CERPEN: Three Years Ago


Terbit di Wattpad Penerbit Haru, 2018.


Aku menghela napas panjang saat suara ketukan pintu kamarku terdengar begitu nyaring menyusup ke telinga. Semilir angin dalam temaram dan kesunyian membuatku tak ingin beranjak dari pulau kapuk. Kunyalakan ponselku, sudah pukul 04:32 WIB.

"Sya, bangun sayang, salat dulu!" Suara pria yang selalu setia membangunkanku untuk salat subuh sudah terdengar dari seberang pintu kamar, "Sya, kamu udah bangun belum?"

"Sudah, Pa. Disya udah bangun, kok." Dengan ogah-ogahan, aku bangkit dari tempat tidurku. Merapikan rambut hitam sebahuku yang sedikit berantakan setelah bangun tidur dan kemudian langsung membuka pintu kamar. Tak ada kata darinya begitu pintu terbuka. Hanya ada usapan lembut di rambutku sambil menampakkan senyumnya yang hangat. Rasa kantukku mendadak hilang begitu melihat ukiran senyum itu di wajahnya.

"Makasih, Pa, udah bangunin Disya."

"Iya, Nak. Habis salat jangan tidur lagi, ya."

"Iya, Pa."

Lagi, dia tersenyum. Senyumannya selalu saja membuatku merasa nyaman. Membuatku semakin bersemangat untuk menghadapi hari.

***

Suasana berbeda hadir di SMA Taruna pagi ini. Hari ini para siswa datang dengan didampingi salah satu dari keluarganya. Ya, hari ini adalah hari penerimaan rapor hasil belajar semester genap. Sebentar lagi aku akan naik ke kelas XI, kelas yang katanya menjadi puncak kenakalan siswa SMA. Entahlah, aku tak tahu. Mungkin aku akan tahu ketika aku sudah menjalani atau bahkan melewati masa itu.

"Hari ini siapa yang datang, Sya? Mama kamu atau Papa kamu?" Devi memulai hariku dengan pertanyaan yang sangat menusuk.

Aku tak langsung menjawab. Aku melihat Rayya tersenyum samar kepadaku. Rayya adalah sahabatku sejak kecil. Ia mengetahui hampir semua tentang diriku, termasuk keluarga. Profesi ibuku yang seorang dokter membuatnya selalu sibuk sehingga tidak ada waktu untukku. Tetapi, hal itu baru berlangsung sekitar setahun terakhir. Sebelumnya, sesibuk apa pun Mama, dia selalu menyempatkan waktunya untuk mengambil raporku, berlibur bersama, atau bahkan menghabiskan waktu di rumah. Tapi setahun ini, Mama berubah. Bahkan ketika pulang dari rumah sakit, dia hanya menyapaku sekadarnya saja. Setelah itu, dia akan masuk ke dalam kamar dan lebih banyak berdiam diri.

"Mamanya Disya itu dokter, pasti sibuk.” Rayya telah menjawab pertanyaan Devi sebelum aku mengeluarkan kata-kata. Devi adalah sahabat yang baru kukenal setahun lalu, tepat saat menjadi siswa baru di SMA Taruna.

"Oh, iya, aku paham. Berarti Papa kamu yang datang," ujar Devi sambil manggut-manggut seperti mengerti akan sesuatu.

Aku lantas mengambil ponsel dari tasku dan segera mengirim pesan ke seseorang.

_________________________________

Mama datang kan hari ini?

_________________________________

Sekitar lima menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselku.

_____________________________________________________

Maaf sayang. Hari ini papa yang datang. Mama sibuk, lagi banyak pasien.

_____________________________________________________

Aku menghela napas. Hari ini? Bukan cuma hari ini Mama tak bisa, dan betapa bodohnya aku karena menanyakan sesuatu yang telah kuketahui jawabannya. Terkadang aku ingin bertanya kepada semua orang, terkhusus kepada orang yang memiliki orang tua seorang dokter. Apakah mereka sesibuk Mama? Apakah mereka punya waktu untuk keluarga? Aku memiliki banyak uang dan bisa mendapatkan apa pun yang aku inginkan, tapi aku juga ingin kasih sayang Mama. Apakah itu serakah?

***

Senyum semringah terukir jelas di wajah Papa tatkala aku dinyatakan sebagai juara kelas sekaligus juara umum untuk semester ini. Papa mencium keningku dan berkata bahwa dia sangat bangga padaku. Terima kasih, Tuhan. Aku masih diberikan kesempatan untuk membanggakan orang tuaku.

"Hari ini kamu mau ke mana? Papa antar ke mana pun kamu mau." Papa memulai pembicaraan saat kami dalam perjalanan pulang.

"Pulang aja, Pa. Disya lagi malas jalan-jalan," jawabku sambil memandangi jalanan dari jendela mobil yang terbuka.

"Ya udah. Kita di rumah aja. Papa temani kamu di rumah."

"Papa nggak ngajar hari ini?" Kali ini aku sudah memandang wajah Papa yang kelihatannya masih semringah.

"Nggak. Hari ini Papa minta asisten dosen saja yang masuk," jawab Papa dengan santai.

"Mama...." Aku menarik napasku sebelum melanjutkan kalimatku, "Mama hari ini nggak bisa datang, ya? Disya mau jalan-jalan kalau ada Mama juga."

Tak ada jawaban dari Papa. Hanya terlihat senyum samar yang tak kuketahui maknanya. Ya, kurasa aku salah. Lagi-lagi aku bertanya sesuatu yang sudah kuketahui jawabannya.

***

Aku langsung masuk ke kamarku dan merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Aku memejamkan mata dan setelah itu aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku sudah tertidur ketika ponselku bergetar tepat di samping telingaku. Misscall dari Rayya dan ada pesan masuk.

_____________________________________________________

Dimana lo? Gue sama Devi udah di depan nih. Dari tadi ketok-ketok pintu nggak ada yang bukain.

_____________________________________________________

Aku membaca pesan Rayya dengan mata setengah tertutup. Kukucek mataku untuk menyempurnakan kembali penglihatan yang terganggu rasa kantuk. Kutatap lagi ponselku. Pukul 14:05 WIB. Aku telah tertidur selama dua jam. Kubaca lagi pesan dari Rayya dan seketika aku mengernyit membaca pesan itu. Rayya dan Devi sama sekali tak mengabari bahwa mereka akan datang ke rumah. Aku pun bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu untuk mereka. Mungkin Bi Nina juga sedang tertidur. Kalau Papa, entahlah.

"Kok nggak ngomong kalau mau datang?" Kusambut kedua gadis itu dengan pertanyaan sebelum mempersilakan mereka masuk.

Tanpa menjawab, Rayya langsung menyerahkan ponselnya kepadaku. "Baca!"

Kuraih ponsel itu dan fokus melihat ke layar. Ada sebuah pesan dari seseorang dengan nama kontak 'Om Surya'.

___________________________________________________

Rayya, sekarang ke rumah, ya. Ajak Devi juga. Hari ini om masak spesial buat kalian. Om mau makan siang bareng kalian. Om tunggu di rumah.

___________________________________________________

Aku menatap Rayya dan Devi yang tersenyum kepadaku.

"Siapa sih yang mau nolak ajakan Papa kamu kalau soal makan? Masakan Papa kamu nggak kalah sama masakan chef profesional di hotel bintang lima," celetuk Devi asal. Rayya mengiakan, mengangguk seakan setuju dengan pernyataan Devi.

Tanpa berkata apa pun lagi, aku mengajak mereka masuk ke rumah dan langsung menuju meja makan. Aku mengerjap. Meja itu telah dipenuhi dengan berbagai macam makanan, minuman, sampai buah-buahan. Rayya dan Devi tak kalah terkejut. Mereka berdua sampai melongo memandanginya meja itu. Namun, Papa ke mana? Bola mataku mulai berlari kesana kemari mencari sosok pria kesayanganku itu.

"Ada surat, Sya!" Seru Devi tiba-tiba. Devi menemukan sebuah surat di atas meja makan. Kuraih surat itu dari tangan Devi dan langsung membukanya.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Disya, maaf ya, Nak. Sebenarnya Papa mau makan siang bareng kalian. Tapi Papa harus ke rumah sakit sekarang, ada teman Papa yang sakit.

◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

Aku tersenyum tipis setelah membaca surat itu. Papa selalu berpamitan kepadaku lewat surat kalau dia meninggalkanku tanpa berpamitan langsung.

"Ada apa, Sya?" Tanya Rayya penasaran.

"Papaku lagi jenguk temannya di rumah sakit,” jawabku apa adanya. "Kita makan aja, yuk!"

Tanpa basa-basi lagi, kami pun melahap makanan hasil masakan Papa. Papa memang sudah pandai memasak sejak masih remaja. Papa adalah anak pertama dalam keluarga dan tak memiliki saudara perempuan. Mungkin karena itulah Papa harus membantu Nenek mengerjakan pekerjaan rumah dan lama-kelamaan menjadi terbiasa. Kami masih makan dengan tenang-tenang saja sampai seseorang masuk ke rumah. "Bi Nina?" tebakku asal.

Tak lama kemudian, muncul seorang wanita berambut sepunggung dan masih melingkar stetoskop di lehernya. "Mama?"

"Ah, Disya. Kamu di sini sayang. Mama kira kamu lagi tidur," ujar Mama sambil tersenyum. Senyum samar. Wajahnya kelihatan lelah sekali.

"Makan, yuk, Tante! Om Surya masak banyak buat—"

"Mama istirahat aja. Aku mau makan sama Rayya dan Devi, nggak mau diganggu." Dengan cepat, aku menyela ucapan Devi. Devi mendelik kepadaku, sementara Rayya seperti biasa tanpa ekspresi. Rayya mungkin sudah bosan menyaksikan hal seperti ini selama setahun terakhir.

"Iya sayang. Mama juga udah makan, kok. Oh ya, selamat sayang, kata Papa, kamu juara umum lagi."

"Telat kasih selamatnya. Nggak usah!"

"Disya...," tegur Devi.

"Kamu mau hadiah apa dari Mama?" Mama masih mencoba 'sok akrab' denganku.

"Hadiah? Em...." Aku menunduk seperti berpikir, atau lebih tepatnya pura-pura berpikir. Aku lantas berkata, "Aku mau Mama ada waktu buat aku, sehari aja."

Mama diam terpaku. Tak menjawab apa pun. Aku berusaha tak peduli dengan melanjutkan makanku.

"Aduh, perut gue sakit banget." Rayya tiba-tiba merintih kesakitan sambil memegang perutnya, "temanin gue ke sebelah, yuk!"

Dengan cepat, Rayya menarik tangan Devi tapi segera ditepis olehnya. "Apaan sih, Ray! Mau ke toilet? Emangnya di rumah Disya nggak ada toiletnya? Kenapa harus ke rumah lo sih?"

Rayya menepuk jidatnya mendengar pertanyaan konyol Devi. Ya, aku mengerti maksud Rayya. Dia ingin aku berbicara empat mata dengan Mama. "Aduh, bawel deh lo! Ikut gue!" Rayya menarik paksa lengan Devi, "Permisi, Tante."

Sekarang hanya tersisa aku dan Mama. Aku diam. Tidak berniat berkata apa pun. Memangnya apa yang perlu kita bicarakan? Aku rasa tidak ada. "Aku ke kamar dulu!"

"Tunggu, Disya." Mama menghentikan langkahku. Tapi, aku seolah tak mendengar. Aku terus berjalan tanpa peduli apa yang dikatakan Mama.

"Disya, kamu harus ngerti pekerjaan Mama. Kamu nggak boleh egois."

Deg!!!

Perkataan Mama barusan langsung menusuk ke hatiku. Egois? Siapa yang egois? Aku? Yang benar saja. Aku memejamkan mata sejenak diikuti embusan napas pelan. Aku pun berbalik dan menatap mata ibu yang telah melahirkanku itu.

"Ma, orang-orang bilang aku beruntung. Aku kaya, cantik, pintar, semua orang ingin seperti aku. Tapi jujur aku nggak puas dengan semua itu. Apa aku salah? Aku iri sama teman-teman yang bisa menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya." Aku menelan ludah. Seperti sedang menghadapi situasi yang sangat menegangkan. Padahal aku hanya berbicara dengan ibu kandungku sendiri. Penglihatanku mulai buram karena mataku ditutupi oleh butiran bening yang mungkin sebentar lagi akan membasahi pipiku.

"Aku nggak minta banyak. Aku cuma mau Mama ada waktu buat aku di hari-hari spesial aku. Itu aja. Hari ulang tahun, penerimaan rapor, liburan sekolah. Itu aja, Ma. Aku nggak minta setiap hari. Apa aku serakah kalau aku mengharapkan itu?" Air mata meluncur begitu saja dari kedua bola mataku. Aku menangis. Kukeluarkan semua keluh kesah yang selama ini kupendam, semua air mata, semua kepedihan. Tapi, dibalik itu semua ada rasa lega setelah aku mengungkapkan semuanya.

Aku melihat Mama masih berdiri di tempat yang sama. Diam terpaku menatap putri tunggalnya sedang terisak di hadapannya. Aku tak tahu, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Apakah dia menyesali sikapnya selama ini? Atau mungkin dia berpikir bahwa aku terlalu membesar-besarkan masalah? Entahlah, aku tak bisa menangkap apa pun dari ekspresi wajahnya.

"Ada apa ini?" Suara berat muncul dari balik punggung Mama.

"Papa...," ucapku lirih. Aku segera menghampiri Papa dan hanyut dalam pelukannya.

"Disya kenapa, Nak?" tanya Papa dengan wajah penuh kebingungan. Aku tak menjawab. Aku terus memeluk Papa tanpa berkata sepatah kata pun.

"Sayang, sekarang kamu ke kamar, ya. Papa mau bicara dengan Mama."

"Iya, Pa."

Aku pun langsung meninggalkan kedua orang tuaku dan menuju ke kamar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Rasanya lega bisa mengeluarkan segala sesuatu yang selama ini terpendam di hati, segala sesuatu yang selama ini menyesakkan, aku benar-benar lega.

Karena menyimpan dan memendam perasaan sakit itu sangat membuatku menderita. Tuhan, setelah kejadian ini aku ingin semuanya baik-baik saja.

***

Entah kenapa malam ini aku begitu gelisah. Aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Udara dingin menyeruak masuk ke kamarku melalui ventilasi, serasa menembus kulit sampai ke tulang. Kunyalakan ponselku. Aku sampai mengerjap berkali-kali. Pukul 02:28? Aku sama sekali tidak pernah bangun jam segini. Biasanya Papa akan membangunkanku pukul 04:30.

Aku berdiam diri, mencoba untuk tidur lagi. Namun, percuma saja. Meski ada rasa kantuk, aku tidak bisa tidur. Aku pun memutuskan untuk keluar kamar dan mengambil segelas air putih dengan mata masih setengah tertutup. Saat aku akan kembali ke kamar, aku mendengar suara isakan seorang wanita.

Aku nggak lagi mimpi, kan?

Aku mengucek mataku berkali-kali dengan maksud menghilangkan rasa kantuk. Kudengar lagi suara itu dengan saksama. Sepertinya dari arah ruang tamu. Aku yakin tidak salah dengar. Telingaku normal, tidak tuli dan tidak ada gangguan pendengaran. Namun, siapa yang menangis malam-malam begini?

Dirundung rasa penasaran, aku pun mencari asal suara. Aku menuju ruang tamu dan melihat seorang wanita sedang menangis. Itu bukan hantu, bukan kuntilanak, apalagi ibu dalam Film “Pengabdi Setan”. Sama sekali bukan. Itu ... Mama. Kenapa Mama menangis malam-malam begini? Apa Mama kepikiran kata-kataku tadi siang? Tuhan ... sekarang bertambah lagi pertanyaan yang bergelayut di otakku.

***

"Non, bangun, Non."

Aku membuka mataku tatkala merasa ada yang mengguncang tubuhku. Rasanya berat sekali membuka mata. "Jam berapa ini, Bi?"

"Jam setengah tujuh, Non."

"Setengah tujuh?! Ya ampun, Bibi, ini kan libur, kenapa bangunin aku sepagi ini?"

"Biasanya juga Non Disya dibangunin sama Bapak setengah lima subuh, Non. Ini kok dibangunin setengah tujuh susah banget. Tadi Bapak bangunin Non Disya lho, tapi Non nggak bangun-bangun. Non tidur jam berapa? Bergadang ya semalam?" cerocos Bi Nina tanpa henti membuatku menutup mulutnya dengan spontan.

"Udah, diam, Bi," jawabku dengan mata masih tertutup, "aku susah tidur semalam, mungkin tidurnya jam empat kalau nggak salah. Jadi, sekarang aku mau tidur lagi, Bi."

"Jangan tidur lagi, Non. Di depan ada Non Rayya nungguin. Dia ngajak main sepeda katanya."

"Rayya?" Aku berpikir sejenak. Tumben Rayya mengajakku main sepeda, biasanya aku yang mengajaknya, "Iya deh. Aku bangun."

Setelah mencuci muka, aku segera berlari ke luar rumah. Namun, tak ada siapa-siapa di sana. Bahkan gerbang rumah masih digembok dan Pak Asep sedang tertidur pulas di pos satpam. Aku melirik ke arah rumah Rayya, sepertinya gerbang rumahnya juga masih digembok. Ah, Bibi, buat apa dia bohong?

"Bibi! Bi Ninaaa...," teriakku sambil berjalan menuju dapur, "Bibi ngapain sih bohongin aku? Di luar nggak ada Ray—"

Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku saat tiba di dapur. Apa yang aku lihat membuatku mendadak bisu.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Papa sambil tersenyum. Seperti biasa, senyuman khasnya yang selalu membuatku tenang. Papa sedang duduk manis di meja makan. Tepat di depan kursiku, telah tertata roti dengan selai cokelat kesukaanku. Lengkap dengan susu. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan dan tak menemukan sesuatu yang kucari. Saat itu juga aku sadar bahwa semuanya tak lengkap. Mama tetap saja tidak ada.

"Maaf, Non. Bibi bohong biar Non mau bangun. Selain Bapak, hanya Non Rayya yang bisa buat Non bangun," ucapan Bi Nina membuyarkan lamunanku.

"Ayo, duduk sayang."

"Iya, Pa."

"Kita sarapan dulu, ya," ucap Papa dengan lembut begitu aku telah duduk dengan sempurna.

“Mama ... di rumah sakit, ya, Pa? Nggak bisa ikut sarapan di hari pertamaku liburan, ya? Tadi aku pikir Mama juga ada.”

"Udah, nanti aja ngobrolnya. Makan dulu," jawab Papa. Aku pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum samar.

Setelah selesai sarapan, Papa mengajakku menuju taman belakang rumah, tepat di dekat kolam renang. Udara pagi yang masih segar membuat suasana terasa semakin nyaman.

“Semalam kamu begadang, ya? Tadi susah banget bangunnya?" tanya Papa saat kami telah duduk di pinggir kolam. Aku tak langsung menjawab. Apa aku harus cerita tentang Mama yang semalam menangis? Ah, sebaiknya nanti saja. “Enggak, kok, Pa.”

“Beneran?”

“Sebenarnya, semalam Disya susah tidur, Pa. Nggak tau kenapa Disya gelisah. Terus Disya bangun ambil air putih.” Aku memandang wajah Papa. Air mukanya menunjukkan bahwa dia sedang menunggu jawaban lain dariku.

Aku menghela napas sebelum akhirnya berkata, “Disya juga lihat Mama nangis.”

Papa manggut-manggut, tak berkata apa-apa lagi.

"Kenapa semalam Mama nangis? Papa tahu?" tanyaku langsung.

Kulihat Papa menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaanku. Mungkin terasa sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu. "Maafin Papa, Disya. Seharusnya dari awal Papa cerita sama kamu, Nak."

"Hah?" Aku spontan mengernyitkan dahi mendengar jawaban Papa. Apa maksudnya? Cerita apa?

“Sebenarnya, selama setahun ini Mama sering di rumah sakit ... karena Mama ... Mama sakit, Disya.”

Aku sama sekali tidak mengerti maksud Papa, “Maksud Papa apa? Mama sakit? Maksud Papa, Mama ngurusin orang sakit? Kalau itu Disya juga tahu, Pa.”

Aku melihat mata Papa mulai memerah, bibirnya gemetar, seperti menahan tangis. Kuraih jemarinya, dingin. Mengapa? Apakah pertanyaanku salah?

Papa menarik napas panjang dan menatapku dengan tatapan nanar, “Disya….” Papa menarik napas lagi, seperti mengumpulkan tenaga untuk mengucapkan sebuah kalimat, “Mama ... Mama sakit, Nak. Mama mengidap kanker otak selama setahun ini. Maaf, Papa nggak pernah bilang. Maaf, ini permintaan Mama, sayang.”

Deg!!!

Napasku seperti berhenti beberapa detik. Dadaku mendadak terasa sesak, seperti sedang menanggung beban yang sangat berat. Kalimat terakhir Papa benar-benar menusuk. Rasanya seperti ada pisau tajam yang melukai hatiku sampai sudut terdalam. Kanker otak? Mama? Kenapa? Sejak kapan? Dan kenapa aku baru diberitahu sekarang?

“Mama nggak mau kamu tau, Mama nggak mau kamu khawatir. Selama ini Mama terbaring di rumah sakit, Sayang. Dan kemarin, Mama memaksakan diri pulang ke rumah untuk ngucapin selamat sama kamu.”

Aku terkesiap. Tubuhku mendadak kaku. Bibirku kelu, mendadak bisu. Itu artinya, hari itu ... Papa ke rumah sakit untuk menjenguk Mama? Bukan menjenguk temannya? Jadi, selama ini Mama bukan sibuk kerja, tapi terbaring di rumah sakit? Dia menghadapi penyakitnya, sementara aku terus memusuhinya? Tuhan ... apa yang telah kulakukan?

Mama ... maafin Disya, Ma.

***

“Disya...!!!”

Aku masih seperti ada di alam mimpi saat aku merasakan seseorang menepuk pundakku.

“Disya, pagi-pagi kok melamun? Ada Rayya tuh di depan udah nungguin kamu. Katanya hari ini kamu ada kelas pagi.”

Aku tersadar dari lamunanku. “Papa?”

“Kamu kenapa, Sayang? Kok nangis?”

“Nangis?” Aku meraba wajahku, juga mataku. Sembab. Aku menghela napas sambil memandang wajah Papa.

“Kenapa, Sayang?”

Aku tak menjawab. Aku langsung memeluk Papa. Air mataku mulai meluncur deras dalam dekapan Papa. Aku hanyut dalam pelukannya, “Disya tiba-tiba ingat kejadian tiga tahun yang lalu, Pa. Disya tiba-tiba ingat semuanya.”

Aku terisak. Teringat kejadian tiga tahun yang lalu. Kejadian yang sangat pahit. Selama setahun aku tidak mengetahui tentang penyakit Mama. Tiga bulan setelah aku tahu, Mama meninggalkanku untuk selamanya. Aku masih saja membenci Mama saat itu. Bukan karena ia tak ada waktu untukku, tapi karena ia menyembunyikan penyakitnya. Namun, semakin lama aku sadar bahwa Mama melakukan itu demi aku. Meski aku tak akan pernah setuju dengan ide buruk itu.

“Mungkin kamu kangen sama Mama. Pulang kampus, kamu ke makam Mama, ya?” Papa melepaskan pelukanku dan mengusap lembut rambutku.

Kutatap wajah Papa yang mulai menua. Pria hebat yang merawatku seorang diri sejak Mama meninggal tiga tahun yang lalu. Pria hebat yang telah menjelma sebagai Ibu sekaligus Ayah untukku. Pria hebat yang selalu menjadi pelindung bagiku, juga bagi Mama. Aku sangat beruntung memiliki orang tua yang hebat seperti mereka.

Mama, putrimu ini berjanji, berjanji akan selalu membuat Papa tersenyum. Aku pun akan selalu tersenyum untuk Mama, wanita hebat yang akan selalu kucintai sepenuh hatiku. Selamanya.

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


- Nissa Hazul, 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy