SURAT YANG PENUH KERINDUAN


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Dear, Pria Terhebatku...

Apa kabar, Papa? Semoga baik-baik ya di sana.

Tidak terasa ya, Pa. Sudah delapan tahun berlalu. Sudah delapan tahun aku tidak melihat wajah Papa, tidak menikmati indahnya senyum Papa, juga tidak mendengar suara tawa bahagia Papa. Sudah delapan tahun aku kehilangan sosok tegas, tetapi penuh humor yang selalu mengundang tawaku. Delapan tahun, Pa. Delapan tahun aku hidup tanpa Papa.

Pa, apakah Papa tahu sebesar apa rasa rinduku? Aku sendiri pun bingung menggambarkannya.

Aku rindu segalanya, semuanya. Salah satunya, aku rindu dibangunkan untuk sholat Subuh, terlebih lagi setelah tinggal merantau. Hanya dibangunkan alarm ponsel karena suara adzan tidak terdengar dari tempat tinggalku. Atau karena aku yang tidurnya terlalu nyenyak? Hehe....

Pa, suara alarm tidak menarik sama sekali. Suara Papa memanggil namaku di waktu fajar itu jauh lebih menenangkan. Ya, walaupun aku akui bahwa aku sering mengeluh kala itu. Belum terlalu paham apa sebenarnya makna ibadah yang selalu Papa ajarkan padaku. Masih terlalu kecil dan polos untuk memahami bahwa tidak ada yang tahu batas waktu setiap manusia hidup di dunia. Papa mengajarkan semuanya. Segala hal-hal baik dan positif yang baru kumengerti sekarang. Untuk apa, untuk siapa. Aku mulai paham.

Pa, aku masih ingat bagaimana wajah bangga dan bahagia Papa ketika aku berhasil menjadi juara umum di SMP. Ingatan itu sering kali membuatku jadi berkhayal dan bertanya-tanya, kira-kira bagaimana ekspresi Papa ketika melihatku memakai seragam putih abu-abu? Bagaimana perasaan Papa ketika aku akan memasuki dunia perkuliahan? Atau ... yang baru-baru ini terjadi. Bagaimana ekspresi Papa ketika melihatku lulus kuliah tepat waktu dengan nilai yang baik? Ingin rasanya menyaksikan itu semua.

Ah, aku jadi memimpikan hal tidak mungkin terjadi.

Hmm ... Papa, sebenarnya dibanding semua itu, aku merindukan hal-hal sederhana yang pernah bahkan sering kita lakukan bersama. Menonton salah satu acara bertema religius hingga larut malam. Papa akan terus menyuruhku untuk segera tidur agar tidak mengantuk esok hari. Tapi aku lebih memilih menemani Papa, kecuali jika mataku memang sudah tidak mampu menahan kantuk, hehe. Lagi pula, acara itu seru. Papa ingat judulnya tidak? Aku sudah lupa. Saat itu aku masih SMP. Sekarang sudah 22 tahun. Papa tahu kan ingatanku ini sama sekali tidak keren.

Aku juga merindukan momen makan berdua atau jalan-jalan berdua. Aku bahkan ingat perjalanan kita dari Kota Palu menuju ke kampung halaman Papa yang jaraknya kurang lebih dua ratus kilometer. Beberapa kali hujan selama perjalanan, lalu Papa akan khawatir aku kedinginan dan berujung sakit. Kalau diingat sekarang, aku baru sadar bahwa kita termasuk ayah dan putri yang romantis lho, Pa. Kalau aku jadi Mama, aku pasti sudah cemburu. Hehe....

Oh ya, Pa, jujur saja dulu aku sering iri. Sekarang juga sih, kadang-kadang. Iri dengan anak perempuan yang masih ditemani ayahnya hingga kini. Ditemani wisuda, bahkan hingga menikah. Perasaan itu wajar kan, Pa? Tapi Papa tenang saja, ini bukan iri yang gimana-gimana kok, hehe. Aku suka senyum-senyum sendiri lho, Pa, kalau lihat anak perempuan dan ayahnya, baik itu secara langsung, atau di beberapa video, bahkan film. Rasanya hangat dan menyenangkan. Cinta itu memang bisa mendamaikan hati ya, Pa.

Hmm ... mau bilang apa lagi, ya? Sepertinya surat ini sudah terlalu panjang. Ini akan lebih mirip cerpen yang sering kutulis ketimbang surat. Aku takut Papa akan lelah membacanya.

Papa, sebenarnya aku punya banyak cerita, punya sejuta pertanyaan, dan tentu saja banyak sekali kerinduan. Aku bingung harus mengatakan apa lagi, Pa. Satu hal yang pasti; entah delapan tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, berapa pun lamanya waktu berlalu sejak Papa pergi, tidak ada sehari pun aku melupakan Papa. Semuanya begitu melekat. Dan rasa rindu itu akan selalu ada. Tapi ... Papa tenang saja. Aku sudah janji akan hidup bahagia dan membahagiakan orang-orang yang kucintai. Sungguh.

Jadi, Papa juga harus berjanji, berjanji untuk selalu baik-baik saja. Oke?

Papa, aku kirim surat ini, beserta rasa cinta dan doa yang tidak akan ada habis-habisnya.

~ Salam sayang, putrimu yang sedang rindu❤

♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy