30 Hari Bercerita 2020๐Ÿ–Š

 

    

Di awal tahun 2020, aku mengikuti sebuah program di instagram, yaitu 30 Hari Bercerita. Program ini dilaksanakan setiap bulan Januari. Peserta harus memposting satu cerita per hari dengan cara mengunggah foto/video apa pun asalkan berhubungan dengan cerita yang ditulis di bagian caption. Ceritanya bebas, bisa berupa puisi, sajak, atau bahkan sekadar kata-kata yang selama ini tertahan. Tak ada hadiah bagi yang konsisten sampai akhir, pun tak ada hukuman bagi yang berhenti. Hanya melatih konsisten untuk diri sendiri. Meskipun begitu, peminatnya sangat banyak, termasuk aku.

Alasanku mengikuti program ini, selain agar lebih konsisten menulis, aku merasa bahagia karena menemukan beragam cerita yang luar biasa menakjubkan dari teman-teman #30haribercerita. Beberapa kali aku menemukan cerita yang sangat cocok dengan kehidupanku, atau cerita-cerita yang menyinggung sekaligus menampar, atau cerita yang menggetarkan hati. Ada kisah fiksi, ada pula kisah nyata. Banyak sekali cerita yang disajikan. Hal ini sedikit membuatku tersadar bahwa hidup ini banyak ragamnya. Hidup yang kita jalani sekarang, bisa saja menjadi hidup yang diinginkan orang lain.

Sebelum mengakhiri tahun 2020, aku ingin membagikan cerita-ceritaku. Sebagian kisah nyata, sebagian hanya fiksi. Sama sekali tak ada yang spesial, karena hidupku memang semembosankan itu. Meski begitu, aku tetap bahagia. Aku juga bersyukur masih diberi hidup hingga hari ini dan sebentar lagi bertemu 2021.

Sebenarnya aku sudah mengikuti ini sejak 2019. Tetapi tak ada yang bisa dibagikan sebab tulisan-tulisan pada tahun itu telah hilang terhapus.

Tahun ini aku menulis full selama 30 hari. Tetapi di sini aku hanya akan membagikan cerita-cerita yang memang kurasa perlu dibagikan.

Insya Allah aku akan mengikuti program ini tiap tahun di instagram @nissahazul.


๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ


๐Ÿ’ฆ 1 Januari

Di tahun 2019, memang tak banyak pencapaian yang berhasil diselesaikan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa ada banyak hal bisa dan akan selalu disyukuri. Salah satunya adalah usia. Ya, kita masih diberikan nikmat hidup hingga saat ini. Walaupun kita sendiri tahu, kita akan segera bertemu hari kelahiran, dan tentunya mengurangi jatah hidup. Segala hal memang harus selalu disyukuri. Sebab Tuhan Maha Penyayang dan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Apa kau tahu? Salah satu hal yang juga aku syukuri di tahun kemarin adalah bertemu denganmu, mengenalmu, dan menjadi bagian dari hidupmu. Ya, kira-kira seperti itu. Jangan tanya kenapa, aku sendiri juga tak bisa menjelaskan.

Oh ya, bukan hanya sesuatu yang membahagiakan, bahkan sesuatu yang menyedihkan pun patut disyukuri. Di balik setiap kesulitan, ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil.

Ah, mau cerita apa sih? Sebenarnya tak ada apa-apa. Cuma mau bilang sama diri sendiri; tahun ini harus lebih baik. Jangan sok-sokan menulis resolusi, tapi dari diri sendiri tak ada keinginan untuk berubah. Harus ada pencapaian di tahun ini, jangan ingkar janji lagi sama diri sendiri.

Oh ya, jangan lupa juga, harus bisa mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Be yourself, love yourself.

Jangan lupa bersyukur hari ini๐Ÿ˜‰

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 2 Januari

Aku menyukai segala hal tentang kita.

Aku senang saat kita membicarakan novel-novel romance yang sedang naik daun, atau novel tema reformasi kesukaanmu. Atau mungkin novel-novel berbagai genre yang bahkan belum pernah kita baca. Aku juga senang saat kita membicarakan penulis-penulis keren dengan segala karyanya. Terkadang kita juga bercerita tentang lagu-lagu yang sering kita dengar, terutama lagu kesukaanmu. Lagu Dewa 19, Ari Lasso, Fiersa Besari, dan penyanyi-penyanyi lain yang tak bisa disebutkan satu per satu. Kita bahkan pernah membahas lagu bucin yang tidak kausukai itu.

Aku tetap senang meskipun kau membicarakan pekerjaan di duniamu yang sama sekali tak kupahami. Aku pun senang saat kau bercerita perihal studimu. Banyak hal menyenangkan yang bisa didengar. Walaupun tak semua ceritamu itu menarik, justru kau yang lebih menarik. Kau tahu? Aku bahkan merasa senang saat kita membahas hal-hal yang sebenarnya tak jelas, konyol, atau sesuatu yang tak masuk akal. Kita memang seaneh itu. Atau mungkin aku yang aneh.

Seperti hari ini, aku senang menerima puisi darimu. Aku tahu kau menulisnya dari hati. Ah, sebenarnya tidak. Kau menulisnya dari ponselmu. Dari mana pun kau menulisnya, aku menyukainya. Aku menyukai apa pun yang kau buat untukku. Aku tak perlu mengungkapkan kepadamu kalau aku luluh, terharu, tersentuh, atau apa pun istilahnya. Kau seharusnya sudah tahu. Dan kau memang harus tahu.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 3 Januari

Seorang pemuda terduduk lesu di pinggir jalan. Ia tak peduli pada teriakan orang-orang yang merasa kesal sebab mobil mewahnya ia parkir sembarangan. Pemuda berwajah dingin itu hanya membuang muka sembari mengisap sebatang rokok yang sedikit lagi tinggal menyisakan puntung. Hari sudah menjelang tengah malam. Pemuda itu termenung. Tak ada yang tahu apa isi pikirannya.

Tak disangka, seorang anak kecil berusia sekitar tujuh atau delapan tahun berani menghampirinya. "Kak, ini udah tengah malam. Aku dengar dari orang-orang, katanya jangan keluar rumah sampai tengah malam, nanti dicariin orang tua," ucapnya polos.

Pemuda itu menyeringai. "Gue udah gede, udah dua puluh tahun, gak bakal dicariin," jawab si pemuda ketus. "Lagian mereka juga mau cerai, peduli apa sama gue," lanjutnya menggerutu dengan suara kecil, tetapi masih terdengar jelas di telinga si anak.

"Kak, orang tua itu apa? Cerai itu apa?" Anak itu bertanya dengan lugunya.

Pemuda itu kembali menyeringai. Sementara anak itu masih menatapnya, menunggu jawaban. Pemuda itu pun kemudian berkata, "Orang tua itu... Mama dan Papa lo, udah sana, tanya mereka kalo masih gak ngerti. Anak kecil ngapain coba masih di jalanan jam segini?"

"Aku gak punya orang tua, Kak. Makanya aku gak tau, orang tua itu apa dan bagaimana," ucap anak itu. Si pemuda terdiam. Belum sempat ia berkata, anak itu kembali melanjutkan, "Aku pernah dengar Bunda di panti ngobrol sama Bibi pengasuh, katanya Bunda nemuin aku di depan panti. Gak tau orang tuaku siapa. Kakak bilang Kakak udah dua puluh tahun, kan? Berarti Kakak udah dua puluh tahun hidup dengan orang tua. Ceritain dong, Kak, orang tua itu apa dan bagaimana? Aku kabur dari panti karena gak ada yang tahu cerita tentang orang tua. Yang mereka tahu hanya cerita tentang kancil yang cerdik, atau kisah semut dan merpati, atau kisah sang raja hutan."

Si pemuda menatap anak kecil itu dengan lekat. Ia terdiam cukup lama. Tak ada yang tahu isi apa pikirannya. 

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 4 Januari

Manusia memang datang dan pergi.

Dari kepergian Ayah, aku belajar bahwa manusia memang harus siap kehilangan. Dari kepergian Ayah, aku belajar bahwa sesungguhnya sabar tak ada batasnya. Dari kepergian Ayah, aku belajar untuk tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tegar. Dari kepergian Ayah, aku belajar bahwa cinta yang kuat akan selalu tertanam di hati, meski kita telah berbeda dimensi. Dari kepergian Ayah, aku belajar segalanya.

Banyak sekali yang tak bisa dijelaskan di dunia ini. Namun, satu hal yang aku pahami dan aku yakini; aku bisa belajar banyak hal hanya dari satu kejadian saja. Aku pun percaya, bahwa di balik satu peristiwa buruk yang terjadi, menyimpan sejuta hal positif yang terkadang tidak kita sadari. Tuhan memang sangat penyayang, kitanya saja yang suka mengeluh.

Tapi... namanya juga manusia. Mengeluh itu manusiawi. Sedih, jatuh, terpuruk, merasa kosong dan tak berarti, itu semua juga wajar. Hanya saja kita tak boleh berlama-lama dalam posisi itu. Bangkit adalah pilihan yang tepat.

Jika kau tak setuju, tak apa. Manusia berbeda pendapat itu juga wajar, kan?

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 5 Januari

Di persimpangan itu kita saling memandang. Pertama kalinya aku melihat wajah hangatmu. Tadinya aku hanya duduk santai sembari melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, sampai aku menemukan sosokmu yang berdiri tak jauh dariku. Entah apa yang kau lakukan, kau terlihat memainkan ponselmu. Aku terus menatapmu hingga kau menyadari ada sepasang mata yang sedang mencuri pandangmu.

Tak kusangka, kau tersenyum padaku. Kau terlihat canggung. Ah, sepertinya aku tertarik pada pandangan pertama. Aku menunduk, tetapi tetap mencoba menatapmu. Kulihat matamu masih juga menatap ke arahku. Aku mendadak salah tingkah. Apakah ada yang salah denganku? Kurasa tidak. Apa kau tertarik padaku? Hm, sepertinya terlalu cepat.

Perlahan kau mendekat. Mempersempit jarak di antara kita. Sampai akhirnya kau berdiri tepat di hadapanku. Aku mendadak merasa tegang. Kita saling bertukar pandang, sekian detik. Jantungku tiba-tiba berdebar hebat.

"Kenapa?" tanyaku memberanikan diri. Sebab kau tak kunjung bersuara.

"Maaf," ucapmu.

"Maaf kenapa?" tanyaku lagi. Aku tak mengerti maksudmu.

Kau terlihat semakin kikuk, menggaruk tengkuk. Sepertinya sulit mengatakan sesuatu. Sampai akhirnya....

"Maaf, kamu bisa pindah? Kamu dudukin motorku, aku mau pulang!"

Asdfghjkl.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 6 Januari

Sore ini aku duduk di lantai dua kafe favoritku. Sendirian. Ah, sebenarnya tidak. Aku ditemani sebuah novel yang baru saja kubeli siang tadi. Hot cappuccino juga ikut menjadi kawan yang menghangatkan setelah seharian turun hujan. Untunglah sekarang hujannya sudah cukup reda. Hanya menyisakan rinai yang begitu halus.

Aku menatap ke luar jendela. Menilik setiap sudut yang masih terjangkau oleh dua bola mataku. Pedagang siomai di depan kafe sedang ramai-ramainya. Pedagang pisang goreng di sebelahnya juga hampir kewalahan melayani pembeli yang semakin merubung. Para pedagang itu sedang kebanjiran rezeki, hujan yang mengantarkannya. Aku yakin di luar sana ada segelintir orang yang mengeluhkan keadaan, tetapi siapa sangka bahwa hal yang mereka keluhkan justru menjadi berkah bagi orang lain. Maka dari itu aku selalu belajar bersyukur dalam situasi apa pun.

Ah, sepertinya aku melamun. Aku tak sadar bahwa ada seorang pria dan wanita yang baru saja tiba di kafe. Aku tebak bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mereka duduk di meja tepat di depanku. Aku diam-diam memperhatikan mereka. Sungguh, mereka adalah pasangan yang sangat romantis. Gerak-gerik kedua insan itu mengingatkanku pada sepasang kekasih lain. Sama romantisnya. Namun, semesta tak mengizinkan mereka bersama. Mereka telah dipisahkan oleh alam yang berbeda.

Sial. Air mataku tiba-tiba jatuh tanpa ampun. Aku menyalakan ponselku. Tanpa sadar membuka galeri. Foto-foto itu masih tersimpan rapi di sana. Aku merindukannya. Kenapa rindu ini datang di saat yang tidak tepat seperti ini? Apa kata orang-orang jika melihatku berlinang air mata di sini? Merindukan orang yang sudah tak ada di bumi memang sesakit ini. Namun, aku selalu mengingat perkataannya sebelum menghadap Yang Maha Kuasa, "Kau harus bahagia. Jangan lupa untuk selalu bersyukur dan berterima kasih untuk segala hal baik dalam hidupmu."

Ah, daripada aku terus-terusan melihat pasangan itu, lebih baik aku pulang. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada pelayan kafe, mengucapkan terima kasih pada penjaga kasir, mengucapkan terima kasih pada tukang parkir. Tak lupa pula, aku mengucapkan terima kasih pada diriku sendiri karena sudah bertahan hingga kini. Banyak hal yang aku lihat hari ini. Aku tak boleh mengeluh. Aku bersyukur masih bisa menatap dunia. 

♡♡♡


๐Ÿ’ฆ 8 Januari

Dikasih tema 'Apresiasi' atau 'Ucapan Terima Kasih'.

Kalau ingin mengucapkan terima kasih untuk satu, dua, atau beberapa orang di sini rasanya terlalu singkat sekali. Kita dibatasi oleh kuota kata yang bisa terisi. Selama ini kita sudah banyak mengucapkan terima kasih. Kepada ibu kantin di kampus atau sekolah yang berhasil menghentikan perut keronconganmu. Kepada penjaga perpustakaan yang memberikan diskon denda setelah kau terlambat mengembalikan bukumu. Kepada penjaga kios yang rela kau belanjakan kurang dari sepuluh ribu dengan uang seratus ribu. Kepada kasir minimarket yang memasukkan barang belanjaan ke kantong plastikmu. Kepada tukang parkir yang sudah menjaga kendaraanmu. Kepada pedagang kaki lima yang kau singgahi sesekali. Pokoknya banyak.

Kau juga sering berterima kasih kepada orang tuamu, keluargamu, temanmu, sahabatmu, pacarmu, tetanggamu, musuhmu, mantanmu, kucingmu. Dan bahkan kepada masa lalu yang sebenarnya hampir membunuhmu.

Kita terlalu banyak berterima kasih kepada orang, benda, atau hal lain. Sampai lupa berterima kasih kepada diri sendiri. Padahal diri sendiri juga butuh apresiasi, butuh terima kasih. Diri ini sudah banyak berjuang untuk berdiri, sudah jatuh bangun berkali-kali, pernah gagal dan sakit tapi bangkit lagi, pernah sedih dan berduka tapi tetap mencari bahagia, pernah terpuruk tapi berusaha untuk tetap semangat. Diri ini sudah luar biasa. Mampu menjejal dunia yang kadang tak adil dan merugikan. Diri ini juga butuh dicintai, sebab banyak hal yang sudah dilalui.

Jangan lupa ucapkan terima kasih pada diri sendiri. Terima kasih sudah bertahan hingga hari ini.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 9 Januari

Di sudut jendela itu, kupandangi bunga yang pernah kau berikan padaku. Saat itu kau bilang bahwa aku adalah gambaran dari bunga; indah dan menawan. Aku tersenyum mendengarnya, juga berterima kasih. Walaupun aku tahu kau menyimpan banyak rahasia yang tentunya tak kuketahui.

Sampai suatu hari kau menghilang, jejakmu tak terlacak. Saat itu aku sadar, bunga darimu hanyalah bentuk salam perpisahan yang telah kau siapkan.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 10 Januari

Kuakui kau memang berbakat dalam menciptakan candu di rumah yang biasa disebut hati. Segala hal tentangmu telah melekat di sini. Wajah, senyum, suara, semuanya tanpa terkecuali. Ketiadaanmu mengundang sunyi, mencipta sepi. Hadirmu mencerahkan hati yang telah lama mati. Terima kasih karena sudah memilih hati ini, menetaplah dan jangan pernah pergi. Sebentar lagi aku kembali. Mari kita bertemu lagi.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 12 Januari

Terima kasih. Hari ini kamu sudah bersedia menjadi tempat pulang dikala lelah mendera. Hari ini kamu sudah menjelma rumah yang bisa kusinggahi saat segalanya mulai goyah. Tak hanya singgah, tetapi akan menetap dan memulai kisah. Terima kasih sudah ada.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 14 Januari

"Jadi, ada cerita apa hari ini?" tanya Dirga malam itu.

Airin menghela napas. "Banyak. Aku lelah."

Dirga tersenyum kecil. "Cerita saja." Suara berat tetapi penuh kelembutan itu seakan mempersilakan Airin untuk mengeluarkan semua unek-unek.

"Hari ini aku tidak berhasil menemui dosenku, surat-surat yang seharusnya sudah selesai akhirnya tertunda lagi. Jika semakin lama, bisa-bisa ujian skripsiku juga ikut tertunda."

Dirga diam. Tak mengeluarkan sepatah kata pun.

"Aku dimarahi Mama karena telat makan, magku kambuh."

Dirga masih diam mendengarkan.

"Tadi sore aku juga kesal karena temanku membatalkan janji. Padahal dia yang paling semangat kemarin."

Dirga tetap bergeming.

Airin menghela napas perlahan. "Tapi ... malam ini semua rasa kesalku yang tersimpan seharian mendadak hilang," ucapnya yang membuat Dirga tiba-tiba menatapnya, "karena kau ada di sini dan mendengar ceritaku."

Dirga tersenyum penuh arti. Senyum yang penuh ketulusan.

"Kau tidak mau memberikan komentar atas ceritaku?" tanya Airin. Dirga menggeleng. "Kenapa?"

"Segalanya sudah terjadi. Aku komentar pun tidak akan ada yang berubah. Yang ada nanti kamu malah kesal," jelas Dirga. Kali ini Airin yang tersenyum. Dirga melanjutkan, "Tipe perempuan itu beda-beda, Rin. Adik perempuanku akan ngambek kalau ceritanya tidak ditanggapi, berbanding terbalik denganmu, kamu hanya ingin didengar, dan aku tahu itu. Jadi, sekarang kamu fokus aja untuk hari esok. Sepertinya hari ini memang bukan hari terbaikmu. Mungkin besok?"

Airin tersenyum lebar. "Terima kasih, Dirga, kau memang sahabat yang paling mengerti aku."

"Sahabat?" respons Dirga cepat.

"Kenapa?" Airin mengernyitkan dahi tak mengerti.

"Ah, enggak. Enggak kenapa-kenapa." Dirga menjawab diikuti senyum kecut. Seperti senyum yang dipaksakan. Entah ke mana senyum tulus itu menghilang. Entah apa yang tiba-tiba terjadi padanya. Dalam hati, Dirga bergumam, "Sepertinya hari ini memang bukan hari terbaikku." 

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 15 Januari

Kita pernah terjebak di bawah langit, ditemani tetesan hujan yang dinginnya berhasil menembus kulit. Dulu sekali, saat aku masih belum mengerti arti hidup. Masih terlalu kecil untuk memahami dunia. Namun, sungguh, aku mengingat kejadian itu. Katamu, kita singgah sebentar, agar aku tak sakit. Kau menepikan motormu. Kita berteduh di depan sebuah ruko yang sudah tutup.

Kau merangkulku, sekadar membantuku menghindari dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kau memang sangat perhatian. Aku tersentuh. Lalu kau memelukku, kau mengerti bahwa aku menggigil dan butuh hangat dekapanmu. Sabar, sebentar lagi sampai, katamu lagi. Aku tersenyum. Terima kasih, cukup bersandar di dadamu, aku sudah merasa terlindungi.

Sekarang ... ingatan itu hanya kusimpan sendiri. Kau sudah tak ada lagi di sini. Dan aku terus-menerus merasa sunyi.

Sedang apa aku sekarang?
Sedang merindukanmu, Ayah...

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 16 Januari

Putih yang membiru
Biru yang membisu
Kita di bawah langit berawan itu
Tak bicara, tapi tak bisu
Hanya diam, mencipta keheningan dalam sunyi dan sendu

Sampai kapan kau akan bungkam?
Aku memang diam
Sebab kau tak kunjung bersuara
Aku akan tetap diam
Sampai kau lebih dulu membuka kata

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 17 Januari

Wajah lelaki itu memelas dan memohon. "Ayo dong, Dini cantik, aku yang traktir. Dari semalam kamu belum makan."

"Gak usah."

"Mumpung di kantin lagi sepi, kita bisa makan sepuasnya tanpa gangguan."

Aku mendelik kesal. "Dibilang enggak ya enggak, Diky!"

Aku melanjutkan bacaan novelku. Sejak tadi dia sangat mengganggu. Aku tahu dia sedang berusaha membujukku yang sedang merajuk, tapi aku benar-benar tak mau makan dengannya.

"Please dong, maafin. Aku gak bermaksud batalin janji kita, tapi kegiatanku bener-bener gak bisa diganggu gugat. Maafin aku, ya."

"Gak."

"Ya udah, aku duluan ya ke kantin. Tapi nanti kamu nyusul kalau marahnya udah reda. Aku pesenin bakso kesukaanmu, ya."

"Gak mau."

"Kalau kamu gak nyusul, kita putus. Mau?"

"Ih! Apaan sih?!" Aku berteriak kesal.

"Dini, kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu kantin. Aku tersadar. Menengok sekeliling, sepi. Aku sendirian di kantin sekolah ini. "Dari tadi udah bel, kamu gak masuk kelas?"

"Ah, iya, Bu." Aku menepuk-nepuk wajahku. Ah, dasar aku yang susah lupa! Aku teringat Diky, pacarku yang meninggal sebulan lalu. 

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 19 Januari

Seorang pria yang menjadi ketua tim pendekorasian lokasi pernikahan kawannya, sore itu mengajak kekasihnya untuk melihat tempat yang telah selesai dihias.

Si gadis terpana melihat dekorasinya yang sangat indah. "Wah, keren."

"Kamu suka?"

"Iya. Kamu dekorasi bagian mana?"

"Hampir semua."

"Wah! Jadi, di sini ya lokasi resepsi teman kamu nanti? Eh tapi, bukannya kamu bilang di hotel? Kok jadi di pinggir pantai?

"Emang di hotel."

"Lho, terus di sini apa dong? Resepsi kedua?"

"Bukan, kok. Mereka resepsinya satu kali."

"Terus apa dong?"

"Ini cuma contoh doang. Aku sengaja mendekorasi tempat ini."

"Contoh?"

"Iya. Kamu kan suka pantai, kamu juga suka bunga. Kamu tadi udah bilang suka lho. Jadi... nanti kalau kita nikah dekorasinya kayak gini. Aku udah punya gambaran."

*diam*

"Kok diam? Minggu depan aku ke rumah kamu, ya?"

*masih diam*

"Jangan diam, dong. Aku udah ngomong lho sama orang tuaku."

"I-iya."

"Kamu lucu deh kalau gugup gitu, bikin gemes."

*senyum malu-malu*

.
.
.

"Woy, Jaenab! Cepat bangun, beliin emak garam di warung Bu Minah!"

Kemudian, si gadis terbangun dari mimpi.

SEKIAN.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 22 Januari

"Yan, tolongin sana! Kamu kan cowok, harus berani, dong." Dea mendorong-dorong tubuh kekar Aryan.

"Enggak, ah. Kamu aja," balas Aryan.

Hujan semakin deras. Dea dan Aryan masih terjebak di halte depan sekolah. Mereka terlambat pulang karena sebelumnya dihukum akibat tak mengerjakan tugas.

"Yan, ngeri ih! Cepetan tolongin."

"Aku juga ngeri, De."

Dua insan itu masih membatu di tempat. Bergeming dengan mata menatap penuh prihatin pada lelaki yang sedang terkapar di depan mereka. Dari perut lelaki malang itu mengeluarkan cairan kental. Genangan air hujan yang bening telah berubah menjadi merah.

"Yan, kalau ada orang datang, takutnya nanti kita dikira pelakunya. Hanya kita berdua di sini. Padahal orang itu udah terkapar gitu waktu kita datang." Dea bergidik.

"Aku yang duluan datang di sini, De."

"Ya, itu maksudku, Aryan. Waktu kamu datang, keadaannya udah gini, kan?"

Aryan diam, tak menjawab pertanyaan Dea. Ia menatap Dea tajam.

"Kenapa, Yan?" tanya Dea dengan kernyitan.

"Memangnya ... menurutmu siapa pelakunya?" ucap Aryan sembari mengeluarkan sebilah pisau dari saku celana abu-abunya. Pisau yang telah berdarah itu perlahan kembali memutih. Air hujan telah membersihkan darah yang menempel di sana.

Dea terdiam. Apa yang harus ia lakukan?

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 24 Januari

Dibandingkan mencintai orang lain, kita terlampau sulit mencintai diri sendiri. Alih-alih mencintai, yang ada malah tak percaya diri, atau bahkan membenci. Sering kali menciptakan ruang untuk menghina apa yang dimiliki. Berupaya mengubah diri menjadi orang lain yang sebenarnya jiwamu sendiri tak merestui. Untuk apa? Sekadar mengikuti zaman, atau mengikuti orang lain yang menurutmu lebih dari dirimu sendiri.

Aku percaya bahwa setiap orang ingin terlihat baik, bahkan ada yang ingin terlihat sempurna. Kurasa itu wajar saja, namanya juga manusia. Tetapi bukankah melelahkan jika terlalu sering menyaru menjadi pribadi yang sama sekali bukan dirimu? Ini bukan tentang keegoisan, tapi dirimu juga butuh cinta.

Bagaimana orang lain akan mencintaimu jika kau sendiri tak mencintai dirimu? Bagaimana orang lain akan menghargaimu jika kau sendiri tak menghargai dirimu? Bagaimana orang lain akan percaya padamu jika kau sendiri tak percaya pada dirimu? Kurasa jawabannya ada pada diri sendiri.

Tuhan sudah menciptakan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangan. Itu yang harus selalu kita ingat. Sudah seberapa banyak kita bersyukur selama ini? Lihatlah dirimu. Sungguh, kau sangat berharga. Jika tidak di hidup orang lain, setidaknya di hidupmu sendiri.

Jadi, mulai sekarang, saat kamu merasa insecure, jangan lupa selalu ucapkan mantra untuk menguatkan dirimu: "Aku mencintai diriku sendiri. Dan aku bersyukur atas apa yang aku miliki."

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 26 Januari

Budi membacakan kata di sebuah pusara yang bertuliskan nama seorang wanita. Anaknya yang berusia enam tahun belum bisa membaca.

"Nak, yang barusan Ayah bacakan itu adalah nama Ibu. Kalau ada yang bertanya di mana ibumu, jawab saja bahwa Ibu berada di surga," ujar Budi.

"Di sini surga ya, Yah?" tanya sang anak.

"Hm... iya."

"Tapi kenapa aku gak bisa lihat wajah Ibu? Ibu di dalam ngapain?" Anak itu masih terus bertanya sembari menunjuk gundukan tanah di hadapannya.

Belum sempat Budi menjawab, dering telepon berbunyi nyaring. Ani, sang adik yang berada di Korea, menelepon. Gadis yang sedang kuliah S2 itu bertanya tentang oleh-oleh apa yang diinginkan anak Budi.

Budi tak banyak bicara, ia hanya mengatakan bahwa anaknya menyukai segala hal sederhana. Bahkan anaknya menyukai apa saja yang berada di dalam kaleng Khong Ghuan. Entah itu biskuit asli, atau kerupuk, atau rengginang, atau bahkan uang recehan. Sebab kaleng itu juga sering jadi celengan dadakan.

Sementara tanpa sepengetahuan Budi, adiknya juga sedang kebingungan. Di Korea, Ani bertemu dengan wanita yang sangat mirip kakak iparnya, mendiang istri Budi.

"Kau benar-benar mirip almarhum istri kakakku. Bisakah kau ikut aku ke Jakarta untuk bertemu keponakanku? Setidaknya... anak itu punya bayangan wajah ibunya." Ani kembali berusaha membujuk setelah telepon dari Budi ia matikan.

"Aku tidak bisa," jawab wanita itu.

"Suaramu bahkan sangat mirip," ucap Ani tak habis pikir.

"Ani...."

Mata Ani membelalak mendengar wanita itu menyebut namanya. "Dari mana kau tahu namaku?"

"Ani... sebenarnya ini aku."

.
.
.
.
.

"Woy, ini kenapa mati lampu?" teriak Ani kesal.

"Gak usah teriak-teriak. Berisik!" balas Budi tak kalah nyaring.

"Aku lagi baca cerita seru nih di wattpad, gelap gini jadi gak bisa baca dong woy!"

"Dasar gila! Itu kan di Hp, kau bisa membacanya kapan saja!"

"Oh, iya, ya. Lupa."

Budi menghela napas kasar. Adiknya itu terkadang bersikap lebih bodoh dari dirinya yang selalu lupa mengisi pulsa listrik. Jangan tanya kenapa malam ini lampu di rumah mereka mati lagi. Tentu saja karena Budi belum top up.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 27 Januari

"Banyak hal sederhana yang sering kali diperumit oleh pikiran kita sendiri."
- NKCTHI

Membaca kalimat ini, saya langsung merasakan hal yang berbeda. Tiba-tiba berpikir, "Ah, iya, ada benarnya juga."

Terkadang, kita terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan. Kita bahkan berpikir keras tentang hal yang sebenarnya belum pasti terjadi. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, malah dipakai untuk berpikir yang tidak-tidak. Akhirnya jadi ketakutan sendiri, atau bahkan jadi tak percaya diri. Dalam hal apa pun.

Memang sih, wajar saja kita berpikir tentang hal yang belum terjadi. Apalagi kalau kita sudah membuat rencana-rencana masa depan. Bakalan terwujud gak ya? Bakalan berhasil gak ya?

Hal kecil saja misalnya, besok diharuskan tampil presentasi. Dibanding belajar dan mempersiapkan diri, ada orang yang hanya menghayal dan menghabiskan waktunya untuk berpikir: Besok presentasiku bakalan bagus gak ya? Bakalan diterima gak ya?

Hm, kalau menghadapi sesuatu dengan panik, hasilnya gak akan baik, kan? Kita sangat butuh ketenangan. Memang bisa diperoleh dari orang, benda, atau apa pun di sekitar kita. Tapi ketenangan terbesar muncul dari dalam diri. Jadi, jangan lupa tenangkan dirimu.

Tenang bukan berarti santai. Santai juga bukan berarti malas. Tergantung bagaimana kita memaknai. Tapi... kalau sudah beneran malas, ya bahaya juga.

Pokoknya, mulai hari ini, jangan suka memperumit pikiran, ya. Jalani aja dulu apa yang ada di depan mata. Sembari tetap fokus menata masa depan.

Tulisan ini dibuat untuk diri saya sendiri. Suatu saat jika saya kembali "panik", saya akan membaca ini. Jika kamu merasakan yang sama, mari sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 28 Januari

Kau sudah orang menjadi yang terbaik untukku. Tak perlu memikirkan apa-apa atau melakukan apa-apa. Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Sebab aku menyukaimu karena apa adanya dirimu. Dan akan selalu seperti itu.

♡♡♡

๐Ÿ’ฆ 30 Januari

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata "istirahat"?

Tidur? Rebahan? Memejamkan mata sembari mendengar musik? Menenangkan diri? Atau sekadar berhenti sejenak dari aktivitas sehari-hari yang cukup melelahkan? Atau mungkin juga kalian punya versi tersendiri memaknai kata "istirahat"?

Apa pun itu... istirahatlah. Tubuh dan pikiranmu butuh jeda. Jangan memaksakan diri. Apa sih yang dikejar? Kita manusia. Butuh rehat sejenak. Ya, sejenak. Berhenti sebentar gak apa-apa. Pasti akan dilanjutkan lagi. Kalian sudah sampai di tahap ini, hal itu sudah luar biasa. Kalian hebat. Kalian kuat. Hm... aku sedang membicarakan tentang apa saja. Sekolah, kuliah, kerja, jatuh, bangun, patah, hancur, sakit, sehat, bahagia, sedih. Apa pun itu. Atas semua yang sudah kalian lalui, kalian hebat. Terima kasih untuk dirimu. Terima kasih sudah bertahan.

Untuk admin @30haribercerita terima kasih! Gak ada yang memaksa kami semua untuk mengikuti program ini, gak ada yang memaksa untuk menulis setiap hari selama 30 hari berturut-turut. Kami hanya merasa, bahwa belajar berkomitmen itu penting, bahkan diawali dari hal-hal kecil. Kurasa... kita semua memahami itu. Walaupun terkadang di hari tertentu malah nulis hal-hal gak jelas yang bikin diri sendiri mikir, "Ih, ini apaan sih?" Saking bingungnya mau nulis apa. Hm, tapi gak masalah. Kita kan sama-sama belajar.

Kurasa ini cukup.

Salam cinta,
semoga tahun depan masih diberikan usia agar kita bisa jumpa lagi dengan cerita-cerita baru yang menginspirasi, atau sekadar menghibur diri yang lelah berdiri dan menyendiri♥


๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy