Idul Fitri 1442 H (13 Mei 2021): Foto Bersama


Setiap lebaran, aku selalu berkumpul bersama keluarga dari pihak Ibu. Apalagi sejak Ayah tiada. Begitu pula dengan tahun ini, kami berkumpul di rumah nenek yang Alhamdulillah masih diberi umur panjang sampai saat ini. Bersama tujuh anaknya, beserta menantu dan cucu-cucunya. Meski tidak tiap tahun semuanya bisa berkumpul.

Keluarga besarku adalah keluarga yang hampir tidak pernah foto bareng, bahkan lebaran sekali pun. Dari anak sulung nenek sampai anak bungsunya jarang sekali pernah foto bersama. Meski begitu, saat berkumpul bersama mereka, rasanya tetap penuh dengan kehangatan.

Selesai sholat Id, kami akan saling menyalami, bermaaf-maafan, terus makan-makan bareng. Kemudian para orang tua akan berlanjut ngobrol sampai topik pembicaraan berganti berkali-kali. Mulai dari membahas anak-anak mereka (makannya, hobinya, kebiasaan baiknya, kebiasaan anehnya, sekolahnya, kerjanya, dll), sampai membahas hal-hal yang belakangan sering terjadi. Sesekali mereka juga membicarakan hal receh yang sebenarnya tak penting. Tetapi justru itulah yang menambah keseruan. Ditambah lagi beberapa orang yang sedikit memiliki jiwa pelawak akan menghiasi obrolan agar lebih menarik dan lucu tentunya.

Para sepupu dan saudara laki-lakiku akan berkumpul dan membicarakan dua hal: Anime dan Mobile Legend. Sementara para sepupu perempuanku membicarakan hal yang terkadang tidak aku mengerti. Aku tidak punya sepupu perempuan yang seumuran denganku dari pihak keluarga Ibu, semuanya masih di tingkat SD dan SMP. Sepupu yang seumuran denganku ya hanya cowok-cowok saja. Sudah saudara kandung laki semua, sepupu pun sama. Kalau nanti aku berjodoh dengan seseorang yang saudaranya juga cowok semua, wah, mungkin sudah nasibku, wkwk.

Dulu, aku merasa sedikit iri melihat postingan orang-orang di media sosial. Foto bareng keluarga, bahkan ada yang kompak dengan baju sama. Sekarang aku sadar bahwa rasa iri itu tak perlu. Malah seharusnya aku bangga. Keluargaku menghargai setiap waktu yang ada. Berbicara tanpa ponsel, tanpa hiruk-pikuk negeri yang semakin berisik. Hanya duduk dan berbicara. Menciptakan kehangatan, saling melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi. Setelah kutilik, ternyata waktu yang benar-benar dihabiskan bersama jauh lebih berharga dibandingkan sebuah foto.

Keluarga lain mungkin juga sama seperti keluargaku. Menghabiskan waktu bersama, tetapi ditambah bonus foto bersama juga. Kalian pasti beruntung, kelak bisa melihat foto itu di tahun berikutnya, lalu di tahun berikutnya, dan seterusnya. Apalagi kalau keadaan mengharuskan untuk berlebaran jauh dari keluarga, setidaknya kalian punya foto untuk ditatap dan dikenang. Tetapi lagi-lagi, aku sudah tidak merasa iri.

Mungkin kelak aku akan menyesali ini. Sama seperti betapa menyesalnya aku karena tak punya satu pun foto bersama Papa. Namun, sekali lagi kukatakan; tak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja sekarang.

Setidaknya kebersamaan penuh kehangatan ini tersimpan erat di memoriku. Nanti, ketika aku jauh dari keluarga, atau ketika salah satu dari mereka telah tiada, aku akan tetap mengingatnya. Aku akan mengingat senyumnya, suaranya, cara bicaranya, kebaikannya, dan cerita-cerita indahnya.

Sama seperti Papa. Meski kenanganku bersamanya tak begitu banyak, setidaknya tetap ada. Dan semuanya sangat berarti.

⚘⚘⚘

Selamat lebaran.

Salam sayang,
Hairunnisa Zulkifli💐

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy