25 Februari ke-24
Dua puluh empat. Angka yang cukup menakutkan untuk dihadapi. Berbagai macam pikiran-pikiran aneh mulai bermunculan, menciptakan kekhawatiran berlebihan.
Tentang perkiraan berapa kali aku akan bertemu 25 Februari, sementara tahun ini adalah yang ke-24. Apakah aku akan bertemu tanggal 25 Februari tahun depan?
Tentang masa depan yang belum terlihat hilalnya. Sampai kapan aku akan bekerja dengan profesiku yang sekarang, apakah kelak aku akan berganti pekerjaan? Atau jadi PNS seperti harapan orang-orang? Dan yang paling sering dibahas di usiaku: jodoh. Akan bersanding dengan siapa aku nanti? Apakah laki-laki itu akan bisa menerimaku yang penuh kekurangan ini?
Tentang kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, mengatur gaji untuk sana sini. Bagaimana membiasakan diri untuk mendahului kebutuhan dibanding keinginan.
Atau ketakutan-ketakutan yang sering kali menghampiri meski diri sudah tak ingin, pikiran tentang:
Kenapa orang lain sudah sampai tahap ini, tahap itu, sementara aku masih berjalan di tempat?
Kenapa orang lain terlihat bahagia, sementara aku harus hidup seperti ini?
Aku lupa...
Aku lupa bahwa aku hanya melihat hasil seseorang, tanpa kutahu bagaimana prosesnya. Lantas, mengapa aku harus mempertanyakan tahap seseorang, dan membandingkan dengan tahapku sendiri?
Aku lupa bahwa apa yang kulihat tak selalu sama dengan kenyataan. Bisa saja orang yang terlihat bahagia sebenarnya menyimpan banyak luka.
Aku lupa...
Bahwa banyak hal yang tak kuketahui di dunia ini.
Aku jadi teringat quotes di drama Encounter:
Kita semua punya jalan hidup yang berbeda, jadi kenapa kau hanya memikirkan satu jalan?
Ya, aku pasti punya jalan yang berbeda. Tak perlu kubandingkan dengan siapa pun.
Tuhan Maha Tahu, aku hanyalah manusia yang selalu ingin mencari tahu. Meski tak selalu bisa mendapatkan jawaban yang kuingin. Sebab tak semua tanya harus ada jawabnya.
◇◇◇
Sudahlah, kurasa overthinking telah menjadi teman bagi beberapa orang, termasuk diriku sendiri. Hal yang tak bisa dihindari karena dunia memang selalu penuh kejutan.
"Berbahagialah! Setidaknya di bulan ini, bulan yang katanya penuh cinta," kataku pada diri sendiri.
Tak usah memikirkan hal lain. Lupakan sejenak hal-hal yang membebani.
Ah, untung saja aku mengenal Bangtan. Tujuh manusia yang membuatku sejenak melupakan ketakutan-ketakutan akan dunia yang kejam. Menjauhkanku dari kata insecure, menyerah, putus asa, dan hal-hal yang kuanggap negatif. Mereka hanya penuh dengan energi positif.
- “Aku telah mencintai diriku sendiri untuk siapa diriku yang sekarang, untuk siapa diriku yang kemarin, dan untuk siapa diriku yang kuharapkan.”-RM
- “Aku seperti seorang peselancar, awalnya kamu hanya mendayung dan jatuh dari papan tetapi seiring berjalannya waktu kamu bisa berdiri di atas ombak yang lebih besar.”-RM
Aku juga beruntung mengenal teman-teman Army. Meski virtual, tetapi keberadaannya terasa nyata. Hari ini, rasa bahagiaku semakin mudah kuraih karena keberadaan mereka. Aku kembali dibuat terharu.
Mereka mengucapkan doa-doa, mengirim video, mentransfer banyak cinta.
Mungkin bagi orang lain, yang mereka buat hanya sekedar video. Tapi bagiku, itu semua tak pantas disandingkan dengan kata 'hanya', karena itu adalah hal luar biasa. Jangankan buat video, doa-doa dari mereka pun adalah salah satu ketulusan yang sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa dicintai.
Mereka meluangkan waktu untuk mengedit, mencari foto, memikirkan kata-kata. Itu semua butuh effort, memakan waktu mereka, dan mereka melakukannya untukku.
Ditambah lagi hari ini aku mendengar cerita tentang seorang army yang meminta saran army lain untuk pembuatan video.
Kak Nisa akan suka gak ya?
Ini videonya bagus gak ya?
Takut Kak Nisa pusing sama transisinya.
Takut Kak Nisa gak suka.
Ada juga yang sudah mempersiapkan video sejak awal, dan berniat mengirim tepat pada jam 00:00 WITA, tapi malah ketiduran. Bahkan ada pula yang sampai begadang untuk mengedit video. Ah, kenapa mereka manis sekali?
Hal-hal sederhana yang membuatku semakin jatuh sejatuh-jatuhnya dengan para Army. Lagi-lagi aku bilang, tak ada hal kecil bagiku. Semua ini adalah hal luar biasa untukku. Aku sungguh terharu.
Aku juga menemukan teman yang meminta maaf karena tak bisa memberikan apa-apa selain video. Bahkan ada yang minta maaf sebab hanya bisa mengucapkan doa saja, tak bisa mengirim video dan lain-lain.
Kalian... sebenarnya kenapa? Aku sampai heran sendiri.
Teman-teman, tak ada kata 'hanya' bagiku. Ucapan dan doa sudah sangat berarti untukku. Kalian tak perlu merasa tak enak hati, kalian tak perlu memikirkan hal lain. Bahkan satu purple love yang kalian kirim melalui pesan whatsapp pun berarti untukku. Berhentilah merasa tak enak. Aku mencintai kalian.
Anak-anak Fun Army yang tak akan kusebutkan satu per satu namanya, demi keadilan bersama. Terima kasih sudah menerima dan mencintai Nissa di gc maupun di luar gc. Kalian lebih dari sekedar teman virtual, kalian adalah keluarga. Terima kasih atas segala cintanya.
Anak-anak Army With Luv, tak perlu kujelaskan rasa sayangku. Kalian adalah tempat ternyaman dari segala tempat. Tempat di mana aku bisa jadi diri sendiri tanpa takut dikomentari. Kalian adalah rumah bagiku. Terima kasih sudah memberikan banyak cinta untukku. Ketulusan kalian akan selalu aku ingat.
Terima kasih untuk Kak Suad dan Yuni yang sudah berhasil bikin kebahagiaanku makin lengkap hari ini, terima kasih atas tawa yang kalian ciptakan untukku. Maaf aku tak menulis banyak untuk kalian.
Aku sudah sering menulis untuk sahabat real life, sekali-sekali aku menulis untuk teman-teman Army-ku.
Untuk orang-orang yang mengirimkanku doa hari ini, siapapun, terima kasih. Semoga doa-doa itu dijabah oleh Allah SWT, semoga doa-doa baik itu kembali ke kalian. Terima kasih atas segalanya.
Aku mencintai kalian semua.
Terima kasih sudah memperindah hari ulang tahun Nissa ke-24.
I LOVE YOU, GUYS❤
BORAHAE, ARMY💜
Salam cinta dari Bucin Bangtan, Bucin Seokjin dan Jimin,
Nissa⚘
Komentar
Posting Komentar