Hai, Epiphany-ku🖤

 


Di tengah hiruk-pikuk lautan manusia dan kelap-kelip lampu ungu yang mengisi kekosongan ruang, kau tetaplah sinar paling terang yang tertangkap kedua netraku. Ya, kau. Pria yang duduk sembari melihat enam pria lain yang tengah menari di atas megahnya panggung penuh cinta itu. Tak peduli hebohnya dunia di sekelilingku, juga bisikan-bisikan tentang 'si paling segalanya' versi orang-orang sekitarku, kau tetaplah sosok pertama tatapanku tertuju.

Aku ingin bertanya padamu. Tidakkah panggung itu terasa lebih besar dari biasanya? Sebab kau tak sebebas kemarin. Tak bisa menjelajah setiap titik dengan maksimal. Bagimu tentunya, karena bagiku kau selalu maksimal jika menyangkut dunia ungu yang kau cintai itu. Aku penasaran, ingin rasanya menjadi matamu dan melihat apa yang sebenarnya kau lihat.

Kau duduk, lalu bangun, berjalan kesana-kemari dengan senyum penuh arti. Kemudian kau akan kembali ke kursimu, sembari menyebarkan cinta melalui tatapan yang tak bisa kumaknai dengan pasti.

Matamu menjelaskan rasa yang sedang bercampur di dalam benakmu. Aku melihat mata itu menangis, tak lama kemudian ceria, lalu ada kekecewaan, diikuti tatapan bangga. Aku tak bisa menebak secara tepat. Kau terlalu kokoh membuat tembok pada dirimu, memakaikan topeng di wajah tampanmu yang sebenarnya perlu dilihat dunia.

Kadang aku berpikir 'ah, dia terlalu bersenang-senang sampai lupa bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja' ketika melihatmu aktif menampakkan diri dengan ceria yang terlihat nyata. Tetapi akan ada masa di mana aku menduga 'ah, dia hanya sedang berusaha terlihat bahagia'. Kadang pula 'ternyata dia benar-benar bahagia'. Aku kebingungan. Kau terlalu misterius untuk aku yang tak bisa peka akan hal-hal seperti ini.

Tidakkah topengmu terlalu tebal dan sulit ditembus? Aku bahkan bisa lupa wajah aslimu. Dirimu yang tengah duduk di atas panggung indah itu, apakah itu wajah asli? Atau sekadar topeng "aku baik-baik saja" yang dibalut dengan manisnya tarikan sudut bibirmu?

Aku tak bisa menjawab pertanyaanku sendiri meski aku mencintaimu. Kau tau, aku sadar bahwa nyatanya cinta saja tak cukup. Kita perlu berbagi banyak hal untuk membuka topeng masing-masing.

Tapi bagaimana caranya?

Aku hanya mencintaimu, tapi kau mencintai jutaan orang. Pada kenyataannya, kau memang tak ada di duniaku yang sesungguhnya. Kau ada di dunia yang lain, pada semesta di mana aku bisa mencintaimu dengan bebas.

Bisakah kita bertemu di lain dimensi? Jika bisa, jadilah orang biasa yang bisa kuajak berbagi cerita. Tanpa topeng, tanpa rahasia, dengan rasa cinta pada diri sendiri seperti Epiphany milikmu.

Dimana pun dimensi itu berada, aku harap kau tetap tumbuh menjadi orang hebat, baik hati, dan menjadi manusia luar biasa seperti yang kukenal sekarang. Hal yang utama; kau harus sehat dan bahagia. Dan tentunya kuharap kita bisa duduk berdampingan untuk saling bertanya:

Hai, bagaimana harimu? Apakah menyenangkan?


♡♡♡

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy