EPIPHANY: Story & Review



Hai, guys!

Kali ini aku akan me-review buku Epiphany karya salah satu kawanku, Ida Royani. Dia seorang Kpopers juga sepertiku. Jika aku adalah ARMY-CARAT, dia adalah ARMY-ENGENE. Sama-sama jatuh cinta pada HYBE Boys. Biasnya di Bangtan adalah Min Yoongi, dengan cinta pertama Kim Seokjin.

Intermezo dulu ya sebelum masuk ke review. Aku ingin sedikit membahas tentang manusia mengagumkan satu ini. Aku pertama kali berkenalan dengannya di bulan Juni 2022. Namun, sejak 2021, aku sudah tahu bahwa di dunia ini ada seseorang bernama Ida Royani. Aku banyak mendengar cerita tentangnya dari salah satu teman ARMY yang lebih dulu kukenal, namanya Faya. Faya dan Ida adalah teman real life, dan mereka menempuh pendidikan di jurusan yang sama yaitu Pendidikan Matematika.

Sejak Faya tahu kalau aku menggeluti dunia literasi, dia selalu bercerita tentang Ida, yang katanya punya kemiripan denganku. Mungkin karena kami sama-sama menulis. Dari cerita-cerita Faya, aku sudah kagum dengan sosok Ida. Banyak hal yang Faya ceritakan. Tentang bagaimana Ida selalu mengayomi seperti kakak ke adik kandung sendiri, tentang bagaimana Ida mendengar cerita-ceritanya, tentang bagaimana Ida dengan positif vibes-nya memberikan banyak kekuatan untuk Faya.

Aku juga sering melihat sedikit sosok Ida dari story whatsapp yang biasanya Faya bagikan. Entah itu fotonya, atau tangkapan layar chat mereka. Aku juga tahu akun instagramnya dari igs Faya, tetapi masih enggan untuk follow karena punya ketakutan. Aku adalah orang yang cukup malu untuk memulai perkenalan. Takut tak diterima, takut memulai percakapan, dan perasaan lainnya.

Di sisi lain, Ida juga sudah mendengar tentangku. Sama seperti bagaimana Faya bercerita tentang Ida padaku, dia juga mengatakan bahwa dia kadang bercerita tentangku pada Ida. Haha, agak lucu. Kami saling tahu dari Faya.

Pada Februari 2022, Faya meminta izin untuk membagikan link blogku pada Ida. Waktu itu aku memberikan hadiah kecil untuk AWL, terkhusus para admin periode pertama. Sebuah tulisan yang juga ada di blog ini. Sepertinya Ida mampir ke blogku melalui Faya, dan saat itu Ida meninggalkan sebuah komentar yang sangat hangat.




Komentar manis itu kemudian aku balas, yang kemudian menjadi awal interaksi kami.


Di sini aku baru tahu kalau Ida lebih muda dua tahun dariku, wkwk. Dari awal aku mengira bahwa dia lebih dewasa, terlihat dari caranya berinteraksi pada Faya, dari percakapan-percakapan yang pernah kusaksikan melalui story. Namun, ternyata aku salah. Ida lahir pada tahun 2000. Dia sangat tahu cara menempatkan diri. Dia dewasa di depan adiknya, tetapi setelah aku mengenalnya, ternyata dia juga punya sosok 'adik' yang bisa kurasakan.

Pada tanggal 1 Maret (hari ulang tahun Ida), Faya menghubungiku untuk bertanya tentang penulisan blog.



Aku tidak tahu jika hari itu adalah ulang tahun Ida. Setelah Faya share tulisan di blognya, aku baru tahu bahwa ternyata kakak kesayangannya itu berulang tahun. Dia menuliskan cinta yang sangat manis untuk Ida. Aku membaca blognya. Dan bertambah lagi hal-hal tentang Ida yang kutahu melalui blog Faya.

Setelah itu, di bulan yang sama, tanggal 17 Maret, aku melihat sisi romantis Ida yang lain. Dia mengirimkan hadiah dan pesan yang sangat manis untuk Faya yang sedang berulang tahun. Aku benar-benar gemas dan terharu melihat hubungan mereka yang begitu dalam. Dua orang ini... romantisnya luar biasa.

Waktu berlalu, aku dan Ida akhirnya saling follow di instagram. Aku lupa siapa yang lebih dulu follow. Belum berkenalan secara resmi, Ida beberapa kali tag akun instagramku, yang isinya tak jauh-jauh dari info kepenulisan atau lomba-lomba menulis. Hingga akhirnya di bulan Juni 2022 dia mengajakku berkenalan secara resmi di DM. *Ciyah, resmi gak tuh.



Kemudian, kami pindah ke whatsapp.


           


Akhirnya, kami berteman baik sampai sekarang. Dan Faya menunjukkan kebahagiaannya atas perkenalanku dengan Ida. Faya benar-benar jalan pertama perkenalan kami, dan aku berterima kasih untuk itu. Aku bersyukur bisa berteman dengan dua manusia romantis ini.

Aku dan Ida selalu saling sharing hal-hal berkaitan dengan kepenulisan, buku, dan tentunya Kpop. Semakin aku mengenalnya, semakin aku kagum. Dia benar-benar 'positif vibes'. Sebelum dan sesudah aku mengenalnya, dia tetap orang yang keren di mataku. Dia juga salah satu orang yang memotivasiku untuk terus menulis. Aku banyak belajar dari dia. Tak peduli dia lebih muda, sebab belajar bisa dari siapa saja. Dia sudah menerbitkan dua buku solo, dan tak henti-hentinya dia mendukungku untuk bisa menerbitkan karya solo juga. Doakan saja, semoga bisa segera terealisasi.

Oh ya, kenapa aku harus membahas ini?
Karena sama seperti arti "Epiphany", yaitu situasi ketika kamu tiba-tiba menyadari sesuatu yang berarti untukmu.

Ida dan tentunya juga Faya adalah Epiphany untukku...



Hai, adik-adikku. I LOVE U💖



💜💜💜



Oke, sekarang kita masuk ke review !!


Identitas Buku:

Judul Buku: Epiphany

Penulis: Ida Royani

Penerbit: IAM Publishing

Terbit: 2021

Tebal: 169 halaman

Blurb:

Pernah merasa insecure? Pernah merasa pesimis berlebihan? Pernah merasa tidak percaya diri? Atau kamu masih bingung bagaimana mencintai diri sendiri?

Jika kamu pernah mengalami hal demikian, maka kamu harus membaca buku ini. Epiphany datang sebagai jawaban atas permasalahan di atas. Sebuah buku yang mengupas lebih dalam tentang diri sendiri. Setiap kata disajikan dengan bahasa sederhana namun bermakna.

Epiphany hadir dengan harapan mampu menjadi 'pencerahan' bagi siapa saja yang membacanya. Sebuah bacaan yang cocok untuk semua kalangan. Buku ini akan membuatmu menyadari betapa berharganya diri sendiri.

Tidak percaya? Buktikan sendiri!

Baca dan temukan manfaatnya.


***


Sebelumnya, aku ingin mengatakan bahwa meski aku mengenal dekat penulisnya, aku akan melakukan review secara jujur. Apa yang aku tulis adalah apa yang aku rasakan tentang Epiphany.

Buku ini bergenre non fiksi motivasi, dengan tema "self love". Ya, buku ini tentang mencintai diri sendiri. Bagaimana cara mencintai diri sendiri, bagaimana menerima diri dengan apa adanya. Bukan hanya itu, buku ini juga membahas tentang cara berpositif thinking, berdamai dengan keadaan, mengenali kelebihan dan kekurangan, bahkan cara mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik. Ada pula sebuah motivasi agar tidak mudah menyerah atas apa-apa yang terjadi, sebab Tuhan selalu bersama kita.

Menurutku, buku ini cocok dibaca oleh orang dari berbagai usia. Sebab hal-hal yang dituliskan sangat positif dan berhasil membawa pembaca masuk ke dalam tulisannya. Cara penyampaiannya juga santai, sehingga mudah dipahami.

Banyak hal-hal menarik dari buku ini. Pertama, di awal sebelum masuk ke inti, Penulis memberikan pembukaan berjudul 'Syarat Membaca Buku Ini'. Baru kali ini aku menemukan buku yang diawali dengan syarat. Kalian mungkin berpikir, kenapa harus ada syarat? Sebenarnya di bagian ini Penulis memberikan tips agar suasana membaca lebih baik dan lebih tenang. Dan semua yang ditulis sangat efektif. Aku berkali-kali setuju dengan hal-hal yang dituliskan di bagian ini. Kedua, di akhir beberapa sub pembahasan, ada pertanyaan atau bahkan tantangan yang harus dijawab. Hal ini membuat efek bacaan sebelumnya menjadi lebih nyata. Aku sangat suka bagian-bagian ini.

Ketiga, gaya penulisannya menyesuaikan pembahasan. Kadang formal, ada pula yang santai. Sesekali diselingi candaan yang berhasil membuat tersenyum. Rasanya seakan-akan Penulis sedang berbicara langsung dengan pembaca. Keempat, buku ini penuh dengan kumpulan quotes yang sangat menarik. Entah dari penulis lain, dari beberapa tokoh berpengaruh, dan tentu saja dari Penulis sendiri. Quotes yang selalu berhasil membuatku tertampar, tersadar, dan tentu saja banyak yang memotivasi. Kelima, keseluruhan isinya tentu saja menarik. Segala sesuatu yang dibahas di buku ini benar-benar berhasil membuatku menyadari banyak hal, pikiranku menjadi lebih terbuka, dan tentunya termotivasi untuk mencintai diri sendiri.

💐

Ada beberapa quotes penulis yang aku suka...

Lihatlah ke dalam dirimu dan temukan hal berharga yang tersimpan di sana (hlm.43)

Kamu bukan gagal, hanya keberhasilan yang tertunda. Sebab kegagalan hanya milik mereka yang tidak mau bangkit dan berhenti begitu saja. Itulah gagal yang sesungguhnya (hlm. 47)

Positif thinking adalah salah satu cara menghindari luka (hlm. 75)

Ada yang berjuang karena penyesalan di masa lalu. Ada yang berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Ada yang berjuang untuk memenuhi harapan orang tua. Tidak masalah apa pun alasanmu berjuang Asalkan kamu tidak menyerah dan berhenti di tengah jalan (hlm. 102)

Kegagalan adalah kewajaran, tetapi keberhasilan adalah pilihan (hlm. 109)

Langkah pertama mencintai diri sendiri adalah menerima diri sendiri (hlm. 111)

Dan yang sangat-sangat aku suka:

Berikan cinta yang sempurna untuk dirimu saja. Karena jika suatu saat kamu lelah, kamu masih memiliki alasan untuk bertahan (hlm. 130)

💐

Sub pembahasan favoritku adalah "Positif Thinking" dan "Love Yourself". Di bagian "Positif Thinking" aku sedikit tertampar dengan paragraf di halaman 71. Betapa dulu aku adalah orang yang pernah mempertanyakan jalan hidupku, terlebih ketika aku ditinggalkan oleh Ayah. Padahal, Tuhan pasti punya maksud di balik semua kejadian. Sebagai orang yang pernah berada di posisi itu, aku sangat setuju atas hal-hal yang dijabarkan oleh Penulis di sini. Sementara di bagian "Love Yourself" berisi cara-cara mencintai diri sendiri. Penulis benar-benar memberikan 'cara' agar kita bisa belajar mencintai diri sendiri. Sangat sesuai untuk aku yang memang masih dalam proses untuk menghargai dan mencintai diriku.

***

Di balik segala kelebihan, tentunya ada kekurangan. Sama seperti sub pertama yang berjudul "Ketidaksempurnaan", sebuah karya pun akan memiliki kekurangan, sebab kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Sepanjang membaca 169 halaman, aku menemukan beberapa typo. Meski tidak mengganggu karena hanya sekitar 3-4 typo saja. Selain itu, ada sedikit penulisan kata yang belum sesuai dengan KBBI.

Aku juga menemukan kata yang tak sesuai penempatannya, yaitu kata 'diam tak bergeming' di halaman 91. Bergeming sendiri sudah bermakna diam.

Di setiap sub pembahasan, Penulis menggambarkan dirinya dengan kata 'saya'. Namun, di halaman 134, sudut pandang berubah menggunakan kata 'Penulis'. Menurutku akan lebih baik jika tetap menggunakan kata 'Saya', terlebih lagi isi halaman itu tentang pengalaman Penulis sendiri. Pembaca pasti akan lebih merasa berbicara langsung dengan Penulis jika menggunakan kata 'saya'.

Hal-hal ini mungkin terjadi karena naskah ini diedit oleh Penulis sendiri, sehingga beberapa hal bisa terlewatkan. Dari sini bisa terlihat, bahwa kita akan selalu butuh orang lain.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan, overall, buku Epiphany karya Ida Royani ini benar-benar sangat layak dibaca, isinya sungguh positif, terutama untuk insan-insan yang masih kesulitan mencintai diri sendiri.


***


Sekian review dariku. Maaf atas segala kekurangan. Dan maaf jika ada kata-kata yang salah dalam review kali ini.

Untuk Ida, terima kasih sudah menulis buku ini. Kamu berhasil menyebarkan hal positif melalui karyamu. Bukumu ini mungkin telah mengubah banyak orang menjadi lebih baik. You are awesome.

Terima kasih💖


Salam sayang,

Nissa Hazul♡

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy