang sedang Kakak hadapi sekarang.

Terima kasih juga selalu melibatkan kita dalam rasa bahagianya Kakak. Menyenangkan sekali lihat Kakak kalau bahagia. Rasa senangnya nular. Tiap lihat Kakak lagi senang, lagi senyum, saya selalu berdoa supaya senyum itu bisa ada terus.

Terima kasih sudah bertahan, Kak. Walaupun banyak luka dan air mata, Kakak tetap bertahan dan itu hebat sekali!

Terima kasih sudah jadi teman sekaligus kakak untuk saya. Maaf kalau saya tidak bisa melakukan banyak hal untuk Kakak selama ini. Sementara Kakak sudah melakukan banyak hal untuk saya, sudah memberikan banyak sesuatu untuk saya. Tapi saya akan tetap di sini untuk Kakak. Tolong tetap hidup dan selalu jadi kakakku ya, Kak.

Semoga kelak Kak Suad bisa berjodoh dengan laki-laki yang mencintai Kakak dengan tulus, yang selalu sabar menghadapi segala sifat dan sikap Kakak, yang tidak menceritakan kekurangannya Kakak ke orang lain, yang effort-nya lebih besar dari teman-temannya Kakak, yang setia dan perhatian. Menurutku Kakak sangat layak dapat laki-laki baik, karena Kakak juga sebaik itu.

Segala doa-doa baik untuk Kak Suad.

***

Untuk Yuni dan Kak Suad...

Terima kasih sudah lahir ke dunia. Tolong tetap hidup sampai kita bertemu Februari tahun depan, depannya lagi, dan seterusnya sampai kita nikah dan punya anak cucu. Semoga kita semua panjang umur.

Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy