Kartini dan Wanita Masa Kini




Langkah ciut menyeruak merampas jiwa
Tubuh gemetar dengan iringan air mata
Seakan gelap malam mencipta duka
Sungguh nestapa telah hidup dalam darah luka

Hei, ke mana jiwa pemberani yang dulu kau dengungkan?
Apakah telah hilang ditelan rasa takut yang membingungkan?
Tidakkah kau kira bahwa wanita semakin dianggap lemah jika tak berani melangkah?
Lupakah kau akan setumpuk mimpi Ibu Kartini agar kita selalu mekar merekah?
Mau kau bawa ke mana emansipasi yang ia perjuangkan tanpa menyerah?

Tetaplah teguh pada pijar yang telah terbakar
Tetaplah kukuh pada api yang telah berkobar
Kau tak perlu menjadi Kartini untuk bisa bersinar
Hanya perlu menjadi dirimu, dengan gelap dan terangmu, beserta gairah yang tak pudar,
melawan jalan yang tak wajar

Hingga Ibu kita tercinta dalam tidurnya akan berujar;
para wanitaku telah mewujudkan harapku dengan semangat tanpa samar,
pun dengan suara yang patut didengar

*Palu, 21 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW: Bumi - Tere Liye

Review Novel Laut Bercerita

Menjelajah Lorong Waktu: Review Sorry My Younger Self I Can't Make You Happy