28 Hari Menulis Cinta❤
Ditulis pada bulan Februari 2023💖
Challenge flash fiction dari instagram @expertclassproject 💓
♡ Day 1: CINTA PERTAMA
"5x5?"
"Hah?"
"5x5?" ulangnya.
"25."
Satu pertanyaan random yang tiba-tiba dari kakak kelas saat MOS itu membuatku memikirkannya seharian. Dari sekian banyaknya siswa baru di barisan, kenapa harus aku yang ditanya seperti itu? Sebuah kebetulan yang mendebarkan sebab aku sudah mengaguminya sebelum aku masuk ke SMA ini. Hanya dari media sosial saja aku sudah menyukainya. Sepertinya aku akan benar-benar jatuh cinta jika terus bertemu dengannya seperti ini.
"5x5?"
Deg!!
Aku tersadar dari lamunanku. Lantas menatap si pemberi pertanyaan yang kini tengah melihatku dengan senyuman.
"Kamu pasti lagi mikirin itu, kan?" tanyanya.
Aku langsung tersenyum. "Haha, iya. Keingat lagi."
"Udahan nostalgianya, pulang yuk! Mama nelfon, Rani rewel katanya."
"Ya ampun, ayo deh."
Aku segera berpamitan dengan kawan-kawanku. Putriku pasti sangat merepotkan Mama.
Sebelum benar-benar pulang, kutatap lagi tempat itu. Tempat pertama aku bertemu suamiku. Ah, reuni akbar kali ini sangat menyenangkan.
♡ Day 2: KEHILANGAN
Aku menyeruput cappuccino hangat di sela-sela bacaanku. Segelas minuman favoritku itu hampir saja dingin sebab aku terlalu fokus membaca. Novel berjudul 'Wanita Baik di Langit Biru' ini membuatku tak bisa berpaling.
"Kak, kuenya sudah siap." Seorang pelayan pria mendatangiku.
Aku tersenyum. "Oh iya, bawa ke sini aja, Mas."
Tak lama kemudian, sebuah kue tar bertuliskan 'Happy Birthday, My Hero' dibawa ke hadapanku. Aku melepaskan novel bersampul biru muda dari tanganku.
"Wah, melebihi ekspektasi, ini terlalu keren!" seruku sembari menatap lekat-lekat kue tar itu. "Temenku gak salah rekomendasiin tempat ini ke aku."
"Syukurlah kalau Kakak senang," ujar pria tadi sembari tersenyum.
"Ya udah, nyalain aja lilinnya, Mas," pintaku.
Pria itu menampakkan wajah heran. "Ini bukannya untuk ayahnya ya, Kak?"
"Iya, benar."
"Kok ayahnya gak ditungguin?"
"Haha, ayahku gak akan datang, Mas. Ini tahun ke sepuluh aku merayakan ulang tahunnya sendiri. Sebenarnya hari ini juga ulang tahun karyanya." Aku mengambil novel yang sejak tadi kubaca. "Karya ini terbit di hari ulang tahun ayahku."
Pria itu terdiam. Sepertinya tak paham.
"Ayahku sudah berada di tempat yang abadi. Dia juga abadi di dunia ini. Abadi di ingatanku, juga abadi pada karya-karyanya."
Aku tersenyum lalu melanjutkan,
"Aku juga akan menjadi penulis."
♡ Day 3: ORANG YANG KAMU SAYANG
Kemarin sore, tepatnya menjelang magrib ketika semua orang mulai kembali ke rumah masing-masing dari kesibukan dunianya, aku melihat langit yang begitu cantik. Aku menghentikan motor, singgah sejenak untuk memotret ciptaan Tuhan yang indah itu.
Aku tiba-tiba teringat seorang gadis yang kini berada bersama-Nya. Salah satu orang yang sangat kucintai. Hari itu, aku mengambil foto langit, lalu dia bertanya, "Kak, kok suka foto langit?"
"Ya karena cantik banget," jawabku.
"Tapi kan bisa Kakak lihat setiap hari. Secara langsung, gak perlu melalui foto."
"Kamu bisa melihatku tiap hari, kenapa butuh fotoku?"
Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Ah, i see... momennya."
"Yup, beberapa hal gak akan terulang, makanya aku tuh dikit-dikit foto. Langit cerah, langit senja, dan langit apa pun, mungkin bisa kita temukan lagi besok. Tapi, tidak dengan momennya."
"Okay Kak, aku paham."
"Nanti, tiap aku lihat foto ini, aku akan ingat kalau aku mengambilnya bareng adik kesayanganku ini. Meskipun hanya foto langit, tapi ada kenangan kita di dalamnya."
Aku tersenyum ketika kejadian itu berputar lagi di otakku. Kenangan memang sebaik itu menyimpan memorinya.
Hai, adik cantikku. Apa kabar?
Kuharap langitmu akan selalu cantik sepertimu.
Aku merindukanmu.
♡ Day 4: WORDS OF AFFIRMATION
Suaramu begitu menenangkan di tengah berisiknya semesta. Tawamu begitu candu mengusir segala pilu. Senyummu begitu hangat di tengah duniaku yang kedinginan. Hal terpenting adalah hadirmu yang melengkapiku. Aku mencintaimu karena kamu adalah dirimu. Aku mencintaimu tanpa alasan-alasan yang bisa aku utarakan. Kamu tak sempurna, aku pun sama. Kita punya banyak persamaan, tapi tak sedikit pula perbedaan. Tak apa, tak ada yang harus diubah. Aku akan membantumu mengatasi kekuranganmu, dan sebaliknya. Kata mereka, hidup ke depannya tak akan mudah. Aku tahu. Aku awalnya ketakutan untuk melanjutkan. Tapi tidak setelah kamu meyakinkanku.
Hai, Anindya Putri, maukah kamu menciptakan cerita-cerita baru bersamaku ke depannya?
"Lagi apa?"
Deg!!
Wanita yang tengah membaca itu seketika tersentak. Ia lantas menatap pria yang tiba-tiba mengagetkannya. "Ah, ini... aku sedang membaca isi blogmu enam tahun lalu. Aku tak sengaja menemukannya."
"Yang mana?" tanya Rama penasaran.
"Yang judulnya Masa Depan," jawab sang istri. Wanita itu kemudian mengarahkan layar ponsel pada Rama.
Rama langsung kikuk. "Oh, ini..."
"Kenapa canggung? Santai saja." Wanita itu tersenyum hangat.
"Perasaanku cuma untukmu."
"Aku tahu, Rama."
"Kenapa kamu membaca itu? Kamu cukup membaca tulisan-tulisan di blog baruku saja. Apa kamu meragukanku?"
Wanita itu terdiam sejenak, lantas menggeleng. "Sekarang dan beberapa tahun sebelumnya, semua isi blogmu adalah tentangku. Maaf kalau aku masih sering bertanya, padahal kamu sudah mengutarakan semua perasaanmu, dan aku pun sering membacanya. Maaf, aku cuma—"
"Aku hanya mencintaimu, Farah."
♡ Day 5: CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN
"Aku minta maaf," ucapnya.
"Jangan minta maaf, Kak."
"Aku suka sama kamu, tapi aku lagi gak bisa menjalin hubungan sama orang lain. Aku harus fokus belajar untuk ujian kelas dua belas. Sebentar lagi aku kuliah dan itu gak mudah." Dia kembali memberikan penjelasan yang harus kuterima.
"Hm, aku paham. Sangat paham. Kamu gak perlu minta maaf, Kak."
Begitulah akhir kedekatan kami yang sudah berbulan-bulan lamanya. Terjebak dalam hubungan pertemanan yang cukup aneh untuk disebut 'teman'.
Kini, lelaki populer itu menciptakan huru-hara di sekolah. Belum sebulan sejak kedekatan kami hanya tersisa cerita saja.
"Kalian tahu gak, katanya Kak Arya pacaran sama Kak Laras!" seru Rasti siang itu.
"Hah, Kak Laras kelas sebelas?" Kikan ikut heboh, yang dibalas anggukan oleh Rasti.
"Wah, gila. Cocok banget mereka. Cantik dan ganteng jadi satu." Rara ikut menimpali.
Aku tersenyum. Lebih tepatnya, terpaksa tersenyum. Andai saja ketiga kawanku tahu bahwa beberapa bulan terakhir aku dekat dengan Kak Arya, mungkin reaksi mereka akan berbeda. Mungkin mereka akan marah pada lelaki itu.
"Aku ingin belajar? Cih, alasan basi. Bilang saja kalau gak suka. Lalu, untuk apa kamu mendekatiku?"
Rasti, Kikan, dan Rara menatapku kaget.
"Gin, kamu kenapa?"
♡ Day 6: FRIENDS TO LOVE
"Aku takut kita canggung, padahal kita teman."
Lara seketika menghentikan drama Reply 1988 yang sedang ia tonton saat Sung Deoksun mengatakan dialog itu pada Choi Taek. Ia sedang dalam masa pemulihan, tapi sekarang hatinya malah tertampar. Ia seperti sedang menonton kisah hidupnya sendiri. Bedanya adalah perasaan Deoksun terbalas, sedangkan ia masih mengira-ngira.
Bagi Lara, jatuh cinta pada sahabat sendiri adalah hal menakutkan, apalagi jika cintanya sepihak. Hal pertama yang ia pikirkan adalah kehilangan. Keakraban yang terjalin sepertinya akan lenyap jika ada yang mengaku suka, kedekatan akan berubah menjadi kecanggungan, dan sahabat yang selalu ada itu perlahan akan menjauh. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Lara. Ia tetap takut, meskipun telah banyak Friends to Lovers yang berhasil di dunia ini.
Tring!
Sebuah notifikasi whatsapp masuk ke ponsel gadis itu.
| Ra, kamu di rumah? |
| Iyaa |
| Oke, otw. Mau nganterin ini |
Lara membuka foto sekali lihat yang dikirim oleh Aksa. Sekotak nasi padang dari tempat langganannya.
| Gausah, aku udah makan |
| Boong banget. Lagi sakit jangan bohong, ntar sembuhnya makin lama |
Lara bergeming. Apa pun yang ia katakan sepertinya tak akan berguna. Lelaki keras kepala itu pasti akan segera tiba.
"Gimana cara berhenti suka sama dia?" Lara mengajak dirinya sendiri berbincang sebelum Aksa datang.
Ternyata, dirinya menyebalkan. Ia tak menemukan jawaban apa pun sampai terdengar suara motor Aksa memasuki halaman rumahnya.
Lara membuka pintu. Gadis itu terkejut melihat apa yang dibawa oleh Aksa.
♡ Day 7: CINTA MONYET
"Vi, cinta monyet apaan?"
Vika menghentikan bacaan bukunya, lantas menatap Lili yang tengah sibuk mengutak-atik ponsel. "Kamu nanya?"
"Nanya beneran woi!!" Lili hampir melemparkan ponsel pada sahabatnya itu.
"Haha, santai santai."
"Cinta zaman bocah gak sih?"
"Ya setauku sih cinta yang gampang berubah gitu. Makanya biasanya cinta monyet dihubungkan sama remaja, masih labil soalnya."
"Gampang berubah, berarti sebenarnya bukan cinta dong."
"Memangnya cinta dalam versimu gimana?"
Lili terdiam. Otaknya tak bisa berpikir jika sudah berbicara tentang cinta. Cinta yang ia ketahui selama ini adalah tentang keluarga dan sahabat. Jika berkaitan dengan lelaki, ia tak memiliki apa pun yang bisa dikatakan.
Lili bingung, apakah ia pernah mencintai atau tidak. Ia pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Hanya saja, apakah itu cinta? Ia tak begitu yakin. Sebab ada seseorang yang membuatnya semakin tak memahami segalanya.
Dulu ia pernah menyukai seseorang, di saat usianya belum tujuh belas tahun. Dan di usianya yang sudah seperempat abad ini, ia masih menyukai orang itu. Bahkan saat ia mencoba menjalin hubungan dengan orang lain, ia masih menyukai lelaki itu.
Apakah itu termasuk cinta? Atau cinta monyet? Memangnya ada berapa jenis cinta di dunia ini?
"Vi, apa aku tulis cerita tentang Riyad aja ya?" tanya Lili setelah memikirkan cinta lamanya itu.
Vika tertegun. Keterkejutan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Li..."
"Hm?"
"Riyad udah mau nikah bulan depan."
♡ Day 8: PERSELINGKUHAN
| Din, aku beneran pengen putus sama Yuli. |
| Itu keputusan kamu Vin. Aku gak punya hak apa-apa untuk ngomentarin itu. |
| Tapi menurut kamu gimana? |
| Aku cuma minta kamu jangan ambil keputusan dalam keadaan pikiran kacau. Satu lagi, aku udah minta kamu untuk gak ngechat aku Vin. |
| Gak bisa, aku udah coba. Aku gak punya tempat cerita lain selain kamu. Kamu pasti gak bisa juga kan kalo gak balas chat aku? Itu yang aku rasain kalo harus berhenti chat kamu Din. |
Dinda terdiam setelah membaca chat terakhir Kevin. Jari-jarinya sudah tak bisa bergerak untuk mengetik sesuatu. Hatinya tak bisa berbohong. Ia pun sebenarnya tak bisa menjauh dari Kevin. Namun, ia sadar, bahkan sangat sadar bahwa apa yang sedang ia rasakan sekarang adalah hal yang salah.
| Aku tersiksa kek gini Vin. Please... jangan nyakitin siapa pun. Ini salah... |
| Aku tahu, tapi aku sama Yuli emang udah renggang. |
Air mata Dinda jatuh. Ia memilih untuk mematikan ponselnya, lantas membenamkan diri di bawah selimut. Ia menangis. Ia benci pada hatinya yang telah jatuh pada lelaki milik orang lain. Namun, kadang Dinda berpikir, ia tak sepenuhnya salah. Kevin yang kerap kali berbagi cerita, Kevin yang sangat perhatian padanya, Kevin yang memperlakukannya seperti ratu, dan Kevin terlalu baik untuk disebut sebagai 'teman'. Bukankah Kevin yang bersalah?
"Din, jangan mau sama cowok kek gitu. Dia punya pacar, tapi deketin kamu. Apa lagi namanya kalau bukan brengsek?"
"Bener, nanti kalo kamu sama dia, bisa-bisa kamu digituin juga."
Dinda kembali teringat perkataan para sahabatnya saat ia menceritakan tentang Kevin. Ya, Kevin memang salah. Namun, Dinda tak bisa mangkir dari fakta bahwa cintanya juga salah. Ia terus-terusan memberi ruang untuk Kevin.
Bukankah aku juga termasuk wanita brengsek yang menyukai kekasih orang? batin Dinda berkecamuk.
Tapi kata orang, tak ada yang salah dengan cinta.
Lalu, apa atau siapa yang salah?
♡ Day 9: PEMUJA RAHASIA
Rabu, 1 Februari
Hari ini dia menyenangkan seperti biasanya.
Kamis, 2 Februari
Hari ini dia makan banyak, katanya semalam gak sempat makan.
Jumat, 3 Februari
Hari ini dia cerita banyak hal, tentang kesulitan yang dia alami belakangan ini.
Sabtu, 4 Februari
Hari ini dia lupa bawa buku. Dia memang pelupa.
"Nov, ini beneran kamu tulis tiap hari kegiatannya di tempat kerja? Buset aku sampe capek bacanya."
"Gak ada yang nyuruh kamu baca, En."
Enny mendengus, tetapi tetap lanjut membaca catatan harian Novi. Namun, tak lama kemudian, ia kembali bersuara. "Kalau dibandingkan sama Park Jimin, lebih sweet siapa?"
"Ya Jimin lah." Novi menjawab dalam hitungan detik.
"Terus, kok kamu bisa suka sama nih cowok?"
"Ada hal mengagumkan dari dia. Gak bisa dijelasin, bisa dirasakan doang."
"Dasar.. terus mau mendem sampai kapan?"
"Gak tau, untuk sekarang, cukup jadi pemuja rahasianya aja."
"Dih, gaya banget. Dia punya pacar gak?"
"Setauku enggak."
"Crush?"
Novi terdiam. Sejujurnya ia tak tahu.
"Diem doang. Berarti gak tau nih." Enny menebak. Dibalas anggukan oleh Novi.
"Jangan-jangan crush-nya kamu!"
"Stop!" Novi dengan cepat menghentikan ucapan Enny yang mungkin akan berlanjut. "Cukup sama Jimin aja yang halu, yang ini skip, gak mau halu."
♡ Day 10: CINTA BEDA AGAMA
Dia adalah lelaki yang membuatku enggan bermimpi tentang orang lain. Dia sosok yang aku cari. Dia mencintaiku begitu tulus, memperlakukanku dengan sangat baik, dan membuatku benar-benar nyaman. Dia tak pernah membentak. Bahkan di saat marah, dia tetap tenang, tak sedikit pun menyakitiku. Dia sangat perhatian, juga romantis. Sepertinya dia punya semua love language. Kalau bisa meminta sama Tuhan, aku ingin dia saja yang mendampingi hidupku. Namun, apakah Tuhan akan mendengar doaku? Aku bahkan meminta seseorang yang tidak mempercayai-Nya.
"Fer, kita putus aja." Aku akhirnya memberanikan diri mengambil keputusan.
"Kenapa?"
"Kita sama-sama tahu kalau hubungan ini gak akan berhasil. Kita sama-sama tahu kalau kita gak akan nemu jalan keluar."
"Jangan mikir aneh-aneh, Win. Aku udah bilang, aku akan memperjuangkan kamu."
"Ini gak akan berhasil. Maaf, Fer. Tapi aku nyari orang yang bisa membimbing aku. Dari awal aku salah. Seharusnya aku gak menerima kamu. Seharusnya kita gak memulai semua ini. Aku minta maaf."
Tring!!
Notifikasi ponsel membuyarkan ingatanku atas kejadian lima tahun lalu. Ah, aku tiba-tiba saja teringat dia karena orang yang duduk di sampingku memutar lagu Peri Cintaku versi Ziva Magnolya. Aku membuka whatsapp, ada sebuah pesan dari orang yang kutunggu sejak tadi.
| Windy... bentar ya de, masih nunggu koper. |
| Iyaa, Kak. Gapapa, santai aja. |
Bandara hari ini sangat ramai. Lebih ramai daripada ketika aku mengantarkan Kak Ali bertolak ke Medan minggu lalu. Orang bertudung di sampingku sepertinya tertidur, tak peduli dengan berisiknya tempat ini.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Nada yang sangat kukenal. Tidak, itu bahkan suaraku. Rekaman suara yang hanya dimiliki oleh satu orang. Bagaimana bisa?
"BANGUN BANGUN BANGUUUUNNNN!!!"
Lelaki itu terbangun. Tudung dari hoodie hitam dan maskernya masih menutupi wajahnya. Jarinya dengan sigap mematikan alarm itu. Aku tertegun saat tak sengaja melihat lockscreen-nya. Foto seorang gadis. Gadis yang lima tahun lalu menangis berhari-hari karena memutuskan hubungan dengan lelaki yang dicintainya.
"Ferry?"
Selanjutnya, lelaki itu kaku. Terlalu terkejut.
♡ Day 11: PHYSICAL TOUCH
"Sana nikah aja sama perempuan itu!!"
Tubuh Danira gemetar. Ia meringkuk di balik pintu kamarnya sembari memejamkan mata. Suara pecahan kaca terdengar jelas. Mungkin ini adalah puncaknya. Mungkin setelah ini, Danira akan menghadapi sebuah pertanyaan: Mau ikut Ibu atau Ayah?
Di tengah kekacauan itu, ponsel Danira berdering. Ia segera berdiri dan mengambil ponsel dari atas kasur. Kakaknya menelepon. Danira bergeming. Ia lupa bahwa hari ini kakaknya pulang setelah tiga tahun berada di luar negeri. Kakaknya ingin memberikan surprise untuk orang tua mereka. Namun, lelaki itu tak tahu kalau di sini sedang tak baik-baik saja.
| Ra, Kak Deni udah di bandara nih.. |
Deni mengirim pesan setelah tiga panggilannya tak dijawab. Danira pun langsung membalas pesan Deni dan mengatakan bahwa ia akan segera menjemput.
Danira keluar rumah dengan tergesa-gesa, tak mengindahkan orang tuanya yang masih beradu mulut. Namun, saat mobilnya keluar dari gerbang rumah, ia melihat ayahnya juga keluar dan langsung menuju mobil. Entah mau ke mana, ia tak peduli. Hal terpenting sekarang adalah menunda kedatangan Deni.
"Nira!" Deni melambai di antara lautan manusia yang memenuhi bandara, lalu tersenyum hangat.
Langkah Danira terhenti. Tubuhnya lagi-lagi gemetar. Senyum Deni membuatnya mati kutu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi lelaki itu setelah tahu bahwa orang tua mereka akan bercerai.
"Hei!" Deni mengguncang tubuh Danira. Gadis itu terkesiap, tak sadar Deni sudah di hadapannya. "Kenapa, Ra?"
Danira menatap mata kakaknya, tangannya masih gemetar. Deni langsung memegang kedua tangan Danira. "Hei, tenang, Ra. Kamu kenapa?"
"Kak ... a-aku ... ki-kita—"
Deni dengan sigap memeluk adiknya tanpa bertanya apa pun. Ia mengusap rambut panjang Danira, mencoba menenangkan gadis dua puluh tahun itu. Napas Danira yang tak beraturan, perlahan terdengar normal dalam dekapan Deni. Lelaki itu merasakan bahwa air mata Danira membasahi bajunya. Ia semakin memeluk erat adiknya. "Kakak gak akan nanya apa-apa. Kamu tolong tenang."
Deni membiarkan Danira diam. Kata ayahnya, kalau Danira seperti ini, peluk saja. Perempuan biasanya cepat tenang kalau dipeluk.
Di kejauhan, mata Deni menangkap sesuatu. Seorang pria yang sangat ia kenal, pria yang sangat ia banggakan, sedang memeluk wanita asing. Bukan ibunya.
Sekarang, tangan Deni yang gemetar.
Sekarang, ia yang butuh pelukan.
♡ Day 12: RELATIONSHIP
- Aku otw
- Aku mau makan dulu ya
- Hari ini aku ke sini
- Pilihin dong, bagusan mana
- Aku mau cerita
Aku iseng scroll percakapan dengan salah satu sahabat virtualku. Kalau dipikir-pikir, chat kami sudah mirip orang pacaran yang chatan 24/7. Segala hal kami kabarkan, bahkan hal kecil sekalipun. Dia juga sangat perhatian dan mendukungku dalam hal apa pun. Untung dia cewek, kalau cowok, mungkin lama-lama aku bisa jatuh hati dengannya.
Berbanding terbalik dengan room chat sahabat real life-ku. Sepi. Namun, apakah hubungan kami menjauh? Tentu saja tidak. Justru karena kami bisa bertemu, kami bisa saling memberikan cinta secara langsung.
Room chat dengan keluarga lebih hening lagi. Ya, karena tinggal dalam satu rumah, tentu saja lebih banyak interaksi secara langsung dibandingkan hanya meninggalkan pesan whatsapp.
"Aku merasa dekat sama kamu, tapi kamunya enggak."
Aku pernah mendapatkan kalimat ini dari seorang anonim yang hingga detik ini aku tak tahu dia siapa. Dia meninggalkan kalimat itu pada link yang aku bagikan di whatsapp story. Aku membalasnya dengan sebuah pertanyaan: Atas dasar apa kamu berasumsi kalau aku gak anggap kita dekat? Dan kedekatan versimu seperti apa?
Namun, tanyaku tak terjawab. Entah dia tak melihatnya, atau pura-pura tak melihatnya. Aku pun sudah tak peduli. Jika dia berasumsi seperti itu, baiklah, itu haknya. Tapi aku harap, dia benar-benar bukan orang terdekatku. Sebenarnya kalau dia orang terdekatku, aku kecewa karena dia telah mengatakan itu. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? Aku benar-benar penasaran bagaimana 'kedekatan' versinya.
"Woii Lin!!"
Aku terperanjat. Jari-jariku otomatis berhenti mengetik karena terlalu terkejut. Aku memegang dadaku—jantungku masih berdebar—sembari memutar kursi kerja ke belakang. Seorang lelaki dengan puas menertawakanku.
"Serius amat ngetiknya. Nulis apa sih?" tanyanya. Aku tak langsung menjawab dan lebih memilih mengatur napasku terlebih dahulu.
"Dil, menurutmu atas dasar apa dua orang bisa dikatakan dekat?" Aku memilih untuk mengajak Fadil diskusi dibanding protes atas ulahnya barusan.
Fadil terdiam. Entah sedang berpikir atau memang tak tahu jawabannya. Aku kembali memutar kursiku, memilih untuk fokus pada komputer lagi.
Namun, menit selanjutnya Fadil berkata, "Mungkin ... ketika dua orang bisa 'saling dalam segala hal', tentunya atas sesuatu yang positif."
"Hm, seperti kita?"
♡ Day 13: Long Distance Relationship
"Aku tahu apa yang bikin kamu mikir keras, Gi."
"Hm, aku khawatir sama jarak kita."
"Kamu bisa percaya sama aku."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Tolong kamu kamu percaya."
Hanya Jakarta-Bandung, tapi cukup membuatku merasa khawatir untuk memulai hubunganku dengan Radit kala itu. Butuh waktu untukku berpikir. Namun, ternyata cintaku mengalahkan kekhawatiranku. Aku tak bisa membohongi hatiku. Dan sudah setahun aku berhasil menjalani ini.
| Aku udah nunggu di stasiun♡ |
Pesan dari Radit membuat senyumku merekah. Kali ini aku yang ke Jakarta untuk mengunjunginya. Biasanya dia yang main ke Bandung. Kebetulan aku ada pekerjaan di ibu kota ini.
Radit melambai begitu aku turun dari kereta. Senyumnya seperti mengobati rindu akan temu yang tertunda. Hadirnya membuatku seperti enggan meninggalkannya bersama hiruk-pikuk Jakarta yang semakin menyesakkan.
"Kamu sehat?"
"Seperti yang kamu liat," jawabku. Ia tersenyum. Hangat sekali.
"Kita cari makan dulu yuk!"
"Boleh."
Kami pun singgah di sebuah rumah makan. Saat kami menunggu makanan, seorang lelaki tiba-tiba menyapa Radit.
"Hei, Dit. Wah, siapa nih?"
"Eh, Kal, ini pacar gue. Namanya Gina."
Aku berkenalan dengan Haikal, katanya dia teman kerja Radit.
"Eh btw, gimana tawaran kerja ke Samarinda, lu terima?"
Aku tertegun. Samarinda? Tawaran apa? Kenapa Radit tidak bilang apa-apa padaku?
Radit terlihat kikuk. Menyadari ekspresi Radit, Haikal sepertinya paham. Ia akhirnya minta maaf dan dengan canggung pamit meninggalkan kami.
Aku menatap Radit. Mungkin dia sudah paham apa arti tatapanku.
Dia akan pindah kerja? Bagaimana hal sepenting itu tidak dibahas denganku? Apakah jarak juga mempengaruhi kejujuran? Atau mengubah cara komunikasi?
Sepertinya aku akan mengalami lebih banyak hal ke depannya.
♡ Day 14: CINTA SEJATI
Cinta sejati itu apa sih? Apakah cinta pada Tuhan? Keluarga? Pasangan? Atau pada siapa?
Apakah cinta sejati adalah cinta seumur hidup seperti cinta Habibie kepada Ainun? Atau cinta Florentino Ariza kepada Fermina Daza? Atau cinta Romeo dan Juliet?
Apakah cinta sejati adalah cinta yang bisa mengikhlaskan asalkan orang yang dicintai bahagia seperti yang kubaca di novel-novel?
Atau mungkin cinta sejati adalah cinta seorang Ibu pada anaknya?
Ah, aku sama sekali tak mengerti. Bahkan arti cinta itu sendiri masih samar-samar di pikiranku. Apakah ada yang bisa menjelaskan makna cinta?
Jari-jariku berhenti menulis, aku langsung menoleh pada Ayah. "Cinta sejati itu apa sih, Yah?"
Mataku kembali menengok tulisan tangan yang baru saja aku ukir. "Eh, gak usah cinta sejati deh, cinta aja. Cinta itu apa?"
Hening. Tak kunjung ada jawaban.
"Males ah, Ayah gak jawab. Padahal kata Ayah, kalo aku pengen tahu sesuatu, tinggal nanya Ayah aja."
"Nadia!"
Aku mendongak untuk melihat sumber suara.
"Pulang, yuk!" ajak Ibu.
"Bentar lagi, Bu. Ayah belum jawab arti cinta yang aku tanyain," jawabku sembari menatap Ayah.
"Kamu."
Aku kembali mendongak. "Hm?"
"Ayah pasti bakal jawab, kalo cinta sejati itu kamu."
"Ih, Ibu ... aku kan nanya artinya, bukan orangnya."
Aku lalu berdiri setelah duduk kurang lebih satu jam. Memilih untuk mengakhiri sesi pertemuan hari ini. "Ya udah, aku pulang dulu Ayah. Nanti aku balik lagi kalau udah dapat jawabannya."
Tanganku dengan lembut mengusap nisan Ayah. "Ayah perginya kecepetan sih, jadi aku belum ngerti semua hal di dunia ini. Tapi satu hal yang aku tahu, Ayah pasti cinta sejatiku."
♡ Day 15: PATAH HATI TERHEBAT
"Ayah, Rika berangkat, ya."
"Rika buru-buru gak?"
Ayah tak serta-merta menjawab 'iya' seperti biasanya. Tumben sekali. Aku duduk di sampingnya, lantas bertanya, "Enggak. Kenapa, Yah?"
"Ayah cuma mau nanya doang. Gimana pekerjaannya belakangan ini?"
Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi cukup untuk membuatku sadar bahwa belakangan ini aku terlalu sibuk sampai tak pernah lagi berbincang dengan Ayah.
"Alhamdulillah lancar, Yah. Nanti ada proyek yang lumayan besar, dan Rika dipercaya untuk mimpin."
"Masya Allah, anak Ayah memang terbaik."
Aku tersenyum. Aku jadi rindu berbincang seperti ini. Sepertinya Ayah juga rindu. Apalagi adikku Rina juga sibuk mempersiapkan ujian masuk kuliah. Sementara Ayah adalah seorang guru SD yang kerjanya hanya sampai siang. Sisa waktunya pasti ingin dihabiskan dengan keluarga.
"Ayah, weekend ini jalan-jalan, yuk!"
"Nanti aja kalau kamu dapat libur panjang, Nak. Weekend pun kamu sering dapat pekerjaan, kan?"
Aku terdiam, tak bisa membantah. Namun, ada rasa sesak di dadaku. Sepertinya aku memang sudah kurang memperhatikan Ayah.
"Ayah sebenarnya kesepian."
Penyataan tiba-tiba itu seperti meruntuhkan diriku. "Kesepian kenapa, Yah? Kan ada Rika dan Rina."
"Iyaa, Sayang. Tapi kalian udah fokus sama masa depan."
Aku bergeming. Aku mulai paham arah pembicaraan ini. "Ayah pengen nikah lagi?"
Pria kesayanganku itu tak langsung menjawab. Matanya mengisyaratkan banyak hal. Sejak bercerai dengan Ibu lima tahun lalu, tak pernah kubayangkan bahwa aku akan membahas masalah ini bersama Ayah.
Ibuku berselingkuh. Orang tuaku bercerai. Tak ada yang lebih menyakitkan dari ini. Walaupun begitu, ibuku tetaplah ibuku. Jika harus ada orang baru, aku lagi-lagi harus menghadapi kesakitan. Namun, sepertinya patah hatiku tak ada apa-apanya dibanding apa yang Ayah rasakan.
♡ Day 16: CINTA TERLARANG
Ponsel Nabila berdering di pagi buta. Dengan nyawa yang belum seratus persen kembali, Nabila meraih ponsel dari atas nakas di samping tempat tidur.
"Halo," sapa Nabila tanpa melihat nama sang penelepon.
"Baru bangun?"
Nabila terdiam sejenak. Mata gadis itu langsung memicing ke arah layar ponsel. Nama kontak 'Love' tertera pada benda pipih itu.
"Hm, udah bangun," jawab Nabila tanpa menempelkan ponsel di telinga. Ia kembali menutup mata. Rasa kantuknya teramat sangat.
"Buruan siap-siap ya, Sayang. Mumpung hari ini bisa ketemu."
"Okay."
Sambungan terputus. Alih-alih bangun, Nabila malah kembali menarik selimutnya.
"Bil ... Bila ... bangun!"
Nabila tersadar saat merasakan seseorang mengguncang tubuhnya. Matanya memicing. "Kak Nia?"
"Bangun, udah jam delapan."
"Hah?" Sontak saja Nabila bangkit dari tidurnya. Ia duduk sembari menatap kaget ke arah Nia. "Serius udah jam delapan? Ya ampun telat."
Nabila mencari ponselnya di atas kasur, tetapi tak ada.
"Nyari ini?" Nia memperlihatkan ponsel Nabila.
"Ah, iya, Kak."
"Tadi ada telfon. Kok nomor Rey kamu namain 'Love'? Maksudnya apa? Tunangan Kakak kok kamu namain gitu?"
Deg!!
♡ Day 17: QUALITY TIME
Dia sering kali menatap mataku ketika aku berbicara. Dia juga selalu mau mendengarkan cerita-ceritaku. Meskipun kadang aku membagikan kisah yang terbilang aneh, membosankan, atau bahkan tak penting.
Dia senantiasa menemaniku untuk menertawakan hal-hal receh yang sangat menghibur. Dia selalu punya waktu untukku di tengah kesibukannya. Bahkan di pertemuan singkat pun, kisah kita mengagumkan.
Dia bukan hanya pendengar, tapi dia juga bercerita. Dia mengizinkanku untuk tahu tentang dirinya. Dia membukakan pintu untukku mengenalnya lebih jauh. Untuk saat-saat bahagia yang telah dan akan dia luangkan untukku, aku sangat berterima kasih.
"Besok ketemu yuk, aku mau cerita," katanya.
Dan aku selalu tersenyum untuk setiap detik yang kita habiskan bersama.
Waktu kita menyenangkan.
Tapi kamu lebih membahagiakan.
♡ Day 18: ENEMIES TO LOVERS
| Rifa, sibuk gak? |
Aku membaca pesan singkat itu saat tengah mempersiapkan berkas untuk mendaftar SMA. Aku menghela napas. Menyebalkan. Kenapa dia terus menghubungiku? Aku bahkan membenci pesannya. Tidak, sebenarnya aku membenci segala hal tentang dirinya. Dia pengganggu, sifat dan sikapnya bertolak belakang dengan prinsipku, dia membuatku merasa risih tiap saat, dia tak menyenangkan. Tak ada yang aku sukai darinya.
Saat lulus sekolah, salah satu hal yang aku syukuri adalah berpisah dengannya. Aku merasa terbebas setelah tiga tahun terperangkap di kelas yang sama dengan lelaki itu.
| Enggak, kenapa? |
Aku iseng membalas. Berawal dari satu kata tanya, dia akhirnya mengatakan hal yang cukup mengejutkan. Hari itu, dia mengaku bahwa dia menyukaiku sejak lama. Sebenarnya, sejak dia sering menggangguku di kelas, aku sempat berpikir demikian. Namun, kubuang jauh-jauh pikiran itu sebab ternyata dia adalah pengganggu bagi semua orang. Dia memang menyebalkan.
Hari itu, dia berkata bahwa dia sesuka itu padaku. Tentu saja aku tak percaya, meskipun sempat terkejut. Namun, dia mencoba meyakinkanku.
Saat itu aku berpikir, mungkin memang benar, makanya dia sering mengusikku. Tapi sepertinya ini hanyalah cinta monyet dari anak yang baru tamat SMP saja.
Beberapa tahun kemudian, aku dan dia kembali bertemu. Kami telah dewasa. Banyak hal yang berubah, kecuali satu; perasaannya.
Dia masih menyukaiku.
Dan jantungku berdebar saat aku mengetahui fakta itu.
♡ Day 19: PERPISAHAN
Setiap temu akan berujung pisah. Namun, manusia masih saja menunggu sebuah pertemuan, bahagia akan perjumpaan, padahal perpisahan selalu menanti di persimpangan jalan.
Bahagia itu lantas diikuti dengan sebuah harapan. Harapan tentang bertahan, harapan akan kepastian, dan harapan untuk janji tak meninggalkan.
Manusia memang suka sekali berekspektasi tinggi, bahkan atas hal-hal yang tak seharusnya dimaknai dengan sepenuh hati. Saat dijatuhkan, seketika mengeluh dan merasa hancur. Padahal, diri sendiri yang menciptakan rangkaian cerita khayalan yang indah itu. Padahal, pikiran sendiri yang berlebihan menanggapi segalanya.
Kurasa itulah yang terjadi padaku. Atau pada kita?
Menurutmu, kenapa kita bisa selesai?
Tentu saja salahku, jika dari versimu. Dan salahmu, jika dari versiku. Kita saling menyalahkan di saat seharusnya kita introspeksi diri. Kemudian berujung perpisahan yang cukup membuatku hilang arah. Terlebih lagi, hari itu kita tak mengakhiri segalanya dengan baik. Kamu yang terlalu emosi dan aku yang muak menghadapi emosimu. Dan di matamu, mungkin aku adalah wanita yang sangat tak pengertian.
Jika kita berjumpa lagi, aku ingin bertanya, apakah kamu sudah menemukan wanita pengertian yang memahami emosimu itu? Apakah memang aku yang tak cukup sabar menghadapimu, meski aku mencintaimu?
Hari ini, sebuah pesan mendarat di ponselku. Pesan terusan yang membawa kabar tentangmu. Ah, apakah kamu benar-benar menemukannya? Apakah aku akan segera mendapatkan berita bahagia darimu?
Namun, selanjutnya aku terdiam. Langit yang menurunkan hujan malam ini kalah dengan air mataku.
Kulihat kata "Innalillahi" mengawali kabar kepergianmu.
Perpisahan kita benar-benar nyata.
♡ Day 20: RED FLAG
"Kamu percaya gak kalau suatu saat aku bisa jadi penulis?"
"Enggak."
"Hah?"
"Mending cita-cita yang lain aja, ngapain jadi penulis? Gak guna."
***
"Suaramu kenapa?"
"Habis nangis."
"Nangis kenapa?"
"Nonton drakor. Sumpah ini keren banget."
"Nonton drakor doang nangis. Apaan tuh nonton drakor menye-menye? Mending nonton drama action."
***
"Sedih banget."
"Kenapa?"
"Suga BTS mau ke Indonesia, tapi gak bisa datang."
"Ya udah, gak apa-apa, gak usah sedih."
"Mau pake tabungan, tapi belum cukup."
"Gak usah. Apaan sih, gak penting banget. Mending uangnya buat kebutuhan lain."
***
Aku berkali-kali bertemu manusia yang tak bisa menghargai hal-hal kecil yang aku sukai. Aku tak marah. Aku mengintrospeksi diriku. Mungkin tanpa sengaja, aku melakukan hal seperti ini pada orang lain. Makanya sekarang semesta membalasku. Atau memang aku saja yang tak beruntung?
Menurutku, lelaki seperti ini tak kalah bahaya dengan lelaki yang main tangan, atau tukang selingkuh. Mereka sama saja toxic-nya.
Aku tak marah. Sebab ekspektasiku yang terlalu tinggi. Sekarang aku hanya perlu menghindar.
♡ Day 21: ACT OF SERVICE
"Biar aku antar aja."
"Gapapa, aku nunggu adekku jemput aja. Jauh kalo kamu nganter, muter jalan lagi."
"Ya gapapa. Sesekali doang."
"Beneran gapapa?"
"Iya, ayok."
Hari itu dia benar-benar mengantarku pulang setelah bekerja. Banyak sekali perbuatan baiknya padaku. Namun, aku tak pernah menganggap itu sebagai bentuk rasa suka meskipun rekan kerjaku berpikir demikian. Jika segala perbuatan baik dianggap sebagai rasa suka, sepertinya terlalu berlebihan. Aku tak ingin memikirkan hal yang belum pasti.
Namun, hari ini rasanya berbeda. Aku mulai terpengaruh. Aku tiba-tiba saja menunggu pesannya, walaupun dia tak pernah mengirim pesan padaku selain tentang pekerjaan. Dan lagi, aku sia-sia saja menunggu.
"Loh, ini kan gantungan kunci yang aku cari, kok di sini?" tanyaku kaget saat menemukan barang pemberian almarhum Papa yang hilang kemarin itu sudah berada di atas meja kerjaku pagi ini.
"Adam yang nemu," jawab Lila.
"Dia nemu di mana?"
"Kata Pak Agus, dia pagi banget datangnya. Dia datang minta kunci ruangan ke Pak Agus, katanya mau nyari sesuatu, makanya datang pagi sebelum dibersihin."
Aku terdiam. Kenapa sebegitu berusahanya dia menemukan barangku? Kenapa? Ini hal kecil yang cukup manis.
Aku benar-benar sudah terpengaruh.
♡ Day 22: CINTA YANG MENYAKITI
Katanya cinta, tapi kenapa bisa saling menyakiti?
Adakah yang bisa menjawab pertanyaan ini?
Kurasa aku benar-benar tak begitu tahu pasti tentang apa itu cinta. Namun, aku memang pernah membaca quotes, katanya jatuh cinta itu sepaket dengan patah hati. Jadi, kalau sudah berkaitan dengan cinta, ya siap-siap saja patah hati.
Apakah karena rasa sayang ya? Karena sayang, ekspektasi kita jadi lebih tinggi pada seseorang. Ketika ternyata ekspektasi itu tak sesuai kenyataan, kita akan merasa sakit.
Tentang cinta yang menyakiti, aku jadi ingat kisah Baek Yijin dan Na Heedo dalam drama Twenty Five Twenty One. Dua manusia yang katanya saling mencintai, tapi malah saling menyakiti dan berujung perpisahan.
Selain patah hati, sepertinya cinta juga akan selalu berhubungan dengan merelakan atau melepaskan. Katanya, cinta tak harus memiliki.
Ah, aku benar-benar tak paham. Dulu.
Sampai akhirnya, aku mengerti. Memang benar kata orang, kita bisa paham jika kita mengalaminya sendiri.
| Ca, sidang mama udah mau mulai. |
Aku mengirim pesan pada putriku yang sedang menunggu di rumah. Mungkin dia sedang menangis sekarang. Mungkin dia masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin kedua orang tuanya yang mengaku masih saling mencintai memutuskan untuk berpisah?
♡ Day 23: PERJODOHAN
"Tanpa dijodoh-jodohin juga, mereka kayaknya bakal saling suka." Fani berkata dengan santainya.
"Setuju!" teriak Kinan nyaring. Sementara kawan mereka yang sedang dibicarakan mendelik kesal pada dua sahabatnya itu.
"Please guys, ini dijodohin, bukan dijodoh-jodohin." Airin akhirnya membuka suara.
Kening Kinan berkerut. "Emang beda, ya?"
Airin menghela napas. Namun, belum sempat ia menjawab, Fani lebih dulu menimpali, "Kalo dijodohin, beneran dari keluarga. Kalo dijodoh-jodohin, itu dari teman-teman."
"Udahlah, terserah." Airin terdengar pasrah, dan Kinan setuju-setuju saja.
"Kenapa sih gak mau? Mas Fahri baik banget loh," tanya Fani.
"Aku gak cinta sama dia."
"Tapi banyak kok perjodohan yang berhasil walaupun awalnya gak saling cinta."
"Tapi banyak yang gagal juga, kan?"
"Kamu mikir kemungkinan negatif mulu."
"Ini masalah nikah, Fan. Bukan hal yang remeh."
***
Suara derap langkah kaki menyadarkan lamunan Airin yang sedang menunggu di depan sebuah rumah. Mendatangi rumah ini membuat Airin tiba-tiba memutar memori masa lalu. Rumah yang ia datangi sekarang adalah bukti bahwa hidup adalah kejutan, termasuk jodoh.
"Airin?"
"Pagi, Mas Fahri. Fani ada?"
"Ada kok, lagi masak di dalam. Sini masuk."
♡ Day 24: PENGKHIANATAN
"Aku mau balikin semua barang-barang dari kamu," ujarku dengan suara gemetar. Sebuah kardus berukuran sedang segera aku letakkan di atas meja ruang tamunya.
"Aku kan udah bilang gak usah dibalikin," jawabnya dingin. Benar-benar berbeda dengan Atha yang kukenal.
"Terus mau aku apain? Kamu pikir aku masih mau nyimpan barang dari kamu?!"
"Gak usah emosi gitu dong. Ya udah kalau mau dibalikin."
"Gak usah emosi?" Aku menyeringai. "Kamu beneran gak ngerti ya? Udah setahun kita tunangan, tahun ini seharusnya nikah tapi kamu malah selingkuh sama perempuan lain!"
Ah, sial. Air mataku jatuh tanpa permisi.
"Ana pacarku sejak awal, bukan selingkuhan."
"Apa?"
"Aku gak pernah ngasih janji apa pun ke kamu, Yun. Jadi kamu jangan merasa dikhianati."
Aku terdiam. Mulutku kaku, lidahku kelu. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu?
Aku hanya bisa menghela napas. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. "Aku pergi."
"Yun!" Dia menghentikan langkahku yang sudah hampir keluar dari rumahnya. Dan entah kenapa aku masih mau mendengar apa yang ingin dia katakan.
"Aku gak pernah mengkhianati kamu." Ucapannya membuatku berbalik badan. "Sejak awal aku gak cinta sama kamu, aku gak pernah bohong karena aku memang gak pernah bilang cinta ke kamu. Kamu tahu kalau sejak awal aku gak setuju sama perjodohan kita. Aku juga gak pernah menjanjikan apa pun.
"Aku gak pernah mengkhianati kamu, Yun. Karena sejak awal, aku memang gak ada di pihakmu."
♡ Day 25: CINTA SATU MALAM
"Selamat ulang tahun, Nak."
"Makasih banyak, Ibu, Ayah." Aku memeluk dua kesayanganku itu.
"Mau hadiah apa?"
"Hm... gak mau apa-apa, cuma mau Ayah Ibu janji aja."
"Janji apa tuh?"
"Janji jaga kesehatan, janji untuk selalu ada di sisiku, janji untuk bahagia selalu."
"Ini mah untuk Ayah sama Ibu, coba untuk diri kamu sendiri." Ayah mengelus rambutku.
"Hm... Soalnya kalau Ayah Ibu baik-baik aja, aku juga bahagia."
"Selain itu ada lagi gak?" tanya Ibu.
"Itu aja, cukup."
"Itu hal yang gak bisa dijanjikan, Nak. Tapi Ayah akan berusaha, Ibu pun pasti gitu. Iya kan, Bu?"
"Tik... tik... Atikaaa!!"
Aku tersadar. Seorang lelaki berdiri di samping kasurku.
"Nyenyak amat tidurnya. Ayo bangun, cewek kok bangunnya siang. Sana bantuin Ibu masak."
"Hm..." Aku hanya memberikan respons seadanya pada kakakku. Aku masih berusaha mencerna segalanya.
Ah, mimpiku indah sekali. Ini benar-benar hadiah ulang tahun terindah dari Tuhan. Terima kasih sudah menghadirkan Ayah dalam mimpiku. Meski hanya semalam, tapi bahagia cukup menghampiriku.
Ayah, di sana baik-baik aja, kan?
Tuhan pasti baik sama Ayah.
♡ Day 26: RECEIVING GIFTS
"Daebak!" seru Jelita.
"Why?"
"Gila, kamu masih nyimpen ini?" tanyanya sembari memperlihatkan sebuah gelang padaku.
"Aaa itu, iyaa dong, masih kusimpan," jawabku santai. Aku lantas melanjutkan kegiatan beres-beres. Tiga hari lagi aku dan keluargaku akan pindah rumah.
"Daebak! Udah belasan tahun berarti. Dari kelas lima loh ini, jadi terharu."
Jelita tiba-tiba saja memelukku, membuatku menghentikan sejenak kegiatanku. "Apa sih, Jel? Sana lanjutin."
"Terharu banget, kamu masih nyimpan hadiah dari aku belasan tahun lalu. Padahal dulu ini tuh murah banget haha, kamu bisa beli yang lebih bagus."
"Bukan harganya, atau bentuk barangnya, Jel."
"Maksudnya?"
"Dalam menerima sesuatu, aku hanya melihat dua hal, siapa yang ngasih dan ketulusannya. Gak peduli mau itu sesuatu yang murah kek, mahal kek. Tulusnya yang penting. Gak berupa barang pun berarti banget buat aku. Misal kata-kata penyemangat dan kata-kata kepercayaan. Atau pas aku ulang tahun, aku dikasih ucapan aja udah senang banget. Aku merasa kalo 'ah, ternyata mereka care sama aku' gitu."
"Maaf ya, Lus."
"Lah, kenapa?"
"Di ultah kamu yang kemarin aku gak ngasih hadiah apa-apa. Kamu tau kan aku lagi ada masalah keuangan hehe."
"Apa sih, kayak ama siapa aja. Kata siapa kamu gak ngasih hadiah? Ada kok."
"Hah? Apaan?"
"Kehadiran kamu."
Jelita mengernyit.
"Kehadiran kamu di sini selama belasan tahun, itu hadiah terbesar, Jel. Kamu gak perlu ngasih apa-apa lagi ke aku."
♡ Day 27: MOVING ON
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku mendatangi seorang barista dan meminta dibuatkan kopi yang baru. Tanggung jika pulang, pekerjaanku tak lama lagi selesai, mungkin sekitar pukul sepuluh aku bisa pulang. Sudah dua jam aku duduk di kafe ini. Makin malam, pengunjungnya makin ramai. Ada yang datang berkelompok, berdua, bahkan sendirian sepertiku.
Aku tengah menunggu kopiku ketika penyanyi kafe memulai sebuah lagu yang dari intronya saja sudah sangat kukenal. Seketika aku tersenyum. Teringat bagaimana dia begitu menyukai lagu ini, bahkan sering sekali dia nyanyikan untukku. Tak banyak yang tahu lagunya. Lagu penyanyi indie memang kadang tak ter-notice, padahal banyak sekali yang bagus.
"Kamu gak mau nyanyi di situ?" tanyaku kala itu. Aku penasaran apakah dia mau bernyanyi di kafe ini atau tidak.
"Gak ah."
"Kenapa?"
"Aku cuma mau nyanyi buat kamu aja. Gak mau buat orang lain," jawabnya sembari menatap mataku.
Aku tertawa kecil. Memang itu keahliannya, membuatku tersipu dengan kata-katanya. Dia gemar berpuisi, dia suka menulis, banyak kesamaan di antara kami. Namun, banyak kesamaan pun ternyata tak cukup untuk membantu hubungan bertahan.
Kopiku akhirnya datang ketika aku sedang menikmati lagu. Lagi-lagi aku tersenyum. Kopi ini juga kesukaannya yang kebetulan jadi kesukaanku sejak kami bersama. Aku sempat membenci Latte karena kepergiannya. Aku bahkan membenci kafe ini, aku membenci lagu-lagu kesukaannya. Aku membenci segala tentang dirinya. Padahal seisi kota ini adalah tentangnya.
Namun, belakangan ini aku kerap kali tersenyum tanpa rasa sakit lagi ketika mengingatnya, aku benar-benar telah berdamai dengan keadaan. Kutinggalkan sejenak pekerjaanku dan membuka word baru di laptop. Banyak kata yang mengamuk ingin dikeluarkan.
Aku belum melupakannya? Ya, belum. Tetapi move on bukanlah tentang melupakan, melainkan penerimaan. Aku telah menerima segala yang terjadi dan aku telah berdamai dengan masa lalu. Aku baik-baik saja meski mengingatnya. Sebab dia tak lagi berarti apa-apa untukku.
♡ Day 28: CINTA TERAKHIR
나는 아직도 배우고있다
"Yes, bisa!"
"Ngapain, Fah? Serius amat."
"Belajar nulis hangeul. Aku udah bisa dikit-dikit."
"Aaa jadi ini yang kamu kerjain bekakangan ini? Pantes kek sibuk banget."
"Haha ngisi waktu luang aja, Kak."
"Hati-hati ada yang cemburu."
"Hah? Cemburu apaan? Siapa?"
"Tuh." Kak Kiki menunjuk dengan tatapannya. Aku mengikuti arah matanya yang ternyata menunjuk Al-Qur'an di sebuah rak, bersatu dengan buku-buku koleksiku.
Aku terdiam. Sementara Kak Kiki melenggang keluar dari kamarku setelah mengambil kerudung yang kupinjam kemarin. Aku kembali menatap kitab suci itu. Entah kenapa tiba-tiba merasa tertampar. Belakangan ini aku memang lebih sering mengurusi urusan fangirling ketimbang membaca Al-Qur'an.
Tatapanku berpindah pada kumpulan sticky notes di dekat meja belajar. Salah satu catatan bertuliskan resolusi bahwa aku ingin khatam Al-Qur'an lebih dari sekali di tahun ini. Namun, apa yang kulakukan sekarang?
"Gak apa-apa."
Aku terkesiap. Kak Kiki tiba-tiba saja kembali dan berdiri di pintu kamarku. "Gak apa-apa belajar hangeul, asal cinta utamanya jangan dilupain," lanjutnya.
"Dijadikan hiburan aja korea-koreanya. Jangan dijadikan pusat dari segalanya. Kakak tahu kok Afifah udah paham dan bisa mengontrol diri."
Aku tersenyum. "Makasih, Kak."
"Mau jenguk Adek gak?"
"Mau!" seruku.
"Ya udah, ntar agak sorean ya." Aku mengangguk sebelum Kak Kiki pergi.
Mataku menatap foto tiga bersaudara yang terpajang di salah satu sisi dinding kamarku. Adik bungsuku telah berpulang karena sakit. Aku seharusnya ingat bahwa aku akan pulang juga nantinya. Kembali pada cintaku yang sebenar-benarnya.
◇◇◇
Story by Nissa Hazul💐

Komentar
Posting Komentar