Review KALA: Kita adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa

 

              


Identitas Buku:

Judul Buku : KALA: Kita adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa

Penulis        : Hujan Mimpi dan Eleftheriawords

Penerbit     : Gradien Mediatama

Terbit          : 2017

Tebal           : 327 halaman

Blurb:

Jika perubahan adalah satu-satunya yang pasti, maka ketidakpastian akan dimiliki oleh waktu. Karena pada detak ke sekian, aku mendapati diriku jatuh cinta pada seseorang yang tidak ingin secara egois aku miliki. Lalu kita, diselundupkan dalam kala, sebagai pengantar pesan utusan semesta. 

🍂

Aku baru saja menyelesaikan buku yang sejak dulu ingin kubaca, tapi baru kesampaian sekarang. KALA adalah buku karya Stefani Bella atau yang biasa dikenal dengan nama pena Hujan Mimpi, berkolaborasi dengan Syahid Muhammad atau Eleftheriawords. Ini adalah pertama kalinya aku membaca buku dua penulis hebat ini. Aku hanya sering mengagumi tulisan-tulisan mereka di instagram, hingga akhirnya penasaran membaca buku mereka. 

KALA bercerita tentang dua manusia yang semestanya saling bersinggungan kisah, Saka dan Lara. Saka adalah seorang pria yang suka kebebasan, bekerja sebagai fotograger freelance di Kota Bandung. Adapun Lara, gadis yang penuh keteraturan dan suka menulis, ia merupakan karyawan di sebuah kantor penerbitan Jakarta.

Saka dan Lara dipertemukan dalam sebuah pameran gabungan komunitas fotografi dan komunitas menulis di sebuah Coffee Shop Bandung. Tanpa sepengetahuan dua manusia itu, semesta menyatukan foto dan tulisan mereka. Jepretan Saka sukses membuat Lara menerka-nerka makna pada setiap sudut gambarnya, dan tulisan Lara berhasil membuat Saka hanyut dalam kumpulan aksara yang sangat cocok dengan gambar yang diambilnya. Masing-masing merasa bahwa foto dan tulisan itu memang sangat tepat dipasangkan.

Saka dan Lara memiliki luka masa lalu yang menyakitkan. Pertemuan itu membuat mereka bersatu untuk kemudian saling menyembuhkan. Sebelum akhirnya disadarkan akan sebuah fakta bahwa orang yang sama-sama memiliki luka pun bisa saling melukai.

Penulis mengemas novel ini dengan sangat puitis. Pembaca akan dibuat kagum dengan diksi-diksi indah dan rapat. Ada pula sajak-sajak yang menghiasi setiap babnya. Dari halaman awal saja, pembaca disuguhkan dengan kalimat yang sangat apik. 

Kepada Nurani,

Kau adalah sebenar-benarnya suci.

Hidup sebagai entitas paling lembut tetapi harus dikungkung oleh ego dan dikhianati oleh nafsu, oleh logika. 

Kau tak pernah kelelahan meski terseok dan tersingkirkan oleh pemahaman-pemahaman hasil perhitungan otak kiri.

Suaramu seringkali terdengar sayup dan lirih, yang sering datang di sela-sela lara yang mulai hadir.

Merangkak dan berbisik lembut melalui setiap denyut dan aliran darah yang tersebar ke seluruh raga ini.

Raga yang tak ingin menyerah meski harus berhadapan dengan keganasan isi kepala yang selalu membuas tak terkendali.

🍂

Buku ini menggunakan dua sudut pandang, yaitu dari sisi Saka dan sisi Lara. Diawali oleh sudut pandang Saka, diikuti sudut pandang Lara, dan begitu seterusnya. Hal ini membuat pembaca bisa memahami perasaan dan pikiran tokoh dalam suatu peristiwa. Pembaca juga akan dibuat memihak ke salah satu tokoh, lalu akan dipatahkan saat pembaca berpindah sudut pandang.

Lagi baca sudut pandang Saka, kadang tak setuju dengan sikap dan perbuatan Lara. Namun, saat membaca dari sisi Lara, rasanya langsung paham segala maksud di balik perbuatannya. Begitu pun sebaliknya. Pembaca benar-benar dibawa berpetualang oleh pikiran dan nurani dua manusia yang sangat bertolak belakang. 

Seperti kata Lara di prolog: Aku dan dia akan membebaskanmu untuk menentukan mana yang benar atau mana yang salah, atau mungkin tidak pernah ada yang benar apalagi salah di antara kami.

Kalimat ini aku pahami setelah membaca klimaks dari buku ini. Benar kata Lara, aku pun yakin bahwa pembaca pasti sempat menyalahkan salah satu pihak atas apa yang terjadi. Walaupun pada akhirnya bingung dengan perasaan sendiri.

🍂

Mengenai kalimat-kalimat di buku ini, jujur saja aku sempat tak mengerti saat membaca bagian Saka di awal-awal. Diksinya sangat bagus, kalimat-kalimatnya sangat kompeks, tetapi menurutku terlalu sulit untuk dipahami. Berbeda saat aku membaca bagian Lara, aku lebih bisa menikmati kisah yang disuguhkan oleh Lara.

Namun, mulai dari pertengahan sampai akhir, bagian Saka sudah bisa aku nikmati karena kalimatnya bisa lebih mudah dicerna.

Dalam beberapa percakapan, Saka dan Lara berbicara menggunakan bahasa Inggris full tanpa ada terjemahan. Untukku yang bahasa Inggrisnya tak begitu bagus, agak membutuhkan waktu untuk memahami dialognya. Namun, bisa sekalian menambah ilmu bahasa Inggris juga hehe. Bagi yang bahasa Inggrisnya bagus, ini sama sekali bukan masalah.

🍂

Berdasarkan karakter, aku tak bisa mengatakan lebih menyukai karakter siapa. Sama seperti manusia pada umumnya, karakter Saka dan Lara diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Karakter mereka pun sangat relate dengan kehidupan. Lara adalah gadis yang hidupnya sangat teratur; mulai dari waktu, pekerjaan, pola makan, bahkan hal-hal kecil sekali pun. Lara juga ingin segala sesuatu di sekitarnya teratur. Berbanding terbalik dengan Saka yang suka kebebasan dan tak ingin kebebasannya diganggu, makanya ia bisa betah bekerja sebagai freelance

Bayangkan saja, secara logika, bukankah dua insan ini tak bisa bersatu?

Tentunya jika ingin menjalani hubungan seperti ini, akan ada banyak sekali perdebatan, kata maaf, dan pemakluman. Kemudian ego akan menguasai dan jadi bumerang untuk masing-masing jiwa yang terlibat.

Namun... tak ada yang tak mungkin di dunia ini, bukan? Begitu pula dengan Saka dan Lara.

🍂

Beberapa kutipan di buku KALA yang aku sukai:

> Bagaimana bisa, seorang lelaki yang tumbuh dalam pangkuan, belaian, dan pelukan para perempuan yang berhati selembut awan, yang ikhlas menjatuhkan diri ke tanah untuk menghidupi banyak jiwa, mampu menyakiti perempuan lainnya? – Saka

> Ibuku selalu mengingatkan bahwa iman adalah sebuah pusaka, yang untuk menjaganya kita harus begitu terbentur dengan banyak kekecewaan dan godaan. Iman adalah roh dari setiap langkah yang kita arahkan pada setiap kesempatan yang kita ambil. Dibutuhkan tonggak yang kuat dan menancap begitu dalam untuk menjaganya tetap tegak. – Saka

> Kita hidup dengan ego masing-masing, tapi nyatanya kita tidak benar-benar masing-masing. Kita begitu, saling. Saling hampir dalam segala hal meski kadang tidak dalam satu waktu. Kita begitu saling memberi satu sama lain, saling membenci, saling mencinta, saling melupa, saling mempengaruhi dan terpengaruh. – Saka

> Aku yang pernah bercerita tentang luka malah memberinya luka yang sebenar-benarnya. – Saka

> Di sepertiga hujan, aku menemui sisa-sisa tentangmu. Ingatan-ingatan jatuh begitu ikhlas di atas pelataran kepalaku. Mengguyur semua luka yang tengah merekah. Dan reda, tak mampu menghentikan kehilanganku. – Saka

> Untuk setiap syukur yang kau panjatkan, diam-diam aku pun demikian. Untuk segala doa yang kau sisipkan di sepertiga malam, kubantu aminkan dengan doa yang serupa. Dan, untuk segala hadirmu yang menenangkan dikala riuh kepalaku, kau adalah penyelamat. – Lara

> Aku mengerti bahwa hidup adalah tentang kehilangan-kehilangan yang tak akan pernah usai. Tapi tetap saja aku sama seperti manusia-manusia lain, yang mengutuknya habis-habisan lengkap dengan segala sumpah serapah. Sekali waktu berteriak dalam pekatnya malam, mengapa bertemu jika harus berujung pisah, mengapa menjadi dekat bila akhirnya tercipta jarak? – Lara

> Manusia tak bisa untuk selalu sepakat saling mendukung, karena isi kepala ini tak pernah bisa untuk serupa. Tapi, setidaknya sebuah pemakluman dan pengertian akan mampu untuk diberikan. Setidaknya agar kemudian bisa saling mendengar, setidaknya kita bisa untuk seperti itu, setidaknya mencoba terlebih dahulu. – Lara

> Tuhan, bila masih bisa aku bertemu dengannya, kuharap rotasi kami tidak lagi bersinggungan kisah. Aku harap aku dan dia bisa saling menyamakan langkah untuk memulai rotasi berdua. – Lara

> Mungkin benar, kebaikan tak seharusnya meminta timbal balik, tak semestinya diperhitungkan, tapi bagaimana jika segalanya sampai di ujung harapan? Bagaimana jika segala rasa habis ditelan luka-luka yang disematkan oleh mereka yang memilih pergi? Bagaimana dengan jiwa-jiwa yang ditinggalkan dengan beribu alasan yang cenderung penuh pembenaran? – Lara




KALA adalah novel tentang pertemuan, perpisahan, dan tentang bagaimana pentingnya memahami ego dalam diri sendiri. Tentang peristiwa-peristiwa tak terduga yang akan sulit dipahami, tapi indah untuk dirasakan. Tentang dua manusia yang akhirnya mempercayai hal-hal yang selama ini mereka tak percaya. 

Overall, novel ini sangat bagus. Ada satu bab yang berhasil membuatku menitikkan air mata. Baca saja yaa... aku tidak akan spoiler di sini wkwk.

Setelah ini, aku akan melajutkan membaca buku kedua berjudul Amor Fati:

Kita adalah sepasang salah yang menolak pasrah🥀

🍂🍂🍂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy