SEPULUH TAHUN LALU

 


Hari ini, tepat sepuluh tahun lalu. Aku duduk manis di sampingnya, sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang masih salah-salah baca di lidahku. Dia terbaring lemah, sangat lemah. Napasnya tak beraturan, terdengar mengkhawatirkan. Orang-orang sudah mengelilinginya, menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan atau mungkin rasa iba. Aku tetap melanjutkan bacaanku tanpa mau memikirkan apa yang orang lain pikirkan.

Beberapa menit berlalu. Aku mendongak. Wajah orang-orang yang sudah lesu, tak ada secercah harapan di masing-masing netra yang kutatap. Suara tangis mulai menggema yang juga tak mau kupikirkan alasan semua air mata itu jatuh. Ah, apa mereka pikir gadis empat belas tahun tak paham apa yang orang-orang dewasa pikirkan? Aku lagi-lagi melanjutkan bacaanku. Entah surah apa yang kubaca saat itu, aku tak bisa ingat sedikit pun.

Napasnya semakin sesak. Mulai terdengar sayup-sayup udara yang keluar dari mulutnya. Bacaanku terhenti untuk kesekian kali. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang kupikirkan. Aku sendiri tak tahu. Dua saudara laki-lakinya dengan sigap duduk di sisi kanan dan kiri, mendekati telinganya.

"Laa ilaha illallah...," ucap dua pamanku bersamaan. Dia mengikuti, dengan bibir lemah dan suara yang sangat pelan.

Apa ini? Apa yang mereka lakukan? Apa mereka pikir ini sudah waktunya?

"Laa ilaha illallah...." Lagi. Ucapan itu terus terulang. Tangisan orang-orang di sekitar mulai terdengar nyaring.

Ah, kenapa mereka? Apa mereka pikir malaikat maut sedang menjemput ayahku?

"Laa ilaha illallah...." Dua saudara laki-lakinya masih terus mengulang. Dia pun tetap mengikuti sampai suaranya hampir tak terdengar.

Aku duduk terdiam dengan Al-Qur'an yang masih terbuka di hadapanku. Aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Benarkah?

"Innalillahi wainna ilahi rojiun," ucap kedua saudara laki-lakinya, diikuti tangis pecah dari orang-orang dewasa di sekitarku.

Ibu menangis dan berteriak sampai harus ditenangkan oleh beberapa orang. Aku masih terdiam. Sedang mencerna situasi yang bahkan tak pernah kupikirkan sebelumnya.

Apakah dia benar-benar meninggalkanku?

Aku lupa kapan aku mulai menangis. Mungkin sejak tersadar bahwa ayahku telah tiada? Atau ketika melihat Ibu menangis?

Aku dan Ibu berada di kamar. Keluarga di luar sedang sibuk menyiapkan pemakaman. Wajah Ibu masih tertutup bantal dengan suara tangisan yang terdengar jelas meski mulutnya sudah terhalang benda empuk itu.

Bibiku, adik dari ayah, memasuki kamar. Matanya merah, hidungnya merah, seluruh wajahnya memerah. Sembari terisak ia mengucap, "Kita sudah berusaha, sudah cukup semua usaha kita. Allah lebih sayang."

Ibu makin menangis. Bibi menatapku, mengusap kepalaku. Lalu meninggalkan kami berdua di ruangan yang terasa sesak itu.

Ponselku berbunyi. Nomor yang sangat kukenal.

"Halo," sapaku dengan suara parau.

"Kamu dimana? Tadi ada pengumuman di masjid, betul papamu meninggal?"

Deg!!

Satu pertanyaan yang berhasil membuatku memecahkan tangis. Dadaku seakan dihantam dengan batu besar dalam sekejap.

Sudah diumumkan? Di masjid daerah tempat tinggalku?

Sahabatku terdiam sejenak setelah mendengar tangisku. Lalu saat tangisku reda, ia mengucapkan belasungkawanya. Aku menjelaskan bahwa aku sedang berada di rumah bibiku dan ayahku akan dimakamkan di sini.

Mungkin aku berharap semua hanyalah mimpi. Aku sedang tidur lelap di kamar, lantas bermimpi buruk dan berharap segera bangun. Namun, telepon dari sahabatku membuatku tersadar. Ini nyata. Benar-benar nyata.

Kudengar salah satu sepupuku langsung pulang dari sekolahnya saat mendengar kabar ini. Ia pulang seperti orang linglung, menangis sembari memanggil nama ayahku, paman yang paling dekat dengannya semenjak ayahnya terlebih dahulu pergi. Cerita itu membuatku kembali berurai air mata.

Pria hebat itu... tidakkah dia tau bahwa dia sangat dicintai di dunia ini? Oleh keluarganya, rekan kerjanya, bahkan atasan yang kebingungan mencari penggantinya karena sulit sekali mencari orang yang sangat bertanggung jawab sepertinya. Bagaimana bisa dia pergi secepat itu?

Kakakku... aku lupa bagaimana keadaannya saat itu. Kurasa ia berpura-pura kuat sebab posisinya sebagai anak pertama laki-laki membuatnya tak punya pilihan lain. Beban menjaga keluarga otomatis pindah ke dirinya. Masih enam belas tahun ia kala itu. Dipaksa dewasa oleh keadaan. Seharusnya ia masih bersenang-senang. Aku mengerti jika ia begitu posesif sekarang.

Adikku... ah, ia hanyalah anak tujuh tahun yang belum paham bahwa dunianya sedang hancur. Ia asik bermain dengan kawan-kawan seusianya di saat kami semua sedang menyaksikan Papa dikafani. Ia tak tahu bahwa pahlawan supernya pergi untuk selamanya. Tak akan ia lihat lagi rupanya. Pria yang tiap hari mengajarinya mengaji, sholat berjamaah, menemaninya berkeliling dengan motor, pun yang sering memarahinya jika melakukan kenakalan khas anak-anak. Ia tumbuh remaja tanpa pengawasan seorang ayah.

Jika selama sepuluh tahun ini aku merasa menjadi perempuan kuat, sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Sungguh... Ibu, Kakak, dan Adik adalah orang yang lebih kuat dari yang kubayangkan.

Aku tak tahu berapa banyak air mata yang mereka sembunyikan selama ini. Sebab ketika berhadapan satu sama lain, masing-masing tersenyum bahagia. Tak bisa kutebak mana yang benar dan mana yang pura-pura. Jika aku saja suka menangis diam-diam, bagaimana dengan mereka?

●●●

Hari ini, sepuluh tahun lalu.
Hari di mana aku menjadi paham bahwa hidup tak melulu tentang bahagia. Pergi ke sekolah, bertemu teman, diberikan banyak tugas, terlibat cinta monyet. Masa-masa SMP yang menyenangkan. Menjadi juara kelas, juara umum, hingga dibelikan ponsel baru oleh Papa atas prestasiku. Makan masakan Mama, nonton kartun di tv, sholat, bermain. Ternyata hidup tak sesimpel itu.

Hari ini, sepuluh tahun lalu.
Pertama kalinya aku menyaksikan kematian tepat di depan mataku. Membuatku tersadar bahwa aku bisa kehilangan siapa pun dalam waktu yang tak kuketahui. Sudah berdoa, berusaha, tapi Tuhan memiliki hak untuk mengambil kembali milik-Nya.

Hari ini, sepuluh tahun lalu.
Aku sempat berpikir bahwa Tuhan sangat jahat karena mengambil ayahku secepat itu. Tapi kata orang dewasa: Allah lebih sayang Papa.

Hari ini, sepuluh tahun lalu.
Aku yang kaku semakin membisu. Aku yang pemalu semakin tertutup. Jika hari ini kau temui aku dalam keadaan tak tahu malu, pun banyak bicara tak kenal pilu, mungkin kau adalah orang spesial di hatiku.

Hari ini, sepuluh tahun lalu.
Menjadi hari yang tak akan pernah kulupa. Sampai kapan pun.

Walaupun sekarang aku sudah baik-baik saja, meskipun sekarang aku sudah keluar dari zona yang penuh kesedihan, hari ini akan selalu kuingat sebagai hari bersejarah, bahwa aku pernah berada di titik terendah dan sekarang telah berhasil bangkit. Allah selalu bersamaku.

Al-fatihah untuk Papa.

Aku merindukanmu. Sangat rindu.

Di malam nisfu sya'ban ini, kukirim doa-doaku untuk Papa, Mama, keluarga, serta orang-orang yang kucintai. Dan untuk diriku yang masih penuh dosa.

♡♡♡

Komentar

  1. Semangatt, Bukan Allah tidak sayang keluarga kamu, melainkan Allah sayang sekali sama keluarga kamu, biar ayah kamu tidak merasa sakit lagii, biar keluarga kamu dan kamu tidak merasa terluka yang sangat dalam yang berkepanjangan. Semangatt let's be happy from now on, there is me who is ready to share the wound with you🤍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy